Bisakah Kisah Mereka Kembali Terulang?

Oleh: Ibrohim al-Barony bin Munadzir

 

“Demi Yang mengutusmu dengan benar, seandainya engkau perintahkan kami untuk menyelami samudra maka kami akan menyelaminya bersamamu!” Ucap Sa’d bin Mu’adz, panglima Anshar kala itu.

 

Jika iman telah menancap dalam dada seseorang, maka perbuatan-perbuatannya hampir tidak bisa percaya oleh akal, dan mendebarkan dada para pembaca kejadian-kejadian luar biasa mereka.

Akan tetapi tatkala iman pasang surut seperti ombak, saat iman berpamitan meninggalkan si empunya, kejadian-kejadian yang luar biasa itu hanya menjadi dongeng yang mampir di mata orang yang membaca atau singgah sebentar ditelinga orang yang mendengarnya. Padahal sekali lagi, kejadian itu bukan hanya dongeng.

Inilah beberapa kejadian masa lampau yang muncul dari orang yang dadanya telah dipenuhi keimanan.

 

Ketika mereka membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam

Membela Rasulullah merupakan sebuah amalan yang sangat mulia, namun tugas ini sangatlah berat.Semua manusia bisa menjadi sahabat yang melindungi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam, tetapi mereka bukanlah orang-orang sembarangan, melainkan hamba-hamba pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah mengatakan,

“Allah melihat kepada hati para hamba-Nya maka Allah menemukan hati Muhammad adalah sebaik-baik hati para hamba.KemudianAllah melihat lagi kepada hati hamba-Nya setelah hati Muhammad, maka Allah dapati hati para sahabat adalah sebaik-baik hati para hamba-Nya. Maka Allah pilih mereka untuk menolong dan berperang bersama Nabi-Nya.”

 

Nyawa adalah sesuatu yang sangat berharga bagi semua orang, tetapi bisa menjadi ringan dimata orang tertentu.Lantas di mata siapakah nyawa menjadi tak berarti? Para sahabat.

Diantara deret perjuangan mereka adalah pada Perang Uhud. Tatkala kondisi kaum muslimin sedang mengalami tekanan yang luar biasa dari kafir Quraisy akibat kesalahan pasukan pemanah, di sana ada beberapa sahabat yang rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi Rasulullah.

Anas bin Malik menceritakan, bahwa Rasulullah terpisah dari pasukan pada Perang Uhud bersama tujuh orang sahabat Anshar dan dua lainnya dari Quraisy (Muhajirin). ketika pasukan musyrikin menyerang beliau, Rasul bersabda,

“Siapa yang mau menghadang mereka agar tidak menyentuh kami, maka baginya surga atau menjadi temanku di surga!” Maka majulah seorang Anshar dan menyerang mereka sampai terbunuh, kemudian musuh menyerang lagi.

Rasul berkata, “Siapa yang mau menghadang mereka agar tidak menyentuh kami, maka baginya surga atau menjadi temanku di surga!” Maka majulah seorang Anshar lalu melawan sampai terbunuh. Begitulahseterusnya hingga gugurlah tujuh orang tersebut. Setelah itu Rasulullah berkata kepada kedua sahabatnya,“Alangkah tulusnya sahabat-sahabat kita.”(HR. Muslim)

 

Para sahabat memperlakukan saudaranya seperti dirinya sendiri, bahkan lebih

Abu Hurairah berkata, bahwa ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam kemudian berkata, “Sesungguhnya saya tertimpa kemiskinan. ”Nabi pun membawanya ke rumah istrinya. Sayang sekali, istri beliau mengatakan, “Demi Yang mengutusmu dengan benar, aku tak punya apa-apa kecuali air.” Rasul kemudian membawa orang itu ke rumah istri lainnya. Mereka pun mengatakan hal yang sama. Akhirnya Rasulullah keluar menemui sahabatnya dan berkata, “Siapa yang mau menjamu tamu ini pada malam ini?” “Saya, wahai Rasulullah…!” jawab seorang lelaki Anshar. Kemudian dia pulang dan bertanya kepada istrinya, “Apakah kau mempunyai sesuatu?” “Tidak, kecuali makan malam anak kita,” jawabnya. Dia berkata,  “Lenakan anak kita dengan sesuatu. Jika dia ingin makan malam, tidurkanlah. Apabila tamu kita masuk, matikanlah lampu, dan perlihatkanlah seolah-olah kita makan.”(Ketika tamu datang) mereka pun duduk bersama tamu dan membiarkannya makan. Akhirnya keduanya bermalam dalam keadaan lapar. Tatkala pagi, Rasulullah bersabda, “Sungguh, Allah takjub (kagum) kepada perbuatan kalian berdua terhadap tamu kalian tadi malam.”(Muttafaq ‘alaihi)

Itulah potret keteladanan dari para sahabat bagi generasi saat ini dalam mendahulukan saudaranya. Kita bisa melihat, bahwa himpitan ekonomi bukanlah halangan untuk memuliakan tamu. Bahkan dengan merelakan satu-satunya santapan malam keluarganya untuk tamu Rasulullah tersebut.

Kita maju menjauh dari zaman mereka menuju saat ini. Saat Allah membukakan pintu rezeki-Nya, manusia berbondong-bondong untuk mengeruknya dengan sekuat tenaga. Mereka pun menjadi manusia yang tamak dengan urusan harta. Sama saja, yang miskin maupun yang kaya. Akibatnya, tak lagi dikenal sifat rela berkorban demi orang lain yang lebih butuh (itsar).

 

Kala iman mereka diuji

Di saat awal-awal cahaya Islam menyinari Makkah dan masih sedikit orang-orang yang masuk Islam, kekuatan iman mereka pun harus diuji dengan berbagai siksaan.

Sebut saja salah satunya, Khabbab bin al-Arat.

Siba’ bin Abdul Uzza mendapat tugas dari kaumnya untuk menyiksa Khabbab. Manakala sinar matahari mulai menyengat pasir Makkah, mereka membawa Khabbab ke tanah lapang. Baju Khabab diganti dengan baju besi, dan mereka tak memberinya minum. Tatkala didera haus itulah mereka memaksanya murtad. Namun Khabbab tetap bergeming dengan keyakinannya. Mereka lalu mengambil batu besar yang sangat panas dan menempelkanya dipunggung Khabab. Mereka membiarkannya sehingga lemak di kedua punggungnya meleleh. Sekali lagi, Khabab tetap bergeming.

Itulah keimanan yang telah menancap di dada seorang mukmin. Ia tak akan goyah walau harus dihantam oleh gelombang siksaan dan cobaan yang luar biasa berat. Itu menunjukkan bukti benarnya keimanan mereka, yang diperoleh setelah melalui berbagai rintangan.

Dalam kejadian diatas terdapat pelajaran untuk kita yang hidup dizaman penuh keterasingan seperti sekarang ini. Yaitu saat nilai-nilai Islam hampir punah karena ditinggalkan oleh pemeluknya sendiri, dan orang-orang yang berusaha mengamalkannya secara sempurna hanya segelintir saja, seperti keadaan diawal-awal kemunculannya.

Bersiaplah, karena konsekuensi dari hal itu, keimanan kita pun harus diuji sebagaimana dulu para sahabat di awal-awal masa itu diuji. Berbagai celaan, cemooh, atau dikucilkan oleh keluarga dan masyarakat sering kita terima. Tapi sekali lagi, ingatlah bahwa ini belum sebanding dengan apa yang pernah dirasakan oleh para sahabat. Karena itulah sudah selayaknya kita harus lebih bisa bersabar.

Semoga kisah-kisah semacam ini tidak lagi sekadar menjadi dongeng, namun bisa menjadi kenyataan di tengah kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *