Ketika Suami Harus Membimbing Istri

Oleh: Abu Ammar al-Ghoyami

www.alghoyami.wordpress.com

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala  telah menjadikan para suami sebagai pemimpin. Ia diberi wilayah kekuasaan memimpin tidak saja terbatas pada istri, namun menyeluruh pada istri dan anak-anak atau keluarganya. Allah berfirman:

 

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya para Malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. at-Tahrīm: 6)

 

Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

 

كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ، فَالأَمِيرُ الَّذِى عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

 

“Kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka seorang penguasa adalah pemimpin bagi rakyatnya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang istri adalah pemimpin bagi rumah suaminya dan anak suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang budak adalah pemimpin bagi harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Ketahuilah, kalian adalah pemimpin dan akan ditanya atas kepemimpinannya.” (HR. al-Bukhari: 2554 dan Muslim: 1829)

 

Bagaimana suami memimpin?

Seyogianya suami mengajari istri dan anak-anaknya ilmu pengetahuan dan berbagai kebaikan dunia akhirat. Hanya dengan itulah berarti telah berbuat baik di dalam memimpin istri dan anak-anaknya.

Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam pernah menyebutkan kewajiban yang demikian itu kepada salah seorang sahabatnya, Malik bin Huwairits Radhiallahu ‘anhu serta para sahabat lain yang sedang bersamanya. Beliau bersabda:

 

ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ

 

“Kembalilah kepada keluarga kalian, tinggallah bersama mereka, ajarilah mereka ilmu dan perintahlah mereka (menunaikan kebaikan).” (HR al-Bukhari di dalam Fathul Bari, 13/31, dan Muslim: 674)

 

Dengan apa suami memimpin?

Kepemimpinan suami di dalam rumah tangganya tidak selalu identik dengan kekerasan dan kekakuan. Namun hendaknya seorang suami belajar menerapkan kelembutan dan sifat lunaknya. Dengan sifat lemah lembut, kelunakan serta akhlak yang terpuji itulah hendaknya suami memimpin keluarganya. Dengan demikian ia akan menjadi suami idaman yang telah dipuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam. Abu Hurairah a\ menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

 

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً وَخِيَارُهُمْ خِيَارُهُمْ لِنِسَائِهِمْ

 

“Orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya. Dan orang yang paling baik di antara mereka (orang-orang mukmin) adalah yang paling baik pergaulannya terhadap istri-istrinya.” (HR. Ahmad 2/472 dengan sanad shahih)

 

Bekal suami sukses

Salah satu faktor keberhasilan suami istri di dalam membina keluarga bahagia ialah adanya sikap saling mengerti perangai masing-masing. Yang demikian itu terwujud dengan memberikan perhatian serta mempelajari watak dan perangai pasangan sehingga menjadi tahu apa yang disukai atau apa yang dibencinya. Dengannya ia akan bisa berusaha melakukan perkara yang menyenangkan pasangannya. Hal ini juga merupakan bekal suami secara khusus di dalam membina istrinya. Sehingga sudah seharusnya suami mengetahui sifat-sifat istrinya supaya ia dapat mengendalikannya dan mendapatkan ridha Allah dan keridhaan istrinya.

 

Akal istrimu tak sekuat akalmu

Bagaimana pun juga istri adalah seorang wanita. Kaum wanita memiliki kekuatan akal yang tidak sekuat akal kaum laki-laki. Oleh karenanya wajar apabila istri memiliki perhitungan yang terkadang berseberangan dengan perhitungan suami. Perhitungan istri berseberangan dengan perhitungan suami dalam hal ketepatannya, kecermatan maupun sebab akibatnya. Hal demikian sebab secara tabiat memang kekuatan akal keduanya berbeda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (QS an-Nisā’: 5)

 

Para ulama tafsir banyak yang menafsirkan orang yang belum sempurna akalnya di dalam ayat di atas ialah para wanita dan anak-anak. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam tatkala beliau ditanya tentang, benarkah bahwa kaum wanita lemah akalnya? Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ . قُلْنَ بَلَى . قَالَ : فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا

 

Bukankah persaksian seorang wanita sebanding dengan setengah persaksian laki-laki? (Benar). Itulah kekurangan akalnya (kaum wanita). (HR. al-Bukhari: 304 dan Muslim: 80)

 

Tak hanya hanya dalam persaksian saja, namun tatkala terjadi cekcok pun kaum wanita begitu sulit menerangkan alasan dan faktanya. Itulah yang telah disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

 

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran? (QS. az-Zukhruf: 18)

 

Istrimu bagimu ibarat tulang rusuk

Tulang itu keras, demikian juga tulang rusuk yang bengkok. Ia tidak mudah dilunakkan sehingga mudah diluruskan. Bahkan ia akan mudah patah bila hendak dipaksa lurus. Sebagai suami harus tahu sifat istri yang diibaratkan tulang rusuk ini. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

 

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا ، فَإِنَّهُنَّ خُلِقْنَ مِنْ ضِلَعٍ ، وَإِنَّ أَعْوَجَ شَىْءٍ فِى الضِّلَعِ أَعْلاَهُ ، فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ ، وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

 

Berwasiatlah kebaikan buat kaum wanita, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk dan sesungguhnya tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Bila kamu bergegas meluruskannya kamu akan mematahkannya. Dan jika kamu biarkan ia akan tetap bengkok. Maka berwasiatlah kebaikan buat kaum wanita.” (HR. al-Bukhari: 4890 dan Muslim: 1468)

 

Apabila demikian perkara para istri, maka sudah sepatutnya bagi para suami untuk membina dan memperlakukan istrinya sesuai dengan kadar kemampuan akalnya yang memang lemah. Istri adalah seorang wanita, kurang daya nalarnya, juga bertabiat tidak lurus seperti tulang rusuk. Meski demikian ia mudah dipatahkan. Maka suami harus memberikan toleransi terhadap sebagian kesalahan-kesalahan istri. Ia tidak boleh menghukum istri dengan setiap kesalahannya. Justru apabila seseorang suami menghukum seluruh apa yang dilakukan oleh istri yang kurang kuat akal dan daya nalarnya, ia pun akan dianggap sebagai orang bodoh lagi kurang akal, karena ia tidak menghukumi seseorang sesuai dengan kemampuan nalar akalnya.

Allahul muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *