Bertengkar di Depan Anak

Bertengkar di depan anak

Oleh: Ust. Aunur Rofiq bin Ghufron Lc.

Soal:

Assalamu’alaikum. Saya dan suami pernah beberapa kali gagal menahan emosi dan bertengkar atau berdebat didepan anak pertama kami yang masih 1 tahun. Dalam pertengkaran itu ada banting pintu, banting mangkok,gelas sampai pecah, jeritan-jeritan yang sangat keras dst. Masya Allah, dan kami selalu dengan sadar menyesalinya. Kami tidak bertengkar setiap hari.Kalau selisih pendapat kecil, setiap hari kami selalu begitu. Sebabnya mungkin karena pendidikan dari orang tua kami dari dulu memang kurang.Misal,saya banyak memiliki trauma masa kecil dari orang tua yang suka menghina dan otoriter dalam mengatur seluruh kehidupan anaknya.Suami dari keluarga yang sangat pendiam dan kurang pendidikan, sehingga suami tidak pandai menuangkan emosi dan berekspresi. Setiap selesai bertengkar, kami selalu saling meminta maaf dan kami juga selalu meminta maaf pada anak.Kami jelaskan ke anak bahwa kami adalah orang tua yang banyak salah. Kami minta agar anak tidak meniru sikap buruk kami.Saya pun tak henti-hentinya berdoa agar anak kami terhindar dari keburukan orang tuanya. Bagaimanakah kondisi ini menurut Ustadz? Dan kira-kira dampak seperti apa yang akan timbul dalam benak anak kami? Saya sungguh sangat menyesal dan khawatir. Syukran(Fita Ummu G, stffxxx1@gmail.com)

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah. Suami istri bertengkar tentu ada sebab.Seorang wanita hendaknya memaklumi kekurangan agama dan akalnya.Hendaknya lapang dada menerima nasihat suami dan bersabar. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berpesan:

وَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلَاهُ إِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا

“Berikanlah wasiat kebaikan kepada wanita, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika kamu berusaha meluruskannya maka tulang rusuk tersebut akan patah, tetapi jika kamu membiarkannya maka dia akan tetap bengkok. Oleh karena itu,sikapilah (bimbinglah) para wanita dengan kebaikan.”(HR. Muslim 4/178)

Memahami pertanyaan di atas, berarti penanya sebagai istri hendaknya bisa menahan marah, memohon kepada Allah ta’ala agar dimudahkan menahan amarah, memperbanyak ibadah yang wajib dan sunnah, bangun malam untuk shalat, karena itulah waktu yang mustajabah. Saat sepertiga malam terakhir, Allah turun ke langit dunia dan Dia q\ berkata: “Siapa yang meminta sesuatu, Aku akan beri.Siapa yang minta ampun, Aku akan ampuni,” sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang shahih.

            Jika istri merasa dirinya punya kelainan jiwa, sebaiknya kontrol kepada dokter spesialis syaraf atau psikolog, barangkali ada petunjuk yang bermanfaat untuk penanya. Karena jika diketahui penyebabnya, insya Allah mudah mencari solusinya.

Istri suka marah dan emosi, sangat berbahaya pada dirinya, suami dan keluarganya. Karena bisa jadi jika suami kehilangan kontrolakan mengeluarkan kata-kata yang merugikan istri dan akan mengganggu kejiwaan anak; merasa takut, atau trauma dan gangguan pikiran lainnya. Apalagi jika saat bertengkar sampai merusak barang dan mengeluarkan suara yang keras.

Anak tidak boleh menyalahkan orang tua, karena hidup mereka lain dengan hidup kita. Tidak ada jaminan orang tua jelek, lalu anak menjadi jelek dan sebaliknya. Karena ilmu sangat berperan bagi kehidupan manusia.Semisal, jika orang tua jelek, tetapi anak mau menuntut ilmu syar’i maka tidak mustahil anak menjadi baik. Bukankah Nabi Ibrahim p\ orang tuanya kafir, tetapi beliau mendapat petunjuk sehingga menjadi manusia terbaik?

            Bila kita salah, lalu minta maaf, tentu ini adalah akhlak yang mulia. Namun perlu dimaklumi, hendaknya kita tidak mengulangi kesalahan yang kita lakukan, kecuali dalam keadaan terpaksa. Karena saat seseorang minta maaf, berarti dia berjanji untuk tidak mengulangi lagi. Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha mengetahuil agi Maha bijaksana.(QS. an-Nisa’:17)

Adapun ketakutan Anda bahwa anak akan mengikuti jejak jelek orang tuanya, mestinyasuami dan istribertanya kepada dirinya, ‘Bagaimana upaya saya agartidak mengulangi lagi perbuatan ini?’Jika orang tua yang umurnya sudah dewasa dan akalnya lebih sempurna tidak mau mengubah kebiasaan buruknya, bagaimana dengan anak yang belum sempurna akalnya?

Agar anak menjadi baik, hendaknya orang tua memberi contoh yang baik. Bukankah ketikaorang tua sedang shalat, anak juga ikut shalat?Itu karena jiwa anak ingin menirukan sesuatu yang dilihat dan didengar.

Nasihat buat keluarga, hendaknya kita senantiasa berdoa kepada Allah ta’ala memohon kebaikan dunia dan akhirat.Senantiasa beribadah kepada-Nya, semangat menuntut ilmu syar’i, bersabar atas musibah didalam rumah tangga, saling mengetahui kewajiban dirinya, melaksanakan apa menjadi kewajibannya, saling menasihati, menyadari atas kekurangan dirinya, sehingga mudah menerima nasihat, dan tidak terburu-buru melangkah ketika dihadapkan pada masalah. Semoga Allah memberi petunjuk kepada kita semua.Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *