Nasihat Untuk Para Suami Istri

 

Oleh: Uswatun Hasanah (Ummu Bakar Syaddad)

 

Tidak lama ini saya membaca keluhan seorang istri yang ia tulis pada salah satu jejaring sosial. Ia menulis kurang lebih,

 

“Suamiku sering membanding-bandingkan aku dengan istri orang lain. Setiap hal yang kulakukan sering dinilai buruk olehnya.”

 

Satu persatu masalah silih berganti menimpa setiap rumah tangga.
Berbagai macam tuduhan dan saling menyalahkan pun terjadi. Sehingga ia merasa menjadi yang paling benar, paling baik dan keburukan semua ada pada pasangannya. Tentu saja hal ini akan memicu pasutri untuk tidak bersyukur terhadap apa yang Allah anugerahkan kepada mereka. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

 

“Allah tidak akan melihat kepada wanita yang tidak mensyukuri apa yang ada pada suaminya dan tidak merasa cukup dengannya.” (HR. an-Nasa’i)

 

Dan hal ini tidak akan terjadi jika setiap pasangan mudah mengintrospeksi diri, mau mengakui kesalahan dan kekurangannya. Pada akhirnya, kata “maaf” akan mudah diucapkan. Dan dengan sebabnya juga akan memperbaiki keadaan. Baik yang mengatakannya yang berbuat salah atau bukan.

Saudariku para istri, hendaknya Anda mempermudah dalam hal meminta maaf, baik di waktu kita bersalah atau tidak. Berusahalah untuk menjadi seperti wanita yang sudah tercatat sebagai penghuni surga, meskipun jasad dan ruh kalian masih berada di bumi.

Semoga Allah selalu menjadikan kebaikan ada di tengah-tengah kita, dan menjauhkan keburukan dengan sejauh-jauhnya. Semoga Allah juga melimpahkan kebahagiaan dan rahmat atas setiap rumah tangga kaum muslimin. Amin…

Wahai suami, dirimu di rumah adalah dirimu yang sesungguhnya

Wahai para suami yang semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati kalian semua, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

 

“Orang yang imannya paling sempurna di antara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya.”(HR. at-Tirmidzi: 1162)

 

Imam Malik Rahimahullah pernah menasihatkan, “Wajib bagi seorang suami berusaha menjadikan dirinya dicintai oleh istri-istrinya hingga ia menjadi orang yang paling mereka cintai.”[1]

 

Betapa banyak kita dapati seorang ketika bertemu dengan sahabatnya ditempat kerja ia akan bersifat mulia dan lembut, namun jika ia kembali ke rumah, jadilah ia seorang yang pelit, keras, menakutkan. Padahal, orang yang paling berhak untuk ia perlakukan baik dan lembut adalah istrinya! Hakikat seseorang lebih terungkap di dalam rumahnya daripada di luar rumah. Ini merupakan kaidah yang baku. Rahasia kaidah ini adalah, karena seseorang bisa menampakkan akhlak yang baik ketika ia di luar rumah dan bisa bersabar saat menampakkan akhlak yang baik tersebut, lantaran waktu pertemuannya dengan orang-orang di luar hanya sebentar. Ia bertemu dengan seseorang setengah jam, dengan orang yang kedua selama satu jam, dan dengan orang yang ketiga lebih cepat atau lebih lama. Sehingga ia mampu sabar berhadapan dengan mereka dan menampakkan akhlak yang baik. Akan tetapi, ia tidak akan mampu bertahan di atas kepribadian yang buruk di rumahnya sepanjang hidupnya.

Akhlak seseorang bisa dilihat ketika ia di rumah. Di situlah akan tampak sikap keras dari sikap lembutnya, terungkap sikap pelit dari sikap dermawannya, terkuak sikap yang terburu-buru dari sikap sabarnya. Dan bagaimanakah ia bermuamalah dengan ibu dan ayahnya? Betapa banyak sikap durhaka di zaman ini! Maka kenalilah hakikat dirimu di rumahmu. Bagaimanakah kesabaranmu ketika menghadapi anak-anak dan istrimu. Bagaimana juga kesabaranmu menjalankan tanggung jawab rumah tangga. (Dan camkan bahwa) orang yang tidak bisa mengatur rumah tangganya, bagaimana ia bisa memimpin umat? Inilah rahasia sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam, “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya.”[2]

Hendaklah para suami memiliki sikap yang santun,lembut,serta kasih sayang kepada istrinya. Yang dengan itu ia akan terlihat mulia dan terhormat di hadapan istrinya. Para suami hendaknya juga tidak hanya terlihat nyunah dalam pakaiannya saja. Tapi Akhlak Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam ketika bermuamalah dengan istrinya pun seharusnya juga ditiru. Lihatlah hadits yang menggambarkan bagaimana akhlak Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam dengan istri-istri beliau.

Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu berkata,

“Aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam menutupi bagian belakang punggung unta beliau dengan kain untuk digunakan sebagai tempat duduk Shafiyah. Kemudian beliau duduk di atas sisi unta dan meletakkan lututnya. Shafiyah pun meletakkan kakinya di atas lutut beliau hingga dia naik unta.” (Shahih al-Bukhari: 2235)

Inilah bentuk pergaulan indah yang telah ditinggalkan oleh kebanyakan kaum muslimin dan justru dihidupkan oleh kebanyakan non-muslim. Hendaknya jika seorang wanita ingin keluar atau masuk rumah, sang suami yang membukakan pintu untuknya. Begitu pula ketika sang istri bermaksud naik atau turun dari mobil, hendaknya suami membukakan pintu untuk istrinya. Ini bukanlah suatu aib, dan bukan pula suatu pertanda kemunduran.

Tetapi ini merupakan metode luhur yang menumbuhkan sikap hormat dan penghargaan dalam jiwa istri terhadap suaminya. Karena sang suami juga menghormati dan menghargainya. Kelembutannya sebagaimana yang dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam dalam hadits Shafiyah.[3]

 

 

Teruntuk saudariku juga para istri

Saudariku para istri, bertakwalah kalian kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jauhi maksiat. Betapa banyak negeri-negeri yang Allah hancurkan sehancur-hancurnya karena perbuatan maksiat yang dilakukan oleh penduduknya. Maka janganlah kalian hancurkan rumah tangga kalian dengan maksiat yang kalian perbuat. Karena bisa jadi itulah yang menjadi bumerang kehancuran rumah tangga kalian. Seorang wanita dahulu mengatakan sambil menangis setelah diceraikan oleh suaminya, “Ketaatan menyatukan kita, dan kemaksiatan menceraikan kita…”

 

Maka jagalah Allah niscaya Allah akan menjaga kalian. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Dia akan menjaga diri-diri kalian, rumah tangga kalian dengan sebaik-baik penjagaan.

Seorang istri yang sudah mengenal sunnah hendaknya tidak menuntut yang berlebihan terhadap suaminya. Sehingga suaminya seolah terbebani dengan beban yang berat. Hanya karena menuruti keinginan istri, ia berputar-putar dalam masalah dunia. Apalagi sampai menyuruh segala macam cara untuk mendapatkan keinginannya tak lagi peduli mana yang halal dari yang haram. Tapi sebaliknya, hendaklah menerima dengan ridha apa yang didapat oleh suaminya.

Para wanita salaf selalu berwasiat kepada suaminya, ketika suami mereka hendak keluar bekerja, “Hati-hatilah engkau, suamiku, dari penghasilan yang haram. Karena kami bisa bersabar dari rasa lapar, namun kami tidak bisa sabar dari api neraka.”

 

Saudariku, bersemangatlah kalian untuk mendapatkan surga abadi melalui suami kalian. Teruslah belajar untuk memperbaiki diri dan berusaha untuk merebut gelar wanita shalihah. Karena para bidadari surga sangat iri dengan wanita shalihah.

 

Al-Hasan al-Basri berkata, “Sesungguhnya bila aku menasehatimu, bukan berarti akulah yang terbaik di kalanganmu, bukan juga yang paling shalih atau shalihah dalam kalangan kamu. Seandainya orang itu hanya dapat menyampaikan dakwah bila dia sempurna, niscaya tidak akan ada pendakwah dan menjadi sedikitlah orang yang memberi peringatan.”

[1] Faidhul Qadir 3/496.

[2] Al-Mau’izhah al-Hasanah hal. 77-79.

[3] Kemesraan Nabi Bersama Istri hal.66-67, Adib al-Kamdani, cet. Arafah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *