Agar Terjaga dari Jerat Setan dan Tentaranya

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

 

اَللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ رَبَّ كُلَّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِيْ سُوْءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

“Ya Allah, Dzat Yang mencipta langit dan bumi, Yang mengetahui perkara gaib dan yang nyata, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi secara benar selain Engkau, Rabb segala sesuatu dan penguasanya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan jiwaku, dari kejahatan setan dan bala tentaranya dan dari melakukan suatu keburukan terhadap diriku sendiri atau menularkannya kepada seorang muslim.” (HR. at-Tirmidzi no. 3529 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2798)

Makna Kalimat:[1]

  1. Sabda beliau فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ maksudnya Dzat yang pertama kali menciptakan langit dan bumi tanpa ada contoh sebelumnya.
  2. Sabda beliau مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ maksudnya beliau memohon perlindungan kepada Rabb-nya dari keburukan jiwa karena jiwa itu senantiasa mengajak kepada keburukan, condong kepada syahwat dan kelezatan yang cepat musnah.[2]
  3. Sabda beliau وَشِرْكِهِ bisa dibaca 2 bacaan. Pertama; dengan mengkasrah huruf syin dan mensukun huruf ra’, maknanya yang diserukan dan yang dibisikkan oleh setan agar menyekutukan Allah. Kedua; dengan memfathah huruf syin dan ra’ maksudnya berlindung dari jerat-jerat setan dan perangkapnya.

Faedah:

  1. Doa di atas bersumber dari sahabat yang mulia Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu. Pada suatu ketika beliau meminta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam agar diajari sebuah dzikir yang bisa dibaca ketika pagi atau sore hari. Lantas Rasulullah mengajarkan bacaan dzikir di atas.
  2. Beriman dengan urusan gaib termasuk salah satu ciri orang yang bertakwa.[3] Tidak ada satu makhluk pun yang bisa mengetahui perkara gaib meskipun seorang nabi, rasul ataupun seorang malaikat kecuali jika Allah memberitahu sebelumnya.[4]
  3. Setan merupakan musuh yang nyata bagi anak keturunan Adam. Dengan berbagai cara dan usaha mereka berusaha menyesatkan manusia. Dan dari berbagai arah mereka ingin menggelincirkan manusia; dari depan dan belakang maupun dari kanan dan kirinya.[5]
  4. Muslim sejati adalah apabila orang lain selamat dari bahaya lisan dan tangannya.[6] Dan terjadinya kejahatan lisan dan tangan seseorang itu bermula dari hawa nafsu dan bisikan setan. Oleh karena itu, hendaknya kita berusaha menjaga diri kita agar tidak memadharatkan diri dan saudara kita, di antaranya dengan membaca dzikir di atas ketika pagi atau sore hari.
  5. Ada riwayat lain dengan redaksi yang berbeda dari dzikir di atas, sehingga bisa menggunakan riwayat di atas atau riwayat berikut:[7]

اَللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَاطِرَ السَّمَاوَات وَالْأَرْضِ رَبَّ كُلَّ شَيْءٍ وَمَلِيْكَهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ

[1] Tuhfatul Ahwadzi 9/237 dan Syarah Hishnul Muslim (terjemahan), hal. 224-225.

[2] QS. Yusuf: 53.

[3] QS. al-Baqarah: 3.

[4] QS. al-Jin: 26-27.

[5] QS. al-A’raf: 17.

[6] HR. al-Bukhari no. 10 dan Muslim no. 41.

[7] HR. at-Tirmidzi no. 3392.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *