Abbad Bin Bisyr Al-Anshari

Abbad Bin Bisyr Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu

Oleh: Ust. Abdur-Rahman al-Buthoni

 

Semoga Allah selalu meridhai para sahabat Rasulullah, dan semoga selalu meridhai orang yang meridhai para sahabat. Semoga Allah senantiasa meridhai Ahli Sunnah yang senantiasa meridhai para sahabat Nabi sepanjang zaman dan setiap tempat.

Para sahabat dimusuhi dan disakiti semasa hidup mereka di dunia karena membawa dan menyebarkan agama Allah. Setelah meninggal dunia pun, bahkan telah lama mereka berada di alam kubur, namun mereka tetap mendapat celaan dan kebencian ahli bid’ah dan orang zalim. Mereka telah lama terkubur di perut bumi, tetapi agama Allah yang mereka perjuangkan tetap berkaitan erat dengan nama mereka. Oleh karena itu mereka tidak akan selamat dari celaan musuh, selama musuh mencela dan memusuhi agama Allah. Selama Iblis dan tentaranya; orang-orang kafir maupun ahli bid’ah memerangi agama Allah, selama itu pula para sahabat akan tetap dimusuhi.

Jika Allah yang memiliki agama tak selamat dari celaan, Rasul yang menyampaikan agama dari Allah tidak selamat dari permusuhan, maka para sahabat yang menjaga dan menyebarkan agama Allah lebih pantas untuk tidak selamat dari celaan dan dimusuhi. Terlebih lagi, siapa saja yang meneruskan perjuangan seperti perjuangan para sahabat dalam menjaga dan menyebarkan agama Allah, mustahil akan selamat dari celaan dan dimusuhi.

Orang-orang kafir mencela Allah yang menurunkan ayat tentang tauhid dan mengingkari kesyirikan. Al-Qur’an dicela karena mengajak kepada tauhid dan mengingkari syirik, Jibril dicela karena tak membawa wahyu yang sesuai dengan nafsu mereka. Nabi Muhammad dan para Nabi diperangi dan dibunuh karena mendakwahkan tauhid dan memerangi kesyirikan. Para sahabat disiksa, dibunuh, dan diusir karena mengikuti dakwah tauhid dan mengingkari syirik. Para da’i kepada tauhid mengalami apa yang dialami oleh para Nabi dan pengikut mereka, tergantung kekuatan dan keteguhannya dalam dakwah.

Inilah sunnatullah, agar nampak kemurnian tauhid dan kehinaan syirik, serta kebinasaan mengikuti nafsu dan setan. Para sahabat terus dimusuhi oleh Syi’ah Rafidhah karena tidak menyebarkan ajaran yang membuat Syi’ah ridha.

Sesuatu akan nampak kebaikan dan kejelekannya dengan lawannya. Maka tatkala ada yang memusuhi sahabat, nampaklah kebaikan mereka dan nampaklah kejelekan orang yang memusuhi. Tatkala Rafidhah memusuhi para sahabat, maka nampaklah kebaikan para sahabat. Allah Mahaadil dalam membalas kaum zalim di mana para sahabat dimusuhi dan dilaknat, namun mereka tak pernah hina, bahkan kehinaan selalu menyertai para pelaknat itu sendiri.

Para sahabat Muhajirin dan Anshar belum pernah ada satu pun di antara mereka yang terhina karena penghinaan musuh. Sebaliknya, belum pernah ada seorang Syi’ah Rafidhah sepanjang zaman yang mulia, bahkan selamat dari celaan dan kutukan. Seluruh muslim membela kehormatan sahabat dari kutukan Syi’ah. Sebaliknya, tidak ada satu pun muslim yang membela Syi’ah dalam melaknat sahabat Nabi.

Jika ada yang berkata, bahwa Khumaini mulia dan terhormat, maka jawabnya, benar, tetapi bagi yang mencintai dan yang sama nafsunya dengannya. Itu pun bukan kemuliaan, sebab kemuliaan itu ialah kemuliaan di bumi, di langit, dan seluruh alam. Adapun kemuliaan seorang Syi’ah bagi Syi’ah lainnya, sama seperti kemuliaan setan kepada Iblis ketika si setan berhasil menceraikan suami istri yang mulanya hidup rukun. Maka sang Iblis merangkulnya, memujinya, memberi penghargaan kepadanya, dan mendekatkan si setan kepadanya hingga menjadi setan yang terdekat kepada Iblis.

Sungguh menakjubkan kekuasaan Allah, di mana Syi’ah menghina sahabat, justru mereka yang terhina, sedang sahabat semakin mulia.

Sunnatullah yang berlaku pada para Rasul-Nya, bahwa mereka dimusuhi dan diperangi supaya lenyap, namun justru mereka berjaya. Maka demikian pula para pengikut mereka, semakin dimusuhi, dicaci, itu akan semakin meninggikan derajat mereka.

 

KEUTAMAAN ABBAD BIN BISYR

Beliau adalah Imam, Abu Rabi’ al-Anshari al-Asyhali, salah satu ahli perang Badar, termasuk tokoh kabilah Aus yang berusia 45 tahun. Tongkatnya pernah menyala saat malam hari, ketika sepulang dari tempat Rasulullah menuju rumahnya. Abbad masuk Islam lewat tangan Mush’ab bin ‘Umair dan termasuk salah satu sahabat yang membunuh tokoh Yahudi, Ka’b bin al-Asyraf. Rasulullah mengangkatnya untuk urusan zakat bani Muzainah dan bani Sulaim, serta memilihnya sebagai penjaga atau pengawal beliau pada perang Tabuk. Abbad bin Bisyr sangat terhormat, berperang dan berkorban luar biasa pada perang Yamamah, hingga beliau gugur sebagai syahid dengan beberapa luka di wajahnya. Semoga Allah meridhainya. Karena itulah beliau termasuk salah seorang pemberani yang ternama.

Ummul Mukminin Aisyah berkata, “Ada tiga orang yang mulia dari kalangan Anshar, tidak ada yang melebihi mereka dalam kemuliaan, dan semuanya dari bani Abdul Asyhal; Sa’d bin Mu’adz, Abbad bin Bisyr, dan Usaid bin Hudhair.”

Aisyah berkata lagi, “Rasulullah melakukan shalat tahajjud di rumahku, lalu beliau mendengar suara Abbad bin Bisyr, maka beliau berkata, ‘Hai Aisyah, ini suara Abbad bin Bisyr.’ Kujawab, ‘Benar.’ Maka kata beliau, ‘Ya Allah, ampunilah dia.” (HR. al-Bukhari)

Apakah doa kebaikan dari Rasulullah buat sahabatnya yang diijabahi di sisi Allah, ataukah doa jelek kaum Rafidhah yang maqbul di sisi-Nya? Apakah doa ampunan dari Rasul bagi sahabatnya yang diterima oleh Allah hingga mereka mati di atas Islam dan ampunan Allah, ataukah doa jelek dan zalim dari kaum Rafidhah, bahwa sahabat murtad dan ahli neraka??

Para sahabat sangat berbahagia jika didoakan secara khusus oleh Rasulullah.

Abbad bin Bisyr berkata, “Sesungguhnya Nabi berkata, ‘Hai segenap Anshar, kalian adalah syiar (pakaian dalam yang menyentuh kulit), atau pakaian pokok dan inti, sedangkan manusia adalah ditsar (pakaian luar).’”

Demikian itu karena kaum Anshar paling dekat kepada Rasulullah, pelindung, pembela, dan penolong Rasulullah.

Pada perang Badar kaum Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, seandainya engkau menyeberangi Laut Merah, kami akan menyeberang bersamamu! Tidak ada yang tertinggal satu pun dari kami. Maka berperanglah, kami akan berperang bersamamu!”

Tatkala tiga tokoh kafir Quraisy maju untuk mengajak perang tanding pada perang Badar, mereka langsung disambut oleh tiga pemuda Anshar. Dalam setiap peperangan, kaum Anshar selalu berada di barisan terdepan dan berkorban dengan sangat luar biasa untuk kemuliaan Islam hingga kaum kafir atau Rafidhah murka.

Inilah sunnatullah, bagi siapa saja yang mencari ridha Allah pasti akan mendapat murka dari orang kafir dan dari orang yang memiliki penyakit dalam hatinya. Maka berbahagialah orang yang mencari ridha Allah dengan murka manusia. Sebaliknya, celakalah bagi yang mencari ridha manusia dengan murka Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *