Cita-citaku adalah Surga

CITA-CITAKU ADALAH SURGA

Oleh: Ust. Abu Faiz Shalahuddin

 

Dari sahabat Abdullah bin Umar Radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

أَفْضَلُ المُؤْمِنِينَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَ أَكْيَسُهُمْ أَكْثَرُهُم لِلمَوتِ ذِكْرًا وَ أَحْسَنُهُم لَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ

“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas (yang sesungguhnya).”

(Diriwayatkan oleh Ibnu Majah 2/565, al-Baihaqi dalam az-Zuhdu al-Kabir 2/52, dan yang lainnya. Dinyatakan sebagai hadits HASAN oleh Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no.1384 dengan semua jalur periwayatannya)

 

Hadits di atas memberikan gambaran kepada kita, bahwa manusia terbagi menjadi dua: golongan pertama adalah manusia cerdas yang mengerti hakikat hidup yang sebenarnya. Mereka memahami untuk apa mereka hidup, dan ke mana mereka akan kembali. Merekalah manusia papan atas yang mencari kebahagiaan akhirat, meskipun di dunia harus hidup melarat. Karena harapan dan cita-cita tertinggi mereka adalah surga.

Golongan kedua, adalah jenis manusia yang lemah, lalai dan tertipu, karena mereka tidak memahami untuk apa mereka hidup. Cita-cita dan harapan tertinggi mereka hanya kenikmatan yang sesaat, dan merekalah para hamba dunia.

Manusia selera tinggi

Manusia golongan ini adalah orang-orang yang orientasi hidupnya jauh ke masa depan, dan yang mereka harapkan pun sesuatu yang tinggi lagi mulia:

  • Jika memilih rumah, maka dia akan memilih tempat tinggal di hunian yang paling indah, teduh, di tempat yang banyak sekali buah-buahan segar dan mengalir di bawahnya sungai-sungai.
  • Jika memilih perhiasan, dia akan memilih yang termahal dan terindah, emas dan permadani akan menghiasi seluruh rumahnya. Bahkan piring-piring dan gelas-gelas mereka terbuat dari emas dan perak.
  • Jika memilih istri, pilihan mereka adalah para bidadari-bidadari nan jelita, yang putih bersih tiada pernah bosan untuk dilihat, sehingga pandangannya tak pernah jatuh kepada wanita lain. Bagaimana mungkin dia akan memandang yang lain, karena istrinya telah memenuhi segala apa yang diinginkan.

 

{إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَعِيمٍ (17) فَاكِهِينَ بِمَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ وَوَقَاهُمْ رَبُّهُمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ (18) كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (19) مُتَّكِئِينَ عَلَى سُرُرٍ مَصْفُوفَةٍ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ (20) }

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan. Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka. Dan Rabb mereka memelihara mereka dari adzab neraka. (Dikatakan kepada mereka), “Makan dan minumlah dengan enak, sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.” Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli. (QS. ath-Thur: 17-20)

Itulah kenikmatan surga yang agung nan abadi. Orang-orang yang selalu berharap kenikmatan surga tersebut, merekalah ‘orang-orang selera tinggi’ yang sesungguhnya.

 

Manusia selera rendah

Manusia golongan ini adalah orang-orang yang orientasi hidup dan cita-citanya hanya terhenti pada kehidupan yang sedang dia jalani:

  • Jika memilih rumah, dia akan tinggal di sebuah rumah sementara, yang kapan saja dia harus siap untuk meninggalkannya, karena rumah itu hanya titipan yang sewaktu-waktu akan diambil kembali oleh pemiliknya. Rumah itu berhawa panas, karena penghuninya tidak pernah melakukan sesuatu yang bisa mendinginkan dan menyejukkan hati-hati mereka, meskipun rumah itu ber-‘AC’. Rumah itu sunyi seperti kuburan, karena di dalamnya tak pernah diperdengarkan ayat-ayat Allah, malah yang ada adalah suara-suara gaduh dari alunan musik yang mengundang setan. Mereka tidak sadar bahwa ternyata selama ini mereka tinggal ‘di rumah kuburan’ yang panas dan sumpek, meski rumah itu terlihat mewah.
  • Jika memilih istri, maka istri-istri mereka adalah para wanita yang hanya cantik luarnya, tapi tidak bisa mempercantik hati mereka, yang hanya bisa meminta untuk diantar berbelanja ke supermarket-supermarket, namun tidak pernah meminta untuk diantar ke tempat-tempat ilmu dan pengajian-pengajian yang menawarkan kebutuhan rohani.
  • Mereka para istri, yang hanya selalu meminta untuk mengajaknya berlibur ke tempat rekreasi, namun tak pernah meminta untuk diajak ke taman-taman surga seperti majelis taklim. Mereka pandai menuntut untuk dicukupkan segala makanan dan kebutuhan hariannya, tapi tidak pernah menuntut untuk dicukupkan kebutuhan dan makanan hatinya.

Merekalah ‘orang-orang selera rendah’ yang sesungguhnya, karena yang mereka harapkan hanyalah kenikmatan dunia yang sesaat.

 

Raih cita-cita tertinggi dengan amal

Cita-cita tidaklah bisa diraih hanya dengan angan-angan, namun ia akan diperoleh dengan usaha maksimal dan kerja keras yang tak mengenal lelah. Seorang pemburu dunia yang ingin menjadi kaya, dia harus memforsir semua tenaga, waktu, dan pikirannya untuk meraih sesuatu yang dia impikan. Bahkan terkadang dia harus begadang atau lembur berhari-hari demi meraih cita-citanya.

Maka bagaimana dengan seorang yang menginginkan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala? Apakah dia merasa ‘qana’ah’ dengan amalan yang sudah dia kerjakan, tidak pernah ada keinginan untuk ‘lembur malam’ untuk shalat tahajjud, atau aktivitas-aktivitas sampingan penambah pahala dan kebaikan, seperti membaca al-Qur’an? Bayangkan, bila kita mau mengumpulkan pundi-pundi pahala dari amalan sunnah semisal tilawah al-Qur’an, berapa pahala yang akan kita peroleh? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam mengatakan:

مَنْ قَرَأَ حَرْفاً مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لاَ أَقُوْلُ آلم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ, وَلاَمٌ حَرْفٌ ,وَمِيْمٌ حَرْفٌ .

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Kitabullah (al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan dan satu kebaikan tersebut akan dilipat gandakan menjadi 10 kebaikan. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi)

Jika kita mau memperhatikan, dalam setiap halaman al-Qur’an ada 15 baris, dan dalam setiap barisnya ada sekitar 30 huruf, sehingga dalam satu halaman berarti 15 x 30 = 450 huruf. Berapa kebaikan yang akan kita dapat bila kita membacanya dengan tulus ikhlas…? Padahal waktu untuk membaca satu halaman hanya butuh kurang dari 5 menit!

Lagi, shalat sunnah dua rakaat sesaat sebelum Shubuh (shalat sunnah fajar), ternyata lebih baik dari dunia seisinya!! Berapa menit yang kita habiskan untuk shalat sunnah dua rakaat?

Dan masih banyak lagi yang lainnya. Maka, jika amalan-amalan kebaikan yang terlihat remeh sering kita lalaikan, amalan yang wajib pun sering kita sia-siakan, bagaimana mungkin kita bisa berharap masuk surga dan meraih kenikmatan?

 

Angan-angan semu pelaku dosa

Di antara tipuan setan untuk menipu hamba yang lemah yaitu dengan memberinya angan-angan semu. Tatkala seorang melalaikan kewajiban dan menerjang larangan, lalu dibisikkan di telinganya, bahwa Allah Maha Pengampun, kesalahan itu hanya sedikit, masih ada kesempatan lain untuk bertaubat bila sudah usia tua, mumpung masih muda. Itulah bisikian setan berupa angan-angan dusta agar manusia lalai dari cita-cita mulia di akhirat. Padahal sahabat Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma berpesan:

إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .

“Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore. Gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu, dan kehidupanmu untuk kematianmu.” (HR. al-Bukhari)

 

Mereka telah memperoleh surga

Ada sebagian hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berharap surga dan mereka telah berhasil mendapatkannya, siapa sajakah mereka:

  1. Ja’far ibnu Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu. Sungguh, Ja’far bin Abi Thalib telah menukarkan kedua lengannya dengan dua sayap di surga, sehingga dia dapat terbang di surga bagaikan burung. Perang Mu’tah adalah peperangan terakhir beliau sebelum syahid. Kedua lengannya putus karena mengibarkan bendera tauhid demi meninggikan panji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Lalu Allah menggantinya dengan dua sayap di surga.[1]
  2.  Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘anhu. Seorang budak hitam yang telah berhasil mendapatkan cita-cita tertingginya dengan keistiqamahan di atas sunnah, hingga usahanya tersebut tidak sia-sia. Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu menceritakan, bahwa suatu hari selepas shalat Shubuh, tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam memanggil Bilal, “Wahai Bilal, beritahukan kepadaku amalan besar apa yang telah engkau lakukan di dalam islam, sehingga aku mendengar suara kedua sandalmu berada didepanku di surga?” Bilal menjawab, “Aku tidak memiliki amalan besar yang aku lakukan di dalam Islam, hanya saja tidaklah aku besuci dari hadats, baik siang maupun malam, melainkan aku shalat dua rakaat setelahnya.”[2]
  3. Seorang wanita hitam yang terkena penyakit ayan. Dia adalah seorang wanita hitam yang berpenyakit, namun dengan kesabarannya menghadapi ujian, dia memperoleh harapan dan cita-cita tertingginya. Surga Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atha’ bin Abi Rabah mengatakan,

قَالَ لِي ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَلاَ أُرِيْكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ؟ فَقُلْتُ بَلَى قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَتْ إِنِّي أَصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ تَعَالَى لِي قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةِ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللهَ تعالى أَنْ يُعَافِيْكَ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللهَ أَنْ لاَ أَتَكَشَّفُ فَدَعَا لَهَا.

“Ibnu Abbas berkata padaku, ‘Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Beliau berkata, ‘Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah menyembuhkannya.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan mendoakanmu supaya Allah menyembuhkanmu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku memilih bersabar.’ Lalu dia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi mendoakannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menolong kita untuk selalu ingat kepada-Nya, bersyukur kepada-Nya dan memperbagusi ibadah kepada-Nya, sampai kita dipanggil oleh-Nya. Amin.

 

[1] Shahih Ibnu Hibban 15/521 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1226.

[2] HR. al-Bukhari: 1098.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *