Jangan Jadi Lisan “Comberan”

Oleh: Abu Faiz Sholahuddin.

 

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ, وَلاَ اللَّعَّانِ, وَلاَ الْفَاحِشِ, وَلاَ الْبَذِئِ

“Mukmin itu bukan seorang pemfitnah, bukan pelaknat, tidak berkata keji, dan tidak berkata-kata kotor. (HR. Ahmad: 3829, at-Tirmidzi: 1977, dishahihkan oleh al-Albani

dalam ash-Shahihah no. 320)

 

LISAN ADALAH NIKMAT YANG BERHARGA

Di antara kesempurnaan manusia dibanding makhluk yang lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala membekali manusia dengan lisan yang dapat digunakan untuk berbicara dan berkomunikasi antar sesama, bertasbih memuji Allah, berdzikir dan mengajak manusia kepada ketaatan, dan pada hal tersebut terdapat kebaikan yang sangat besar.

Lisan yang baik adalah yang selalu memerintahkan untuk berbuat kebaikan dan mendamaikan di antara manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau Mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (QS. an-Nisa’: 114)

Tentang nikmat besar tersebut, tentu kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala akan meminta pertanggungjawaban; apakah dipergunakan untuk kebaikan atau sebaliknya, digunakan untuk kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Akan ada selalu dua Malaikat yang mencatat setiap ucapan yang diucapkan. (QS. Qaf: 18)

 

PETAKA LISAN

Peribahasa mengatakan, bahwa ‘lidah itu tak bertulang, salah petik jiwa hilang.’ Peribahasa itu sangat tepat untuk menggambarkan tentang petaka yang ditimbulkan oleh lisan, karena lidah tidak bertulang sehingga dia akan bebas mengucapkan ucapan apa saja. Jika salah dalam berucap, bisa jadi petaka yang akan timbul.

Islam telah menganjurkan kita untuk senantiasa menjaga lisan dari berkata-kata kotor, karena lisan adalah sumber bencana dan perbuatan dosa. Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Paling banyaknya dosa anak Adam adalah ditimbulkan dari lisannya.” (HR. ath-Thabrani dan Ibnu ‘Asakir, dishahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 534)

Oleh karenanya, jauh-jauh hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam telah berpesan agar menjaga lisan supaya tak terjerumus ke dalam lembah kenistaan. Bahkan beliau menjamin surga bagi orang yang dapat menjaga lisannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ, وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang menjamin untukku (menjaga dari kejelekan) apa yang di antara kedua tulang rahangnya (yaitu lisannya) dan kedua kakinya (yaitu kemaluannya) maka aku jamin dia dengan surga.” (HR. al-Bukhari: 6474)

Apa saja petaka lisan yang wajib dihindari oleh setiap muslim yang banyak manusia terjerumus di dalamnya? Berikut di antaranya:

  1. Sering berkata sesuatu yang tidak berguna. Seorang yang mengerti akan berharganya waktu, di mana waktu adalah modal untuk meraih surga Allah, maka dia tidak akan sekali-kali melalaikan sedikit pun waktunya kecuali untuk kebaikan. Itu artinya, dia akan sangat menjaga lisannya dari berkata-kata yang tidak berguna, karena itu berarti kelalaian dari dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti seorang yang mampu untuk mengambil permata indah, namun justru dia campakkan sembari mengais lumpur yang tiada berguna. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ

Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna untuknya.” (HR. at-Tirmidzi: 2317, Ibnu Majah: 3976)

  1. Tenggelam dalam kebatilan dan ucapan kemaksiatan. Termasuk di dalamnya adalah memperdebatkan agama dan berbantah-bantahan yang tiada berguna, yang hanya akan mendatangkan kebencian dan menyulut api fitnah serta permusuhan di antara manusia. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمَ بِالْكَلِمَةِ يَزلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ

Sesungguhnya ada seorang hamba yang dia berbicara dengan satu kalimat, yang akan menggelincirkan dia ke neraka, lebih jauh dari masyriq (timur) dan Maghrib (barat).” (HR. al-Bukhari: 6478, Muslim: 2988)

  1. Senang berkata-kata keji dan kotor. Perkataan keji dan kotor adalah ungkapan terhadap sesuatu yang memalukan, namun diungkapkan secara terang-terangan. Kebanyakannya adalah ungkapan-ungkapan yang mengarah kepada hubungan intim dan obrolan-obrolan cabul. Seorang yang baik akan merasa malu untuk mengungkap hal-hal tersebut dan akan berusaha mengungkapkan dengan bahasa kinayah (kiasan) ataupun isyarat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْفَحْشَ, فَإِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ الْفَحْشَ وَلاَ التَّفَحُّشَ

Jauhi oleh kalian berbicara keji, sesungguhnya Allah tidak mencintai perbuatan keji dan membicarakannya.” (HR. Ahmad: 6451)

  1. Selalu bercanda dan bergurau. Bercanda jika jarang-jarang dan tidak berbohong maka diperbolehkan, seperti Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam pernah mencandai seorang nenek-nenek yang meminta surga; lalu Nabi berkata:

إِنَّهُ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَجُوْزٌ

“Nenek-nenek itu tidak ada yang masuk surga.”

Lalu beliau membaca ayat:

Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. (QS. al-Waqi’ah: 35-36)

Adapun selalu bergurau dan melawak untuk mengundang gelak tawa maka itu terlarang, karena itu akan menghilangkan kewibawaan dan menyulut kedengkian serta rasa dendam, apalagi bila dibalut dengan kedustaan dan kebohongan.

  1. Memperolok dan menistakan agama serta orang yang berusaha mengamalkan syariat. Bahkan menistakan agama dan kaum muslimin adalah sebuah kekufuran, meskipun dia melakukannya karena bercanda. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman….” (QS. at-Taubah: 65-66)

  1. Ghibah dan menggunjing kehormatan saudaranya. Maka seorang muslim adalah terjaga darahnya, hartanya dan kehormatannya; tidak boleh dicampakkan tanpa hak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ

“Sesungguhnya darah kalian, harta, dan kehormatan kalian adalah haram (untuk dicampakkan).” (HR. al-Bukhari: 67)

 

LISAN MUKMIN VS LISAN FASIK

Seorang mukmin ibarat sebuah lebah yang tidak akan mengambil sesuatu kecuali yang baik-baik dan hanya akan keluar darinya sesuatu yang baik-baik pula. Bila dia bergaul maka pergaulannya akan memberikan kebaikan untuk orang lain. Jika ia berucap, maka dia akan berucap dengan perkataan yang baik pula.

Berbeda dengan orang yang fasik, lisannya ibarat ‘comberan’, yang tidak keluar darinya kecuali keburukan. Lisannya dipenuhi dengan kekejian dan kalimat-kalimat kotor. Jika dia bergaul dengan manusia, lisannya tidak selamat dari fitnah, celaan, cacian dan laknat. Na’udzubillah! Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam telah memberikan ancaman dari lisan yang buruk. Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ لاَ يَرَى بِهَا بَأْساً يَهْوِي بِهَا سَبْعِيْنَ خَرِيْفاً فِي النَّارِ

“Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang berbicara dengan satu kalimat, ia tidak menganggapnya berbahaya dengan satu kalimat itu, namun dengan sebab itu ia terjungkal selama 70 tahun di dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi: 2314, Ibnu Majah: 3970)

 

DIAM ADALAH SOLUSI

Jika memang tidak bisa mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, maka lebih baik diam karena dengannya seorang akan selamat dari keburukan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah berucap yang baik atau diam.” (Muttafaq ‘alaih)

Demikian juga wasiat para salaf, yang memilih diam jika tidak dapat berbicara yang baik.

Abu Darda’ a\ berkata:

أَنْصِفْ أُذُنَكَ مِنْ فِيْكَ, فَإِنَّمَا جُعِلَتْ لَكَ أُذُنَانِ وَفَمٌ وَاحِدٌ, لِتَسْمَعَ أَكْثَرَ مِمَّا تَتَكَلَّمُ بِهِ

“Penuhkan hak telingamu dari lisanmu, karena dijadikan bagimu dua telinga dan satu lisan, agar engkau lebih banyak mendengar dari pada berbicara.” (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 176)

Sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq sembari memegang lisannya mengatakan:

هَذَا أَوْرَدَنِي الْمَوَارِدُ

“Lisan inilah yang telah membuat diriku (terjatuh) dalam keburukan.” (Az-Zuhd hal. 90, Imam Ahmad)

Abu Wa’il pernah naik bukit Shafa lalu memegang lisannya dan berkata:

يَا لِسَانُ, قُلْ خَيْراً تَغْنَمْ, وَاسْكُتْ عَنْ شَرٍّ تَسْلَمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَنْدَمَ

“Wahai lisan, berkatalah yang baik maka engkau akan mendapat banyak kebaikan, dan diamlah dari (berbicara) kejelekan maka engkau akan selamat, jika tidak maka engkau akan menyesal!”

Karena aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

أَكْثَرُ خَطَايَا ابْنِ آدَمَ مِنْ لِسَانِهِ

“Paling banyaknya dosa anak Adam ditimbulkan dari lisannya.”[1]

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri dan lisan kita dari terjerembab ke dalam kenistaan, serta mengarahkan lisan kita untuk tidak berucap kecuali kepada kebaikan. Amin. Wallahul Muwaffiq.

[1] Lihat hayat shohabah (2/702)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *