Etika Menjaga Rahasia

Etika Menjaga Rahasia

Oleh: Ust. Abu Bakr

 

Rahasia (السِّرُّ) secara bahasa adalah sesuatu yang disembunyikan. (Lisanul ‘Arab 4/356) Secara istilah, rahasia adalah suatu pembicaraan yang disembunyikan di dalam hati. (At-Tauqif ‘ala Muhimmah at-Ta’rif, al-Munawi hal. 193)

 

Macam-macam rahasia

Ar-Raghib al-Ashfahani mengatakan, “Rahasia ada dua macam; yang pertama: sesuatu yang diucapkan seseorang dan ia minta untuk disembunyikan, baik dengan ucapan, seperti, ‘Rahasiakan apa yang saya katakan!’ atau dengan isyarat, seperti berbicara empat mata dengan hati-hati, merendahkan suara, atau menyembunyikannya dari majelisnya, sebagaimana sabda Nabi, ‘Jika seseorang membicarakan sesuatu denganmu kemudian ia berpaling (menyingkir), maka itu adalah termasuk amanah.’ Yang kedua: sesuatu yang ada di dalam hati dan tidak baik jika disebarkan, atau sesuatu yang ingin dilakukan.

Menyembunyikan rahasia yang pertama dikhususkan untuk semua manusia, sedangkan menyembunyikan rahasia kedua termasuk bentuk kekuatan jiwa dan kehati-hatian. Menyebarkan rahasia termasuk bentuk kurangnya kesabaran dan sempitnya dada…” (Adz-Dzari’ah ila Makarimi asy-Syari’ah, hal. 212)

 

Anjuran menyimpan rahasia

Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang kita dari mengkhianati amanah, dan salah satu bentuk amanah adalah menyimpan rahasia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman janganlah mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah mengkhianati amanah kalian sedangkan kalian mengetahuinya. (QS. al-Anfāl: 27)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Sejelek-jelek kedudukan manusia di sisi Allah adalah seseorang yang berhubungan dengan istrinya, kemudian menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim: 1437)

An-Nawawi berkata, “Dalam hadits ini ada larangan untuk menyebarkan rahasia berhubungan intim antara dia dan istrinya dan menjelaskannya secara terperinci bagaimana ucapan dan gerakan istrinya. Sekadar menceritakan tentang jima’ tanpa ada manfaat dan keperluan termasuk makruh dan mencoreng muru’ah (harga diri), dan Rasulullah pernah bersabda, ‘Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaknya berkata yang baik atau diam.’ Jika ada keperluan atau kebutuhan, seperti mengingkari kenapa sang suami berpaling dari si istri atau menjelaskan bahwa ia lemah dari berjima’, maka tidaklah dilarang. Sebagaimana perkataan Nabi kepada seseorang, ‘Saya juga pernah melakukannya (jima’) dengan dia (Aisyah) kemudian kami mandi.’ (HR. Muslim 350) Dan Nabi juga pernah berkata kepada Thalhah, ‘Apakah kalian pengantinan malam ini?’” (Syarh Muslim 10/8)

 

Manfaat menyimpan rahasia

  • Menyimpan rahasia termasuk muru’ah dan kepiawaian.
  • Menyimpan rahasia kemenangan merupakan sebab terbesar kemenangan terhadap musuh.
  • Menyimpan rahasia akan membendung kedengkian dan hasad.
  • Akan mempererat hubungan antara saudara dan menumbuhkan kepercayaan antara suami istri. (Ar-Ra’id, Durus fit Tarbiyyah wad Da’wah, Mazin al-Furaih hal. 217)
  • Menyimpan rahasia merupakan sebab keselamatan dan tetapnya kebaikan. (Adabud Dunya wad Din, al-Mawardi hal. 306)

 

Menyimpan rahasia yang terlarang

  1. Menyembunyikan ilmu. (QS. al-Baqarah: 159)
  2. Menyembunyikan persaksian. (QS. al-Baqarah: 140, 283)
  3. Menyembunyikan aib dalam jual beli.

 

Di antara bentuk menyimpan rahasia

  1. Menyembunyikan ketaatan. (QS. al-A’rāf: 55) Di antara orang yang akan mendapat naungan pada hari kiamat adalah, “Seseorang yang bersedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. al-Bukhari: 1423)
  2. Menyembunyikan dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Semua umatku akan diampuni kecuali al-mujahirin. Yaitu orang yang menampakkan dan menceritakan dosanya, padahal sudah ditutupi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hadits ini menunjukkan, bahwa seseorang dibebani untuk menyimpan rahasianya, baik itu rahasia yang jelek maupun yang baik. Barangsiapa yang melakukan suatu kejelekan lalu merahasiakannya, tidak menyiarkannya kepada orang lain, kemudian ia taubat nasuha maka Allah akan menyimpan rahasianya dan menerima taubatnya. Adapun jika ia mengaku, maka wajib ditegakkan hukum syariat baginya, baik itu had atau ta’zir (menurut aturan pemerintah).” (Kitmanus Sirri wa Ifsya’uhu, Syarif ibnu Adwal hal. 101)

  1. Menyembunyikan suatu keperluan yang hendak dilakukan sampai ia selesai mengerjakannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam mewasiatkan hal tersebut dengan sabdanya, “Minta tolonglah untuk melakukan suatu keperluan dengan menyembunyikannya, karena akan selalu ada yang iri kepada setiap pemilik nikmat.” (HR. ath-Thabrani 20/94, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah 5/215, Shahihul Jami’: 943)
  2. Menjaga rahasia suami istri.
  3. Menyimpan rahasia mimpi yang buruk.

 

Potret salafus shalih dalam menyembunyikan rahasia

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam biasa merahasiakan rencana penyerangan terhadap musuh, bahkan terkadang beliau tidak memberitahukan niat dan tujuannya sampai dekat dengan sasaran. Di antaranya, beliau pernah mengutus pasukan kecil kaum Muhajirin pimpinan Abdullah bin Jahsy dengan membawa surat rahasia yang diperintahkan oleh Rasulullah agar tidak dibaca kecuali setelah dua hari perjalanan. Setelah Abdullah membukanya dan memahami isinya, ia pun melaksanakannya tanpa memaksa seorang pun dari pasukannya untuk mengikutinya. (Sirah Ibnu Hisyam 1/602)

Tatkala Umar menawarkan putrinya, Hafshah kepada Abu Bakar, Abu Bakar hanya diam. Setelah Hafshah dilamar oleh Nabi, barulah Abu Bakar berkata kepada Umar, “Tidak ada yang membuat saya menolak tawaranmu selain karena aku mengetahui Rasulullah pernah menyebut Hafshah. Aku tidak akan pernah menceritakan rahasia Nabi. Seandainya beliau menolak, maka aku yang akan menerima tawaranmu.” (HR. al-Bukhari: 4005)

Anas bin Malik pernah berkata, “Rasulullah pernah mendatangiku saat aku sedang bermain bersama anak-anak yang lain. Beliau mengucapkan salam kepadaku dan mengutusku untuk suatu keperluan. Aku terlambat pulang ke ibuku. Tatkala saya pulang, Ibu bertanya, ‘Apa yang membuatmu terlambat?’ Anas menjawab, ‘Rasulullah menyuruh saya untuk suatu keperluan.’ Ibunya bertanya, ‘Keperluan apa?’ Anas menjawab, ‘Itu Rahasia.’ Ibunya berkata, ‘Jangan memberitahukan seorang pun rahasia Rasulullah.’” (HR. Muslim: 2482)

Hudzaifah bin al-Yaman dijuluki Shahibu sirri Rasulillah (Penyimpan rahasia Rasul) karena banyak rahasia yang Nabi beritahukan kepadanya, menyangkut nama-nama orang munafik dan ia tetap menjaganya sampai akhir hayat.

 

Perkataan Para Salaf tentang Menjaga Rahasia

Ali bin Abi Thalib berkata, “Rahasiamu adalah tawananmu. Jika engkau sudah membeberkannya, maka engkau yang menjadi tawanannya.” (Adabud Dunya wad Din: 306)

Berkata Umar bin Abdil Aziz, “Hatimu adalah bejana rahasia. Mulut bejana itu adalah talinya, sedangkan lisan adalah pembukanya. Maka hendaknya setiap orang menjaga pembuka rahasianya.” (Adabud Dunya wad Din, hal. 308)

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Termasuk khianat adalah menceritakan rahasia saudaramu.” (Ash-Shumtu wa Adabul Lisan, Ibnu Abi Dunya hal. 214)

Wallahul Muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *