Dzikir Penyubur Iman

Oleh: Ust. Abdulloh Taslim al-Buthoni, M.A.

 

Barangkali banyak di antara kaum muslimin yang menganggap biasa nilai berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, berhubung amal shalih ini sudah sering dan terbiasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik setelah selesai shalat fardhu, sebelum dan sesudah makan atau tidur, di waktu pagi dan petang, maupun pada waktu-waktu lainnya.

Tapi tahukah kita, bahwa berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki keutamaan dan kemuliaan yang sangat agung, bahkan termasuk amal shalih yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah? Tak hanya itu, amal ini juga termasuk sebab utama yang menyuburkan keimanan kepada Allah dan menyempurnakan kedekatan pelakunya dengan-Nya. Tentu saja jika amal shalih ini dilakukan dengan benar dan sesuai dengan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diturunkan-Nya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam.

Cukuplah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut yang menunjukkan besarnya keutamaan berdzikir kepada-Nya,

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berdzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (QS. ar-Ra’du: 28)

Artinya, dengan berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ,segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan serta kesenangan. Bahkan tidak ada sesuatu pun yang lebih besar pengaruhnya dalam mendatangkan ketenteraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berdzikir kepada Allah.[1]

Inilah makna yang terungkap dalm ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, “(Kedudukan) berdzikir kepada Allah bagi hati manusia seperti air bagi ikan, bagaimanakah keadaan ikan ketika terpisah dari air?”[2]

Oleh karena itu, berusaha memahami makna dzikir yang benar dan memperbaiki amalan dzikir yang sudah kita lakukan merupakan perkara yang sangat penting, agar kita bisa meraih keutamaan besar dan sempurna dari amal shalih yang sudah terbiasa kita lakukan ini, dengan izin Allah.

 

MAKNA DAN HAKIKAT DZIKIR

Berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah menyebut nama Allah dengan mengagungkan kebesaran dan kemuliaan-Nya, dengan ucapan lisan, disertai perenungan dalam hati tentang makna ucapan dzikir tersebut. Maka ini termasuk bertasbih (menyucikan Allah dengan ucapan subhanallah), bertahmid (memuji dan menyanjung-Nya dengan ucapan alhamdulillah), bertakbir (mengagungkan-Nya dengan ucapan Allahu akbar), bertahlil (menauhidkan/mengesakan-Nya dengan ucapan laa ilaaha illallah). Juga termasuk melakukan shalat, membaca al-Qur’an, mempelajari ilmu agama, berdoa dengan menyebut nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang maha indah atau sifat-Nya yang maha tinggi.[3]

Oleh karena itu, para ulama tafsir, ketika menjelaskan makna ‘berdzikir kepada Allah’ dalam firman-Nya:

Para laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada hari (pembalasan) yang (pada saat itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (QS. an-Nur: 37)

Mereka meyebutkan tiga makna; yaitu shalat wajib lima waktu, menunaikan hak-hak Allah Subhanahu wa Ta’ala (beribadah kepada-Nya) dan menyebut nama-Nya dengan lisan (lidah).

Imam Ibnul Jauzi berkata, “Yang dimaksud dengan ‘berdzikir kepada Allah’ (dalam ayat ini) terdapat tiga pendapat:

  • Shalat (lima waktu) yang wajib, ini pendapat Ibnu Abbas dan Atha’.
  • Menunaikan hak-hak Allah, ini pendapat Qatadah.
  • Menyebut nama Allah dengan lisan, ini pendapat Abu Sulaiman ad-Dimasyqi.”[4]

Adapun hakikat berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, adalah dengan menjauhi sifat lalai dan lupa kepada-Nya, dengan selalu menghadirkan keagungan dan kemuliaan-Nya di dalam hati.[5]

Imam al-Qurthubi berkata, “Asal (makna) berdzikir, adalah kesadaran dan ingatan dalam hati kepada-Nya. Dan berdzikir dengan lisan dinamakan dengan ‘dzikir’ karena itu menunjukkan dzikir yang terdapat dalam hati.”[6]

Maka berdasarkan keterangan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa ‘berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala’ yang benar dan diridhai-Nya adalah berdzikir dengan lisan (lidah), menyebut kebesaran dan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala disertai perenungan dan penghayatan dalam hati tentang makna dzikir tersebut. Inilah makna berdzikir yang diterangkan oleh para ulama ketika menjelaskan makna hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam tentang keutamaan berdzikir.[7]

Semisal, hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam yang sangat populer, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (‘Arsy)-Nya pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali) kecuali naungan-Nya (hari kiamat): …Dan seorang yang berdzikir kepada Allah ketika sendirian lalu menetes air matanya (karena takut kepada-Nya).[8]

Maksudnya, ketika hamba ini seorang diri berdzikir kepada Allah disertai perenungan dalam hatinya tentang kemahabesaran, kemahaagungan dan kemahakuasaan-Nya, maka hatinya pun diliputi rasa takut dan tunduk kepada-Nya, sehingga dia menangis dan meneteskan air mata.[9]

Adapun berdzikir hanya dengan lisan, tanpa perenungan dalam hati atau dengan hati yang lalai dari menghayati makna kebesaran dan keagungan Allah, maka ini bukanlah dzikir yang dipuji di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, bahkan ia bertentangan dengan hakikat dan maksud utama disyariatkannya berdzikir. Yaitu menjauhi kelalaian hati dari mengingat kebesaran dan keagungan Allah dalam segala bentuknya. Makna ini dinyatakan dengan jelas dalam firman-Nya:

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari berdzikir (mengingat) Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas (rusak dan buruk). (QS. al-Kahfi: 28)

Kelalaian hati dari berdzikir kepada Allah inilah yang menjadikan hati tertutup dan terkunci, sehingga tidak bisa menerima kebenaran, kemudian menjadikan keadaan orang tersebut semuanya buruk dan rusak.[10]

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Semua (keburukan dan kesesatan) bersumber dari kelalaian hati dan memperturutkan hawa nafsu. Karena dua sifat buruk inilah yang memadamkan cahaya dan membutakan mata hati.”[11]

Inilah cara berdzikir yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam dan para sahabat beliau. Dan inilah dzikir yang dijanjikan bagi orang yang mengerjakannya pahala dan keutamaan yang besar di sisi Allah.

Dalam hadits yang shahih, bersumber dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam suatu hari keluar menemui para sahabat yang sedang duduk bermajelis, lalu beliau bersabda, “Apa yang menyebabkan kalian duduk bermajelis (di sini)?” Mereka pun menjawab, “Kami duduk bermajelis untuk berdzikir kepada Allah serta memuji-Nya atas limpahan hidayah dan karunia Islam kepada kami.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah (kalian mau bersumpah) demi Allah, bahwa tidak ada sebab lain kalian duduk bermajelis kecuali (alasan) itu?” Para sahabat menjawab, “Demi Allah, tidak ada sebab lain kami duduk bermajelis kecuali (alasan) itu.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Ketahuilah, sungguh aku meminta kalian bersumpah bukan karena menuduh kalian (berdusta), akan tetapi benar-benar (Malaikat) Jibril (tadi) datang kepadaku dan menyampaikan, bahwa Allah membanggakan kalian di hadapan para Malaikat.”[12]

Oleh karena itu, dzikir kepada Allah yang paling utama dan paling besar manfaatnya dalam menumbuhkan keimanan adalah mengucapkan lafazh dzikir yang dicontohkan dalam sunnah Rasulullah dengan lisan, disertai penghayatan dan perenungan dalam hati.

Imam Ibnul Qayyim berkata, “Dzikir yang paling utama dan paling besar manfaatnya adalah dzikir yang bersesuaian (antara) hati dan lisan ketika mengucapkannya, dengan (lafazh) dzikir (yang bersumber) dari sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam, disertai penghayatan dan perenungan terhadap kandungan dan maksud dari (ucapan) dzikir tersebut.”[13]

Beliau juga berkata, “Berdzikir dengan hati inilah yang membuahkan ma’rifatullah (mengenal kebesaran dan keagungan Allah), membangkitkan rasa cinta (kepada-Nya), menumbuhkan rasa malu, takut dan muraaqabatullah (selalu merasakan pengawasan-Nya), serta mencegah dari kemalasan dalam menunaikan ketaatan (kepada-Nya) dan meremehkan perbuatan dosa dan maksiat.”[14]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Berdzikir kepada Allah yang paling utama adalah yang bersesuaian antara (ucapan) lisan dan (perenungan) hati. Inilah dzikir yang akan membuahkan ma’rifatullah (mengenal kebesaran dan keagungan Allah), kecintaan kepada-Nya, dan pahala yang berlipat ganda.”[15]

 

 

 

[1] Taisirul Karimir Rahman (hal. 417).

[2] Dinukil oleh Imam Ibnul Qayyim dalam al-Wabilush Shayyib (hal. 63).

[3] Penjelasan Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir (1/456 dan 504), (3/569) dan (5/493).

[4] Zadul Masir (6/48).

[5] Faidhul Qadir (5/493).

[6] Tafsir al-Qurthubi (2/166).

[7] Misalnya penjelasan Imam al-Munawi dalam Faidhul Qadir (2/508) dan (4/413).

[8] HSR. al-Bukhari (no. 1357) dan Muslim (no. 1031).

[9] Syarhu Shahih Muslim (7/122-123), Fathul Bari (2/147) dan Faidhul Qadir (4/89).

[10] Fathul Qadir (3/401) dan Tafsir al-Qurthubi (10/339).

[11] Al-Wabilush Shayyib (hal. 56).

[12] HSR. Muslim (no. 2701).

[13] Al-Wabilush Shayyib (hal. 56).

[14] Al-Wabilush shayyib (hal. 117).

[15] Taisirul Karimir Rahman (hal. 74).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *