Ketika Semua Terasa Sulit

Oleh: Tata A’yoenin, SBY

 

Sahabat, masih ingatkah dengan kisah 3 orang yang terkurung di dalam gua? Mereka dalam keadaan sulit. Tidak bisa keluar lantaran batu besar telah menutupi mulut gua. Sebagian mereka berkata kepada yang lain agar memohon kepada Allah q\ dan bertawasul melalui amal shalih masing-masing. Dengan harapan Allah akan mengangkat kesulitan mereka. Seorang dari mereka bertawasul dengan baktinya kepada orang tuanya yang lanjut usia. Maka batu yang menutupi pintu gua itu bergeser sedikit. Yang lainnya juga bertawasul dengan amal baik yang pernah mereka lakukan secara bergantian. Setiap satu cerita usai, batu bergeser, dan mereka bisa keluar.

Teringat tentang sebuah kisah inspiratif menggugah jiwa, terjadi sekitar 2 tahun silam, saat umurku masih 16 tahun. Aku mendengarnya langsung dari sosok bunda yang sangat bersyukur telah dikaruniai putra putri yang berbakti.

Ketika itu beliau sedang mengunjungi putra ketiganya yang kebetulan satu pesantren denganku. Beliau sempat singgah di pondok putri dan mencariku, karena kebetulan aku tetangga jauhnya. Kami saling mengenal karena sering ngaji di tempat yang sama. Aku menemuinya, lalu beliau kupersilakan masuk ke ruang tamu. Aku menemaninya bersama kedua putra putri kecilnya yang beliau bawa.

Nggak enak di ruang tamu putra, banyak ikhwan seliweran. Jadi, tadi minta antar ke sini.” Ujar beliau sambil tersenyum ramah.

“Mbak, di sini boleh bawa hape nggak?”

“Ya enggak boleh lah, Um. Anak zaman sekarang kalo dibawain hape malah nggak jadi belajar.”

“Oh gitu, iya ya. Putra pertama saya dulu pas baru masuk pesantren di Jawa Tengah itu malah ana bawakan hape lho, Mbak. Saya belum tau kalo nggak boleh. Suatu hari ustadznya nelpon, hape anak saya disita. Saya juga diberitahu kalo di sana itu nggak boleh bawa hape. Wah, padahal saya sendiri yang membawakan. Kemudian ustadznya ngomong, Alhamdulillah, isi SMS yang dikirimkan anak saya untuk teman-temannya itu kebanyakan nasihat.”

Aku termangu.

“Anak saya yang itu sering sekali nelpon, tapi yang dibicarakan itu ya… cuma minta maaf saja kepada saya.”

Aku berpikir sejenak. Minta maaf? Sejauh ini yang kutahu, anak ibu ini baik. Tidak neko-neko. Masya Allah. Ia dulu satu sekolah denganku saat SD. TPA kami juga sama. Mungkin ada hal lain. Belum sempat aku bertanya, ibu itu melanjutkan,

“Sering sekali dia telepon, setiap saya tanya, ‘Ada apa, Nak, kok nelpon terus?’ Jawabannya selalu sama, ‘Aku cuma mau minta maaf, Mi.’ ‘Lho, kenapa minta maaf terus?’ ‘Aku merasa pekerjaanku masih terasa sulit tanpa maaf dari Ummi.’”

Aku kagum. Masya Allah. Apalagi setelah sang Ummu menambahkan,

Pas dia jadi pengasuh, saya ditelepon sama salah satu ustadznya, ‘Afwan, Um. Kalau boleh saya tau, setiap putranya menelepon membicarakan apa saja ya, Um?’ Ya saya jawab sejujurnya, ‘Tidak membicarakan apa-apa, Ustadz. Dia hanya minta maaf. Memangnya ada apa, Ustadz?’ ‘Masya Allah, Um. Anak-anak asuhnya di sini nurut semua sama dia. Tanpa diperintah sudah jalan duluan. Kita disini sampai heran, ternyata baru saya tau rahasianya.’”

Sore menjelang, sang Ummu telah pulang. Tapi kisahnya tadi masih tertinggal di pikiranku. Terbersit keinginan untuk menirunya, mengingat diri yang telah hidup selama 16 tahun tapi belum pernah mengucapkan satu kata maaf pun kepada kedua orang tua. Allahummaghfirlii….

Usai makan malam, seperti biasa, aku belejar di kelas bersama teman-teman. Lebih tepatnya menambal catatan sekolah yang tertinggal. Allahul musta’an….

Saat sedang asyik menyalin catatan dari kitab teman, seseorang memanggilku, “Mbak, dapet telepon dari abinya di kantor.”

Tanpa pikir panjang aku langsung berlari menuju kantor dengan melewati dua tangga. Melelahkan, tapi tak kurasakan setelah mendengar suara Bapakku dari seberang kota sana.

“Assalamu’alaikum..” Sapaku grogi.

“Wa’alaikumussalam, ada apa kok tadi minta ditelepon?”

Gak papa, Pak. Aku cuma mau minta maaf.”

Selang satu detik, terdengarlah suara tawa ringan di seberang. Bapakku tertawa. Membuatku jadi malu. “Iya, iya, kenapa? Sudah insyaf…?”

“Yaa,, Aku ngerasa pekerjaanku masih terasa sulit tanpa maaf dari orang tua. Dimaafin yaa..”

“Iya…”

“Ibu mana?”

“Ya, sudah tidur dari tadi. Ini sudah jam 9.”

Yaudah deh, salam maaf aja.”

Terlalu dramatis mungkin, tapi inilah kenyataan. Aku benar-benar terinspirasi. Walaupun bapakku tertawa, aku yakin, pasti beliau bahagia, karena sudah 15 tahun lebih aku hidup, baru pertama kalinya aku minta maaf kepada orang tua, walaupun lewat telepon. Jujur, sampai saat ini aku masih belum berani meminta maaf secara langsung. Semoga melalui artikel kecil ini bisa mewakili, walau tak seutuhnya.

Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua, dan murka Allah tergantung kemurkaan orang tua.” (HR. al-Bukhari dan yang lainnya)

Sahabat, apakah yang akan kau lakukan setelah membaca kisah ini? Aku harap, jika engkau anak perantauan sepertiku, segera bergerak mengambil ponselmu dan berusaha menghubungi kedua orang tuamu yang berada nun jauh di sana, kemudian katakan, “Ibu, Ayah, aku merindukan kalian. Aku telah berbuat banyak salah pada kalian. Kumohon maafkan aku, Ibu, Ayah, agar Allah pun sudi meridhaiku, dan mempermudah segala urusanku. Doakan aku di sini, Ibu, Ayah….”

Aku juga berharap, jika kedua orang tuamu telah tiada, engkau segera beranjak mengambil air wudhu, kemudian engkau berdiri untuk shalat, berdoa dan bermunajat kepada Allah untuk kebaikan mereka di sisi-Nya.

Untuk kalian yang orang tuanya masih diberi umur panjang, berarti telah jelas untuk kalian sebuah pintu surga. Gunakan kesempatan ini untuk berbuat baik kepada mereka ketika rambut mereka semakin putih, tubuh mereka kian ringkih. Temani mereka di usia senja, ketika mereka tak lagi ingat siapa kerabat dekatnya, apa yang dimakan, dan di mana arah jalan pulang. Sebelum Allah menutup pintu surga itu dengan mencabut nyawa mereka.

Wahai Para Pendidik, putra putri Anda adalah penyejuk yang Anda inginkan kesuksesan mereka di dunia dan akhirat. Bantulah mereka mendapatkan semua itu dengan keridhaan atas segala kesalahan mereka, agar Allah berkenan meridhai mereka dan memudahkan jalan mereka, insya Allah.

Wahai salah satu pintu surga kami, maafkan kami, izinkan air mata ini terjatuh dalam pelukan kasih sayangmu, agar tiada lagi beban berat yang kami pikul di atas pundak-pundak kami.

Ayah, Ibu, izinkan kami menjadi qurratuain (penyejuk mata) yang tak pernah lupa mendoakan kebaikan untuk kalian di setiap sujud kami. Karena yang kami tahu, doa anak untuk kedua orang tunya tidak ditolak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *