Agar Mendapat Penjagaan Allah Ta’ala Sebagaimana Orang Shalih

Agar Mendapat Penjagaan Allah Ta’ala Sebagaimana Orang Shalih

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

 

بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ وَبِكَ أَرْفَعُهُ إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

“Dengan nama-Mu ya Rabbi, aku meletakkan lambungku. Dengan nama-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan diriku (mati) maka berikanlah rahmat kepadanya. Namun, jika Engkau membiarkannya hidup maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR.al-Bukhari no. 5961 dan Muslim no. 2714)

Makna kalimat:[1]

  1. Sabda beliau بِاسْمِكَ رَبِّيْ وَضَعْتُ جَنْبِيْ وَبِكَ أَرْفَعُهُ maksudnya adalah meminta pertolongan dengan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam meletakkan dan mengangkat badan ketika hendak tidur. Karena tanpa pertolongan, kekuatan, kehendak dan takdir dari-Nya niscaya kita tidak akan mampu untuk melakukannya.
  2. Sabda beliau إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ maksudnya Engkau ambil rohku ketika sedang tidur.
  3. Sabda beliau فَارْحَمْهَا (berikan rahmat kepadanya) dalam riwayat al-Bukhari dengan lafazh فَاغْفِرْ لَهَا artinya, berilah ampunan kepadanya.
  4. Sabda beliau وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا maksudnya adalah Engkau kembalikan rohku, Engkau bangunkan aku dari tidurku.[2]
  5. Sedangkan sabda beliau فَاحْفَظْهَا maksudnya, jaga dan peliharalah jiwaku dari berbagai perbuatan maksiat.

Faedah:[3]

  1. Di antara bukti kesempurnaan agama Islam ialah segala aspek kehidupan manusia diatur dan didesain agar senantiasa bernilai ibadah. Hal ini tidak akan dijumpai pada ajaran selain Islam.
  2. Dalam doa di atas menyebutkan rahmat atau ampunan ketika mengambil rohnya (mati), dan menyebut penjagaan ketika menakdirkan ia bangun lagi (إِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِيْ فَارْحَمْهَا وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا ). Hal ini mengandung makna, bahwa kebutuhan manusia ketika meninggal adalah ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ketika dia dalam keadaan hidup adalah penjagaan dari-Nya.
  3. Hendaknya bagi seorang muslim berusaha semaksimal mungkin bagaimana tidurnya bisa bernilai ibadah. Hal ini tidak akan diperoleh kecuali dengan mengerjakan adab-adab yang telah diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam.
  4. Di antara adab yang beliau Shallallahu ‘alaihi was salam ajarkan ketika hendak tidur adalah:
  5. Berwudhu sebagaimana wudhu ketika hendak shalat.
  6. Tidur dengan bertumpu pada bagian tubuhnya yang sebelah kanan (miring dengan bagian kanan berada di bawah).
  7. Hendaknya amalan terakhir yang ia kerjakan adalah berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  8. Doa di atas dibaca ketika seseorang hendak tidur. Selain doa di atas, masih banyak doa hendak tidur yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam semisal:

بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوْتُ وَأَحْيَا

“Dengan Nama-Mu ya Allah aku mati dan hidup.” (HR. al-Bukhari no. 5965)

 

  1. Setelah bangun tidur kita juga disunnahkan untuk membaca doa yang shahih dari Rasulullah, di antaranya:

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah sebelumnya mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami dikumpulkan (di hari kebangkitan).” (HR. al-Bukhari no. 5965)

 

Allahu a’lam.

[1] Tuhfatul Ahwadzi 9/244, Faidhul Qadir 1/309.

[2] Baca QS. az-Zumar [39]: 42.

[3] Faidhul Qadir 1/309, Syarah Hishnul Muslim (terjemahan) hal. 253, dll.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *