Ikrimah bin Abi Jahal Radhiallahu ‘anhu

Ikrimah bin Abi Jahal Radhiallahu ‘anhu

Oleh: Ust. Abdur-Rahman al-Buthoni

 

Semua orang muslim maupun kafir mengenal Abu Jahal, ayah Ikrimah, karena sangat terkenal sebagai musuh Allah. Akan tetapi tidak semua orang mengenal Ikrimah. Tidak ada sebutan Abu Jahal kecuali sebagai alamat kejelekan, namun Allah Mahakuasa mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan sebaliknya. Allah Mahakuasa mengeluarkan anak muslim dari bapak kafir pun sebaliknya, supaya manusia tahu bahwa hidayah di tangan Allah, diberikan kepada siapa saja sekehendak-Nya. Dengan demikian maka seorang hamba akan bersungguh-sungguh mencari dan memintanya hanya kepada Allah. Tidak ada seorang pun yang mampu memastikan hidayah untuk orang lain, dan tidak ada yang berhak memutus dan menghalangi hidayah dari seseorang.

Seandainya hidayah itu milik para Nabi dan orang-orang shalih, maka mereka dan seluruh keturunan merekalah yang paling berbahagia. Adam dan seluruh anak cucunyalah yang paling berbahagia dengan ridha Allah, pahala, dan surga. Dan Iblis serta seluruh anak cucunya yang celaka, tanpa kecuali. Namun kenyataannya, Allah menjadikan kebanyakan anak cucu Adam celaka bersama Iblis, sebagaimana Allah menjadikan sebagian keturunan Iblis sebagai ahli iman dan kebahagiaan.

Seandainya hidayah itu berkaitan dengan nasab dan keturunan, maka orang-orang shalihlah yang paling berbahagia dengan hidayah, dan keturunan orang-orang kafir yang sengsara dengan siksa. Akan tetapi Allah membagi rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, bukan kepada siapa yang kita kehendaki dan layak menurut kita.

Hidayah dan kebahagiaan khusus bagi yang layak dalam ilmu Allah, dan terhalang dari mereka yang tidak pantas untuknya dalam ilmu Allah.

 

KEUTAMAAN IKRIMAH

Beliau adalah Ikrimah bin Abi Jahal (‘Amru bin Hisyam) Abu Utsman, al-Qurasyi, al-Makhzumi, al-Makki. Tatkala ayahnya terbunuh di Badar maka kepemimpinan bani Makhzum beralih kepadanya, lalu beliau masuk Islam dan sangat bagus islamnya. Demikian itu karena ada yang masuk Islam tetapi islamnya tidak bagus, bahkan ada yang lahir dari keluarga muslim dan hidup dalam masyarakat Islam, tetapi islamnya tidak bagus.

Ibnu Abi Mulaikah mengatakan, “Apabila Ikrimah bersumpah, maka beliau berkata, ‘Tidak, demi Allah, yang menyelamatkanku pada Perang Badar.”

Inilah buah keimanan kepada takdir, yaitu mensyukuri Allah yang menyelamatkannya. Padahal Allah Mahakuasa untuk menewaskannya dalam kekafiran bersama puluhan tokoh kafir Quraisy.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam telah menegaskan, bahwa surga dan neraka lebih dekat bagi seseorang ketimbang tali sandalnya. Seseorang beramal menuju neraka hingga tinggal sejengkal, lalu dia beramal menuju surga dan memasukinya. Demikian sebaliknya, seseorang beramal menuju surga tetapi takdir Allah telah mendahului sehingga dia beramal menuju neraka dan memasukinya.

Ini akan mewariskan rasa takut dan harap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi ahli takwa, dan tidak putus asa dari rahmat Allah bagi ahli maksiat dan kesesatan.

 

HIDAYAH DI TANGAN ALLAH

Rasulullah sangat mengharapkan keislaman Abu Thalib, namun Allah menghendaki Abu Thalib mati dalam kekafiran. Tatkala Rasulullah menghendaki agar Ikrimah dibunuh pada Fathu Makkah, ternyata Allah menghendaki hidayah baginya.

Dahulu, pada Perang Uhud, setelah Rasulullah mengalami luka berat dan berlumuran darah, beliau berdoa, “Ya Allah, binasakan mereka. Sungguh, tidak akan beruntung kaum yang melukai Nabi mereka.” Maka Allah menurunkan ayat (artinya), “Itu bukan urusanmu. Allah yang memberi hidayah kepada mereka atau menyiksa mereka.”

Rasulullah tidak memiliki hidayah dan tidak mengetahui siapa yang berhak mendapat hidayah. Ini pelajaran bagi para da’i, bahwa tugas mereka hanya berdakwah. Agar semangat mereka bertambah dan tidak sombong tatkala mengetahui jumlah yang mengikuti hidayah bersifat rahasia, dan tidak bersedih karena telah mengetahui jumlah para musuh dakwah yang sangat banyak.

 

JANGAN PUTUS ASA ATAS PEMBANGKANGAN KAUM KAFIR

Kisah Ikrimah dan semisalnya sebagai pelajaran yang sangat berharga bagi para da’i kepada Allah, bahwa sejauh apapun manusia dari jalan Allah, tidak selayaknya bagi da’i berputus asa dari hidayah Allah untuknya. Sebagaimana dekat apapun manusia kepada kita, sekalipun seluruh hati dan pikiran kita curahkan untuk kebahagiaannya, niscaya tidak akan tercapai jika Allah tak memberinya hidayah. Maka cara yang benar adalah dengan bersyukur kepada Allah atas hidayah-Nya dan takut dari makar-Nya yang membolak-balikkan hati.

Allah Mahaluas rahmat dan karunia-Nya. Ahli iman tidak bersedih dan merasa kurang atau terzalimi dengan sebab musuh mereka mendapat hidayah. Justru sebaliknya, mereka sangat berbahagia karena hidayahnya sebagai tambahan pahala mereka, tanpa saling mengurangi pahala. Karena Allah Mahakaya, memberi siapa saja tanpa mengurangi hak orang lain, atau tidak memberi pahala kepada seseorang tanpa menzaliminya atau karena kehabisan pahala. Allah memasukkan surga tanpa Dia butuh kepadanya, dan menyiksa tanpa merasa hina dan rendah sebab kekafiran orang tersebut.

 

SEMOGA ALLAH MELAKNAT PARA PELAKNAT SAHABAT

Menyebut kebaikan sahabat berarti memberi kabar gembira kepada para pecinta sahabat dari kalangan Ahli Sunnah, dan kabar buruk bagi umat kafir serta ahli bid’ah. Menyebut kebaikan para sahabat berarti menyebut kejelekan kaum yang murka kepada kebaikan mereka.

Kaum Syi’ah tidak menyebarkan ajaran Islam lalu dimusuhi oleh para sahabat, namun mereka melaknat para sahabat. Para sahabat bukan musuh wahyu al-Qur’an dan as-Sunnah yang didakwahkan oleh kaum Syi’ah. Justru bangsa Persia Majusi, nenek moyang kaum Syi’ah yang memusuhi para sahabat saat menyampaikan wahyu kepada segenap manusia. Meski demikian para sahabat tidak melaknat dan memurtadkan bangsa Persia secara membabi buta, sebagaimana yang dilakukan oleh Syi’ah; membabi buta mengafirkan para sahabat.

Para sahabat tidak pernah berbuat jelek dan menzalimi kaum Syi’ah, tetapi kenapa kaum Syi’ah sangat memusuhi para sahabat? Tidak ada tokoh Syi’ah yang dibunuh secara zalim oleh para sahabat, akan tetapi begitu keras kebencian kaum Syi’ah kepada para sahabat. Tidak ada satu orang pun dari kaum Syi’ah yang membantu sahabat dalam membunuh Abu Jahal pada Perang Badar. Tidak ada Syi’ah yang ikut perang meruntuhkan Romawi dan Persia, tetapi permusuhan Syi’ah kepada para sahabat sungguh luar biasa.

Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam mengatakan kepada seorang sahabat yang menghina sahabat lain karena ibunya hitam. Kata beliau, “Sesungguhnya kamu ini memiliki sifat jahiliah.” Lalu bagaimana jika yang menghina bukan sahabat? Bagaimana jika yang menghina tidak beriman kepada al-Qur’an? Bagaimana jika dia menghina sahabat karena agamanya? Dan bagaimana jika yang dia hina seluruh sahabat? Sungguh batil seandainya Syi’ah mengafirkan Ikrimah karena kekafiran bapaknya, atau karena sebelumnya dia musuh Allah seperti bapaknya. Lalu bagaimana jika mereka mengafirkan Abu Bakar Umar Muhajirin dan Anshar yang sebagiannya menjadi generasi awal yang masuk Islam?!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *