Rangkaian Amalan Manasik Haji (Tamattu’)

RANGKAIAN AMALAN MANASIK HAJI (TAMATTU’)

Oleh: Ust. Abdul Khaliq L.c.

            Para pembaca yang semoga senantiasa dirahmati Allah ta’ala, insya Allah pada edisi kali ini dan beberapa edisi berikutnya akan kita bahas tentang rangkaian amalan haji secara beruntun dari awal sampai akhir.Dan karena haji yang paling afdhal adalah haji Tamattu’, maka yang akan kamisampaikan dalam pembahasan kali ini adalah amalan haji Tamattu’.

Sebelum berangkat

  1. Ketika seseorang sudah memiliki kemampuan untuk berhaji, dan telah bulat pula niatnya, hendaknya dia segera bertaubat kepada Allah ta’ala dari semua bentuk dosadan berusaha untuk membebaskan diri dari kezaliman-kezaliman kepada sesama manusia dengan meminta maaf kepada mereka.Dia juga berusaha untuk melunasi utang-utangnya, berusaha mencari keridhaan orang tua dan kerabatnya dan meninggalkan untuk keluarga yang ditinggalselama berhaji nafkah yang cukup untuk kebutuhan mereka selama ditinggal.
  2. Berusaha semaksimal mungkin untuk menjadikan harta yang digunakan untuk berhaji adalah harta yang halal, tidak tercampur dengan yang haram, agar hajinya lebih mudah untuk diterima oleh Allah ta’ala.
  3. Berusaha untuk mencari pendamping yang shalih dalam perjalanan ibadah haji agar bisa memberikan contoh dan membantu dirinya dalam kebaikan. Terlebih lebih apabila yang mendampinginya adalah orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, tentu ini lebih utama.
  4. Ketika telah datang bulan haji, yaitu bulan Syawal, Dzulqa’dah atau permulaan bulan Dzulhijjah, maka dia berangkat melakukan safar untuk berhaji. Dan ketika safar hendaknya memperhatikan adab-adab ketika safar.

Berihram

  1. Setelah sampai miqat (tempat permulaan ihram), maka diamandi seperti mandi junub lalu memakai wewangian. Wanita juga melakukan seperti itu walaupun dalam keadaan haid atau nifas. Seandainya ketika ihram bau minyak wangi masih membekas dibadan atau pakaian, maka ini tidak mengapa.
  2. Mengenakan pakaian ihram.Yaitudengan mengenakan dua lembar kainbagilaki-laki, al-izar untuk menutup badan bagian bawah dan ar-rida’ untuk menutup badan bagian atas. Adapun kaum wanita maka tidak ada pakaian khusus untuk mereka, yang penting menutup aurat dan tidak bertentangan dengan syar’i.
  3. Apabila ketika dimiqat bertepatan dengan datangnya waktu shalat, maka dia shalat fardhu, jika tidak maka shalat dua rakaat dengan niat shalat sunnah setelah berwudhu.Setelah itu berniat ihram untuk melakukan umrah. Ketika sudah berada diatas kendaraan untuk berangkat menuju Makkah, membaca takbir, tahmid, sambil menghadap kearah kiblat lalu membaca: لَبَّيْكَ اللهم عُمْرَةً (aku penuhi panggilan-Mu,ya Allah,untuk berumrah).
  4. Bagi yang berangkat dengan naik pesawat, maka dia memulai ihramnya ketika berada diatas (sejajar vertikal) dengan miqat yang dia lalui. Dengan demikian hendaknya dia telah melakukan persiapan sebelum melintasi miqat tersebut dengan sudah mandi dan mengenakan pakaian ihram sebelumnya.
  5. Setelah mengucapkan لَبَّيْكَ اللهم عُمْرَةً diatas kendaraan, lalu dia membaca kalimat talbiyah:

«لَبَّيْكَ اللهُمَّ، لَبَّيْكَ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ، إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ، وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَكَ»

Kaum laki-laki membaca kalimat talbiyahtersebut dengan suara yang keras. Adapun kaum wanita maka mereka mengeraskan suaranya seukuran denganapayang bisa didengar oleh orang yang ada disampingnya.

  1. Disunnahkan untuk memperbanyak membaca kalimat talbiyah ini, terlebih lagi ketika terjadi perubahan keadaan,sepertijalannyamenanjak, menurun, atauketika terjadi pergantian waktu antara siang dan malam. Wanita juga memperbanyak membaca kalimat talbiyah ini walaupun dalam keadaan haid.Tidak berhenti dari membaca talbiyah ini, kecuali ketika sudah sampai di Masjidil Haram.

Sesampai di Makkah

  1. Ketika telah sampai di Makkahmaka bergegas menuju Masjidil Haram dan ketika itu berhenti dari membaca talbiyah. Setelah berada didalam masjid langsung menuju Hajar Aswad untuk memulai thawaf dan tidak perlu melakukan shalat Tahiyatul Masjid. Thawaf dimulai dari Hajar Aswad dengan mencium Hajar Aswad dan mengusap dengan tangannya jika memungkinkan. Jika tidak maka cukup mengusap lalu mencium tangannya.Jika hal ini juga tidakmemungkinkan, maka cukup dengan mengisyaratkan tangannya sambil bertakbir membaca Allahu Akbar. Dan jika dengan isyaratmaka tidak perlu mencium tangannya. Dan sebaiknya tidak Berdesak-desakkan atau saling dorong dengan manusia yang berusaha untuk bisa mencium Hajar Aswad.Karena perbuatan ini bisa mengganggu dan menyakiti orang lain, dan ini hukumnya tidak boleh.
  2. Lalu berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran dengan menjadikan Ka’bah disebelah kirinya. Tiga putaran yang pertama dengan berlari kecil, sedang empat putaran berikutnya dengan jalan biasa. Ketika sampai pada Rukun Yamani (sudut Ka’bah sebelum Hajar Aswad), mengusap rukun tersebut dengan tanpa mencium, dan diantara dua rukun (sudut) tersebut (rukun Yamani dan Hajar Aswad) membaca doa:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“Ya Allah, berikanlah kepadaku didunia kebaikan, dan diakhirat kebaikan, dan jagalah aku dari adzab neraka.”

Ketika sampai diHajar Aswad, maka telah mendapat satu putaran, lalu melakukan seperti yang dilakukan sebelumnya, yaitu; mencium, mengusap atau berisyarat dengan tangan ke Hajar Aswad, lalu meneruskan putaran yang kedua, ketiga. Demikian seterusnya sampai selesai tujuh kali putaran.

Perlu dipahami,bahwasanya tidak ada doa-doa khusus ketika thawaf, kecuali antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad dengan membaca doa diatas. Sehingga ketika thawaf bisa membaca takbir, tahmid, tasbih tahlil atau membaca kalimat-kalimat thayyibah yang lainnya.Juga bisa sambil membaca al Qur’an.

  1. Setelah selesai tujuh kali putaran mengelilingi Ka’bah, lalu menuju Maqam Ibrahimsambil membaca: وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَقَامِإِبْرَاهِيْمَ مُصَلًّى” “lalu shalat dua rakaat di belakangnya. Rakaat yang pertama membacasurat al-Kafirun dan rakaat yang kedua membaca surat al-Ikhlash.
  2. Kemudian menuju air Zamzam, minum dari air tersebut juga mengguyur kepala dan membasahi anggota badannya dengan air Zamzam.
  3. Lalu kembali lagi ke Hajar Aswad untuk mengusapnya jika memang memungkinkan.

Sa’i antara bukit Shafa dah Marwah

  1. Setelah mengusap Hajar Aswad langsungmenuju tempat sa’i, yaitu antara Shafa dan Marwah. Ketika telah dekat dengan bukit Shafa, membaca:

أَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللهُ بِهِ

  1. Lalu naik keatas bukit Shafa sehingga bisa melihat Ka’bah, lalu menghadap kearah kiblat, mengangkat kedua tangansambil membaca:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، أَنْجَزَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ»

Kemudian berdoa dengan doaapa yang dia inginkan (tidak ada doa khusus). Lalu mengulang lagi membaca dzikir ini sampai sebanyak tiga kali dan diselingi dengan doa diantara bacaan dzikir tersebut.

  1. Turun dari bukit Shafa menuju bukit Marwah. Ketika berada diantara dua lampu yang berwarna hijau dikencangkan jalanya dengan agak berlari. Sebagaimana ketika thawaf tidak ada doa khusus. Demikian juga sa’i antara Shafa dan Marwah, tidak ada doa khusus. Sehingga ketika sa’i ini bisa membaca takbir, tahmid, tasbih tahlil atau kalimat kalimat thayyibah yang lainya, juga bisa sambil membaca al Qur’an.
  2. Setelah sampai dibukit Marwah maka melakukan seperti apa yang dilakukan dibukit Shafa dengan berdiri menghadap kearah kiblat, mengangkat kedua tangan sambil membaca dzikir diatas dan berdoa. Dengan demikian dianggap telah mendapat satu putaran. Lalu turun menuju bukit Shafa dan demikian seterusnya sampai akhirnya dia menyelesaikan tujuh kali putaran dengan berakhir dibukit Marwah.

Tahallul dari ihram

  1. Setelah selesai tujuh kali putaran melakukan sa’i antara bukit Shafa dan Marwah, lalu bertahallul, yaitu dengan menggundul atau mencukur rambut bagi laki-laki.Sebaiknya pada saat ini cuma mencukur saja tanpa menggundul rambutnya, terlebih lagi apabila waktu tersebut telah mendekati hari haji. Adapun kaum wanita, maka mereka tidak menggundul rambut. Mereka hanya memotong sedikit ujung rambutnya seukuran ujung jari.

Dengan demikian selesailah amalan umrahnya. Dia telah bertahallul dari ihram, yaitu telah halal baginya larangan-larangan ihram. Ditanggalkan pakaian ihramnya dan halal baginya mengenakan pakaian biasa. Halal baginya apa-apa yang haram untuk dilakukan ketika ihram berupa hubungan suami istri dan yang lainya sampai datang hari haji (tanggal 8 bulan Dzulhijjah). Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *