Antara Filosofi Sorban dan Blangkon

Antara Filosofi Sorban dan Blangkon

Oleh: Abu Zaid Zahir al-Minangkabawi

 

Katanya, di antara perbedaan antara bangsa Arab dan bangsa Indonesia adalah dalam hal falsafah hidup. Falsafah hidup bangsa Arab itu seperti sorban sedangkan bangsa Indonesia seperti blangkon. Meski sama-sama penutup kepala namun keduanya punya perbedaan. Sorban sama bentuk luar, dalam, depan dan belakangnya, sedangkan blangkon depannya biasa tapi belakang ada benjolannya.

Tak jauh-jauh dari itu, begitulah watak masing-masing bangsa tersebut. Bangsa Arab itu ibarat sorban; antara yang tampak dengan yang ada di hatinya sama. Jika senang, mereka akan mengatakan senang dan jika tidak suka mereka akan mengatakan tidak suka. Apabila terjadi perselisihan, mereka dengan mudah akan melupakan. Maka tidak heran jika pagi mereka sikut-sikutan, di petang harinya sudah kembali berangkulan tangan.

Lantas bagaimana dengan blangkon? Ya, seperti bentuknya, antara depan dengan belakangnya ada perbedaan yang mencolok. Di luar mengatakan senang namun dalam hati bersemayam kejengkelan dan dendam yang luar biasa. Yang lebih parah, jika terjadi perselisihan maka sakit hatinya bisa dibawa mati atau mungkin juga diwariskan.

Di kampung kami ada sepasang kakak beradik. Yang namanya hidup tentu tak selamanya landai. Karena satu dan lain hal, terjadi cekcok antar keduanya. Yang tua tak mau mengalah, yang kecil juga ingin menang. Akhirnya mereka tetap berselisih sampai hari ini. Padahal seingat kami percekcokan itu terjadi sudah sepuluh tahun yang lalu. Memang ketika mereka bertemu seolah mereka telah melupakan semuanya, namun dari sinar mata mereka masih terpancar kebencian yang tak kunjung padam.

 

Menyiksa diri

Jika mau direnungkan, kita akan tahu bahwa seorang pendendam itu adalah dia yang sedang menikmati penyiksaan terhadap dirinya sendiri. Kenapa? Seharusnya ia punya ruang kosong dalam hatinya. Ia bisa saja mengisi ruang itu dengan kebahagiaan atau membiarkannya kosong menunggu kebahagiaan baru datang. Namun ia memilih mengisinya dengan kebencian, mempersilakannya masuk dan kemudian memberikan izin tinggal. Dia sendiri yang akhirnya membebani diri. Ketenangan hati hilang lantaran adanya kebencian. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan janganlah kamu jatuhkan (dirimu) ke dalam kebinasaan dengan tanganmu sendiri. (QS. al-Baqarah: 195)

Oleh sebab itu, jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh jadi benci dalam kehidupan ini. Benci kepada seseorang, kecewa, marah. Tetapi ingat nasihat lama; tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri.

 

Jadilah pemaaf

Pahamilah, bahwa sebenarnya saat kita memutuskan untuk memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah dan kita benar, atauakah orang itu jahat atau aniaya. Akan tetapi, kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati. Dengan kedamaian hati itulah kita hidup bahagia, sesuatu yang selama ini kita cari.

Maafkanlah, sebab hanya dengan itu kita bisa merengkuh kedamaian. Balaslah keburukan dengan kebaikan dan ingat bahwa mudah memaafkan adalah salah satu ciri penghuni surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang di sediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali ‘Imran: 133-134)

Mari kita lihat sejarah hidup panutan kita; Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam. Ketika terjadi Fathu Makkah tahun 8 H, setelah beliau -dengan karunia Allah- dapat menaklukkannya dan memasuki Masijidil Haram, beliau berdiri di pintu Ka’bah memandangi massa yang hadir, mengamati wajah orang-orang kafir. Kemudian bersabda,

Wahai sekalian orang-orang Quraisy, menurut kalian apa yang akan aku perbuat terhadap kalian?!”

Mereka menjawab, “Engkau akan berbuat baik pada kami. Engkau adalah saudara yang baik hati putra saudara kami yang baik hati…”

Dengan entengnya mereka mengatakan hal itu. Padahal, semuanya terlintas kala itu; kenangan-kenangan yang menyakitkan. Apa yang mereka lakukan terhadap Nabi dan umat Islam sebelumnya. Pengusiran, penyiksaan, hinaan serta caci maki mereka.

Ini Bilal ada di sini, sementara bekas-bekas penyiksaan masih ada di punggungnya. Ini Ammar juga berdiri di sini, sementara peristiwa itu masih segar di pelupuk matanya, bagaimana mereka tanpa belas kasih membunuh ayah dan ibunya. Masih terngiang tangisan bayi, rintihan orang tua, serta orang-orang papa saat mereka memboikot Nabi beserta orang-orang Islam yang lemah selama tiga tahun di lembah bani Amir. Penderitaan demi penderitaan sampai-sampai mereka harus memakan dedaunan karena kelaparan.

Sebenarnya beliau mampu menjatuhkan hukuman yang seberat-beratnya kepada mereka, karena beliau sedang berada di puncak, sementara mereka (kafir Quraisy) tidak lagi memiliki kekuatan. Mereka tak ubahnya seorang pecundang yang tengah menunggu putusan.

Namun beliau tidak melakukannya. Beliau lebih memilih menjadi pemaaf ketimbang membalas dendam dan meluapkan kebencian.

Beliau bersabda, “Pergilah kalian! Kalian bebas!”

 

Buka lembaran baru

Kesalahan itu ibarat halaman kosong yang tiba-tiba ada yang mencoretnya dengan keliru. Kita bisa memaafkannya dengan menghapus tulisan tersebut, baik dengan penghapus biasa, penghapus canggih, atau dengan apa pun. Akan tetapi, tetap akan tersisa bekasnya dan tidak akan hilang sempurna. Agar semua benar-benar bersih, hanya ada satu jalan keluarnya; “Bukalah lembaran kertas baru yang benar-benar kosong.”

Buka lembaran baru, tutup lembaran yang pernah tercoret. Jangan diungkit-ungkit lagi. Jangan ada lagi kata tapi, tapi dan tapi. Tutup lembaran yang tidak menyenangkan itu.

Memang tidak mudah melakukannya, butuh waktu dan kesungguhan. Tetapi bila tidak sekarang kita mulai, kapan lagi? Bertahun-tahun kita berkutat membolak-balik halaman yang tercoret itu hingga tak pernah maju. Mulailah hari ini untuk melupakan semuanya. Biarkan kenangan itu pergi, tenggelam bersama mentari di ufuk barat. Curahkan segenap kesungguhan. Yakin dan percaya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan jalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk mencari keridhaan Kami maka akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. al-‘Ankabut: 69)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *