Amir bin Fuhairah Radhiallahu ‘anhu

 

Islam, semenjak kedatangannya, tak pernah menilai kemuliaan seseorang semata-mata dari penampilan lahiriahnya. Karena inti dari kemuliaan terletak dari ketakwaan dalam hati dan dalam keikhlasan mereka saat beramal shalih. Mengenai hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam pernah bersabda,

هَلْ تُنْصَرُوْنَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ بِدَعْوَتِهِمْ وَ إِخْلَاصِهِمْ .

Tidaklah kalian ditolong oleh Allah, melainkan karena orang-orang yang lemah di antara kalian; dengan doa dan keikhlasan mereka.” (Dinilai shahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’: 7034)

Karena sifat dasar manusia adalah menghormati yang kaya dan menghinakan yang papa, maka Allah jadikan para penolong agama-Nya dan pembela Rasul-Nya di barisan terdepan adalah orang-orang yang lemah. Hanya seorang bekas budak, seorang miskin, atau berasal dari kabilah kecil yang tak biasa dihormati oleh bangsa Arab. Sebut saja di antara mereka adalah seorang budak lelaki dan pengembala kambing bernama Amir bin Fuhairah Radhiallahu ‘anhu.

Apa keistimewaan orang ini? Mengapa perlu kita ketahui biografinya? Sekali lagi, hanya seorang budak yang berprofesi mengembalakan kambing.

 

Amir bin Fuhairah, maula Abu Bakar

Sebelum kedatangan Islam, Amir bin Fuhairah menjadi budak Thufail bin Abdullah bin Sakhbarah. Sama seperti budak-budak pada umumnya, Amir mendapat perlakuan yang kurang begitu menyenangkan. Karena pada masa itu budak tidak pantas mendapatkan penghormatan, bahkan lebih mirip seperti hewan piaraan.

Namun saat Rasulullah diperintah untuk menyampaikan risalah, ketika itu juga nurani Amir bin Fuhairah terketuk. Keindahan agama yang memanusiakan manusia mendorongnya untuk mengikuti ajaran Rasulullah tersebut. tahukah Anda, waktu itu Rasulullah belum punya banyak pengikut. Bahkan, belum juga mendapat tempat di Darul Arqam untuk menyampaikan dakwahnya. Maka tak lama berselang setelah keislamannya, Amir bin Fuhairah bertubi-tubi mendapatkan intimidasi dan siksaan. Kemudian Allah menggerakkan tangan Abu Bakar untuk membebaskan Amir dari perbudakan manusia menuju peribadahan kepada Sang Pencipta. Abu Bakar pun membeli Amir dan ia bebaskan.

 

Peran Amir bin Fuhairah dalam peristiwa hijrah

Lalu, apa yang diperbuat oleh Amir untuk Islam? Jika ditelisik, peran Amir bin Fuhairah sangat vital. Bahkan kalau boleh dikatakan, jika bukan karena Allah, kemudian sebab Amir bin Fuhairah, kita tidak pernah tahu, apakah agama Islam akan ada hingga hari ini. Sebegitu besarkah perannya? Ya, dan kisah di bawah ini yang akan menjelaskannya.

Tepatnya saat Rasulullah dan Abu Bakar berhasil lolos dari kepungan Quraisy, lalu keduanya bersembunyi di gua Tsur selama tiga hari. Di sisi lain, Quraisy yang merasa kecolongan membuat sayembara pencarian Nabi dan Abu Bakar. Mereka memasang hadiah berupa 100 ekor unta bagi yang berhasil menangkap Rasulullah. Tentu keadaan sangat genting pada waktu itu. Rasulullah tak boleh keluar hingga keadaan dipastikan aman dan gejolak huru-hara sudah sedikit mereda. Tentu Rasul membutuhkan seorang telik sandi yang tak takut mati guna mengabarkan keadaan luar tanpa diketahui oleh Quraisy. Maka di sinilah peran penting dari sahabat Amir bin Fuhairah. Memang Amir tak menjadi telik sandi yang dimaksud, karena tugas itu diemban oleh Abdullah, anak Abu Bakar. Namun perjalanan Abdullah menuju gua dan kembali ke kota tentu akan membekas di tanah pasir. Karena itulah Amir bin Fuhairah menutup bekas kaki Abdullah tersebut dengan jejak kaki kambing-kambing gembalaannya. Di samping itu, kebutuhan logsitik Nabi dan Abu Bakar selama di gua juga dipenuhi oleh Amir bin Fuhairah.

Hanya sampai di sini? Ternyata tidak. Sebab Rasulullah juga menyertakan Amir bin Fuhairah dalam perjalanan hijrah beliau menuju Madinah. Sepanjang perjalanan Amir, si bekas budak, menjadi teman kehormatan yang melayani Rasulullah dan Abu Bakar dalam keperluan mereka. Sekali lagi, Allah menolong agama-Nya melalui tangan orang lemah.

 

Kemuliaan hingga akhir perjalanan

Perjalanan hijrah ke Madinah berhasil dilalui. Sama seperti para sahabat lain, Amir bin Fuhairah tekun mempelajari al-Qur’an dan sunnah Rasulullah setelah itu. Hingga pada bulan Shafar tahun 4 H, Rasulullah diminta supaya mengirimkan para da’i dan para penghafal al-Qur’an untuk mendakwahi penduduk Nejed. Tahukah Anda? Ternyata di antara para da’i yang dikirim, terselip nama Amir bin Fuhairah!

Namun perjalanan dakwah kali ini Allah jadikan yang terakhir kalinya buat Amir. Karena ketika para sahabat berada di tempat yang bernama Bi’r Ma’unah, tiba-tiba mereka dikepung oleh kabilah-kabilah dari bani Sulaim. Pembelaan diri pun wajib dilakukan. Akan tetapi jumlah musuh dan persenjataan mereka jauh melampaui yang dipunyai oleh rombongan sahabat. Akhirnya semua sahabat gugur sebagai syahid setelah melakukan perlawanan sengit. Hanya dua orang yang selamat dalam tragedi ini. Amir bin Fuhairah? Bukan, tetapi ‘Amru bin Umayyah adh-Dhamri yang tertawan lalu dibebaskan dan Ka’b bin Zaid yang dibiarkan terbaring dengan luka di sekujur tubuhnya di antara jasad para syuhada’.

Pada akhir perjalanannya, Amir bin Fuhairah dimuliakan dengan meraih kesyahidan. Tapi bukan sembarang syahid, sebab Allah pun memberinya karamah seperti yang dikisahkan oleh ‘Amru bin Umayyah adh-Dhamri berikut;

‘Amru bin Umayyah ditanya oleh Amir bin Thufail, orang yang telah memprovokasi bani Sulaim supaya menyerang rombongan sahabat, “Siapa ini?” sembari menunjuk jasad seseorang. ‘Amru pun menjawab, “Ini adalah Amir bin Fuhairah.” Amir bin Thufail berkata, “Sungguh, aku benar-benar melihatnya setelah dia terbunuh, jasadnya terangkat ke langit. Sampai-sampai aku bisa melihat dia berada di antara langit dan bumi, sebelum diturunkan lagi.” (HR. al-Bukhari: 4093)

Semoga Allah meridhaimu, dan mewariskan semangatmu kepada kami dalam membela agama-Nya. Semoga Allah mengumpulkan kita semua dalam surga-Nya yang luas. Amin

 

Disarikan dari: al-Mutanafisun fi Mahabbati ar-Rasul, hal. 421-424, Shahih al-Bukhari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *