Kiat-Kiat Syukur Nikmat

Oleh: Ust. Abu Ammar al-Ghoyami

 

Tiada satu jiwa pun di dunia ini yang tidak mendapat nikmat di dalam hidupnya. Dan tiada satu jiwa pun melainkan telah mendapatkan nikmat yang cukup, bahkan lebih dari cukup. Jika seandainya tidak ada nikmat selain kehidupan maka sudah jelas menunjukkan bahwa nikmat yang diterima setiap jiwa sangat melimpah. Karena tentunya untuk hidupnya satu jiwa saja membutuhkan berjuta-juta dan bermiliar-miliar nikmat hingga tak terhingga. Mulai dari nikmat materi penopang hidup, nikmat rohani kehidupan dan sebagainya yang tak mungkin dibilang.

 

Mengetahui nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala Subhanahu wa Ta’ala

Seluruh jiwa yang ada di dunia ini nikmatnya ditanggung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha memberi nikmat. Seluruh pemberian atau rezeki hakikatnya semata-mata dari-Nya. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan tidak ada suatu binatang melata (seluruh makhluk Allah yang berjiwa) pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Hud: 6)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِى بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِى ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِىٌّ أَوْ سَعِيدٌ

“Sesungguhnya setiap orang dari kalian (setelah) dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya selama empat puluh hari (disebut nuthfah), kemudian selama itu pula berangsur-angsur menjadi ‘alaqah (segumpal darah yang menempel), kemudian selama itu pula berangsur-angsur menjadi mudhghah (sekerat daging), kemudian setelah itu diutuslah seorang malaikat untuk meniupkan ruh padanya dan diperintah untuk empat ketetapan; ketetapan rezekinya, ajalnya, amalannya, dan apakah ia kelak celaka atau bahagia.” (HR. al-Bukhari: 3208, Muslim: 6893)

Dan tiada satu jiwa pun yang sanggup mengurus apalagi menanggung nikmatnya sendiri, termasuk manusia pun tidak mengurus apalagi menanggung nikmatnya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yang mengurus dan menanggungnya. Dia menegaskan:

Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezki kepadanya dan kepadamu (wahai manusia). Dan Dia Mahamendengar lagi Mahamengetahui. (QS. al-‘Ankabut: 60)

 

Allah melimpahkan nikmat-Nya kepada seluruh jiwa. Dia berikan rezeki kepada mereka tanpa peduli apakah jiwa itu sanggup membilangnya atau tidak sanggup. Bahkan Dia beri setiap jiwa apa saja yang dimintanya dan apa saja yang luput dari permintaannya. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim: 34)

Allah memberi setiap jiwa apa saja yang dimintanya satu per satu. Yang demikian tiada mengurangi apa yang ada di sisi-Nya selain sangat tak berarti. Hal itu karena perbendaharaan Allah itu maha luas dan maha melimpah. Allah mengatakan dalam potongan hadits qudsi:

“Wahai hamba-Ku. Jikalau kalian seluruhnya, baik yang terdahulu maupun yang belakangan, dari kalangan manusia maupun jin, tegak berdiri di suatau tempat terbuka, lalu seluruh kalian meminta kepadaku dan aku pun berikan kepada setiap masing-masing sesuai yang dimintanya, maka hal itu tiada kan mengurangi apa pun yang ada di sisi-Ku selain hanya seperti jarum yang mengurangi air saat dicelupkan ke lautan.” (HR. Muslim: 6737)

Kewajiban bersyukur

Jika setiap jiwa mengetahui kenikmatan Allah buat dirinya, ia pun akan tahu bahwa ia wajib berterima kasih kepada-Nya. Berterima kasih ialah bersyukur atas nikmat Allah bagi dirinya dan tidak mengingkarinya. Yang demikian itu menjadi kesepakatan setiap jiwa yang berakal sehat dan lurus.

Selain itu Allah telah memerintah setiap jiwa agar bersyukur kepada-Nya. Sehingga tegaslah bahwa salah satu kewajiban bagi setiap diri ialah bersyukur atas nikmat Allah q\. Allah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. al-Baqarah: 172)

Dia Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka; yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’: 15)

Allah mewajibkan bersyukur juga melalui hikmah yang Dia ajarkan kepada hamba pilihan-Nya. Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang hal ini:

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji.” (QS. Luqman: 12)

Ancaman kufur nikmat

Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan syukur nikmat, Dia juga melarang kufur nikmat. Dia Subhanahu wa Ta’ala perintahkan syukur nikmat sebab Allah meridhainya, dan melarang kufur nikmat sebab mendatangkan kemurkaan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Cara syukur nikmat

Bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua hal; yaitu bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berterima kasih kepada sesama. Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan syukur kepada-Nya dalam firman-Nya, sebagaimana di sebutkan di atas. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam memerintahkan berterima kasih kepada sesama sebagai syukur atas nikmat Allah. Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَنْ لاَ يَشْكُرِ النَّاسَ لاَ يَشْكُرِ اللهَ

“Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi: 1954, dan beliau berkata, bahwa hadits ini hasan shahih)

Al-Mubarakfuri (Tuhfatul Ahwadzi, 5/187) berkata, “Al-Khaththabi berkata, ‘Ini ditafsiri dengan dua penafsiran; salah satunya, bahwa siapa yang tabiat dan kebiasaannya mengingkari nikmat dari manusia dan tidak berterima kasih atas kebaikan mereka maka biasanya ia mengingkari nikmat Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya. Dan penafsiran kedua, bahwa Allah tidak akan menerima syukurnya hamba atas kebajikan-Nya kepadanya jika ia tidak berterima kasih atas kebaikan manusia dan jika ia mengingkari kebaikan mereka, sebab keterkaitan antara yang satu dengan yang lainnya (di antara mereka).’”

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di (Taisirul Karimir Rahman, 1/422) menyebutkan cara bersyukur dengan mengatakan, “Hati kita mengerti bahwa semua nikmat datangnya dari Allah semata, lalu menyebutnya dengan lisan dengan memuji-Nya, dan menggunakan seluruh nikmat Allah untuk mencari ridha-Nya. Adapun mengingkari nikmat ialah dengan sebaliknya.”

Dengan demikian, termasuk bersyukur atas nikmat Allah ialah dengan menyebut-nyebut nikmat dari Allah tersebut kepada manusia, yaitu bahwa apa yang ia dapatkan semata-mata dari Allah, lalu ia memuji-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan terhadap nikmat Rabbmu, maka hendaklah kamu siarkan. (QS. adh-Dhuha: 11)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيْلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيْرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللهَ وَالتَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ

“Siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit maka ia tidak mensyukuri yang banyak. Siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia maka ia tidak bersyukur kepada Allah, dan menyebut-nyebut nikmat Allah merupakan bentuk syukur dan meninggalkannya merupakan bentuk kufur (ingkar nikmat).” (HR. Ahmad di dalam Musnadnya dan dihasankan oleh al-Albani di dalam ash-Shahihah no: 667)

 

Kiat-kiat syukur nikmat

Dari uraian di atas maka bisa disimpulkan tentang kiat-kiat syukur nikmat Allah yang sangat melimpah sebagai berikut:

Pertama: Dengan mengetahui bahwa seluruh kebaikan yang diterima oleh hamba semata-mata dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian seorang hamba akan terpanggil untuk bersyukur kepada-Nya.

Kedua: Mengetahui kewajiban bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian maka seorang hamba terpanggil untuk menunaikan kewajibannya.

Ketiga: Mengetahui fadhilah syukur nikmat, bahwa dengan syukur justru akan mendatangkan nikmat yang lebih berlimpah dan ampunan. Sehingga seorang hamba akan termotivasi untuk selalu syukur nikmat.

Keempat: Mengetahui larangan dan ancaman kufur atau ingkar nikmat, bahwa kufur nikmat sebab datangnya adzab dan petaka dunia akhirat. Sehingga seorang hamba akan takut kufur nikmat.

Kelima: Mengetahui ilmu tentang cara bersyukur atas nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang benar. Sehingga seorang hamba akan mudah dalam bersyukur atas seluruh nikmat-Nya. Wabillahit taufiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *