Kiat Mempelajari Agama

Kiat Mempelajari Agama

Oleh: Ust. Muhammad AbduhTuasikal, S.T., M.Sc. (Pengasuh Rumaysho.Com, PimpinanPesantrenDarushSholihinPanggangGunungkidul)

1.      MEMBERSIHKAN SEBELUM MENGISI.

Ada kaidah yang dikenal oleh para ulama,

التَّخْلِيَّةُ قَبْلَ التَّحْلِيَّةِ

At-takhliyyah qabla at-tahliyyah.Yaitu, membersihkan sebelum mengisi. Sebelum hati diisi oleh ilmu, berarti hati dibersihkan dahulu.

Kaidah di atas diungkapkan oleh Ibnul Qayyim v\ dalam faedah kesepuluh dari kitab beliau yang berharga al-Fawa’id(hal. 56). Beliau v\ mengungkapkan, “Kalau suatu tempat sudah bersih, pasti akan sulit dimasuki oleh lawannya. Hal ini terjadi pada sesuatu yang nampak dan dirasakan secara indrawi, begitu pula pada keyakinan dan iradah. Jika hati terisi dengan akidah dan kecintaan yang batil, maka tidaklah ada tempat untuk kebenaran di dalamnya. Sebagaimana lisan jika disibukkan dengan kata-kata yang tidak manfaat, tentu lisan tersebut sulit disibukkan dengan ucapan-ucapan yang bermanfaat.Yangada, lisan hanya disibukkan dengan ucapan kebatilan. Begitu pula anggota badan jika telah disibukkan dengan selain ketaatan, tidak mungkin lagi tersibukkan dengan ketaatan, pasti hanya akan tersibukkan dengan lawannya.”

Berarti, membersihkan lebih dahulu sebelum mengisi dengan sesuatu yang baru.Kaitannya dengan ilmu, ilmu itu diterima oleh suatu wadah. Dan wadah yang menerima ilmu itu adalah hati. Sebagaimana suatu wadah yang ingin ditempati tentu perlu dibersihkan terlebih dahulu. Demikian pula dengan keadaan hati ketika akan dimasuki ilmu. Semakin bersih hati, semakin mudah ilmu itu diterima.

Oleh karenanya, siapa saja yang ingin mudah meraih ilmu, hendaklah ia bersihkan hatinya terlebih dahulu. Bersihnya hati adalah dengan bersih dari dua hal, yaitu bersih dari kotoran syubhat dan bersih dari kotoran syahwat.

Bersihnya hati adalah perkara yang amat penting. Ketika Nabi n\ diberi wahyu, beliau diperintahkan untuk melakukan hal ini terlebih dahulu. Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan,

Dan pakaianmu bersihkanlah. (QS. al-Muddatstsir: 4)

Ayat ini ditafsirkan pula dengan, bersihkanlah hatimu.

Kita pasti malu jika ada yang melihat pakaian kita dekil (kotor). Seharusnya kita juga merasa malu jika Allah q\ melihat hati kita yang kotor dan penuh dosa.Dari Abu Hurairah a\, Nabi n\bersabda,

إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan rupa dan harta kalian. Akan tetapi yang Allah lihat adalah hati dan amal kalian” (HR. Muslim: 2564)

Siapa yang menyucikan hatinya, maka ilmu akan mudah menghampirinya. Siapa yang tidak menyucikan hatinya, maka ilmu akan pergi. Sehingga dari sini kita lihat sebagian yang meraih ilmu malah tidak memperhatikan hal tersebut. Hari-hari mereka malah lebih sering diisi dengan syahwat dan syubhat. Lihat saja mereka masih sering melihat gambar-gambar yang haram, kata-kata kotor, perbuatan mungkar dan menikmati kemungkaran. Bagaimana orang-orang seperti ini bisa meraih ilmu?!

Sahl bin Abdillah v\ berkata, “Cahaya ilmu sulit masuk pada hati yang masih terisi dengan sesuatu yang Allah benci.”

2.      NIAT IKHLAS DALAM BELAJAR.

Kita tentu tahu bahwa kita diperintahkan untuk ikhlas dalam ibadah termasuk pula dalam belajar ilmu agama, sebagaimana Allah q\ perintahkan,

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus. (QS. al-Bayyinah: 5)

Begitu pula Nabin\bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. al-Bukhari: 1 dan Muslim: 1907, dari Umar bin al-Khaththab a\)

Karena ikhlaslah suatu kaum menjadi mulia. Sebagaimana Abu Bakr al-Marrudzi v\ pernah mendengar seseorang berkata pada Abu Abdillah, yaitu Imam Ahmad bin Hanbal v\, mengenai jujur dan ikhlas. Imam Ahmad pun berkata,

بِهَذَا اِرْتَفَعَ القَوْمُ

“Dengan ikhlas, semakin mulialah suatu kaum.” (Ta’zhim al-‘Ilmi, hal. 25)

Guru kami, Syaikh Shalih al-‘Ushaimi berkata,

وَإِنَّمَا يَنَالُ المَرْأُ العِلْمَ عَلَى قَدْرِ إِخْلاَصِهِ

“Seseorang bisa meraih ilmu sesuai dengan kadar ikhlasnya.”(Ta’zhim al-‘Ilmi, hal. 25).

Artinya, semakin seseorang ikhlas dalam belajar, maka semakin mudah meraih ilmu. Jika semakin mudah, maka ia pun akan terus semangat dalam belajar.Yang dimaksud ikhlas dalam belajar–sebagaimana kata Syaikh Shalih al-‘Ushaimib\–:

  • Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada diri sendiri.
  • Belajar agama untuk menghilangkan kebodohan pada orang lain.
  • Belajar agama untuk menghidupkan dan menjaga ilmu.
  • Belajar agama untuk mengamalkan ilmu.

Syaikh Shalih al-‘Ushaimib\ lalu berkata,

فَالعِلْمُ شَجَرَةٌ وَالعَمَلُ ثَمَرَةٌ وَإِنَّمَا يُرَادُ العِلْمُ بِالعَمَلِ

“Ilmu itu ibarat pohon, amal itu buahnya. Ilmu itu dicari untuk diamalkan.”(Ta’zhim al-‘Ilmi, hal. 27)

Memperbaiki niat inilah yang membuat kita bisa terus semangat dalam belajar. Namun memperbaikinya tentu sulit dan butuh perjuangan.Sufyan ats-Tsauri v\ pernah berkata,

مَا عَالَجْتُ شَيْئاً أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي ؛ لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

“Tidaklah ada yang paling sulit untuk kuobati selain daripada niatku. Karena niatku selalu berbolak-balik.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam)

Sulaiman bin Dawud al-Hasyimiv\ berkata,

رُبَّما أُحدِّثُ بِحَدِيْثٍ وَلِي نِيَّةٌ ، فَإِذَا أَتَيْتُ عَلَى بَعْضِهِ ، تَغَيَّرَتْ نِيَّتِي ، فِإِذَا الحَدِيْثُ الوَاحِدُ يَحْتَاجُ إِلَى نِيَّاتٍ

“Terkadang ketika aku menyampaikan satu hadits, aku butuh pada niat. Lalu jika beralih pada hadits yang lain, maka berubah pula niatku. Sehingga satu hadits itu butuh pada beberapa niat.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Jami’al-‘Ulum waal-Hikam)

Bisa jadi seseorang dalam belajar pada awalnya ingin mengharap ridha selain Allah q\, namun ilmu nantinya yang mengantarkan dia pada ridha Allah q\. Ad-Daraquthni v\ berkata,

طَلَبْنَا العِلْمَ لِغَيْرِ اللهِ فَأَبَي أَنْ يَكُوْنَ إِلاَّ لله

“Kami dahulu menuntut ilmu karena ingin gapai ridha selain Allah. Namun ilmu itu enggan, ia hanya ingin niatan tersebut untuk Allah.” (Disebutkan dalam Tadzkirah asSami’ waal-Mutakallim, dinukil dari Ma’alim fi ThariqThalabal-‘Ilmi, hal. 18)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin v\ menjelaskan, bahwa ikhlas adalah adab pertama yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu. Beliau berkata, “Kami menyebutkan ikhlas sebagai adab menuntut ilmu yang pertama kali harus dimiliki karena ikhlas adalah hal yang pokok. Maka wajib bagi penuntut ilmu untuk berniat melaksanakan perintah Allah dalam menuntut ilmu.”

Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, tidak kepada yang lainnya. Allah q\ berfirman,

Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam (menjalankan) agama dengan lurus. (QS. al-Bayyinah: 5)

Dan tidak perlu kita ragukan lagi bahwa menuntut ilmu agama merupakan ibadah yang paling mulia dan paling utama di sisi Allahq\.

Rasulullah n\juga telah mengabarkan kepada kita, bahwa menuntut ilmu agama untuk selain mengharapkan wajah Allah q\ termasuk dosa besar. Beliau juga telah menerangkan kepada kita adanya siksaan keras yang Allah persiapkan untuk pelakunya. Dari Abu Hurairah a\, Rasulullahn\ bersabda,

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya diharapkan dengannya wajah Allah w\, tetapi ia tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud: 3664 dan Ibnu Majah: 252. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan, bahwa sanad hadits ini hasan)

Dari Jabir bin Abdillah d\, Rasulullahn\ bersabda,

لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

Janganlah belajar ilmu agama untuk berbangga diri di hadapan para ulama, untuk menanamkan keraguan kepada orang yang bodoh, dan jangan mengelilingi majelis untuk maksud seperti itu. Karena barangsiapa yang melakukan demikian, maka neraka lebih pantas baginya!Nerakalebih pantas baginya!” (HR. Ibnu Majah: 254. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan, bahwa sanad hadits ini dha’if. Syaikh al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Oleh karena itu, hendaknya kita memperhatikan baik-baik hal ini. Janganlah kehadiran kita di majelis ilmu hanya karena kita malu dengan teman-teman kalau tidak datang kajian. Atau karena mengikuti “trend” semata, bahwa sekarang ini memang sedang “marak-maraknya” ikut pengajian. Sehingga kita mendatangi kajian ilmu ke sana ke mari karena “mengikuti” teman-teman kita tanpa ada banyak faedah ilmu yang bisa kita ambil.

3.      TERUS SEMANGAT DALAM BELAJAR.

Dari Abu Hurairah a\, Nabi n\bersabda,

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Semangatlah dalam hal yang bermanfaat untukmu, minta tolonglah pada Allah, dan jangan malas (patah semangat).” (HR. Muslim: 2664)

Imam an-Nawawi v\ mengatakan tentang hadits di atas, “Bersemangatlah dalam melakukan ketaatan pada Allah, selalu berharaplah pada Allah dan carilah dengan meminta tolong pada-Nya. Jangan patah semangat, yaitu jangan malas dalam melakukan ketaatan dan jangan lemah dari mencari pertolongan.” (Syarh Shahih Muslim 16/194)

Syaikh Shalih al-‘Ushaimi b\menyebutkan, ada tiga cara agar tidak kendor semangat dalam belajar, yang beliau simpulkan dari hadits di atas:

  • Semangat untuk meraih ilmu yang bermanfaat. Ketika seseorang mendapatkan hal yang bermanfaat tersebut, hendaklah ia terus semangat untuk meraihnya.
  • Meminta tolong pada Allah q\ untuk meraih ilmu tersebut.
  • Tidak patah semangat untuk meraih tujuan.

Mari kita lihat beberapa perkataan ulama salaf yang menunjukkan semangat mereka dalam belajar.

Al-Junaid v\ mengatakan,

مَا طَلَبَ أَحَدٌ شَيْئًا بِجِدٍّ وَصِدْقٍ إِلاَّ نَالَهُ فَإِنْ لَمْ يَنَلْهُ كُلَّهُ نَالَهُ بَعْضَهُ

“Tidaklah seseorang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, melainkan ia akan meraihnya. Jika ia tidak seluruhnya, ia pasti meraih sebagiannya.”

Lihat saja bagaimana semangat para ulama. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal v\ masih belia, terkadang ia sudah keluar menuju halaqah para ulama sebelum Shubuh. Ibunya saat itu mengambil bajunya dan mengatakan -sebagai tanda sayang pada Imam Ahmad-, “Tunggu saja sampai suara adzan dikumandangkan atau tiba waktu Shubuh.”

Coba perhatikan, Imam Ahmad sebelum Shubuh saja sudah bersiap-siap untuk belajar, sedangkan mata kita saat itu masih sulit untuk bangkit dari tidur yang nyenyak!

4.      PELAJARI ILMU DARI SUMBERNYA.

Syaikh Shalih al-‘Ushaimi b\ berkata, bahwa semua ilmu yang bermanfaat kembali pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Ilmu yang lain bisa jadi adalah turunan dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Atau ada ilmu di luar dari dua sumber tadi, namun bukan suatu darurat jika tidak dipelajari. (Ta’zhim al-‘Ilmi, hal. 46)

Jadi, seluruh ilmu dalam agama kita ini kembali pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Demikianlah Rasul n\ diperintah untuk berpegang pada keduanya,

Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada di atas jalan yang lurus. (QS. az-Zukhruf: 43)

Apakah ada selain al-Qur’an dan as-Sunnah yang diturunkan pada Rasul n\?

Ibnu Mas’ud a\ berkata,

مَنْ أَرَادَ العِلْمَ فَلْيُوَرِّثِ القُرْآنَ فَإِنَّ فِيْهِ عِلْمَ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ

“Siapa yang menginginkan ilmu, maka wariskanlah (ambillah) ilmu dari al-Qur’an, karena di dalam al-Qur’an terdapat ilmu orang yang terdahulu dan orang yang belakangan.”

Masruq v\ berkata,

مَا نَسْأَلُ أَصْحَابَ مُحَمَّدٍ عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ أَنَّ عِلْمَنَا يَقْصُرُ عَنْهُ

“Kami tidaklah bertanya pada sahabat Muhammadn\ mengenai sesuatu melainkan dengan al-Qur’an sudah menjawabnya.” (Disebutkan dalam Ta’zhim al-‘Ilmi, hal. 46)

 

Namun ilmu pada al-Qur’an tentu saja mesti dipahami, barulah bisa bermanfaat. Sebagaimana kata Ibnu Mas’ud a\,

إِنَّ أَقْوَامًا يَقْرَؤُنَ القُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ وَلَكِنْ إِذَا وَقَعَ فِي القَلْبِ فَرَسَخَ نَفَعَ

“Sesungguhnya ada kaum yang membaca al-Qur’an, namun al-Qur’an tersebut tidak melebihi lehernya (tulang kerongkongan). Al-Qur’an tersebut barulah bermanfaat jika menancap dalam hati.” (Fadhl ‘Ilmi as-Salaf ‘ala ‘Ilmi al-Khalaf, hal. 103)

5.      TETAP IKUTI ULAMA.

Ingat, ketika kita mengajak kembali pada al-Qur’an dan al-Hadits, bukan berarti kita meninggalkan perkataan para ulama atau meninggalkan pendapat madzhab. Bahkan boleh kita mengikuti pendapat ulama selama tidak keluar dari ajaran al-Qur’an dan as-Sunnah.

Ibnu Taimiyyah v\ berkata, “Siapa yang mencintai para ulama, boleh baginya mengikuti pendapatnya selama pendapat tersebut sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Seperti itu disebut muhsin (orang yang baik). Bahkan keadaan ini lebih baik daripada yang lainnya.” (Majmu’ah al-Fatawa 22/249)

  • Rambu ketika bermadzhab.

Bermadzhab itu boleh asalkan kita mau mengikuti rambu-rambu berikut ini.

Rambu pertama: Harus diyakini bahwa bermadzhab bukan dijadikan standard kawan dan musuh yang akhirnya memecah persatuan kaum muslimin. Yang tepat, yang jadi prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah, yang dijadikan standard kawan adalah jika mengikuti al-Qur’an dan petunjuk Rasulullahn\, serta ijma’ (konsensus) para ulama kaum muslimin. Menyelisihi ketiga hal tadi, berarti dijadikan standard untuk bara’ atau berlepas diri.

Rambu kedua: Tidak boleh seseorang meyakini bahwa setiap muslim wajib mengikuti imam tertentu, lantas tidak boleh mengikuti imam lainnya. Mengikuti satu imam inilah sebagai standard kebenaran, tidak pada lainnya.

Ibnu Taimiyyah v\berkata, “Yang bisa kita katakan pada orang awam, hendaklah ia taklid (ikut saja pendapat) dari satu orang, tanpa kita tentukan harus ikut Zaid atau ‘Amr. Sedangkan jika kita katakan, ‘Wajib bagi orang awam untuk taklid pada si A atau si B (dengan menunjuk orang tertentu, lalu dilarang ikuti yang lain),’ seperti itu bukanlah prinsip orang muslim yang sebenarnya.” (Majmu’ah al-Fatawa 22/249)

Rambu ketiga: Imam yang diikuti madzhabnya tersebut harus diyakini bahwa ia hanya ditaati karena menyampaikan maksud dari agama dan syariat Allah q\. Sedangkan yang mutlak ditaati adalah Allah q\ dan Rasul-Nya n\.

Rambut keempat: Menjaga diri agar tidak terjatuh pada hal-hal terlarang, sebagaimana yang dialami para pengikut madzhab, di antaranya:

  • Fanatik buta dan ingin berpecah belah.
  • Berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah karena yang diagungkan adalah perkataan imam madzhab.
  • Membela madzhab secara overdosis, bahkan sampai menggunakan hadits-hadits dhaif agar orang lain mengikuti madzhabnya.
  • Mendudukkan imam madzhab sebagai Nabin\. (Ma’alim Ushul al-Fiqh, ha 496-497)

Ibnu Taimiyyah v\ mengatakan,

أَمَّا وُجُوبُ اتِّبَاعِ الْقَائِلِ فِي كُلِّ مَا يَقُولُهُ مِنْ غَيْرِ ذِكْرِ دَلِيلٍ يَدُلُّ عَلَى صِحَّةِ مَا يَقُولُ فَلَيْسَ بِصَحِيحِ ؛ بَلْ هَذِهِ الْمَرْتَبَةُ هِيَ ” مَرْتَبَةُ الرَّسُولِ ” الَّتِي لَا تَصْلُحُ إلَّا لَهُ

“Adapun menyatakan bahwa wajib mengikuti seseorang dalam setiap perkataannya tanpa menyebutkan dalil mengenai benarnya apa yang ia ucapkan, maka ini adalah sesuatu yang tidak tepat. Menyikapi seseorang seperti ini sama halnya dengan menyikapi Rasul semata, yang selainnya tidak boleh diperlakukan seperti itu.” (Majmu’ah al-Fatawa 35/121)

Allah q\ berfirman,

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. an-Nisa’: 65)

  • Bermadzhab dan mengikuti ulama itu boleh, asalkan…
  • Dijadikan sebagai wasilah (perantara untuk belajar), bukan sebagai
  • Untuk menghilangkan mafsadat (kerusakan) lebih besar. (Ma’alim Ushul al-Fiqh, ha 495)
  • Prinsip taat ulama.

Wajib menaati ulama ketika selaras dengan perintah Allah q\ dan Rasul-Nya n\. Namun ketaatan pada ulama bukan mutlak berdiri sendiri.Artinya, jika tidak bersesuaian dengan perintah Allah dan Rasul-Nya, maka wajib ditinggalkan.

Kita diperintahkan untuk menaati ulama. Namun jika ada perselisihan,tetap kembali pada Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana dalam ayat,

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa’: 59)

 

6.      MERAIH ILMU LEWAT BUKU DAN ULAMA.

Cara meraih ilmu ada dua cara:

  • Mempelajari dari buku terpercaya.

Yaitu yang ditulis oleh ulama yang telah dikenal ilmu, amanat, selamat akidahnya dan selamat dari bid’ah serta khurafat.Namun mengambil ilmu secara otodidak akan menimbulkan dua problem:

  • Butuh waktu yang lama.
  • Ilmunya lemah dan bisa ditemukan banyak salahnya, karena ia tidak memiliki dasar dan kaidah yang kuat.
  • Belajar dari ulama atau seorang ustadz yang pakar secara langsung.

Cara kedua ini membuat ilmu menancap dengan cepat. Kalau cara pertama dengan belajar otodidak dari buku, bisa jadi membuat penuntut ilmu salah jalan. Entah itu karena pemahaman yang jelek, kedangkalan ilmunya, atau sebab lainnya. Sedangkan cara kedua, bisa terjadi diskusi antara guru dan murid. Nantinya akan terbuka pemahaman ilmu yang baik serta bisa diraih kesimpulan manakah pendapat terkuat serta pendapat yang lemah.

Jika dua cara di atas digabungkan, maka itu lebih sempurna dan lebih baik. Namun tentu saja mempelajari ilmu tersebut haruslah tahap demi tahap. Yang penjelasan ini akan diulas pada bahasan lainnya. (Demikian ringkasan dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin dari Kitab al-‘Ilmi, hal. 68-69)

Semoga kita semua dimudahkan dalam mempelajari agama.


*) Tulisan di atas adalah bagian dari buku “Mahasantri: Mahasiswa plus Santri” yang disusun oleh M. Abduh Tuasikal dan M. Saifudin Hakim yang diterbitkan oleh Penerbit Rumaysho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *