Puasa Hari Kelahiran

Sunnahkah Puasa Hari Kelahiran?

Oleh: Ust. Ahmad Sabiq Abu Yusuf Lc.

Soal:

Assalamu’alaikum. Akhir-akhir ini banyak yang puasa hari kelahiran. Sebab ada yang mengatakan itu adalah sunnah. Berdalil dengan perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wasallam berpuasa Senin, Kamis. Ketika ditanya, jawabnya bahwa Senin hari beliau dilahirkan. Mohon penjelasan.

(Pembaca, +6285xxxxxxx30)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah. Nash hadits tentang puasa Senin Kamis adalah sebagai berikut:

  1. Dari Qatadah Radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ditanya tentang puasa pada hari Senin, maka beliau bersabda:

ذَلِكَ يَوْمَ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمَ بُعِثْتُ ، أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ

Itu adalah hari saya dilahirkan, saya diutus dan diturunkan kepadaku alQur’an.” (HR. Muslim)

  1. Dari Abu Hurairah Radhiallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

تُعْرَضُ الْأَعْمَالُ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ ، فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِيْ وَ أَنَا صَائِمٌ

“Amal perbuatan akan dipaparkan pada hari Senin dan Kamis, maka saya senang jika amalku dipaparkan saat saya sedang berpuasa.” (Shahih, HR. at-Tirmidzi, sebagaimana dalam alIrwa’: 949)

  1. Aisyah s\ berkata:

كاَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صَوْمَ الْإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ

Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memperhatikan untuk puasa pada hari Senin dan Kamis.” (Shahih. HR. an-Nasa’i, Ibnu Majah dan at-Tirmidzi, at-Tirmidzi berkata: “Hasan Gharib.” Sebagaimana dalam Shahih atTarghib wa atTarhib: 1044)

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa puasanya Rasulullah karena 4 sebab: (1) Hari kelahiran beliau (2) Hari diutusnya beliau (3) Hari diturunkan padanya al-Qur’an dan (4) Hari dipaparkan amal seorang hamba. Sedangkan hari Kamis adalah karena itu hari dipaparkan amalan seorang hamba.

Jadi, puasanya Rasulullah pada hari Senin bukan semata karena hari kelahiran beliau, tapi karena sebab-sebab lainnya juga. Karena itulah tidak ada satu pun ulama –sepengetahuan saya- yang memahami hadits ini dengan puasa pada hari kelahirannya. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *