‘Amru bin Jamuh Radhiallahu ‘anhu

‘Amru bin Jamuh Radhiallahu ‘anhu

Rahmat Allah yang tidak sama pada setiap makhluk telah menjadikan makhluk terbagi dua; ada yang bersyukur dan memuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Dzat Pemberi nikmat dan mengakui nikmat Allah kepada seseorang yang dimuliakan di sisi-Nya, ada juga yang hasad terhadap pemilik kenikmatan dan menyebabkan dia mengufuri nikmat Allah dan melakukan protes kepada-Nya dengan memusuhi orang yang mendapat nikmat.

Iblis tidak menjadi kafir kecuali setelah Allah memberikan kemuliaan kepada Adam dan mengkhususkannya dengan nikmat ilmu. Hati yang bersih akan pasrah dan mengagungkan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberi kepada siapa yang dikehendaki dan menahan rahmat dari siapa yang dikehendaki, akan tetapi hati yang kotor akan menentang dan mengingkari, seperti Iblis yang berkata, “Kenapa Engkau lebihkan dia dariku?!” Lalu mengangkat dirinya dan merendahkan Adam dan senantiasa memusuhi orang yang dimuliakan oleh Allah agar dalam prasangka dan nafsunya, ia selalu yang lebih mulia dari yang lain.

Penyakit Fir’aun, Abu Jahal, Abu Lahab dan ulama ahli kitab merupakan warisan dari Iblis. Karena itu seluruh hidup dan usaha mereka dicurahkan untuk memerangi dan menghinakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam agar kebesaran dan kehormatan tetap berada pada diri mereka.

Kaum Syi’ah, pewaris tokoh Yahudi, memusuhi para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam agar kehormatan tetap menjadi milik Abdullah bin Saba’ dan para pengikutnya. Orang yang mewarisi penyakit Iblis ini tidak mungkin akan menegakkan kebenaran dengan mencintai orang-orang mulia dan menghancurkan kebatilan. Walaupun para sahabat tidak butuh pujian kaum Syi’ah setelah Allah dan Rasul-Nya dan seluruh manusia memuji mereka.

Seseorang mulia karena usahanya dalam takwa dan sabar terhadap musibah. Dia mendapat pahala dari kebaikan amalnya dan kesabarannya menerima kejelekan orang lain terhadap dirinya. Semua manusia terputus pahalanya setelah meninggal dunia, kecuali para sahabat. Selain sedekah jariah mereka (terutama ilmu yang bermanfaat) dan amal shalih, juga doa seluruh umat manusia sebagai anak mereka, para sahabat juga mendapat pahala dari jalur lain. Yaitu celaan para pendengki kepada mereka. Aisyah Radhiallahu ‘anha berkata, “Apakah kalian heran dengan kaum yang mencela para sahabat Nabi? Sesungguhnya Allah menghendaki agar pahala mereka tidak terputus dengan kematian.”

Alangkah bahagianya seseorang yang mendapat pahala dari gangguan orang lain tanpa dia merasakan sakitnya gangguan tersebut. Jika gangguan lisan, tangan, dan pedang Abu Jahal, Abu Lahab, serta kaum kafir tidak akan memadharatkan para sahabat, maka pasti, demi Allah, gangguan lisan Syi’ah tidak akan memadharatkan mereka sedikit pun.

Tatkala Abu Jahal dan para pengikutnya tidak berhasil mengeluarkan para sahabat dari keimanan dengan memaksa, menyiksa, dan memerangi, maka kaum Syi’ah juga berusaha untuk mengeluarkan kaum muslimin dari keimanan dengan cara membenci para sahabat para penyampai ajaran Islam.

Tatkala permusuhan umat kafir, Abu Jahal dan bala tentaranya kepada para sahabat tidak membuahkan hasil, maka setan mewahyukan kepada kaum Syi’ah yang menisbahkan diri kepada Islam untuk memusuhi para sahabat, siapa tahu akan berhasil. Sebab, musuh yang lemah dalam perang tanding akan menempuh jalan tipuan dan khianat. Ketika Iblis tidak berhasil menghancurkan kehormatan para sahabat semasa hidup lewat Abu Jahal dan tentaranya, maka Iblis mewahyukan kepada semisal kaum Syi’ah agar memusuhi mereka setelah wafat.

Tatkala para sahabat selamat dari makar buruk musuh hakiki, Abu Jahal dan tentaranya, maka Allah menghendaki agar mereka selamat pula dari makar buruk musuh dalam selimut yang menampakkan persahabatan dan memendam kebencian. Yaitu kaum Syi’ah yang mengaku Islam, padahal Islam dibawa dan disebarkan oleh para sahabat yang kata mereka telah murtad. Maka, apakah orang yang menghabiskan seluruh usianya untuk berjihad demi tegaknya kalimat Allah di permukaan bumi, lebih pantas untuk murtad ataukah orang yang menghabiskan usianya dalam memusuhi dan berlepas diri dari para sahabat Rasulullah?

 

Jalan hidayah ‘Amru

Tatkala Mush’ab bin ‘Umair Radhiallahu ‘anhu berdakwah di Madinah, ‘Amru bin Jamuh datang dan mengingkarinya seraya berkata, “Ajaran apa yang kalian bawa ini, hai Mush’ab?!” Maka Mush’ab menjawab, “Duduklah dulu. Dengarkan tanpa ada paksaan, barangkali kamu setuju.” Lalu ia duduk mendengarkan dan akhirnya masuk Islam.

Alangkah bahagianya tokoh-tokoh yang memusuhi Islam seandainya mereka mau mendengar dan berpikir, apakah dakwah Islam baik sehingga bisa diterima, ataukah jelek sehingga dapat dijauhi dan dimusuhi. Namun penghalang utama manusia dari kebenaran adalah tidak mau mendengar dan tidak mau menggunakan akalnya.

Suatu ketika ‘Amru bin Jamuh, tokoh bani Salimah yang menyembah berhala itu kehilangan patungnya. Sebab para pemuda dari kaumnya diam-diam mengikat patungnya bersama bangkai anjing dan dibuang ke dalam sumur. Tatkala ‘Amru mencari tuhannya, dikatakan kepadanya bahwa tuhannya bersama bangkai anjing di dalam sumur. Maka akal yang masih di atas fitrah akan berpikir, bahwa jika patung berhala ini berhak diibadahi dan dapat memberi manfaat, kenapa ia tidak melindungi dirinya dari barang kotor dan tidak mampu menghindar dari makar buruk manusia? Jika ia tidak sanggup memberi manfaat untuk dirinya, bagaimana mungkin dia mampu memberi manfaat kepada orang yang beribadah kepadanya? Kemudian ‘Amru masuk Islam.

Alangkah baiknya jika setiap orang yang buta terhadap kebenaran berpikir semacam ini. Akan tetapi bukan akal pikiran yang tidak berfungsi, bukan pula kebenaran yang samar baginya, namun kebenciannya kepada kebenaran yang menghalanginya dari mengikutinya. Bukanlah berpaling karena kebodohan, tetapi karena tak mau mengikuti kebenaran setelah mengetahuinya.

 

Bukti iman yang jujur

Iman yang benar menampakkan amal yang baik dan semangat tak tertandingi, karena hati yang dipenuhi iman akan memenuhi anggota tubuh dengan amal shalih.

Tatkala perang Uhud, ‘Amru bin Jamuh mendengar bahwa surga yang selebar langit dan bumi disiapkan buat orang yang beriman, dia pun berperang mati-matian sehingga menjadi syahid. Maka, tidakkah malu seseorang mengharamkan surga bagi sahabat, sedang mereka berjihad dan mati di jalan Allah demi surga yang Allah janjikan buat mereka?!

Itulah para sahabat yang mendengar berita tentang surga lalu segera meraihnya dengan harta dan jiwa. Lalu, apakah beruntung orang yang mendengar sebutan surga justru mencela dan melaknat ahlinya yang paling mulia, yaitu para sahabat Nabi? Apakah 10 sahabat dan yang telah dikabari dengan kabar gembira oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam sebagai ahli surga akan batal karena celaan kaum Syi’ah? Ataukah Syi’ah sendiri yang meyakini bahwa semua hadits tentang keutamaan sahabat dan janji surga untuk mereka merupakan buatan sahabat setelah mereka murtad? Allahul musta’an.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *