Perayaan Tahun Baru, Tradisi Orang Kafir

Oleh: Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi

 

Dari Abu Sa’id al-Khudri dari Nabi bersabda:

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ قُلْنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ والنَّصَارَى؟ قَالَ فَمَنْ؟

Sungguh kalian akan mengikuti sunnah perjalanan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga mereka memasuki lubang dhab (hewan sejenis biawak di Arab) maka kalian juga akan mengikuti mereka. Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah apakah mereka Yahudi dan Nasrani? Beliau menjawab, Siapa lagi kalau bukan mereka? (HR. Bukhari 7325 dan Muslim 2669)

Hadits ini merupakan mukjizat Nabi karena sungguh mayoritas umatnya ini telah mengikuti sunnah perjalanan kaum Yahudi dan Nasrani, baik dalam gaya hidup, berpakaian, syiar-syiar agama, dan adat-istiadat. Dan hadits ini lafazhnya berupa khabar yang berarti larangan mengikuti jalan-jalan selain agama Islam.” (Taisirul Aziz Al Hamid, hlm. 23)

Ketahuilah wahai saudaraku bahwa perayaan tahunan dalam Islam hanya ada dua macam; idhul fithri dan idhul adha, berdasarkan hadits:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كَانَ لِأَهْلِ الْجَاهِلِيَّةِ يَوْمَانِ فِي كُلِّ سَنَةٍ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا, فَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ قَالَ :كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمْ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا : يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Dari Anas bin Malik berkata: “Tatkala Nabi datang ke kota Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari untuk bersenag gembira sebagaimana di waktu jahiliyyah, lalu beliau bersabda: “Saya datang kepada kalian dan kalian memiliki dua hari raya untuk bersenang gembira sebagaimana di waktu jahiliyyah. Dan sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik, idhul adha dan idhul fithri”.  (HR. Ahmad 3/103, Abu Dawud 1134 dan Nasai 3/179).

Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah tidak ingin kalau umatnya membuat-buat perayaan baru yang tidak disyariatkan Islam. Alangkah bagusnya ucapan al-Hafizh Ibnu Rojab: “Sesungguhnya perayaan tidaklah diadakan berdasarkan logika dan akal sebagaimana dilakukan oleh Ahli kitab sebelum kita, tetapi berdasakan syari’at dan dalil”. (Fathul Bari 1/159, Tafsir Ibnu Rojab 1/390).

Beliau juga berkata: “Tidak disyariatkan bagi kaum muslimin untuk membuat perayaan kecuali perayaan yang diizinkan Syariat yaitu idhul fithri, idhul adha, hari-hari tasyriq, ini perayaan tahunan, dan hari jumat, ini perayaan mingguan. Selain itu, menjadikannya sebagai perayaan adalah bidah dan tidak ada asalnya dalam syariat” (Lathoiful Maarif hlm. 228)

Dalam penelitian sejarah, ternyata perayaan tahun baru pertama kali dilakukan oleh orang-orang kafir. Ditambah lagi, perayaan tahun baru tak lepas dari kemunkaran dan dosa, di antaranya:

– Meniup terompet (kebiasaan Yahudi),

– Memukul lonceng (kebiasaan Nashoro),

– Menyalakan kembang api (api simbol Majusi dan tuhan mereka),

– Minum minuman keras,

– Campur baur lelaki perempuan

– Pemborosan harta

– Keluar rumah memenuhi jalanan, halaman, pantai, dan lain-lain yang berpotensi penyebaran virus covid -19 semakin parah

– Dan lain-lain.

Kalau saja perayaan ini buatan kaum muslimin maka hukumnya tidak boleh, lantas bagaimana kiranya jika itu buatan kafirin yang membawa kerusakan di muka bumi?!

Perayaan ini persis seperti yang dikatakan oleh Al Imam As Suyuthi tentang Natal, beliau berkata: “Diantara perayaan bid’ah yang diadakan oleh banyak manusia di musim dingin dengan anggapan itu adalah hari lahirnya Isa dengan banyak kemunkaran di malam tersebut seperti menyalakan api, makan2, beli lilin dan sebagainya, membuat perayaan seperti ini adalah agama kaum Nashara, tidak ada dasarnya dalam agama Islam, juga tidak pernah disebutkan oleh para salaf dahulu, bahkan ini asalnya diambil dari Yahudi dan Nashara, ditambah juga karena sebab tabi’i yaitu musim dingin sehingga butuh nyalakan api”. (Al Amru Bil Ittiba’ wa Nahyu Anil Ibtida’ hlm. 145)

Islam melarang pemeluknya mengikuti non muslim dari kalangan Yahudi, Nashoro, Majusi, dan lain-lain dalam hal pakaian, perayaan, dan lain-lain.

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50, dishahihkan Ahmad Syakir dan Al Albani)

Merayakan tahun baru berarti mengikuti kebiasaan non muslim yang merupakan musuh Allah. Dan tasyabbuh dengan orang kafir hukumnya haram. Sayangnya, masih banyak kaum muslimin bahkan orang yang dianggap panutan malah ikut-ikutan bersama orang bodoh merayakan tahun baru ini.

Ketahuilah bahwa tidak ada dalam sejarah salaf kaum muslimin dahulu yang ikut merayakan ini, maka muslim sejati adalah yang mengikuti jejak salaf shalih dan tidak tertipu dengan banyak orang bodoh yang terjerumus dalam tasyabbuh atau ulama gadungan yang bergabung bersama mereka.

Saudaraku, banggalah dirimu dengan prinsip agama karena itulah kejayaanmu. Adapun jika engkau latah mengikuti jejak orang kafir maka di situlah kehinaanmu. Umar bin Khathtab berkata:

إنا قوم أعزنا الله بالإسلام ، فلن نبتغي العز بغيره

“Kita adalah suatu kaum yang dimuliakan oleh Allah dengan Islam, kita tidak akan meraih kejayaan selain dengan Islam”. (Al Hakim dalam Al Mustadrak dan dishahihkan oleh beliau, disetujui oleh Adz Dzhabi dan Al Albani)

Sebuah untaian kata-kata mutiara yang perlu ditorehkan dengan tinta emas agar kita senantiasa mengenangnya hingga akhir zaman! Sebuah ungkapan yang merumuskan bahwa kunci kejayaan itu terletak dalam keteguhan umat terhadap agamanya, semakin teguh dan kokoh pendirian umat terhadap agamanya, maka akan semakin terangkat harkat dan martabat mereka. Inilah sebuah rumus yang harus dipahami oleh semuanya.

Sebagai renungan penutup, mari kita fikir bersama bahwa dengan pergantian tahun baru berarti umur kita bertambah dan ajal kita semakin dekat dengan jadwal antriannya, lantas pantaskah kita bergembira? Tanyakan pada diri kita: Sudahkah engkau mempersiapkan bekalmu untuk kematian dan akherat?

Suatu saat Bisyr bin Harits pernah melewati seorang ahli ibadah di kota Bashrah yang tengah menangis. Diapun bertanya: Apa yang membuat dirimu menangis? Dia menjawab:

أَبْكِي عَلَى مَا فَرَّطْتُ مِنْ عُمْرِي، وَعَلَى يَوْمٍ مَضَى مِنْ أَجَلِي لَمْ يَتَبَيَّنْ فِيهِ عَمَلِي.

Aku menangis karena telah menyia-nyiakan umurku dan kutangisi pergantian hari yang semakin mendekatkan pada ajalku namun tidak jelas amalku. (Al Mujalasah 2/33, Ad Dinawari)

Maka pergantian tahun baru masehi ini tidak ada keutamaannya secara khusua maupun ritual khusus baik berupa perayaan, doa, sholat, puasa dan sebagainya. Laluilah pergantian tahun baru seperti hari2 biasa lainnya dengan aktifitas yang bermanfaat dan ibadah, atau mending tidur di rumah untuk persiapan sholat shubuh dan kerja pagi besok nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *