Nakhoda yang Hilang Arah

Oleh: Abu Salim AsSambasy

 

Uang, fasilitas, barang mewah dan berbagai bentuk hiburan tidaklah bisa mengenyangkan hati, karena bukanlah itu makanannya. Tidak pula menyembuhkannya dari penyakit, karena ia bukanlah obat maupun dokternya. Bahkan bisa jadi itu semua akan menjadi penyakit bagi hati.

Harta juga bukan sumber kebahagiaan hakiki. Sebab kalaulah demikian, tentu kita akan lebur berbagai bentuk perhiasan dan akan kita masukkan ke dalam hati. Atau kita akanlumatkan berbagai jenis makanan lalu kita tuangkan ke dalamnya agar hati bisa merasa bahagia. Namun nyatanya, kita tidak mungkin melakukannya.

Itulah sekilas petikan nasihat yang dapat kita ambil dari sebuah kisah keluarga yang terletak di suatu perumahan di pusat kota Pontianak.

Hijau kehidupan mereka semakin meranum, menyejukkan setiap pasang mata yang memandang dan terlihat begitu manis untuk dicicipi. Bagaimana tidak?! Keluarga yang hanya berjumlah empat jiwa ini terlihat telah layak dibilang sangat mapan dengan penghasilan keluarga yang cukup besar. Ayah ada seorang insinyur, sedangkan ibu adalah dosen yang katanya mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan program doktoral ke luar negeri. Hanya saja beliau memilih perguruan tinggi dalam negeri untuk menemani anak bungsunya yang masih sekolah di Jogja.

Perabotan rumah tangga yang mewah, kasur yang empuk, kendaraan yang bagus, serta fasilitas hiburan semisal televisi hingga PlayStation membuktikan mapannya keadaan materi keluarga tersebut. Kita katakan mapan sebab Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam sebagai pemimpin nomor satu di Madinah hanya mempunyai tikar kasar nan tipis yang biasa digunakan untuk merebahkan badan. Sehingga selalu meninggalkan bekas di pipi beliau yang mulia setiap kali bangun dari peraduan.Karenanya Umar terenyuh dan berlinang air matanya karena tak kuasa menahan gemuruh rasa iba, kasih sayang, hormat dan kecemburuan yang menjadi satu di hati. Sementara di tempat lain Kaisar Romawi dan Kisra Persia malah bergelimang harta dalam kekafirannya.

Itulah sekilas gambaran kehidupan keluarga ini.Secara kasat mata, mungkin banyak orang yang berangan-angan bisa menikmati hidup seperti mereka. Sebagaimana terpukau dan kagumnya kaum Fir’aun yang melihat kekayaan Qarun saat iamengarak hartanya di sepanjang jalan.  Mereka mengandai-andai, “..Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun…” (QS. al-Qashash: 79)

Namun tatkala hati yang penuh iman dan berilmu yang angkat bicara, keadaan akan menjadi sangat berbeda. Segalanya akan tersingkap dengan jelas. Karena pada kenyataannya keluarga mereka laksana kapal yang akankaram. Kapal itu terombang-ambing di tengah luasnya lautan, sedangkan nakhoda tak kuasa menentukan arahnya.Sebab bekal ilmu yang belum lagi mapan.Para penumpang kapal mulai gerah; daripada tergulung badai, lebih baik berlabuh dan bersenang-senang meninggalkan kapal dan nakhodanya dengan sekoci.

Suatu ketika sang ayah merasa kehilangan ponselnya. “Mama, Kakak, Adik, di mana HP ayah..?? Dari tadi dicariin kok, nggak ada?Pokoknya kalau tidak ketemu, ayah nggak akan belikan mama dan adik tiket ke Jogja!”Ancam ayah dan sedikit mendesak semuanya.

“Kau jangan egois..! Kau jangan buat aku pusing dan naik darah! HP-nya hilang.Seenaknya saja menuduh orang?!”Bantah si kakak yang merasa tersinggung dengan suara meninggi kepada ayah yang telah membesarkannya.

“Ibu, aku sudah capek membela kalian dari lelaki ini. Jadi, kalian harus berterima kasih, jangan buat aku kecewa!” Tambah sang kakak lagi.

Jujur, menuturkan hal ini sebenarnya saya merasa muak. Udara bergemuruh di dada dan serasa darah menggumpal di syaraf kepala, persis seperti pertama kali saya dengar dari teman si kakak yang juga kebetulan hadir saat kejadian.

Ayah lalu meneruskan, “Cukup, Kakak! Nanti ayah pukul kamu kalau kamu tidak diam.”

“Pukul saja, kalau berani,” tantang sang kakak.

Ketika ayah hanya bisa terdiam, kakak langsung bangkit menghampiri ayah dan memukul beliau seperti ia memukul teman sepermainannya. Allahul musta’an…..

Bukanlah seberapa sakit bekas pukulan itu, karena si kakak pada saat itu barulah kelas 2 SMP. Namun luka yang sebenarnya adalah remuknya hati ayah. Dia gusar dan mulai bingung.“Apakah benar aku ini seorang ayah?” “Kenapa anakku berbuat begini?” “Apakah semua fasilitas yang telah kuberikan tak ada harganya sama sekali di mata anakku?” “Bila aku salah, pantaskah aku dijatuhkan dan diinjak-injak seperti ini?” Dan segudang seruan hati yang tarik-menarik dalam benak yang dipenuhi dilema.

Walau kesedihannya tak terperi, ayah hanya diam membisu.Karena dia laki-laki. Tak mungkin menjajakan air mata layaknya seorang gadis yang dirundung duka.

Saya yang menuliskan cerita ini pun sebenarnya tak kuasa untuk bertutur, karena sangat berat rasa di hati. Luka yang mereka rasakan begitu dalam, terutama sang ayah. Ke mana hendak dia labuhkan hatinya? Masih adakah orang yang mau menampung air matanya?Andai harga diri bisa dijual, akan dia jual dirinya dan dia akan beli harga diri baru. Ingin rasanya dia bergantung, tetapi apalah daya tali tak ada. Bagai bersalai namun tiada berapi.Kita pun hanya bisa mengatakan, “Seberapa berat mata ini memandang, tak akan sebanding beratnya bahu yang memikul.”

Memang, ayah bukanlah seorang penuntut ilmu. Dia hanyalah orang awam yang tidak terlalu mengenal agama. Dalam mengatur rumah tangga pun beliau hanya bisa mengikuti kebiasaan masyarakat atau menurut pendidikan yang beliau peroleh dari sinetron maupun budaya orang kafir yang selalu menyesaki media massa. Baginya, uang adalah sumber kebahagiaan. Dia manjakan anaknya dengan menuruti semua keinginan mereka,dengan harapan hal itu bisa membuat mereka bahagia. Beliau selalu sibuk dengan dunia dan pekerjaan. Pulang ke rumah pun terkadang hanya membawa sisa tenaga yang sudah hampir habis terperas di tempat kerja.Itulah di antara sebab yang menjadikan sikap si kakak menjadi demikian.

Walau demikian, sangatlah tak pantas jika seorang anak bersikap tidak beradab kepada ayahnya. Keawamannya seharusnya malah menjadikan kita lebih santun dan lebih sayang kepadanya agar hatinya bisa luluh dan mau menerima kebenaran. Dan semestinya doalah yang senantiasa keluar dari mulut kita, bukan malah celaan bahkan tindakan kasar semisal pukulan.

Penyebab lainnya adalah lingkungan bermain yang kurang baik bagi si kakak.Karena ayah sangat jarang pulang ke rumah, sedangkan ibu dan adik hanya pulang dua kali dalam setahun, sehingga kakaklah yang sering berada di rumah. Tatkala tidak ada siapa-siapa, maka teman-teman kaka berdatangan –yang kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir penyembah dewa dan patung-patung-. Semaraklah rumah dengan suara musik, bahkan diputar pula film-film yang tak senonoh.

Wabillahit Taufiq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *