Buah-Buah Agung Pohon Iman

Oleh: Ust. Abdulloh Taslim al-Buthoni, M.A.

 

Pada edisi yang telah dijelaskan, bahwa jika pertumbuhan pohon iman di hati seorang hamba benar dan sempurna, niscaya pohon itu akan menghasilkan buah yang indah dengan rasa yang manis dan lezat. Dan ini dapat dirasakan secara nyata dan hakiki.

Sebaliknya, jika kelezatan dan kemanisan iman ini tidak dirasakan seorang hamba, berarti pertumbuhan pohon iman di hatinya tidak sempurna atau bahkan rusak. Tentu saja ini merupakan kondisi yang sangat berbahaya bagi hamba tersebut, karena dengan iman di hatinya yang rusak, bisa menjadikannya tidak diterima oleh Allah ketika menghadap-Nya pada hari kiamat kelak. (QS. asy-Syu’ara’: 88-89)

Ibnu Taimiyah menegaskan, “Jika kamu tidak merasakan manisnya (iman) dan kelapangan (di dalam hati) ketika beramal shalih, maka tuduhlah (curigailah) imanmu! Karena sesungguhnya Allah ialah asy-Syakur (Maha Mesyukuri/Membalas perbuatan baik hamba-Nya dengan balasan yang sempurna). Artinya, Dia pasti memberi balasan bagi hamba yang mengerjakan amal shalih di dunia (dengan balasan) yang berupa manisnya iman yang dirasakannya di dalam hati, keteguhan dan kelapangan dada, serta kesejukan dalam jiwa. Maka ketika hamba tersebut tidak merasakan hal ini, berarti amalnya (imannya) disusupi (keburukan sehingga rusak).”[1]

Berikut ini pemaparan tentang buah-buah manis pohon iman dengan lebih rinci, sebagai-mana yang diterangkan oleh para ulama Ahlus sunnah, di antaranya:

  • Menjadi wali/kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala yang khusus. Inilah perkara terbesar yang berlomba-lomba dikejar oleh para hamba yang bertakwa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tiada kekhawatiran terhadap mereka dan tiada (pula) mereka bersedih hati, (mereka adalah) orang-orang yang beriman (dengan benar) dan selalu bertakwa (kepada-Nya). (QS. Yunus: 62-63)

Maka setiap orang yang beriman dengan keimanan yang benar dan bertawa, dialah wali Allah dengan kewalian yang khusus dari-Nya.[2]

Makna kewalian yang khusus dari Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah seperti yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut;

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “….. Lalu jika Aku telah mencintai seorang hamba-Ku, maka Aku akan selalu membimbingnya dalam pendengarannya, membimbingnya dalam penglihatannya, menuntunnya dalam perbuatan tangannya dan meluruskannya dalam langkah kakinya. Jika dia memohon kepada-Ku maka Aku akan penuhi permohonannya, dan jika dia meminta perlindungan kepada-Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepadanya.’[3]

Hadits yang agung ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang menjadi wali Allah yang khusus. Yaitu orang yang memiliki keimanan yang benar, serta selalu menetapi ketaatan dan ketakwaan kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah menganugerahkan padanya kebersamaan-Nya yang khusus[4] yang mengandung arti pertolongan-Nya, taufik, penjagaan, dan perlindungan-Nya pada pendengaran, penglihatan, ucapan lisan, langkah kaki dan perbuatan semua anggota badannya lahir dan batin.[5] Sehingga mereka selalu berada di atas keridhaan-Nya dan terhindar dari segala keburukan.[6]

 

  • Meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemuliaan tinggi yang abadi di surga. Dengan keimanan yang benar, ketakwaan serta ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka meraih ridha-Nya dan menempati tempat-tempat tinggal yang indah di surga yang abadi. Inilah keberuntungan terbesar dan mulia bagi seorang hamba.[7] (QS. at-Taubah: 72)

 

  • Penjagaan dan perlindungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dari segala keburukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:Dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman. (QS. Ali ‘Imran: 68)

Arti ayat ini: Sesungguhnya Allah akan melindungi orang-orang yang beriman – dengan sebab keimanan mereka – dari semua keburukan, menjaga mereka dari kejahatan setan jin maupun manusia, dan dari kejahatan musuh-musuhnya, serta melindungi mereka dari keburukan-keburukan sebelum terjadinya dan meringankan atau menghilangkannya setelah terjadi. Setiap orang yang beriman akan mendapatkan penjagaan dan perlindungan dari Allah sesuai dengan kuat atau lemahnya iman di dalam hatinya.[8]

  • Membuahkan kehidupan yang indah dan penuh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Hal ini karena iman yang benar memiliki beberapa keistimewaan besar, di antaranya menjadikan hati tenang, damai, qana’ah (menerima) pembagian rezki yang Allah berikan dan tidak bergantung kepada selain-Nya. Inilah kehidupan indah yang hakiki, karena sesungguhnya asal kehidupan bahagia adalah kedamaian dan ketenangan dalam hati, serta terhindarnya hati dari semua yang menjadikannya galau dan gundah.[9] Oleh karena itu, ulama salaf menafsirkan makna “kehidupan yang baik (di dunia)” dalam an-Nahl ayat 97 dengan “kebahagiaan (hidup)” atau “rezeki yang halal dan baik” dan kebaikan-kebaikan lainnya yang mencakup semua kesenangan hidup yang hakiki.[10]
  • Merasakan khusyuk ketika melaksanakan ibadah. Ini merupakan sebab utama untuk meraih kelapangan jiwa dan kesejukan hati. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya. (QS. al-Mu’minun: 1-2)

Ibnu Katsir menjelaskan, “Khusyuk dalam shalat hanya akan diraih oleh orang yang hatinya tercurah sepenuhnya kepada shalat (yang sedang dikerjakannya), dia hanya menyibukkan diri dan lebih mengutamakan shalat tersebut dari hal-hal lainnya. Ketika itulah shalat akan menjadi (sebab) kelapangan (jiwa) dan kesejukan (hatinya), sebagamana sabda Rasulullah dalam hadits riwayat Ahmad dan an-Nasa’i, dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda, ‘Allah menjadikan qurratul ‘ain (penyejuk/penghibur hati) bagiku pada (waktu aku melaksanakan) shalat.’[11]

 

  • Meraih hidayah (petunjuk) yang sempurna dan taufik dari Allah untuk menempuh jalan yang lurus dan istiqamah di atasnya sampai akhir hayat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka (Allah) karena keimanan mereka, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunus: 9)

Maknanya: Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada mereka, dengan sebab keimanan di hati mereka, seagung-agung balasan dari-Nya, yaitu hidayah dan taufik untuk menempuh jalan yang lurus di dunia, melimpahkan kepada mereka ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, serta memudahkan mereka meniti jalan menuju surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan yang abadi.[12]

  • Mendapat kabar gembira dengan kemuliaan dari Allah dan keamanan sempurna di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Bagi mereka (orang-orang yang beriman dan bertakwa) kabar gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus: 64).

Maka mereka mendapatkan kabar gembira dari Allah dalam semua kebaikan di dunia dan akhirat. Demikian juga keamanan yang sempurna di dunia dan akhirat, keamanan dari murka dan adzab-Nya, serta keamanan dari segala keburukan.[13] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. al-An’aam: 82)

 

  • Menolak keragu-raguan yang merusak agama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang beriman tidak lain adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. al-Hujurat: 15)

Ayat ini menunjukkan, bahwa iman yang benar akan menghilangkan secara keseluruhan keraguan yang merusak iman, serta menolak semua kerancuan yang dilontarkan oleh para setan dari kalangan jin maupun manusia dan dari nafsu yang selalu menyuruh kepada kejelekan. Maka tidak ada obat yang bisa menangkal penyakit parah yang membinasakan ini kecuali merealisasikan iman yang benar.[14]

 

  • Kemudahan menerima nasihat dan mengambil pelajaran dari ayat-ayat al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Dan berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. (QS. adz-Dzariyat: 55)

Dalam ayat ini Allah mengkhususkan hanya orang-orang yang beriman dengan benarlah yang bisa mengambil manfaat serta pelajaran dari nasihat dan peringatan dari Allah.[15] Hal ini dikarenakan keimanan yang benar akan membawa seseorang untuk berpegang teguh dan terus mengikuti kebenaran, dalam ilmu dan amal. Maka dalam dirinya ada kesiapan untuk selalu menerima peringatan yang bermanfaat dan ayat-ayat Allah yang menunjukkan kebenaran. Dalam dirinya tak ada penghalang untuk menerima kebenaran dan mengamalkannya. Sebagaimana keimanan yang benar juga akan menjadikan fitrah manusia bersih dan selamat dari penyimpangan, serta menjadikan niatnya lurus, sehingga dengan ini dia mudah mengambil manfaat dari nasihat dan peringatan.[16]

 

  • Menjadikan seseorang selalu bersyukur ketika senang dan bersabar ketika susah, serta meraih kebaikan dalam semua keadaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Alangkah mengagumkan keadaan orang yang beriman, karena semua keadaannya (membawa) kebaikan (untuk dirinya), dan ini hanya untuk orang yang beriman; jika dia mendapatkan kesenangan dia akan bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika dia ditimpa kesusahan dia akan bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.”[17]

Orang yang beriman ketika mendapatkan kesenangan terhimpun pada dirinya dua kebaikan sekaligus, yaitu nikmat memperoleh kesenangan tersebut dan taufik dari Allah dalam mensyukuri nikmat tersebut, yang ini lebih mulia daripada kesenangan itu sendiri, dan dengan ini sempurnalah nikmat kebaikan bagi hamba tersebut. Adapun ketika ditimpa kesusahan, maka terhimpun pada dirinya tiga kebaikan sekaligus, yaitu dihapuskannya dosa-dosanya, taufik dari Allah untuk meraih kedudukan sabar yang lebih mulia daripada penghapusan dosa-dosa, dan diringankannya kesusahan tersebut dengan dia memperhitungkan pahala dan keutamaan di sisi-Nya.[18]

[1] Dinukil oleh Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin (2/68).

[2] At-Taudhihu wal Bayan li Syajaratil Iman (hlmn 72).

[3] HSR. al-Bukhari (no. 6137).

[4] Al-Jawabul Kafi (hal. 131).

[5] Syarhu Shahih Muslim (15/151) dan Faidhul Qadir (2/240).

[6] Jami’ul ‘Ulumi wal Hikam (hal. 519).

[7] At-Taudhihu wal Bayan li Syajaratil Iman (hlm. 73-74).

[8] Taisirul Karimir Rahman (hlm. 539) dan at-Taudhihu wal Bayan li Syajaratil Iman (hlm. 74).

[9] at-Taudhihu wal Bayan li Syajaratil Iman (hlm. 76-77).

[10] Tafsir Ibnu Katsir (2/772).

[11] HR. Ahmad (3/128) dan an-Nasa’i (7/61), dinyatakan shahih oleh al-Albani.

[12] Fathul Qadir (2/618) dan Taisirul Karimir Rahman (hlm. 358)

[13] At-Taudhihu wal Bayan li Syajaratil Iman (hlm. 87).

[14] At-Taudhihu wal Bayan li Syajaratil Iman (hlm. 93).

[15] Tafsir al-Qurthubi (17/50).

[16] at-Taudhihu wal Bayan li Syajaratil Iman (hlm. 91).

[17] HSR. Muslim (no. 2999).

[18] at-Taudhihu wal Bayan li Syajaratil Iman (hlm. 92-93).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *