Optimisilah, Namun Jangan Sampai Tertipu

Oleh: Abu Usamah al-Kadiri

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ

: قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَة.

Dari sahabat Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Allah q\ berkata, ‘Aku menurut persangkaan hamba-Ku terhadap Diri-Ku. Dan Aku akan selalu bersama hamba-Ku saat dia mengingat-Ku. Jika dia menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku akan menyebutkan di dalam Diri-Ku. Jika dia menyebut-Ku di khalayak, maka Aku akan sebut dia di khalayak yang lebih baik dari itu. Jika hamba-Ku mendekat kepadaku sejengkal, niscaya Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Jika hamba-Ku mendatangiku dengan berjalan, maka Aku akan menyambutnya dengan berlari (kecil).’” (HR. al-Bukhari: 7405, Muslim: 6981, at-Tirmidzi: 3603)

 

Hadits agung di atas merupakan kabar gembira untuk kita sebagai muslim. Dan hendaknya setiap muslim selalu mengedepankan perasaan husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. karena dengan selalu mengedepankan husnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka kehidupan seorang muslim akan selalu menjadi indah dan berkah.

Bukan malah selalu mengedepankan perasaan pesimis setiap kali ada takdir buruk dan musibah. Namun, kadang masih banyak yang salah dalam memaknai husnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga ia menjadi orang yang tertipu; perbuatan maksiatnya tak berhenti karena ia optimis bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu mengampuninya. Allahul musta’an

 

Beda husnuzhan dan ghurur (tertipu)

Berprasangka baik memang diperintahkan oleh Islam, akan tetapi bukan hanya prasangka baik saja tanpa beramal. Maksud dari husnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat memberikan manfaat kepada hamba ialah yang membuatnya bersemangat mengamalkan ketaatan dan meninggalkan keharaman. Adapun pengakuan seorang yang mengatakan bahwa ia berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala namun ia senantiasa tenggelam dalam kesesatannya serta tak pula menjalankan ketaatan, maka sejatinya ia telah dikuasai oleh setan dan tertipu dengan amalnya.

Ibnul Qayyim Rahimahullah Ta’ala menjelaskan, “Benar-benar jelas perbedaan antara husnuzhan dan ghurur (tertipu). Jika husnuzhan yang dimaksud ialah yang membuat hamba bersemangat menjalankan amal ketaatan, membantunya serta mengantarkan hamba kepadanya, maka inilah husnuzhan yang benar. Adapun jika sampai membuatnya merasa lancang dan berani berbuat maksiat maka itu adalah ghurur. Husnuzhan ialah perasaan harap. Maka barangsiapa yang rasa harapnya membuat dirinya melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan, sungguh itulah rasa harap yang dibenarkan. Dan barangsiapa yang rasa beraninya (menerjang maksiat) menjadi rasa harap dan rasa harapnya ialah keberanian menerjang maksiat dan sifat sembrono, maka sungguh itu adalah ghurur (tipuan).” (Al-Jawabul Kafi hal. 24)

Syaikh Shalih al-Fauzan juga menerangkan, “Berprasangka baik kepada Allah harus beriringan dengan menjauhi maksiat. Jika tidak demikian, maka dia adalah orang yang merasa aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari itu husnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah dengan menjalankan sebab-sebab yang mendatangkan kebaikan dan meninggalkan sebab-sebab yang mendatangkan keburukan. Dan itulah rasa harap yang terpuji (di dalam syariat).

Adapun husnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala namun dengan tetap meninggalkan kewajiban dan melakukan perbuatan haram maka itu adalah rasa harap yang tercela. Itulah bentuk rasa aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Al-Muntaqa 2/269)

Maka dari itu, seorang mukmin hendaknya selalu mengumpulkan antara perasaan husnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan amal shalih serta takut terhadap adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan semua ini yang diamalkan oleh generasi salaf.

Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui pada hari ini (pada zaman tabi’in) dosa-dosa yang lebih samar dari helai rambut, padahal dahulu kami menggolongkannya di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam termasuk dosa-dosa besar.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad)

Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu juga mengatakan, “Seorang mukmin akan melihat dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung yang dikhawatirkan akan menimpanya. Dan sesungguhnya seorang fajir (ahli maksiat) melihat dosa-dosanya layaknya seekor lalat yang hinggap di hidungnya, dan dia bilang, seperti ini.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)

Al-Hasan al-Bashri mengatakan, “Sesungguhnya akan berprasangka baik terhadap Rabbnya, lalu ia akan memperbagusi amal shalih. Sedangkan seorang fajir akan berprasangka jelek terhadap Rabbnya lantas ia akan memperburuk amalnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam az-Zuhd)

 

Kapan kita harus husnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala?

Seorang muslim pada dasarnya harus senantiasa berhusnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap waktu dan keadaan. Dirinya harus optimis bahwa masalah yang ia hadapi akan berakhir bagus. Namun ada di antara waktu yang menuntut kita secara lebih untuk berhusnuzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

  1. Ketika menjelang wafat.

Jabir Radhiallahu ‘anhu mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda tiga hari sebelum wafatnya beliau,

لَا يَمُوْتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Jangan sekali-kali kalian meninggal kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim)

 

Dari Anas Radhiallahu ‘anhu mengisahkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam pernah menjenguk seorang pemuda yang tengah sekarat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Bagaimana kau dapati dirimu?” Dia menjawab, “Demi Allah, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sangat berharap kepada (rahmat) Allah dan aku takut terhadap dosa-dosaku.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Tidak terkumpul dua sifat itu dalam hati seorang hamba pada waktu semisal ini (menjelang kematian), kecuali Allah akan memberikan apa yang ia harap dan Dia akan memberi rasa aman terhadap apa yang dikhawatirkan.” (HR. at-Tirmidzi)

 

  1. Ketika tertimpa musibah dan masa sulit.

Apakah Anda tahu bagaimana kisah tiga orang sahabat yang dengan jujur mengemukakan alasan tidak mengikuti perang Tabuk semasa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam dahulu? Di antara mereka adalah Ka’b bin Malik Radhiallahu ‘anhu. Mereka memilih jujur daripada harus membohongi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya seperti yang diperbuat oleh kaum munafik.

Walau kejujuran itu membuahkan hukuman di dunia, namun mereka tetap tabah menghadapinya. Dalam keadaan menunggu masa pengampunan, dunia teramat sempit mereka rasakan. Akan tetapi mereka selalu optimis dan berprasangka baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam QS. at-Taubah ayat 117-118 disebutkan:

 

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

 

Perhatikanlah, ketiga orang sahabat tersebut tetap optimis tatkala dunia menjadi sempit dan musibah terus menimpa. Pada akhirnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan apa yang mereka minta. Pengampunan yang menggembirakan, bahkan derajat mereka ditinggikan.

 

  1. Ketika penghidupan terasa sempit.

Disebutkan dalam Sunan at-Tirmidzi, bersumber dari sahabat Ibnu Mas’ud Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

` مَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ، وَمَنْ نَزَلَتْ بِهِ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِاللهِ فَيُوْشِكُ اللهُ لَهُ بِرِزْقٍ عَاجِلٍ أَوْ آجِلٍ

“Barangsiapa yang dihinggapi kefakiran kemudian ia keluhkan (adukan) hal itu kepada manusia, niscaya kebutuhannya itu tak akan pernah tercukupi. Dan barangsiapa yang ditimpa kefakiran namun ia keluhkan kepada Allah, maka hampir-hampir saja Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya rezeki yang kontan maupun yang tersimpan (di akhirat).

 

Sedangkan maksud mengeluhkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ialah dengan penuh keyakinan dan selalu berprasangka baik bahwa Dia Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan jalan keluar.

 

  1. Ketika berdoa.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

اُدْعُوا اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالْإِجَابَةِ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan kalian semua yakin akan terkabul.” (HR. at-Tirmidzi)

 

Karena itulah selalu optimis dan yakinlah akan terkabul, karena Allah q\ Maha Mengabulkan doa.

 

  1. Ketika bertaubat.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam saat menghikayatkan dari firman Rabbnya Subhanahu wa Ta’ala,

أَذْنَبَ عَبْدٌ ذَنْبًا، فَقَالَ: اللهم اغْفِرْ لِي ذَنْبِي. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: أَذْنَبَ عَبْدِيْ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِيْ. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: عَبْدِيْ أَذْنَبَ ذَنْبًا فَعَلِمَ أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. ثُمَّ عَادَ فَأَذْنَبَ، فَقَالَ: أَيْ رَبِّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي. فَقَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: عَبْدِي أَذْنَبَ ذَنْباً فَعَلِمَ أنَّ لَهُ رَبَّاً يَغْفِرُ الذَّنْبَ وَيَأْخُذُ بِالذَّنْبِ. اِعْمَلْ مَا شِئْتَ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكَ.

“Manakala seorang hamba berbuat dosa dia berkata, ‘Ya Allah, ampuni dosaku.’ Maka Allah q\ berkata, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan ia tahu masih memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan akan mengadzab karena dosa.’ Kemudian hamba itu kembali bermaksiat dan berdosa, ia berkata, ‘Ya Rabbi, ampuni dosaku.’ Maka Allah menjawab, ‘Hamba-Ku berbuat dosa dan dia tahu masih memiliki Rabb yang mengampuni dosa serta menyiksa karena dosa. Berbuatlah sesukamu, Aku sungguh telah mengampunimu.’” (HR. Muslim)

 

Lihatlah wahai manusia, betapa luas rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi siapa saja yang mau bertaubat dengan taubat yang nasuha. Mengapa kita masih merasa tak sepenuh hati jika bertaubat dari maksiat?

 

Semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

Tulisan ini disarikan dari:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *