Agar Tidak Kecewa dengan Pilihan Sendiri

Agar Tidak Kecewa dengan Pilihan Sendiri

Oleh: Ust. Ahmad Sabiq Lc.

Allah menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. Itu karena pernikahan yang mengumpulkan dua insan lawan jenis yang mesti banyak perbedaannya untuk merengkuh kehidupan bersama menuju kebahagiaan dan keharmonisan. Itulah yang memang menjadi salah satu tujuan utama pernikahan, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam QS. ar-Rūm: 21.

Memang dalam memilih pasangan hidup kita harus mengutamakan standar agama dan ketaatan pasangan. Rasulullah ﷺ bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا ، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: harta, kedudukan, kecantikan dan agamanya. Pilihlah yang beragama baik, (kalau tidak) engkau akan merugi.” (HR. al-Bukhari Muslim)

Beliau ﷺ juga bersabda:

“Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah. Karena kalau tidak ,niscaya akan muncul musibah di bumi dan kerusakan yang merata.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi, alIrwa’: 1868)

Namun ini bukan berarti menafikan kriteria lainnya. Semakin dekat pada keserasian antara suami istri maka itu lebih baik, karena akan bisa meminimalkan permasalahan yang ada dalam rumah tangga. Mari kita renungkan dua kejadian berikut:

Imam Muslim meriwayatkan, bahwa saat Fatimah binti Qais pisah dengan suaminya, setelah selesai masa ‘iddah, ia mendatangi Rasulullah meminta pendapat dan mengatakan bahwa dia sudah dilamar dua orang, yaitu Abu Jahm dan Muawiyah. Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

أَمَّا أَبُو جَهْمٍ فَلاَ يَضَعُ عَصَاهُ عَنْ عَاتَقِهِ وَأَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ انْكِحِى أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ.

“Adapun Abu Jahm, dia lelaki yang suka memukul wanita. Sedangkan Mu’awiyah, dia orang miskin, tidak punya uang. Nikahlah kamu dengan Usamah bin Zaid.”

Dalam kesempatan lainnya, Fatimah putri Rasulullah dilamar oleh Abu Bakar. Rasulullah ﷺ menjawab bahwa Fatimah masih kecil. Selang beberapa waktu, Fatimah dilamar oleh Umar, Rasulullah pun kembali mengatakan hal yang sama. Saat dilamar Ali bin Abi Thalib maka Rasulullah menikahkan Fatimah dengannya. (Shahih, HR. an-Nasa’i)

Siapa yang mencela agama para sahabat, terutama Abu Bakar dan Umar? Lalu, kenapa demikian sikap Rasulullah? Yang bisa sedikit disingkap darinya, lantaran Rasulullah menginginkan keserasian bagi pasangan kehidupan rumah tangga. Abu Jahm karena perbedaan karakter antara keduanya. Sedangkan Mu’awiyah karena perbedaan status sosial, sedangkan Abu Bakar dan Umar karena umur yang terpaut jauh.

Dan insya Allah, inilah salah satu hikmah kenapa Rasulullah tidak hanya menyebut kriteria agama, tapi menyebut dua kriteria lain, yaitu agama dan akhlak.

Setelah itu dipahami, maka muncul sebuah pertanyaan besar, yaitu bagaimana cara mendapatkannya? Bukankah penjajagan sebelum pernikahan yang sering diistilahkan orang dengan pacaran adalah perbuatan haram?

Ya. Semua orang yang sedikit paham hukum syar’i akan tahu dengan jelas keharaman pacaran. Karena dalam pacaran akan menerjang banyak pelanggaran syar’i, di antaranya:

  1. Orang yang sedang pacaran tidak mungkin menundukkan pandangan terhadap kekasihnya.
  2. Orang yang sedang pacaran tidak akan bisa menjaga hijab.
  3. Orang yang sedang pacaran biasanya sering berdua-duaan dengan kekasihnya, baik di dalam maupun di luar rumah.
  4. Wanita akan bersikap manja dan mendayukan suaranya saat bersama kekasihnya.
  5. Pacaran identik dengan saling menyentuh antara laki-laki dengan wanita, meskipun itu hanya jabat tangan.
  6. Orang yang sedang pacaran, bisa dipastikan selalu membayangkan orang yang dicintainya.

Dalam kamus pacaran, hal-hal tersebut lumrah dilakukan. Padahal satu hal saja cukup untuk mengharamkan pacaran, lalu bagaimana kalau semuanya diterjang?

Tidak bolehnya pacaran bukan berarti harus menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak ada bayangan tentang siapa dia. Ada banyak cara yang bisa ditempuh tanpa harus melanggar syar’i, di antaranya:

  1. Berdoa kepada Allah .

Doa adalah senjata kaum muslimin, karena Allah akan mengabulkan permohonan hamba-Nya sebagaimana Allah telah berjanji dalam QS. al-Ghafir: 60.

Maka bagi yang mendambakan suami atau istri yang sesuai dengan harapan hendaklah dia memperbanyak berdoa kepada Allah ﷻ. Sebagaimana doanya hamba-hamba Allah yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya QS. al-Furqan: 74.

  1. Mencari informasi dari orang yang terpercaya.

Termasuk hal tolong-menolong dalam kebaikan, bagi orang yang mengetahui adanya laki-laki shalih atau wanita shalihah untuk mengabarkan kepada orang yang mau menikah. Begitu pula bagi yang ingin menikah untuk mencari informasi tentang orang yang akan dilamar, agar tidak terjadi penyesalan di kemudian hari. Ada satu hadits yang berhubungan dengan hal ini, namun sanadnya masih dipertanyakan. Anas bin Malik berkisah:

أَنَّ النَّبِيَّ أَرْسَلَ أُمَّ سُلَيْمٍ تَنْظُرُ إِلَى جَارِيَةٍ فَقَالَ : شَمِّيْ عَوَارِضَهَا وَانْظُرِيْ إِلَى عُرْقُوْبَيْهَا

“Sesungguhnya Rasulullah mengutus Ummu Sulaim untuk melihat seorang gadis, dan beliau berkata: ‘Ciumlah bau mulutnya dan lihatlah yang di atas tumitnya.’” (HR. Ahmad 11/177/13357, al-Baihaqi 7/87, al-Hakim 2/166, beliau berkata: “Shahih dan disepakati oleh adz-Dzahabi, namun Syaikh al-Albani melemahkannya dalam adh-Dha’ifah: 1273)

  1. Melihat calon istri.

Untuk bisa mengetahui kriteria fisik calon istri, seseorang diperbolehkan, bahkan dianjurkan untuk melihatnya sebelum melamarnya. Al-Mughirah bin Syu’bah berkata:

عَنِ الْمُغِيْرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ : خَطَبْتُ امْرَأَةً فَقَالَ لِيَ النَّبِيُّ : هَلْ نَظَرْتَ إِلَيْهَا؟ قُلْتُ : لاَ, قَالَ : فَانْظُرْ إِلَيْهَا فَإِنَّهُ أَحْرَى أَنْ يُؤْدَمَ بَيْنَكُمَا

“Aku berniat melamar seorang wanita. Rasulullah bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau sudah melihatnya?’ ‘Belum’, jawabku. Maka beliau bersabda: ‘Lihatlah dia, karena hal itu dapat melanggengkan rumah tangga kalian berdua.’” (HR. at-Tirmidzi 4/206, an-Nasa’i 6/69, Ahmad 4/144, berkata at-Tirmidzi: “Hadits ini hasan.”)

Bahkan boleh baginya mencuri pandang serta melihatnya dari arah yang tidak diketahui oleh si wanita.

Dari Sulaiman bin Abi Hatsmah berkata: “Saya pernah melihat Muhammad bin Maslamah mengintai seorang wanita dari atas tembok, lantas kukatakan padanya: ‘Apakah engkau masih berbuat begitu padahal engkau seorang sahabat Nabi?’ Ia menjawab: ‘Tentu saja, karena Rasulullah pernah bersabda: ‘Jika terbetik pada seseorang keinginan meminang wanita, maka ia boleh melihatnya.’” (HR. Ibnu Majah: 1864, Ahmad 4/225 dengan sanad hasan)

Jangan remehkan syariat nazhar ini, karena setiap manusia mempunyai standar minimal tentang calon pasangan hidupnya. Jika nantinya akan sama sekali tidak bisa menerima dan mencintainya maka jangan paksakan diri menerimanya. Karena itu akan mudah memicu permasalahan rumah tangga. Bagaimana mungkin rumah tangga akan dibangun di atas ketidaknyamanan dan saling tidak bisa menerima antara keduanya?

  1. Menawarkan putrinya atau saudarinya kepada orang shalih yang baik agamanya.

Umar bin Khaththab berkata: “Ketika Hafshah binti Umar menjadi janda karena kematian suaminya, saya pergi menemui Ustman bin Affan untuk menawarkan Hafshah kepadanya. Ustman menjawab: ‘Saya pertimbangkan lebih dahulu.’ Beberapa hari kemudian Ustman menemuiku dan berkata: ‘Kelihatannya saya belum punya keinginan menikah saat ini.’ Umar berkata: ‘Kemudian aku pergi menemui Abu Bakar, kukatakan padanya jika engkau setuju, aku nikahkan engkau dengan Hafshah. Abu Bakar diam saja dan tidak memberikan jawaban apapun. Beberapa hari kemudian Rasulullah datang melamar Hafshah. Aku pun menikahkan beliau dengannya.” (HR. al-Bukhari: 5122)

  1. Menawarkan dirinya pada orang shalih untuk dinikahi.

Seorang wanita boleh menawarkan dirinya pada orang shalih untuk dinikahi, dengan syarat aman dari fitnah. (Tafsir al-Qurthubi 13/179, Jami’ Ahkamin Nisa’ 3/211) Anas bin Malik berkata: “Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah untuk menawarkan dirinya kepada beliau, dia berkata: ‘Wahai Rasulullah, apakah Anda mau menikahiku?’ Maka putri Anas berkata: ‘Alangkah tidak punya malunya wanita itu!’ Anas pun menjawab: ‘Wanita itu lebih baik darimu. Dia ingin dinikahi oleh Rasulullah, maka dia menawarkan dirinya.’” (HR. al-Bukhari: 5120, an-Nasa’i 6/78, Ibnu Majah: 2001)

  1. Shalat istikharah.

Pilihan Allah ﷻ adalah sebaik-baik pilihan, maka shalat istikharah adalah jalan terbaik untuk mendapatkan pilihan yang tepat. Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila seseorang di antara kamu berhasrat melakukan satu perkara, hendaknya ia mengerjakan shalat dua rakaat di luar shalat fardhu, kemudian bacalah doa ini:

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kekuatan kepada-Mu dengan kekuasaan-Mu, aku memohon karunia-Mu yang besar. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa sementara aku tidak kuasa, Engkau Mahamengetahui sedang aku tidak mengetahui dan Engkaulah yang Mahamengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku, bagi agamaku, bagi hidupku dan baik akibatnya terhadap diriku (atau ia katakan: baik bagiku di dunia dan akhirat) maka tetapkanlah dan mudahkanlah bagiku. Dan jika Engkau tahu bahwa perkara ini buruk bagiku, bagi agamaku, hidupku serta bagi akibatnya terhadap diriku (atau ia katakan: buruk bagiku di dunia maupun akhirat), maka jauhkanlah perkara ini dariku dan jauhkanlah diriku darinya, tetapkahlah kebaikan untukku di mana saja aku berada, kemudian jadikanlah diriku ridha menerimanya.’” Lalu Rasulullah bersabda: “Setelah itu silakan ia menyebut kepentingannya.” (HR. al-Bukhari 3/48, Abu Dawud 4/396). Wallahu a’lam.

Pasanganmu tidak akan jauh darimu

Di antara sunnatullah yang sering terjadi, pasangan suami istri biasanya banyak kesamaan dalam banyak hal. Inilah yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya QS. an-Nūr: 26. Maka perbaikilah diri Anda, insya Allah Anda akan mendapatkan jodoh yang baik pula.

Jangan jual mahal

Satu hal penting yang harus dipahami, bahwa semakin tinggi kriteria seseorang dalam mencari calon pasangan hidup, akan semakin sulit pula mendapatkannya. Dan jika dia mendapatkannya maka akan sangat rentan terjadi sengketa rumah tangga.

Ingat bahwa tiada manusia yang sempurna. Bukankah rumah tangga yang paling sempurna adalah rumah tangga Rasulullah? Meski demikian problematika rumah tangga juga terjadi padanya.

Cukuplah bagi Anda satu kriteria wajib, yaitu agama dan keshalihan serta kriteria pendukung sewajarnya, tanpa memberatkan diri dengan mencari yang serba “wah”, karena belum tentu yang serba “wah” itu benar-benar cocok bagi Anda.

Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *