Bersiaplah Diuji, Jika Anda Orang Baik

Oleh: Ust. Abu Yusuf Ahmad Sabiq Lc.

 

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ
 أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنالْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ، ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ ، وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ – وَهُوَ التَّعَبُّدُ – اللَّيَالِىَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ، ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ ، فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا ، حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِى غَارِ حِرَاءٍ ، فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ . قَالَ « مَا أَنَا بِقَارِئٍ » . قَالَ « فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّى الْجَهْدَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ اقْرَأْ . فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ . فَأَخَذَنِى فَغَطَّنِى الثَّالِثَةَ ، ثُمَّ أَرْسَلَنِى فَقَالَ ( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِى خَلَقَ * خَلَقَ الإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ * اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأَكْرَمُ ) » . فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللهِ- صلى الله عليه وسلم – يَرْجُفُ فُؤَادُهُ ، فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رضى الله عنها فَقَالَ « زَمِّلُونِى زَمِّلُونِى » . فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ ، فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ « لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِى » . فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلاَّ وَاللهِ مَا يُخْزِيكَ اللهُ أَبَدًا ، إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ ، وَتَحْمِلُ الْكَلَّ ، وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ ، وَتَقْرِى الضَّيْفَ ، وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ . فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ – وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِىَّ ، فَيَكْتُبُ مِنَ الإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللهُ أَنْ يَكْتُبَ ، وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِىَ – فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنَ ابْنِ أَخِيكَ . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِى مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – خَبَرَ مَا رَأَى . فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِى نَزَّلَ اللهُ عَلَى مُوسَى – صلى الله عليه وسلم – يَا لَيْتَنِى فِيهَا جَذَعًا ، لَيْتَنِى أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ . فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – « أَوَمُخْرِجِىَّ هُمْ » . قَالَ نَعَمْ ، لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلاَّ عُودِىَ ، وَإِنْ يُدْرِكْنِى يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا . ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّىَ وَفَتَرَ الْوَحْىُ

Dari Aisyah, Ummul Mukminin Radhiallahu ‘anha berkata, “Mulainya wahyu pertama kali kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam adalah mimpi yang baik. Tidaklah beliau bermimpi kecuali akan menjadi kenyataan, kemudian beliau dibuat senang menyendiri, lalu beliau menyendiri di gua Hira. Beliau beribadah beberapa malam sebelum akhirnya pulang kepada istrinya dan mengambil bekal untuk keperluan itu. Beliau lalu pulang lagi ke Khadijah dan mengambil bekal lagi. Sampai datanglah kebenaran saat beliau berada di gua Hira. Datang kepada beliau sesosok Malaikat seraya berkata, ‘Bacalah!’ Rasulullah menjawab, ‘Saya tidak bisa membaca.’ Rasul meneruskan, ‘Malaikat itu pun mendekapku sehingga saya kepayahan, kemudian dia melepaskanku.’ Malaikat berkata lagi, ‘Bacalah!’ ‘Saya pun kembali menjawab, saya tidak bisa membaca. Lalu dia mendekapku untuk kedua kalinya sehingga saya kepayahan, kemudian dia melepaskanku, lalu berkata, ‘Bacalah.’ Aku kembali menjawab, ‘Saya tidak bisa membaca.’ Dia pun mendekapku ketiga kalinya lalu melepaskanku seraya mengatakan, ‘Bacalah dengan nama Rabbmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Rabbmu Yang Mahamulia.’ Lalu Rasulullah pulang sambil gemetaran (ketakutan) hatinya. Beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid seraya berkata, ‘Selimutilah aku! Selimutilah aku!’ Khadijah pun menyelimutinya sehingga hilang rasa takut beliau. Lalu Rasulullah menceritakan kejadian tersebut kepada Khadijah. Beliau Shallallahu ‘alaihi was sala berkata, ‘Saya takut terhadap diriku.’ Khadijah mengatakan, ‘Sekali-kali tidak, demi Allah! Allah tidak akan pernah menghinakanmu selamanya. Engkau menyambung hubungan silaturrahim, menanggung beban (orang lain), membantu orang tak mampu, menjamu tamu dan membela kebenaran.’ Khadijah pun membawa beliau kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, beliau adalah sepupu Khadijah. Dia seorang yang memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliah, dia juga bisa menulis bahasa Ibrani, dia menulis kitab Injil dengan bahasa Ibrani apa yang bisa dia tulis. Waraqah seorang yang sudah tua dan buta. Khadijah berkata kepadanya, ‘Wahai saudara sepupuku, dengarkanlah cerita keponakanmu!’ Waraqah pun berkata kepada Rasulullah, ‘Wahai anak saudaraku, apa yang engkau lihat?’ Maka Rasulullah pun menceritakan apa yang beliau alami. Waraqah menjawab, ‘Itu adalah Namus (Jibril) yang Allah turunkan pada Nabi Musa. Aduhai, seandainya saat peristiwa itu aku masih seorang pemuda yang kuat.., seandainya aku masih hidup saat engkau diusir oleh kaummu….’ Rasulullah menyela, ‘Apakah mereka akan mengusirku?’ Dia menjawab, ‘Ya, tidak ada seorang pun yang datang membawa semacam yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Jika saya masih menemui waktu itu, niscaya aku akan membelamu sekuat tenaga.’ Ternyata tidak berselang lama Waraqah pun meninggal dunia dan wahyu berhenti sementara.” (HR. al-Bukhari: 3)

Pertemuan pertama ini benar-benar menggetarkan kalbu Rasulullah. Bagaimana tidak?! Ini pertemuan pertama dengan sosok Malaikat yang tidak pernah dilihat oleh Rasulullah, di tengah malam yang gelap gulita tanpa ada seorang pun yang menemani beliau. Ditambah lagi beliau diperlakukan dengan tegas dan terkesan kasar.

Itulah awal kedatangan Jibril ‘Alaihis salam kepada Rasullah dengan membawa wahyu yang sekaligus menobatkan beliau menjadi seorang Nabi yang akan menerima lanjutan wahyu dan akan mengemban tugas agung sebagai seorang utusan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Rasulullah pun langsung bergegas pulang sambil masih ketakutan. Khadijah Radhiallahu ‘anha sebagai seorang istri yang shalihah dan salah satu wanita sempurna segera mengambil tindakan untuk menenangkan suaminya. Beliau segera membawa Rasulullah ke salah satu rahib Nasrani yang masih kerabatnya sendiri, Waraqah bin Naufal.

Setelah mengetahui kejadian tersebut, Waraqah segera memastikan bahwa yang datang tersebut adalah Jibril yang dulu pernah diturunkan Allah kepada Musa ‘Alaihis salam. Alangkah terkejutnya Rasulullah tatkala Waraqah mengatakan, “Aduhai, seandainya saat peristiwa itu aku masih seorang pemuda yang kuat….., seandainya aku masih hidup saat engkau diusir oleh kaummu….” Rasulullah pun segera menyela, “Apakah mereka akan mengusirku?”

Seakan-akan Rasulullah meragukan dan mempertanyakan, “Bagaimana mungkin mereka akan mengusirku, padahal saya adalah begini dan begitu?”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was sala mempunyai banyak alasan yang seharusnya beliau tidak diusir oleh kaumnya. Beliau adalah anak tokoh Quraisy dan dari keluarga pembesar bangsa Arab. Kakeknya, Abdul Muthalib adalah pemimpin Makkah, paman-paman beliau adalah pembesar Makkah dan beliau juga suami Khadijah yang sangat disegani oleh bangsa Arab.

Di samping itu, beliau seorang yang sangat disenangi oleh kaumnya, sampai-sampai mereka menggelarinya dengan al-Amin (orang yang dapat dipercaya).

Tapi simaklah jawaban Waraqah, “Ya, tidak ada seorang pun yang datang membawa semacam yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Jika saya masih menemui waktu itu, niscaya aku akan membelamu sekuat tenaga.” Ternyata tidak berselang lama Waraqah pun meninggal dunia dan wahyu berhenti sementara.

Saudaraku yang mulia. Memang, Allah tidak akan pernah menghinakan orang yang senantiasa berusaha berbuat baik dalam setiap kesempatan. Karena kebaikan hanya akan dibalasi kebaikan. (QS. ar-Rahmān: 60)

Oleh karena itu Khadijah segera menenangkan suaminya yang selalu berbuat baik saat pulang dalam keadaan takut sambil berkata, “Saya takut terhadap diriku.” Khadijah menenangkan, “Sekali-kali tidak, demi Allah! Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, engkau menyambung hubungan silaturrahim, menanggung beban (orang lain), membantu orang tak mampu, menjamu tamu dan membela kebenaran.”

Tapi ini bukan berarti Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menguji orang-orang yang baik. Bahkan, Allah akan mengujinya. Semakin tinggi kebaikan dan keimanan seseorang, akan semakin tinggi pula ujian yang Allah berikan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was sala bersabda menjawab pertanyaan sahabatnya tentang orang yang paling berat ujiannya.

Para Nabi kemudian yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Manusia itu diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat maka ujiannya akan berat. Namun jika agamanya lemah maka orang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Ujian itu akan senantiasa mengenai seorang hamba sehingga akan menjadikan dia berjalan di muka bumi tanpa dosa.” (Shahih, HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya, ashShahihah: 143)

Lihatlah sejarah para Nabi. Ada yang diincar untuk dibunuh seperti Nabi Isa ‘Alaihis salam dan Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sala. Lihatlah sejarah para ulama, banyak dari mereka yang disiksa, seperti Imam Ahmad, ada yang dipenjara, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Dan begitulah memang sunnatullah yang berlaku pada orang-orang shalih. Karena ujian itu mengandung banyak manfaat, di antaranya:

  • Sebagai bukti keteguhan iman. (QS. al-‘Ankabūt : 2-3)
  • Membersihkan dosa-dosa dan kesalahan serta mengangkat derajat seorang hamba. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was sala bersabda:

“Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa seorang muslim melainkan dengannya Allah akan menghapus dosa orang tersebut, sampaipun duri yang mengenainya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Karenanya, jika Anda orang yang baik, bersiap-siaplah untuk menerima ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *