Kiat-Kiat Agar Selamat di Akhirat

Kiat-Kiat Agar Selamat
di Akhirat

 

Tidak diragukan bahwa setiap orang yang menginginkan keselamatan di akhirat tentu dia akan berpikir bagaimana caranya agar bisa selamat di hari yang penuh kedahsyatan serta besar ini. Apakah kita telah memikirkan persiapan apa yang akan kita bawa di hari pembalasan ini agar kita bisa selamat pada hari itu? Padahal Allah سبحانه وتعالى telah berfirman:

{وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ كَانَ عَلَىٰ رَبِّكَ حَتْمًا مَقْضِيّا71 ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا 72}

Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam Neraka dalam keadaan berlutut. (QS Maryam [19]: 71–72)

Imam Hakim meriwayatkan bahwasanya Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه sedang bersandar di pangkuan istrinya, kemudian beliau menangis dan istrinya juga ikut menangis. Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه bertanya kepada istrinya, “Mengapa engkau ikut menangis?” Dia menjawab, “Aku melihatmu menangis maka aku pun ikut menangis.” Abdullah bin Rawahah رضي الله عنه menjelaskan, “Aku teringat firman Allah yang berbunyi:

{وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا ۚ }

Dan tidak ada seorang pun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. (QS Maryam [19]: 71)

Maka aku tidak tahu, apakah kita bisa selamat ataukah tidak.”1

Ini adalah perkara yang sangat agung, selayaknya seorang muslim punya perhatian lebih terhadap hal ini. Hendaknya dia memikirkan sebab-sebab apa saja agar selamat di hari perjumpaan dengan Rabbul‘alamin, sehingga dia bersiap dan berbekal demi keselamatan pada hari tersebut. Mari kita simak bersama kiat-kiat agar selamat di hari akhirat.2

Kiat-kiat agar selamat di hari akhirat:

Pertama: Menauhidkan Allah dan ikhlas dalam agama

Ini adalah sebab terbesar agar bisa selamat di hari akhirat. Dasarnya adalah hadits yang berbunyi:

مَنْ قَبِلَ مِنِّي الْكَلِمَةَ الَّتِي عَرَضْتُ عَلَى عَمِّي، فَرَدَّهَا عَلَيَّ، فَهِيَ لَهُ نَجَاةٌ.

“Barang siapa menerima kalimat dariku yang dahulu aku sodorkan kepada pamanku agar mengucapkannya, maka kalimat ini akan membawanya selamat.”3

Tauhid adalah tujuan Allah سبحانه وتعالى menciptakan makhluk ini di permukaan bumi. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون56}

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS adz-Dzāriyāt [51]: 56)

Jadi, tauhid adalah asas keselamatan. Siapa saja yang datang pada Hari Kiamat dengan tauhid, sungguh dia telah selamat dan sukses. Selamat dengan tauhid pada Hari Kiamat ada dua bentuk:

Pertama: Jika seseorang mewujudkan tauhid maka keselamatan dirinya adalah dengan selamat dari masuk Neraka; dia akan masuk Surga pertama kali tanpa hisab dan tanpa azab.

Kedua: Selamat dari Neraka dengan tidak kekal di dalamnya; jika orang yang bertauhid ini berjumpa dengan Rabbnya pada Hari Kiamat dalam keadaan bermaksiat, mengerjakan beberapa dosa besar yang tidak diampuni Allah, jika dia masuk neraka karena sebab dosanya maka dia tidak akan kekal di dalamnya; dia akan selamat dari kekekalan di Neraka.

Siapa saja yang datang pada Hari Kiamat tanpa tauhid, maka tidak ada harapan baginya untuk selamat, tidak ada jalan baginya untuk mendapat rahmat Allah dan ampunan-Nya. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{وَالَّذِينَ كَفَرُوا لَهُمْ نَارُ جَهَنَّمَ لَا يُقْضَىٰ عَلَيْهِمْ فَيَمُوتُوا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِنْ عَذَابِهَا ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي كُلَّ كَفُور 36 وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ 37}

Dan orang-orang kafir, bagi mereka Neraka Jahannam. Mereka tidak dibinasakan sehingga mereka mati dan tidak (pula) diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir. Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Rabb kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun. (QS Fāthir [35]: 36–37)

Kedua: Perhatian terhadap sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم dan petunjuknya

Sebab kedua ini sangat penting; perkaranya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Malik bin Anas, “Sunnah itu ibaratnya sebagai perahu Nabi Nuh, barang siapa menaikinya maka dia akan selamat, dan barang siapa ketinggalan maka dia akan tenggelam.”

Inilah sebab yang bisa menghantarkan pada keselamatan di akhirat, berpegang dengan sunnah Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengikuti manhajnya. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا 21}

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS al-Ahzāb [33]: 21)

Allah سبحانه وتعالى juga berfirman:

{لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ 63}

Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (QS an-Nūr [24]: 63)

Siapa saja yang amalannya tidak mengikuti petunjuk Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka amalan yang dia kerjakan tidak akan menyelamatkannya. Sebab, amalan yang pelakunya bisa selamat adalah amalan yang sesuai dengan petunjuk Nabi yang mulia صلى الله عليه وسلم. Telah shahīh dari Nabi صلى الله عليه وسلم bahwasanya beliau bersabda:

“Barang siapa membuat-buat perkara baru dalam agama yang tidak ada tuntunannya maka tertolak.” Dalam riwayat yang lain: “Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak termasuk urusan kami maka tertolak.”4

Maka keselamatan di hari akhirat didapat dengan berpegang teguh pada sunnah Rasulullah صلى الله عليه وسلم, mengikuti manhajnya, dan meneladani petunjuknya.

Ketiga: Taat kepada Allah dan rasul-Nya

Ini sebab yang ketiga, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى yang berbunyi:

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ52}

Dan barang siapa taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang- orang yang mendapat kemenangan. (QS an-Nūr [24]: 52)

Dalam ayat yang mulia ini Allah سبحانه وتعالى menyebutkan empat perkara yang membawa kemenangan dan keselamatan, yaitu: taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah, takut kepada Allah, dan bertakwa kepada-Nya.

Wabilkhusus takut kepada Allah, ia adalah asas yang agung dalam keselamatan seorang hamba. Sebab, orang yang selamat adalah yang takut kepada Rabbnya. Perasaan takut kepada Allah akan menggiring seorang hamba untuk meninggalkan perbuatan yang jelek dan beralih pada perbuatan taat dan ibadah. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ 28}

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun. (QS Fāthir [35]: 28)

Maka dari itu, seorang hamba semakin mengenal Allah akan semakin takut kepada-Nya. Dan begitu pula, seorang hamba semakin takut kepada Allah akan semakin taat kepada-Nya dan semakin mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم; dia pun semakin jauh dari dosa dan maksiat.

Keempat: Menjaga lisan, tetap di rumah, dan menangis atas kesalahan

Sebab keempat ini dapat membawa keselamatan terutama ketika terjadi fitnah. Tiga perkara ini terangkum dalam hadits Rasulullah صلى الله عليه وسلم:

Dari Uqbah bin Amir رضي الله عنه bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, “Wahai Rasulullah, apa kiat agar selamat?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab:

امْلِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ، وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ، وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

“Jagalah lisanmu, tetaplah di dalam rumahmu, dan menangislah atas segala kesalahanmu.”5

Nabi صلى الله عليه وسلم mengumpulkan tiga perkara yang agung ini agar seorang hamba selamat terutama ketika terjadi fitnah. Tidak ada keselamatan ketika terjadi fitnah kecuali dengan berpegang pada tiga perkara ini:

1. Menjaga lisan

Tidak mungkin seorang hamba dapat menjaga lisannya kecuali dia telah menimbang masak-masak sebelum berbicara. Jika yang akan diucapkan baik maka dia berbicara, jika buruk maka diam. Bahayanya lisan bagi seseorang sangat besar; Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكَ بِمَلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ»؟ قُلْتُ: بَلَى يَا نَبِيَّ اللَّهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ قَالَ: «كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا»، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: «ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ».

“Maukah engkau kuberi tahu tentang inti semua itu?” Aku (Mu‘adz bin Jabal رضي الله عنه) menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Lantas beliau memegang lisannya seraya bersabda, “Jagalah ini.” Aku bertanya, “Wahai Nabiyullah, apakah kami akan dihukum (disiksa) karena apa yang kami ucapkan?” Beliau menjawab, “Semoga ibumu kehilanganmu! Tidakkah yang menyungkurkan manusia ke dalam Neraka atas wajah-wajah mereka—atau beliau bersabda: atas batang hidung mereka—melainkan karena lisan mereka (yang buruk)?”6

Dalam hadits yang lain, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ اْلعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِاْلكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا فِيْ اْلنَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ اْلمَشْرِقِ وَ اْلمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak diperhatikan (baik dan buruknya) menyebabkan ia tergelincir ke Neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak dari timur ke barat.”7

Lisan itu perkaranya berbahaya; jahatnya lisan akan berimbas pada anggota badan seluruhnya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ، فَإِنَّ أَعْضَاءَهُ تُكَفِّرُ لِلِّسَانِ، تَقُولُ: اتَّقِ اللهَ فِينَا، فَإِنَّكَ إِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا، وَأَنْ اعْوَجَجْتَ، اعْوَجَجْنَا

“Jika seorang hamba memasuki pagi hari maka seluruh anggota badan akan mencela lisan. Anggota badan berkata, ‘Takutlah kepada Allah untuk menjerumuskan kami, kami tergantung padamu, jika kamu lurus maka kami akan lurus, jika kamu bengkok maka kami akan ikut bengkok.’”8

2. Tetap di rumah

Terutama ketika terjadi fitnah, agar bisa selamat di tengah fitnah yang melanda.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ

“Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah yang dijauhkan dari fitnah.”9

3. Menangislah atas kesalahanmu

Yaitu menghadirkannya, bahwa dirinya banyak berbuat dosa; dosa yang telah lewat atau sekarang, yang dilakukan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, semuanya dia sesali dan menggiringnya untuk taubat kepada Allah سبحانه وتعالى. Rasulullah صلى الله عليه وسلم pernah mengajarkan doa:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ دِقَّهُ، وَجِلَّهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ وَعَلَانِيَتَهُ وَسِرَّهُ

“Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku seluruhnya, yang kecil maupun yang besar, yang dahulu maupun yang belakangan, yang dilakukan terang-terangan maupun tersembunyi.”10

Kelima: Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya

Berdasarkan hadits:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: أَرَأَيْتَ إِذَا صَلَّيْتُ الصَّلَوَاتِ الْمَكْتُوبَاتِ، وَصُمْتُ رَمَضَانَ، وَأَحْلَلْتُ الْحَلَالَ، وَحَرَّمْتُ الْحَرَامَ، وَلَمْ أَزِدْ عَلَى ذَلِكَ شَيْئًا، أَأَدْخُلُ الْجَنَّةَ؟ قَالَ: «نَعَمْ».

Dari Jabir bin Abdillah al-Anshari رضي الله عنهما, bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم, “Bagaimana pendapat engkau jika saya melaksanakan shalat-shalat fardhu, berpuasa Ramadhan, menghalalkan yang halal, mengharamkan yang haram, dan saya tidak menambah sedikit pun atas hal itu; apakah saya akan masuk Surga?” Beliau صلى الله عليه وسلم menjawab, “Ya.”11

Inilah sebab terbesar agar selamat di akhirat, perhatian terhadap kewajiban dalam agama Islam dan menjauhi dosa. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ 69}

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS al-‘Ankabūt [29]: 69)

Keenam: Mengingat akhirat, bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah, dihisab, dan diberi balasan

Sebab, Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ 17ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ 18 يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ19}

Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (QS al-Infithār [82]: 17–19)

Dengan mengingat dahsyatnya hari akhirat, kita akan menyadari bahwa pada saat itu hanya ada dua jalan: golongan yang di Surga dan golongan di Neraka. Hal ini akan membuat kita takut dan bersiap untuk menghadapi hari itu.

Ketujuh: Berdoa kepada Allah

Karena segala urusan berada di Tangan-Nya, keselamatan ada di Tangan-Nya; tidak ada yang bisa selamat kecuali yang diselamatkan oleh Allah سبحانه وتعالى. Maka dari itu, mintalah keselamatanmu kepada Allah سبحانه وتعالى. Doa sangatlah dahsyat perkaranya; doa merupakan kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ 186}

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS al-Baqarah [2]: 186)

Maka dari itu, orang yang ingin selamat di akhirat, hendaknya dia memperbanyak doa kepada Allah سبحانه وتعالى. Hendaknya dia memanjatkan doa agar tetap istiqamah dalam agama, doa agar diberi hidayah, doa agar tidak menyimpang setelah jelas petunjuk. Dan yang lebih besar dari itu adalah berdoa di setiap shalat dengan ucapan:

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ 6}

Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS al-Fātihah [1]: 6)

Karena keselamatan di Tangan Allah سبحانه وتعالى, mintalah keselamatan itu dari-Nya. Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 21}

Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS an-Nūr [24]: 21)

Kedelapan: Memperbanyak istighfār

Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ 33}

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS al-Anfāl [8]: 33)

Ketahuilah, bahwa konteks kalimat apabila tersusun dari isim maka memberi faedah tetap dan terus-menerus. Sementara itu, apabila konteks kalimat dari sebuah kata kerja (fi‘il) maka memberi faedah perubahan baru dan terus-menerus. Renungilah ayat ini, Allah سبحانه وتعالى menggunakan kalimat ليعذبهم /liyu‘adzdzibahum/ (fi‘il) karena selama Rasul صلى الله عليه وسلم masih hidup dan hadir di tengah kalian maka hal itu dapat mencegah azab. Akan tetapi, renungilah kalimat setelahnya datang dengan konteks isim معذبهم /mu‘adzdzibahum/ karena istighfar adalah pencegah yang tetap dan ‘paten’ dari azab di setiap zaman dan waktu.12

Dari Abdullah bin Umar رضي الله عنهما bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الاسْتِغْفَارَ فَإِنِّيْ رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

“Wahai sekalian wanita, bersedekah dan perbanyaklah istighfar, sungguh aku melihat kalian penghuni Neraka yang paling banyak.”13

Itulah di antara kehebatan istighfar, maka jadikanlah ia sebagai jalan selamat di akhirat.

Kesembilan: Jangan bangga dengan amalan yang dikerjakan dan jangan tertipu dengannya!

Waspadalah, wahai saudaraku! Jangan anda merasa bangga dengan amal saleh yang sudah dikerjakan! Sebab, rasa ujub tidak akan membawa kebaikan; ia hanya akan membawamu tertipu dan menghancurkanmu. Ketahuilah, masuk Surga dan selamat dari Neraka bukan semata-mata karena amal saleh. Akan tetapi, semua itu dapat diraih sebab amalan dan atas karunia serta ampunan Allah سبحانه وتعالى.

Perhatikan hadits berikut ini!

Imam al-Bukhari telah meriwayatkan hadits dalam kitab Shahīh-nya14 dari jalan Abu Hurairah رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ. قَالُوْا: وَلَا أَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِرَحْمَةٍ.

“Amalan tidak akan menyelamatkan seorang pun di antara kalian.” Para sahabat bertanya, “Tidak juga engkau, wahai Rasulullah?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, “Tidak juga aku. Hanya, Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku.”

Walhasil, seorang muslim hendaknya tidak tertipu dengan amalannya, baik sedikit atau banyak. Takutlah kepada Allah سبحانه وتعالى bahwa amalan kita tidak diterima oleh-Nya! Allah سبحانه وتعالى berfirman:

{وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ 60}

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka. (QS al-Mu’minūn [23]: 60)15

Ummulmu’minin Aisyah رضي الله عنها pernah bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم tentang ayat di atas; beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, bersedekah, shalat, dan mereka merasa khawatir tidak diterima amalannya.”16

Riwayat-riwayat lain dari generasi salaf yang semisal dengan ini sangat banyak. Semua ini menunjukkan keikhlasan dan takutnya mereka kepada Allah سبحانه وتعالى; khawatir kalau-kalau amalan mereka tidak diterima oleh-Nya.

Kesepuluh: Istiqamah dalam beramal saleh

Kiat agar selamat di akhirat yang terakhir adalah tetaplah beramal saleh sesuai dengan tuntunan agama, istiqamah di atas jalan yang benar, dan jangan bersandar dengan takdir!! Sebab, setiap orang akan diberi kemudahan terhadap jalan yang Allah سبحانه وتعالى telah takdirkan padanya. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلىَ كِتَابِنَا وَنَدَعُ اْلعَمَلَ؟ قَالَ: اِعْمَلُوْا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ، أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ.

“Tidak seorang pun di antara kalian melainkan telah ditulis tempat duduknya di Neraka atau di Surga.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kalau begitu kita bersandar dengan takdir yang telah dituliskan dan kita tidak usah beramal!!?” Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab, “Beramallah kalian semua, karena setiap orang akan dimudahkan terhadap takdir yang ditentukan padanya. Apabila dia termasuk orang yang berbahagia maka dia akan diberi kemudahan untuk mengerjakan amalan orang yang berbahagia. Adapun apabila dia termasuk golongan yang celaka maka dia akan diberi kemudahan untuk mengerjakan amalan orang-orang yang celaka.”17

Disusun oleh Ustadz Abu Aniisah Syahrul Fatwa bin Lukman

1HR al-Hakim dalam al-Mustadrak: 8748

2Disarikan dari tulisan Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin al-Badr yang berjudul Mūjibāt an-Najāt Yaum al-Qiyāmah di http://al-badr.net/detail/FRsf6tOBUCpa dengan tambahan referensi penting oleh penulis.

3HR Ahmad 1/6. Lihat al-Misykāh no. 40 oleh al-Albani!

4HR Muslim: 1718

5HR at-Tirmidzi: 2406, Ahmad 5/259, dinyatakan shahīh oleh al-Albani dalam ash-Shahīhah no. 890.

6Hadits shahīh, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2616); Ibnu Majah (no. 3973); Ahmad (5/231, 273); ‘Abd bin Humaid (no. 112); Ibnu Abi ‘Ashim dalam az-Zuhd (no. 7); Hannad dalam az-Zuhd (no. 1090, 1091); dinyatakan shahīh oleh al-Hakim (2/412), dan disepakati oleh adz-Dzahabi, serta dinyatakan shahīh oleh Syaikh al-Albani (Lihat ash-Shahīhah no. 1122!).

7HR al-Bukhari: 6477, Muslim: 2988

8Hadits hasan (Lihat Shahīh at-Targhīb: 2871!).

9HR Abu Dawud: 4263, dinyatakan shahīh oleh al-Albani dalam al-Misykāh no. 540

10HR Muslim: 483

11HR Muslim: 15

12At-Ta‘bīr al-Qur’ānī hlm. 26, Dr. Fadhil Samira’i; Liyaddabbarū Āyātihi hlm. 73, Majmū‘ah Ūlá.

13HR Muslim: 79

14No. 6463

15Maksudnya orang-orang yang memberikan pemberian itu khawatir dan takut tidak diterima amalannya, karena mereka merasa telah meremehkan dalam mengerjakan syarat-syaratnya. (Tafsīr Ibn Katsīr 3/234)

16HR at-Tirmidzi: 3175, Ibnu Majah: 4198, Ahmad 6/159, al-Hakim 2/393, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahīhah: 162.

17HR al-Bukhari: 4666, Muslim: 2647

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *