Diam Itu Emas

Oleh: Ust. Abu Bakr

Makna diam (الصَّمْتُ )

Diam adalah tidak berbicara tatkala kebenaran itu muncul.[1] Abul Baqa’ mengatakan, “Diam adalah menahan diri dari berkata yang tidak baik.”[2]

Tidak berbicara dalam bahasa Arab memiliki 4 istilah:

  • ( الصَّمْتُ) merupakan istilah yang paling umum yang juga digunakan untuk orang yang bisu,
  • ( السُّكُوْتُ) adalah tidak berbicara sekalipun ia mampu melakukannya.
  • ( الإِنْصَاتُ) yaitu tidak berbicara sambil menyimak.
  • ( الإِصَاخَةُ) yakni menyimak sesuatu yang sulit didengar seperti bisik-bisik atau suara dari jauh. (Ghara’ibul Qur’an wa Ragha’ibul Furqan, an-Naisaburi 4/537)

Keutamaan diam

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (QS. Qāf: 18)

Asy-Syinqithi menerangkan, “Tidaklah ia mengucapkan suatu kata atau kalimat kecuali ada Raqib, yaitu Malaikat yang selalu mengawasi dan melihat amalannya, tidak ada yang luput sedikit pun. ‘Atid, maknanya dekat tidak jauh, yang menulis semua yang diucapkan, yang baik atau yang jelek.” (Adhwa’ul Bayan 7/427)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam juga pernah bersabda, “Barangsiapa yang diam, maka ia selamat.” (HR. Ahmad 2/159, at-Tirmidzi 2501, Shahihul Jami’: 6367)

Macam-macam diam

  1. Diam yang terpuji ialah diam dari segala yang diharamkan dan dilarang oleh Allah, seperti; ghibah, namimah, berkata kasar, dan selainnya, atau dari perkataan yang mubah namun bisa mengantar menuju perkataan yang batil. Ibnu Abdil Barr menjelaskan, “Diam yang terpuji adalah diam dari berkata yang tidak baik.” (At-Tamhid 22/20)
  2. Diam yang tercela, yaitu diam pada kondisi yang dituntut untuk berbicara atau diam dari menyebarkan kebaikan dan ilmu. Ali bin Abi Thalib berkata, “Tidak ada kebaikan jika diam dari ilmu, sebagaimana tidak ada kebaikan berbicara dalam kebodohan.”[3] Syaikhul Islam menambahkan, “Diam dari sesuatu yang wajib disampaikan hukumnya haram. Sama saja, apakah itu dijadikan cara beragama atau tidak.”[4] Al-‘Aini melengkapi, “Diam yang terlarang adalah tidak berbicara tentang kebenaran bagi siapa saja yang sanggup.”[5]

Wasiat tentang diam

Seseorang berkata kepada Salman Radhiallahu ‘anhu, “Nasihatilah aku!” Salman berkata, “Jangan banyak bicara!” Orang itu berkata, “Bagaimana seseorang bisa sabar untuk tidak berbicara?!” Salman menjawab, “Jika kamu tidak sabar untuk berbicara, maka bicaralah yang baik atau diamlah.” (Ash-Shamtu, Ibnu Abi Dunya hal. 65)

Seseorang pernah datang kepada Abu Sa’id Radhiallahu ‘anhu seraya berkata, “Nasihati saya!” Abu Sa’id berkata, “Bertakwalah kepada Allah dan perbanyaklah diam, karena dengan itu engkau akan mengalahkan setan.” (Az-Zuhd, Ibnu Abi ‘Ashim hal. 33)

Luqman al-Hakim pernah berkata kepada anaknya, “Jika engkau kalah dengan banyak bicara, maka janganlah kalah dengan banyak diam. Hendaknya engkau lebih bersemangat untuk mendengar daripada berbicara. Aku sering menyesal dari berbicara, namun aku tidak pernah menyesal dari diam, walaupun sekali saja.” (Azh-Zharfu wa azh-Zhurufa’, Abu Thayyib al-Wisya’ hal. 6-7)

Abu Dzayyal berkata, “Belajarlah untuk diam sebagaimana kalian belajar retorika berbicara. Berbicara akan memberimu petunjuk, sedangkan diam akan menjagamu. Ketahuilah, bahwasanya diam itu memiliki dua keistimewaan; dapat mencegah kebodohan orang yang lebih bodoh darimu, dan mengajarkan orang yang lebih alim darimu.” (Az-Zuhdu Ibnu Abi ‘Ashim hal. 51)

Potret diam para salaf

Samak ibnu Harb berkata, “Aku berkata kepada Jabir bin Samurah, ‘Pernah engkau duduk bersama Nabi?’ Ia menjawab, “Ya. Beliau banyak diam, sedikit tertawa, terkadang sahabat beliau melantunkan syair atau bercerita sesuatu tentang masa lalu mereka sehingga mereka tertawa, namun Nabi hanya tersenyum.” (HR. Ahmad 5/86, Shahihul Jami’: 4822)

Umar ibnul Khaththab pernah menyaksikan Abu Bakar sedang memanjangkan lidahnya. Umar berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, apa yang engkau perbuat?!” Abu Bakar menjawab, “Ini yang akan membuatku mendatangi tempat kembaliku di akhirat (ke surga atau neraka)! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Tak ada anggota tubuh kecuali mengadukan lisan, karena tajamnya.’” (HR. Abu Ya’la 1/17, dishahihkan dalam ashShahihah: 353)

Khalid ibnu Samir berkata, “’Ammar ibnu Yasir adalah seorang yang pendiam, panjang sedihnya, dan kebanyakan perkataannya adalah berlindung kepada Allah dari ujian-Nya.” (HilyatulAuliya’ 1/142)

Seorang Arab dusun pernah duduk bersama asy-Sya’bi dan diam dalam waktu lama. Suatu hari asy-Sya’bi bertanya, “Tidak maukah engkau bicara?” Ia menjawab, “Aku diam, aku selamat. Aku mendengar, aku dapat (ilmu). Sesungguhnya bagian seseorang adalah apa yang ia dapat pada pendengarannya dan apa yang dia katakan buat orang lain.” (Wafayatul A’yan 3/14)

Antara diam dan berbicara

Diam pada tempatnya terkadang lebih bermanfaat daripada mengeluarkan kata-kata, sebagaimana berbicara pada tempatnya juga lebih mulia daripada diam.[6]

Para Salaf banyak memuji perangai diam dari perkataan yang tidak baik atau tidak ada manfaatnya, karena ini sangat berat dilakukan oleh jiwa manusia, dan kebanyakan orang terjatuh dalam perkataan yang terlarang.[7]

Seorang ulama di dekat Umar ibnu Abdil Aziz pernah berkata, “Orang yang diam di atas ilmu sama dengan orang yang berbicara dengan ilmu.” Umar bertanya, “Aku berharap orang yang berbicara di atas ilmu lebih afdhal nanti pada hari kiamat, karena bermanfaat untuk orang banyak. Sedangkan orang yang diam itu hanya buat dirinya sendiri.” Maka dikatakan kepada beliau, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimana dengan fitnah perkataan (yang banyak mencelakakan)?!” Akhirnya Umar menangis terisak-isak…” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 341) Wallahul Muwaffiq.

[1] At-Tauqif ‘ala Muhimmati at-Ta’rif, al-Munawi hal. 219.

[2] Al-Kulliyyat hal. 806.

[3] Tafsir ar-Razi 2/401.

[4] Majmu’ Fatawa 25/295.

[5] ‘Umdatul Qari’ 16/291.

[6] Syarh Muslim 2/19-20.

[7] Jami’ul ‘Ulum wal Hikam hal. 341

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *