Agar Kita Diberi Cahaya

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

 
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ فِيْ قَلْبِيْ نُوْرًا وَفِيْ بَصَرِيْ نُوْرًا وَفِيْ سَمْعِيْ نُوْرًا وَعَنْ يَمِيْنِيْ نُوْرًا وَعَنْ يَسَارِيْ نُوْرًا وَفَوْقِيْ نُوْرًا وَتَحْتِيْ نُوْرًا وَأَمَامِيْ نُوْرًا وَخَلْفِيْ نُورًا وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا

“Ya Allah, ciptakanlah cahaya dalam hatiku, ciptakanlah cahaya pada penglihatanku, ciptakanlah cahaya pada pendengaranku, ciptakanlah cahaya pada arah kanan dan kiriku, ciptakanlah cahaya pada arah atas dan bawahku, ciptakanlah cahaya pada arah depan dan belakangku dan perbesarlah cahaya itu pada diriku.” (HR. Muslim no. 763)

Makna kalimat:

  1. Yang dimaksud “nūr” adalah cahaya iman[1], ilmu dan hidayah sebagaimana firman Allah yang artinya: “ …. Dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya tersebut dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia…..” (al-An’am[6]: 122). Namun kata “nūr” bisa juga dimaknai secara zhahir sebagaimana pendapat imam al-Qurthubi. Maksudnya, beliau memohon kepada Allah agar menjadikan cahaya pada anggota badan dan sekitarnya sebagai sumber penerang baginya dan orang-orang yang mengikutinya dari kegelapan pada hari kiamat kelak.[2]
  2. Sabda beliau وَعَظِّمْ لِيْ نُوْرًا Ibnu Hajar menjelaskan dalam kitabnya[3] bahwa dalam riwayat Abu Khaitsamah dari Abdurrahman dengan lafazh وَأَعْظِمْ لِيْ نُوْرًا sedangkan menurut riwayat Syu’bah dari Salamah dengan lafazh وَاجْعَلْ لِيْ نُوْرًا atau وَاجْعَلْنِيْ نُوْرًا

Faedah:

  1. Ibnu Hajar mengatakan doa ini beliau baca tatkala hendak keluar menuju shalat Shubuh sebagaimana dijelaskan oleh Imam muslim.[4]
  2. Para ulama mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam meminta cahaya pada anggota badannya (hati, penglihatan dan pendengaran) dan enam arah (kanan kiri, atas, bawah, depan dan belakang) di sekitarnya, maksudnya agar beliau diberi petunjuk dan hidayah sehingga hati, penglihatan dan pendengarannya serta berbagai keadaannya tidak lepas dari petunjuk dan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala.[5]
  3. Didahulukan hati karena ia ibarat raja dalam sebuah kerajaan. Kemudian penglihatan dan pendengaran karena keduanya merupakan kunci utama dalam proses berpikir dan memahami sesuatu. [6]
  4. Ibnu Malik (pengarang Alfiyah) mengatakan bahwa tidak adanya huruf jer ( عَنْ ) pada kalimat وَفَوْقِيْ نُوْرًا وَتَحْتِيْ نُوْرًا وَأَمَامِيْ نُوْرًا وَخَلْفِيْ نُورًا sebagai isyarat akan sempurnanya cahaya tersebut dan peliputannya. Karena semua manusia diliputi dengan kegelapan dan tidak akan bisa keluar darinya kecuali dengan cahaya I[7]
  5. Sudah sepantasnya bagi kita untuk meminta cahaya pada enam penjuru arah yang mengelilingi kita agar setan tidak mengganggu dan menggoda kita dengan menghembuskan berbagai keraguan serta was-was.[8] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Kemudian aku (setan) akan datangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. al-A’rāf: 17)

[1] Syarah Sunan Ibnu Majah 1/14.

[2] Mirqatul Mafatih 3/241.

[3] Fathul Bari 11/117.

[4] Fathul Bari 3/4.

[5] Syarah Shahih Muslim 6/45.

[6] Mirqatul Mafatih 3/241.

[7] Mirqatul Mafatih 3/241.

[8] Mirqatul Mafatih 3?242.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *