Doa ash-Shiddiq Tatkala Mendapat Pujian

Doa ash-Shiddiq Tatkala Mendapat Pujian

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

اَللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّيْ بِنَفْسِيْ وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِيْ مِنْهُمْ ، اَللَّهُمَّ اجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ ، وَاغْفِرْ لِيْ مَا لَا يَعْلَمُوْنَ ، وَلَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا يَقُوْلُوْنَ

 “Ya Allah, Engkau lebih tahu akan diriku daripada aku, dan aku lebih tahu akan diriku daripada mereka. Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka dan ampunilah aku dari apa-apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau menyiksaku dengan apa yang mereka katakan.”[1]

Faedah:

  1. Pujian dan cacian merupakan sebuah keniscayaan yang akan diperoleh setiap orang. Karena tidak ada seorangpun kecuali pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Selain itu tidak semua orang akan senang kepada seseorang betapapun baik dan mulia orang tersebut. Satu pihak, banyak orang yang suka dan senang terhadapnya, namun di pihak lain ada yang mencelanya.
  2. Saat menyanjung seseorang kita tidak boleh berlebihan, karena hal itu bisa membinasakan orang yang kita puji. Bisa menyebabkan dia ujub dan takabur. Apabila kita harus memuji seseorang, hendaklah kita mengucapkan,“Aku mengira engkau demikian”, “Aku tidak men-tazkiyah (menganggap suci) dirimu atas Allah bahwa engkau begini dan begitu”. Sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah n\. [2]
  3. Sikap yang tepat harus dimiliki seorang muslim tatkala pujian mengarah kepadanya. Dia akan semakin tawadhu’ (rendah hati) dan tidak membuatnya semakin besar kepala serta membanggakan dirinya. Karena ia sadar bahwa semua itu hanya anugerah Allah q\, bukan semata-mata hasil jerih payah kita. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh sahabat mulia, khalifah pertama dan sekaligus mertua Rasulullah, Abu Bakar ash-Shiddiq tatkala ia dipuji oleh manusia. Dengan berbagai keutamaan dan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, beliau beristighfar, berlindung kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar menjadikannya lebih baik dari apa yang manusia sangka.
  4. Terkadang pujian orang lain tidak bisa dipungkiri akan diberikan kepada orang yang mempunyai banyak kebaikan. Apabila ada orang yang senang ketika dipuji karena kebajikan yang ia miliki dan ittiba’nya (mengikuti) pada kebenaran maka hal itu itu tidaklah tercela, jika niatnya bukan karena riya’ dan sum’ah.[3]Dan bahkan itu merupakan kabar gembira yang disegerakan untuk orang yang beriman tatkala masih di dunia.[4]
  5. Secara umum, senang terhadap pujian dan sanjungan orang lain merupakan celah kecil yang bisa digunakan setan untuk masuk ke dalam hati seorang hamba. Lihat dan cermatilah kekuranganmu dalam ketaatan kepada Allah kemudian bandingkan dengan perbuatan yang dipuji manusia. Apakah mereka akan memuji dan menyanjungmu jika mereka mengetahui berbagai perbuatan yang tidak di ridhai Allah yang telah engkau lakukan?[5] Semoga kita tidak termasuk orang yang senang pujian dan sanjungan manusia terlebih lagi jika sebenarnya perbuatan tersebut tidak ada pada diri kita.[6] Amin.

 

[1]KanzulUmmal no.35704.

[2]HR.al-Bukhari no.2519 Muslim no.3000.

[3]Tafsir as-Sa’di hal.143 (surat Āli‘Īmrān ayat 188)

[4]Muslim no.2642

[5]Ma’alim fi ThariqThalabil ilmi hal.25

[6]HR.al-Bukhari no.4921 dan Muslim no.2130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *