Kelola Rezeki Agar Berkah Bertambah

Oleh: Ust. Ahmad Sabiq Lc.

Segala puji bagi Allah atas segala limpahan rezeki-Nya kepada para hamba. Tidak ada satu pun makhluk di alam semesta ini melainkan telah dijamin rezekinya. (QS. Hud: 6) Rezeki ini dalam arti yang sangat luas; harta, kesehatan, anak keturunan dan lainnya. Dan tugas kita sekarang ialah bagaimana mengelola semua rezeki itu agar menjadi berkah di dunia dan di akhirat.

Makna berkah

Berkah atau barakah, bila kita pelajari dari akar bahasa Arabnya, baik melalui ilmu bahasa Arab atau melalui dalil-dalil dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, niscaya kita akan dapatkan bahwa barakah memiliki kandungan dan pemahaman yang sangat luas dan agung. Secara ilmu bahasa, barakah berarti, berkembang, bertambah dan kebahagiaan. Imam an-Nawawi berkata, “Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.” (Syarh Shahih Muslim 1/225)

Jadi, rezeki yang barakah adalah rezeki yang banyak dan langgeng serta membawa kebahagiaan dunia akhirat.

Setiap rezeki akan dipertanggungjawabkan

Setiap manusia pasti akan mempertangungjawabkan semua rezeki yang pernah Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepadanya, baik berwujud harta, umur, masa muda, dan lainnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya, ke mana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. at-Tirmidzi)

Dan jika kita kerucutkan makna rezeki pada harta, sebagaimana pemahaman kebanyakan manusia saat ini, maka hadits yang agung ini menunjukkan kewajiban mengatur pembelanjaan harta dengan menggunakannya untuk perkara yang baik dan diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena pada hari kiamat nanti manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang harta yang mereka gunakan sewaktu di dunia.

Agar rezeki barakah

Saat rezeki sudah Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan di tangan kita, maka bagaimana caranya agar menjadi berkah? Ada beberapa tips sederhana, yaitu:

  1. Syukuri nikmat. Tiada kenikmatan –apa pun wujudnya- yang dirasakan oleh manusia di dunia, melainkan datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu Allah mewajibkan atas mereka untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Yaitu dengan senantiasa mengingat bahwa kenikmatan tersebut datangnya dari Allah, kemudian ia mengucapkan hamdalah, selanjutnya ia menafkahkannya di jalan-jalan yang diridhai Allah. Orang yang telah mendapatkan karunia untuk dapat bersyukur demikian, akan mendapat keberkahan dalam hidupnya, sehingga Allah akan senantiasa melipatgandakan untuknya kenikmatan:

Dan ingatlah tatkala Rabbmu mengumandangkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan tambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

Pada ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur demi (kebaikan) dirinya sendiri. (QS. an-Naml: 40)

Imam al-Qurthubi berkata, “Tidaklah manfaat syukur akan didapat selain oleh pelakunya sendiri, di mana dengannya ia berhak mendapatkan kesempurnaan dari nikmat yang ia dapat, dan nikmat tersebut akan kekal serta ditambah. Sebagaimana syukur juga berfungsi untuk mengikat kenikmatan yang telah didapat serta menggapai kenikmatan yang belum dicapai.”

  1. Gunakan rezeki untuk ketaatan. Salah satu bentuk syukur terhadap rezeki adalah menggunakan semua itu untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan apabila rezeki itu berupa harta, maka salah satu bentuk ketaatan yang paling bisa semakin membawa keberkahan rezeki ialah dengan menginfakkannya di jalan Allah; zakat wajib atau sunnah (sedekah). Dan itu merupakan amalan yang menjadi penyebab turunnya keberkahan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan bagi orang yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Mahamengetahui. (QS. al-Baqarah: 261)

Pada ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan sesuatu riba yang engkau berikan agar bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak bertambah pada sisi Allah . Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai Wajah Allah (ridha-Nya), maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan.” (QS. ar-Rum: 39)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tiada pagi hari, melainkan ada dua Malaikat yang turun, kemudian salah satunya berucap (berdoa), ‘Ya Allah, berilah orang yang berinfak pengganti,’ sedangkan yang lain berdoa, ‘Ya Allah, timpakanlah kepada orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran.’ (Muttafaq ‘alaih)

Pada hadits lain beliau Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan memaafkan melainkan kemuliaan, dan tidaklah seseorang bertawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim)

Para ulama menjelaskan maksud hadits ini dengan menyebutkan dua penafsiran; (Pertama) maksudnya, Allah akan memberkahi hartanya, dan menjaganya dari kerusakan, sehingga kekurangan yang terjadi dapat tertutupi dengan turunnya keberkahan. Hal ini dapat dirasakan langsung dan dapat dilihat contohnya di masyarakat. (Kedua) walaupun secara hitungan harta berkurang, akan tetapi pahala yang berlipatganda dapat menutupi kekurangan tersebut, bahkan melebihinya. Dan di antara amal ketaatan dalam membelanjakan harta adalah:

  1. Silaturrahim (menyambung hubungan kekerabatan). Banyak sekali hadits dan atsar yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan silaturrahim termasuk sebab keberkahan rezeki. Di antara hadits dan atsar itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Siapa yang senang untuk dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaknya ia menyambung (tali) silaturrahim.” (HR. al-Bukhari, Muslim)

 

Dalam hadits yang mulia di atas, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal; kelapangan rezeki dan bertambahnya usia.

  1. Belanjakan harta sesuai kebutuhan, tanpa pelit dan boros. Sebaik-baik cara mengatur pembelanjaan harta adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam firman-Nya,

Dan (hamba-hamba Allah yang beriman adalah) orang-orang yang apabila mereka membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan mereka) di tengah-tengah antara yang demikian. (QS. al-Furqan: 67)

Maknanya, mereka tidak mubazir (berlebihan) dalam membelanjakan harta sehingga melebihi kebutuhan, dan (bersamaan dengan itu) mereka juga tidak kikir terhadap keluarga mereka sehingga kurang dalam (menunaikan) hak-hak mereka dan tidak mencukupi (keperluan) mereka, tetapi mereka (bersikap) adil (seimbang) dan moderat (dalam pengeluaran), dan sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan.

Juga dalam firman-Nya,

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (terlalu kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (terlalu boros), karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (QS. al-Isra’: 29)

Imam asy-Syaukani ketika menafsirkan ayat ini, beliau berkata, “Arti ayat ini, larangan bagi manusia untuk menahan (hartanya secara berlebihan) sehingga mempersulit dirinya sendiri dan keluarganya, dan larangan berlebihan dalam berinfak (membelanjakan harta) sampai melebihi kebutuhan, sehingga menjadikannya musrif (berlebih-lebihan/mubazir). Maka ayat ini (berisi) larangan dari sikap ifrath (melampaui batas) dan tafrith (terlalu longgar), yang ini melahirkan kesimpulan disyariatkannya bersikap moderat, yaitu (sikap) adil (seimbang) yang dianjurkan oleh Allah.”

  1. Dalam kisah mereka terdapat pelajaran. Pernahkah Anda mendengar negeri Saba’? Sebuah negeri makmur yang pernah ada di Yaman, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengisahkan negeri itu dalam firman-Nya:

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka. Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya!’ (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar. Dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. Demikianlah Kami beri balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba’: 15-17)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam pernah ditanya oleh seorang laki-laki, “Ya Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang Saba’? Apakah Saba’ itu? Apakah ia adalah nama sebuah tempat ataukah nama dari seorang wanita?” Beliau pun menjawab, “Dia bukanlah nama suatu tempat dan bukan pula nama wanita, tetapi ia adalah seorang laki-laki yang memiliki sepuluh orang anak dari bangsa Arab. Enam orang dari anak-anaknya menempati wilayah Yaman dan empat orang menempati wilayah Syam.” (Hasan, HR. Abu Dawud, no. 3988 dan at-Tirmidzi, no. 3222)

Kerajaan Saba’ terkenal dengan hasil alamnya yang melimpah, orang-orang pun banyak berhijrah dan bermitra dengan mereka. Perekonomian mereka begitu hidup dan sangat dinamis. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengabarkan tentang kemakmuran kaum Saba’,

Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun, di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (QS. Saba’: 15)

Kedua kebun tersebut sangat luas dan diapit oleh dua gunung di wilayah Ma’rib. Mereka memiliki sebuah bendungan yang sangat luas untuk mengairi tanah pertanian mereka. Tanahnya pun sangat subur, menghasilkan berbagai macam buah dan sayur. Qatadah dan Abdurrahman bin Zaid (ulama tafsir generasi Tabi’in) mengisahkan, apabila ada seseorang yang masuk ke dalam kebun tersebut dengan membawa keranjang di atas kepalanya, ketika keluar dari kebun itu keranjang tersebut akan penuh dengan buah-buahan tanpa harus memetik buahnya. Abdurrahman bin Zaid menambahkan, bahwa di sana tidak ditemukan nyamuk, lalat, serangga, kalajengking, dan ular. (Tafsir ath-Thabari, 20/376-377)

Dulunya negeri Saba’ penyembah matahari dan bintang. Namun saat dipimpin oleh Ratu Bilqis, istri Nabi Sulaiman ‘Alaihis salam yang memeluk Islam, maka kaumnya pun berbondong-bondong memeluk agama Islam yang didakwahkan oleh Nabi Sulaiman ‘Alaihis salam.

Sampai kurun waktu tertentu, kaum Saba’ tetap menauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun dengan berselangnya waktu mereka kembali ke agama nenek moyang mereka, menyembah matahari dan bintang-bintang. Allah telah mengutus tiga belas orang Rasul kepada mereka (Tafsir Ibnu Katsir, 6/507), akan tetapi mereka tetap tidak mau kembali kepada agama tauhid, mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun. Allah lantas mencabut kenikmatan yang telah Dia anugerahkan kepada mereka. Firman-Nya:

Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan adzab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. (QS. Saba’: 16-17)

Berawal dari hancurnya bendungan Ma’rib, akhirnya negeri Saba’ menjadi negeri yang sangat menderita dan kelaparan. Wal‘iyadzu billah.

Kisah ini senada dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala lainnya:

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka seorang rasul dari mereka sendiri, tapi mereka mendustakannya; karena itu mereka dimusnahkan adzab dan mereka adalah orang-orang yang zalim. (QS. an-Nahl: 112-113)

Semua itu adalah pelajaran untuk kita agar pandai mensyukuri nikmat Allah, bukan malah mengufurinya. Wallahul musta’an.

*) Diadaptasikan dengan berbagai tambahan dari https://pengusahamuslim.com/1547-kiatkiat-agar-rizki-anda-barokah.html dan https://kisahmuslim.com/3181-sejarah-kerajaan-saba.html serta berbagai sumber lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *