Jaga Hati dari Syirik yang Tersembunyi

Oleh: Ust. Abu Bakr

 

Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Maukah aku beritahukan kepada kalian mengenai sesuatu yang paling kutakutkan terhadap kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?” Mereka menjawab, “Tentu saja.” Beliau mengatakan, “Syirik Khafiy (yang tersembunyi). Yaitu seseorang memperbagusi shalatnya tatkala dia merasa dipandangi oleh orang lain.” (HR. Ibnu Majah: 4194 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam juga bersabda, “Syirik pada umatku lebih samar dari rayapan semut di atas batu besar.” (HR. al-Hakim, Shahihul Jami’: 3730) Dan dalam hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Aku paling tidak butuh kepada sekutu, barangsiapa yang melakukan sesuatu amalan yang dia menyekutukan Aku dengan yang lain di dalamnya maka Aku akan tinggalkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim: 5300)

Di antara bentuk Syirik khafiy yang rentan menyerang hati seorang yang bertauhid adalah Riya’.

 

Definisi Riya’ (الرِّيَاءُ)

Ibnu Hajar mengatakan, “Riya’ adalah menampakkan ibadah supaya dilihat orang dan dipuji.” (Fathul Bari 18/336) Asal makna dari riya’ adalah mencari simpati di hati orang dengan menampakkan perbuatan baik, dan itu merupakan ketaatan kepada Allah dengan tujuan (dipuji) manusia. (Al-Ihya’ 2/430) Diriwayatkan, bahwa Luqman al-Hakim berkata kepada anaknya, “Riya’ adalah engkau mencari balasan amalmu di dunia, padahal amalan seseorang harusnya untuk akhirat.” (Tafsir alQurthubi 5/182)

 

Fenomena Riya’:

  1. Riya’ dari sisi penampilan badan, seperti sengaja membiarkan rambut acak-acakan supaya dikatakan ahli ibadah, memamerkan bekas sujud di keningnya, dan yang lainnya.
  2. Riya’ dari sisi pakaian, seperti memakai pakaian lusuh, robek, dengan tujuan agar dijuluki ahli ibadah atau memakai pakaian syuhrah (dengan tujuan pamer dan mencari sensasi), terutama di kalangan para ummahat (ibu-ibu). Memakai pakaian hendaknya diniatkan untuk menutup aurat, karena itulah perintah Allah dan Rasul-Nya, bukan untuk mencari perhatian manusia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Barangsiapa yang memakai pakaian syuhrah maka Allah akan memakaikan buatnya pakaian kehinaan di akhirat.” (HR. Ahmad: 5631, Abu Dawud: 4029 dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
  3. Riya’ dalam ucapan, seperti riya’nya seseorang dalam memberikan nasihat, wejangan, menggerak-gerakkan bibir dengan dzikir di depan orang banyak, melembutkan suara dan mendayu-dayukannya tatkala membaca al-Qur’an di tempat umum, terutama di depan kamera dan alat perekam. Riya’ semacam ini tidak mengenal orang yang dijuluki “berilmu”, terlebih bagi orang awamnya. Tidak sedikit orang yang tujuan awalnya dalam berdakwah adalah ikhlas karena Allah, namun dia tidak sadar tatkala niat itu berubah haluan menjadi ladang mencari simpati dan rezeki sehingga muncullah hasad dan dengki antar sesama da’i dalam medan dakwah. Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu agama untuk mendebat orang bodoh, atau supaya menyamai para ulama, atau memalingkan wajah manusia ke arahnya maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi: 2654, Ibnu Majah: 253)
  4. Riya’ dalam perbuatan, semisal riya’nya seseorang yang shalat dengan melamakan berdiri, rukuk, sujud, riya dalam berpuasa, sedekah, haji, jihad dan yang lainnya. Berkata Fudhail ibnu ‘Iyyadh, “Meninggalkan suatu amalan karena manusia adalah riya’, dan melakukan suatu amalan karena manusia adalah syirik.” (Al-Kaba’ir 1) Suatu amalan sunnah yang tidak jadi dikerjakan di hadapan orang karena takut nanti dikatakan riya’, itulah riya’ yang sebenarnya. Karena sejatinya dia menginginkan di dalam hatinya supaya dikatakan bukan orang yang riya’. Berkata Abu Ali ats-Tsaqafi, “Meninggalkan riya’ karena riya’ lebih jelek daripada riya’.” (Siyar A’lam 11/493) Bukankah Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam pernah menerangkan tentang tiga orang yang pertama kali akan diseret ke dalam neraka Jahannam? Apakah mereka adalah pezina, penjudi, perampok…? Bukan, mereka adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya, orang yang berjihad dan orang bersedekah, namun karena tidak ikhlas maka Allah mendustakan amalan mereka dan menghukum mereka.
  5. Riya’ dengan sahabat dan orang-orang yang pernah diziarahi, semisal riya’nya seseorang dengan mengatakan sahabat saya adalah para ustadz, saya sering mengunjungi ustadz fulan, Syaikh fulan dan yang lainnya, supaya dikatakan dia bukan orang sembarangan. Atau riya’nya seseorang dengan banyaknya guru atau murid.

 

Beberapa perkara yang bukan termasuk riya’:

  1. Pujian manusia karena amal yang telah dia kerjakan tanpa ada maksud untuk dipuji. Dari Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam pernah ditanya tentang seseorang yang melakukan suatu amalan kemudian dipuji oleh orang lain, beliau mengatakan, “Itulah berita gembira yang disegerakan bagi orang mukmin.” (HR. Muslim: 2642)
  2. Bertambah semangatnya seseorang beribadah tatkala bersama orang-orang yang ikhlas dan shalih. Berkata Ibnu Qadamah, “Terkadang seseorang menginap bersama orang yang rajin beribadah sehingga dia pun beribadah shalat malam lebih banyak daripada sendirian… Sebagian akan menganggap ini termasuk riya’ secara mutlak, padahal bukan.” (Mukhtashar Minhajil Qashidin 234)
  3. Memperbagusi pakaian atau sandal bukan dengan niat riya’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Sesungguhnya Allah Mahaindah, Dia menyukai keindahan.” (HR. Muslim: 91)
  4. Menampakkan syiar Islam. Jika dia ingin supaya orang-orang mengikutinya berbuat kebaikan, maka tidaklah tercela sebagaimana yang dilakukan para sahabat dengan bersedekah terang-terangan supaya yang lainnya ikut melakukannya, dan contoh yang lain sangatlah banyak.

Solusi dari Penyakit Riya’

  1. Selalu muhasabah (introspeksi diri) ketika akan melakukan setiap amalan. Berkata Yusuf bin Husain ar-Razi, “Sesuatu yang paling berat di dunia adalah ikhlas. Betapa susahnya saya menghilangkan riya’ dalam hati karena riya’ ini tumbuh di dalam hati dengan warna yang lainnya.” (Jami’ulUlum wal Hikam 3/37) Imam asy-Syafi’i mengatakan, “Tidak ada yang mengetahui riya’ kecuali orang yang ikhlas.” Maknanya, tidak ada yang mampu untuk mengetahui hakikatnya dan meneliti kedalaman dan kesamarannya melainkan orang-orang yang menginginkan keikhlasan, karena dia akan butuh berusaha sepanjang zaman untuk memikirkan dan mengoreksinya sampai dia mengetahui riya’ tersebut atau sebagiannya.” (BustanulArifin, an-Nawawi 1/18)
  2. Berusaha untuk menyembunyikan amal shalih. Berkata Fudhail bin ‘Iyyadh, “Sebaik-baik amal adalah yang tersembunyi, paling terhindar dari setan dan paling jauh dari riya’.” (Ikhlasun Niyyah, Ibnu Abi Dunya 1/28)
  3. Selalu mengingat bahwa riya’ adalah perbuatan syirik yang akan menghapus amalan seseorang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *