Ya Allah, Tunjukilah Aku Dalam Hal yang Diperselisihkan

Oleh: Abu Ilyas Zaenal Musthofa

 

اَللَّهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِيْ مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ

Ya Allah, Rabb Jabrail, Mikail dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Mahamengetahui yang gaib dan yang terlihat. Engkau yang menghakimi hamba-hamba dalam semua hal yang mereka perselisihkan. Berilah aku petunjuk dalam hal yang diperselisihkan agar aku mendapatkan kebenaran dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus. (HR. Muslim no. 770)

 

Makna Kalimat:

  1. Maksud sabda beliau جَبْرَائِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ وَإِسْرَافِيْلَ adalah ini merupakan nama-nama Malaikat Allah. Kata “il” (ئِيْلَ ) berarti Allah. Kata Jibril, Mikail dan Israfil semakna dengan kata Abdullah, yakni hamba Allah.[1]
  2. Sabda beliau اِهْدِنِيْ لِمَا اخْتُلِفَ فِيْهِ مِنَ الْحَقِّ maknanya, adalah berilah aku taufik agar aku dapat mengetahui kebenaran yang diperselisihkan dan tetapkanlah diriku di atasnya.

 

Faedah:

  1. Salah satu akidah Ahlussunnah adalah beriman kepada Malaikat Allah, baik secara terperinci maupun secara ijmal (umum). Beriman secara terperinci jika disebutkan nama-nama mereka, semisal Jibril, Mikail, Israfil dan lainnya. Beriman secara umum jika tidak disebutkan nama-namanya, karena masih banyak Malaikat Allah yang tidak disebutkan namanya kepada kita sebagaimana para nabi.[2]
  2. Disebutnya tiga Malaikat di sini sebagai tanda akan kemuliaan mereka. Ketiganya sangat berkaitan erat dengan kehidupan manusia. Malaikat Jibril yang diberi tugas menyampaikan wahyu berkaitan erat dengan kehidupan hati dan jiwa manusia. Malaikat Mikail bertugas mengatur rezeki dan menurunkan hujan yang dengannya akan tumbuh dan berkembang tumbuhan dan hewan, dan semuanya untuk kelangsungan hidup jasad manusia. Sedangkan malaikat Israfil bertugas meniup sangkakala dalam rangka membangkitkan manusia dari alam kubur untuk dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.[3]
  3. Disebutkannya beberapa perbuatan Allah di sini semisalفَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ bukan berarti membatasi perbuatan Allah, hanya menciptakan langit dan bumi saja, namun ini merupakan penyandaran terhadap sesuatu yang tinggi martabatnya serta besar keberadaannya. Ini merupakan pujian dan pengagungan kepada Allah, sebagaimana banyak dalam al-Qur’an maupun hadits semisal رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ (Rabb langit dan bumi) رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ (Rabb ‘Arsy yang mulia), وَرَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ (Rabb para Malaikat dan Jibril), dan masih banyak yang lainnya. Dan tidak dijumpai dengan redaksi yang sebaliknya, yaitu disandarkan pada sesuatu yang dianggap hina atau kecil semisal رَبُّ الْحَشَرَاتِ وَخَالِقُ الْقِرَدَةِ وَالْخَنَازِيْرِ (Rabb berbagai serangga dan Pencipta kera dan babi) dan semisalnya.[4]
  4. Doa ini dibaca Rasulullah ketika shalat malam, setelah takbiratul ihram (doa istiftah). Karena doa istiftah banyak ragamnya, maka hendaknya terkadang kita baca ini dan terkadang baca yang lainnya dalam rangka mengikuti sunnah Rasulullah.

[1] ‘Umdatul Qari (Syamilah) 18/89

[2] ‘Umdatul Qari (Syamilah) 1/288

[3] At-Tabsyir fi Syarhi al-Jami’ ash-Shaghir (Syamilah) 1/207

[4] Syarh shahih Muslim (Syamilah) 6/57

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *