Bermuka Manis, Jangan Sinis

Oleh: Abu Usamah

Sebagai makhluk sosial, manusia harus pandai berinteraksi dengan sesamanya. Hal itu agar hubungan antara mereka semakin baik dan harmonis, sehingga kehidupan bermasyarakat menjadi teratur dan dunia menjadi lapang. Coba bayangkan, bila pada hampir setiap tempat Anda disuguhi dengan muka-muka yang sinis, cemberut, garang dan yang semisal, tentu tak sedikit yang akan merasa bahwa dunia menjadi sempit dan kehidupan menjadi tak sebegitu menyenangkan.

Maka berbahagialah kita, sebagai umat Islam yang memiliki ajaran mulia dan indah. Karena di antara syariat yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya kepada kita ialah bermuka manis ketika bertemu dengan sesama. Bahkan ketika bertemu dengan orang yang buta sekalipun. Allah tetap melarang kita untuk bermuka masam. Sebagaimana hal ini tertuang dalam QS. ‘Abasa ayat 1-10.

Bermuka manis ( اَلْبَشَاشَةُ )

Al-basyasyah secara penggunaannya di dalam bahasa hanya merujuk kepada satu arti, yaitu pertemuan yang baik, tertawa kepada manusia karena rasa senang dengan mereka.[1]

Adapun secara istilah, basyasyah berarti perasaan gembira yang nampak di wajah dan menunjukkan apa yang ada di dalam hati berupa rasa cinta dan senang dengan pertemuan tersebut.

Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menggambarkan rasa senang kaum mukminin yang nampak dari pancaran cahaya wajah mereka ketika bertemu dengan Rabbnya di akhirat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan,

Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat. (QS. al-Qiyamah: 22-23)

Manfaat berseri muka

Ibnu Muflih mengatakan, “Seorang muslim wajib membersihkan dirinya dari setiap sifat tercela secara syar’i, secara nalar dan kebiasaan masyarakat, semisal; iri, dengki, pelit, amarah, sombong, angkuh, riya’, menuruti hawa nafsu, berniat jelek, menipu dan menjauhi setiap yang dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala.Dan apabila engkau duduk di dalam majelis ilmu atau majelis yang lainnya maka duduklah dengan tenang, berwibawa dan sering-seringlah berbicara kepada orang lain dengan rasa gembira dan senang.” (Al-Adab asy-Syar’iyyah 3/556)

Adapun manfaat dari berseri muka ialah:

  1. Membuahkan kecintaan antara kaum muslimin.
  2. Menghasilkan ketenangan ketika bertemu dengan sesama muslim.
  3. Bermanfaat dalam memberikan nasihat kepada sesama muslim.
  4. Mendatangkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala.
  5. Meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam.

Praktik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam

Sebagaimana kita mengaku menjadi umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam, maka mengandung konsekuensi untuk mengikuti apa yang beliau teladankan. Termasuk dalam masalah ini ialah praktik Rasulullah saat menerapkan sikap bermuka manis dan pertemuan yang baik terhadap semua orang.

Mari kita lihat beberapa praktik Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam dalam masalah ini:

  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam adalah orang yang paling sering senyum dan tertawa di hadapan para sahabat, paling sering takjub dengan pembicaraan mereka, dan sering berkumpul bersama mereka. Dan sesekali beliau tertawa hingga nampak gigi gerahamnya. (HR. at-Tirmidzi dalam asy-Syama’il al-Muhammadiyyah, dishahihkan oleh al-Albani dalam Mukhtashar Syama’il 194)
  2. Setiap kebaikan adalah sedekah, termasuk bertemu dengan saudara seislam dengan wajah yang berseri-seri. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ، وَإِنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهِ طَلْقٍ، وَأَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ أَخِيْكَ

“Setiap kebaikan adalah sedekah, dan sesungguhnya di antara kebaikan itu ialah engkau berjumpa saudaramu dengan wajah yang berseri-seri, juga menuangkan air dari timbamu untuk bejana saudaramu.” (HR. at-Tirmidzi: 1970, sedangkan asalnya ada dalam al-Bukhari: 6021 dan Muslim: 1005)

  1. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam berseri-seri ketika berjumpa orang yang bertaubat dari perbuatan dosa. Ketika perang Tabuk, sahabat Ka’b bin Malik Radhiallahu ‘anhu tidak ikut berangkat ke medan perang karena telah terbujuk rayuan setan. Maka beliau memilih jujur di hadapan Rasulullah perihal absennya. Maka Nabi menghukum Ka’b supaya diboikot (hajr). Pemboikotan berlangsung selama 50 hari. Pada hari terakhir Rasul mengirim utusan untuk mengabari bahwa taubat Ka’b bin Malik diterima. Dia pun mendatangi Nabi seraya mengucapkan salam. Dia melihat wajah Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bercahaya karena gembira (berseri-seri), lalu beliau bersabda, “Bergembiralah, dengan hari terbaik yang kau lalui semenjak engkau dilahirkan!” Ka’b mengatakan, “Jika Rasulullah senang maka wajahnya bercahaya, seakan-akan potongan rembulan, dan kami mengetahui hal itu…..” (HR. al-Bukhari: 4418, Muslim: 2769)
  2. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam selalu berseri-seri di hadapan para sahabat yang shalih. Jarir bin Abdillah Radhiallahu ‘anhu menceritakan, “Tidak pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam menghalangiku (untuk menemui beliau) semenjak aku masuk Islam, dan aku tidak pernah melihat beliau ketika memandangku kecuali tersenyum. Dan sungguh aku telah mengadu kepada beliau bahwa diriku tidak kokoh ketika berada di atas kuda, maka beliau memukulkan tangannya di dadaku dan berdoa, ‘Ya Allah, kokohkan dirinya dan jadikanlah ia sebagai penunjuk yang ditunjuki.’” (HR. al-Bukhari: 3035, Muslim: 2475)
  3. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam berseri-seri ketika berhadapan dengan orang yang kurang sopan santun. Anas bin Malik Radhiallahu ‘anhu menceritakan, bahwa saat dirinya bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam yang tengah memakai selendang dari Najran yang pinggirnya tebal, tiba-tiba seorang Arab badui menemukan beliau dan langsung menarik selendang tersebut dengan kuat. Anas mengatakan, “Aku melihat bahu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam ternyata terdapat bekas pinggir selendang akibat kerasnya tarikan itu.” Badui itu lalu berkata, “Wahai Muhammad, berikan aku dari harta yang diberikan oleh Allah kepadamu..!” Rasul pun menengok kepadanya dan tertawa, kemudian memerintahkan untuk memberinya harta. (HR. al-Bukhari: 6088, Muslim: 1057)
  4. Rasul pun tetap berseri-seri walaupun berhadapan dengan orang yang sangat jelek akhlaknya. Aisyah Radhiallahu ‘anha mengisahkan, bahwa ada seorang lelaki yang datang meminta izin untuk menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam. Ketika Rasul melihat orang tersebut (sebelum menemuinya), beliau mengatakan bahwa orang itu adalah sejelek-jelek manusia. Namun ketika Rasul berhadapan dengannya, muka beliau berseri-seri dan menampakkan keramahan. Aisyah merasa heran tentang sikap Rasulullah itu, kemudian Nabi menjelaskan, “Sesungguhnya orang yang paling jelek di sisi Allah tempatnya pada hari kiamat ialah orang yang dijauhi manusia karena takut terhadap kejelekannya.” (HR. al-Bukhari: 6032, Muslim: 2591)

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

[1] Sebagaimana disebutkan dalam Lisanul ‘Arab, Mukhtar ash-Shihhah 3/996 dan yang lainnya, melalui Mausu’ah Nadhrah an-Na’im.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *