Bila Amanah Mulai Hilang

Oleh: Ust. Abu Bakr

 

Amanah secara bahasa adalah lawan dari khianat. Asal katanya diambil dari kata “aman” yang artinya ketenangan jiwa dan hilangnya rasa takut.[1]Al-Munawi berkata, “Amanah adalah semua hak yang wajib engkau tunaikan dan jaga.”[2]

Urgensi menunaikan amanah

  1. Menunaikan amanah adalah sifat para Nabi dan Rasul.

Sifat itu disebutkan lima kali secara berturut-turut dalam surat asy-Syu’arā’.Masing-masing oleh Nabi Nuh (ayat 107), Nabi Hud (125), Nabi Shalih (143), Nabi Luth (162), dan Nabi Syu’aib (178).Mereka semua mengatakan,إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ“Sesungguhnya aku adalah Rasul yang terpercaya bagi kalian.”Demikian juga diantara nama malaikat Jibril adalah ar-Ruhul Amin.

  1. Merupakan sifat dan perangai hamba-hamba mukmin yang beruntung. Ini tertera dalam QS. al-Mu’minūn ayat 8. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam jugabersabda, “Tidak mempunyai iman orang yang tidak amanah.” (HR. Ahmad 3/154, ShahihulJami’ 7179)
  2. Indikasi kesempurnaan iman dan Islam seseorang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Tanda orang munafik ada tiga macam: Jika berbicara ia berbohong, Jika berjanji ia mengingkari dan jika diberikan amanah ia mengkhianati.” (HR. al-Bukhari: 33, Muslim: 59) Yakni, jika diamanahi oleh orang berupa harta, rahasia, anak-anak, atau yang lainnya justru ia berkhianat –wal‘iyadzubillah– dan ini termasuk tanda-tanda kemunafikan. (Syarh Riyadh ash-Shalihin Syaikh al-‘Utsaimin 4/48) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Tidak akan berkumpul iman dan kufur dalam hati seseorang, tidak akan bergabung antara kedustaan dan kejujuran, dan tidak akan berkumpul khianat dan amanah.” (HR. Ibnu Wahb dalam al-Jami’: 73,83 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah: 1050)

  1. Tegaknya urusan di bumi dan langit karena amanah. (QS.al-Ahzāb: 72-73) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Jika suatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.” (HR. al-Bukhari:59)
  2. Generasi sahabat adalah generasi umat Islam terbaik karena mereka adalah orang-orang yang sangat amanah. Nafi’ maula Ibnu Umar berkata, “Ibnu Umar pernah thawaf tujuh putaran dan shalat dua rakaat. Berkata salah seorang dari Quraisy,‘Alangkah cepatnya engkau thawaf dan shalat, wahai Abu Abdurrahman?!” Maka Ibnu Umar berkata, “Kalian lebih banyak thawaf dan shalat daripada kami, tetapi kami lebih baik dari kalian dengan kejujuran dalam berbicara, menunaikan amanah dan menepati janji.” (Diriwayatkan oleh al-Fakihi dalam AkhbaruMakkah 1/211, al-Adab asy-Syar’iyyah 4/500)

Bentuk- bentuk amanah

Amanah sangat beragam bentuknya, seperti amanah melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa ibadah, amanah harta, kehormatan, jiwa, badan, amanah ilmu pengetahuan, amanah berupa jabatan dan kepemimpinan umum maupun khusus, amanah persaksian, memutuskan hukum, amanah dalam menulis, amanah dalam menjaga rahasia orang, amanah dalam menjaga penglihatan, pendengaran dan panca indra yang lain, amanah dalam memberikan pendapat tatkala bermusyawarah dan memberikan nasihat. Berkata Syaikh al-‘Utsaimin, “Amanah sangat luas sekali yang dasarnya ada dua macam: amanah dalam hak-hak Allah, yaitu amanah seorang hamba dalam beribadah kepada-Nya dan amanah pada hak-hak manusia.” (Syarh Riyadh ash-Shalihin 2/463)

 

Teladan Rasulullah dalam menunaikanamanah

Manusia yang paling amanah dalam semua lini kehidupannya adalah Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam, baik sebelum diutus maupun setelahnya.Bahkan beliau dijuluki “al-Amin” oleh kawan dan lawannya.Tatkala Heraklius bertanya kepada Abu Sufyan, “Apa saja yang (Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was salam perintahkan)?”Abu Sufyan menjawab, “Ia menyuruh untuk menunaikan shalat, jujur, menjaga kesucian diri, menepati janji dan menunaikan amanah.”Heraklius menjawab, “Inilah sifat seorang Nabi.”(HR. al-Bukhari: 7) Setelah diutus, beliau juga menunaikan amanah besar berupa menyampaikan risalah Islam dan beliau sabar dalam menanggung ujian yang begitu berat.Beliau juga adalah orang yang paling bersemangat dalam menunaikan amanah dan titipan orang-orang, sekalipun pada waktu yang sangat genting. Hal ini tercermin tatkala akanhijrah ke Madinah, dimana beliau mengembalikan semua amanah dan titipan orang-orang yang menitipkannya. (Tarikh ath-Thabari 2/372)

 

Amanah orang-orang terdahulu

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Ada seseorang yang membeli sebidang tanah dari orang lain, kemudian ia menjumpai timbunan emas di dalam tanah tersebut. Berkatalah pembeli tanah tersebut, “Ambillah emasmu ini!Aku hanya membeli tanah dan tidak membeli emas darimu.”Yang menjual tanah menimpali, “Aku menjual tanah dan semua yang ada di dalamnya.” Akhirnya mereka berdua pun mengadukan perkaranya kepada seseorang.Orang tersebut bertanya, “Apakah kalian berdua mempunyai anak?”Salah satunya menjawab, “Ya, aku mempunyai anak laki-laki. ”Yang satunya menjawab, “Ya, aku memiliki anak perempuan.”Orang tersebut berkata, “Nikahkanlah anak laki-laki itu dengan anak perempuan itu dan infakkanbuat keduanya serta Bersedekahlah.” (HR. al-Bukhari: 3472, Muslim: 1721)

Demikian juga kisah seorang bani Isra’il yang meminjam uang pada orang lain.Namunkarena ia tidak mendapatkan kapal untuk bisa pergi melunasi utangnya, akhirnya ia melemparkan seribu dinar utangnya yang ditaruh di dalam kayu dengan surat di dalamnya.Harapannya, uang tersebut akan terdampar di pulau seberang, dimana pemilik uang tersebut dapat mengambilnya. Tatkala mendapatkan tumpangan kapal, ia pun pergi membawa seribu dinar lagi kepada orang yangmengutanginya, karena khawatir uang di dalam kayu tersebut tidak sampai kepada pemiliknya. (HR. al-Bukhari: 3472, Ahmad 2/348)

 

Lunturnya amanah pada generasi akhir zaman

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Yang pertama kali akan diangkat dari manusia ini adalah amanah sedanghal terakhir yang akan hilang adalah shalat.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam ash-Shaghir 1/238, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’: 2575)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam juga bersabda, “Sebaik-baik kurun adalah masa dimana aku diutus, kemudian setelahnya dan setelahnnya…kemudian akan datang suatu kaum yang bersaksi padahal tidak diminta, mewajibkan bagi dirinya dengan sesuatu tetapi tidak dilaksanakan, berkhianat dan tidak bisa dipercaya serta akan nampak pada mereka kegemukan.” (HR. Ahmad 4/426, Abu Dawud: 4659 Shahih at-Tirmidzi: 2222)

Akhirnya kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar membantu kita supaya bisa menunaikan amanah di dunia ini.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُوعِ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَة

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan karena ia adalah seburuk-buruk teman tidur dan aku berlindung dari khianat karena itu adalah sejelek-jelek teman dekat.” (HR. Abu Dawud: 1547, Ibnu Majah: 3354 Shahih al-Jami’: 2575)

Lapar akan menghilangkan dunia sedang khianat akan menghilangkan agama. Wallahul musta’an.

[1]Lisan al-‘Arab 13/21, alMishbah alMunir 1/24.

[2]Faidhul Qadir 1/288.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *