Kesabaran Abu Qilabah Al-Jarmi Menghadapi Ujian

Oleh: Ust. Mukhlis Abu Dzar al-Batawi

 

Abdullah bin Muhammad Rahimahullah mengisahkan:

“Aku pernah berangkat ke daerah pesisir untuk berjaga di perbatasan negeri kaum muslimin. Yang mengangkut kami ketika itu adalah kereta kuda Mesir. Setelah aku sampai ke ujung pantai, ternyata aku tiba di Bathihah.

Di pantai Bathihah itu ada sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seorang lelaki yang buntung kedua tangan dan kakinya. Lebih dari itu, pendengaran dan penglihatannya juga lemah. Tak ada satu anggota tubuh pun yang berfungsi baginya selain lisannya. Dengan lisannya itu ia selalu memanjatkan doa:

‘Ya Allah, berikan kepadaku kemampuan untuk senantiasa memuji-Mu, yang dengannya aku dapat memuaskan diriku dalam mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan anugerah yang Engkau lebihkan bagiku dari banyak makhluk-Mu…’”

Abdullah melanjutkan, “Demi Allah, orang ini harus aku dekati! Akan aku tanyakan mengapa ia mengucapkan doa seperti itu? Apakah dia benar-benar mengerti perkataan yang ia ucapkan ataukah sekadar ilham yang diilhamkan kepadanya?

Aku lantas mendatangi laki-laki itu. Aku ucapkan salam kepadanya dan aku katakan bahwa aku mendengar perkataan yang diucapkannya tadi. Aku bertanya, ‘Kenikmatan apakah yang telah dikaruniakan Allah kepadamu? Dan kemuliaan seperti apakah yang telah dianugerahkan oleh-Nya bagimu sehingga engkau bersyukur sedemikian itu?’

Lelaki itu menjawab, ‘Apakah engkau tidak melihat apa yang telah Allah perbuat kepadaku? Demi Allah, sekiranya Allah mengirim api dari langit untuk membakar tubuhku, memerintahkan gunung-gunung untuk menghancurkanku, berkenan menyuruh lautan untuk menenggelamkanku dan bumi menelanku, maka sungguh aku tetap akan bersyukur kepada Allah atas lisan yang telah dikaruniakan kepadaku.

Tetapi wahai hamba Allah, engkau telah datang kepadaku dan aku butuh bantuanmu. Kamu sendiri melihat bagaimana kondisi tubuhku, aku sendiri tak mampu berbuat untuk menolong atau mencederai diriku. Selama ini aku ditemani seorang anak laki-lakiku. Dia selalu datang kepadaku pada waktu-waktu shalat. Dialah yang mewudhukanku. Ketika aku lapar dan haus, dialah yang menyuapi dan memberi minum. Tetapi sudah tiga hari ini aku kehilangan dia, kalau engkau berkenan carilah ia untukku, semoga Allah melimpahkan rahmat untukmu.’

Aku berkata, ‘Demi Allah, tidak ada perjalanan yang lebih agung dan mendapat pahala besar di sisi Allah dari perjalanan demi membantu memenuhi hajat orang seperti engkau ini.’

Aku pun mulai berjalan untuk mencari anaknya yang telah beberapa waktu hilang. Belum jauh aku berjalan, tiba-tiba aku sampai di sebuah timbunan pasir. Di situ aku menemukan seorang anak yang telah diterkam dan dimakan binatang buas. Maka aku berucap, ‘Innalillahi wa inna ilaihi raji’un….!!’ Gumamku, ‘Apa yang harus aku katakan kepada lelaki tua renta itu..?’

Dalam perjalanan pulang menuju kemah, aku teringat dengan kisah Nabi Ayyub p\. Setelah aku tiba di kemah lelaki itu, aku ucapkan salam kepadanya, ia pun menjawab salamku.

Dia bertanya, ‘Bukankah engkau sahabatku?’ Kujawab, ‘Ya.’

Dia bertanya, ‘Apa yang engkau telah lakukan untuk memenuhi kebutuhanku?’

Aku balik bertanya, ‘Siapakah yang lebih mulia di sisi Allah; engkau atau Nabi Ayyub?’

Dia menjawab, ‘Pasti Nabi Ayyub!’

Aku bertanya, ‘Apakah engkau tahu apa yang telah diperbuat Allah kepadanya? Bukankah ia telah diuji dengan harta, keluarga, dan anak-anaknya?’

Dia menjawab, ‘Benar.’

Aku bertanya, ‘Bagaimana beliau menghadapi kenyataan itu?’

Dia menjawab, ‘Beliau hadapi dengan penuh kesabaran, senantiasa bersyukur dan bertahmid.’

Aku bertanya, ‘Namun, bukankah kerabat beliau dan orang-orang yang dicintainya justru menjauhi beliau?’

Dia menjawab, ‘Ya.’

Aku bertanya, ‘Sementara itu, bagaimana Ayyub menyikapi semua itu?’

Dia menjawab, ‘Dia hadapi penuh dengan kesabaran, senantiasa bersyukur dan bertahmid. Sekarang, persingkatlah pembicaraanmu! Semoga Allah mencurahkan rahmat kepadamu.’

Aku berkata, ‘Wahai Kakek, anakmu, yang engkau suruh untuk mencarinya, sudah aku temukan berada di antara tumpukan pasir, diterkam dan dimakan binatang buas.’

Kakek itu pun mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dari garis keturunanku seorang hamba pun yang bermaksiat kepada-Nya sehingga disiksa dalam api neraka.’

Kemudian dia mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un….!!

Lalu dia menangis tersedu-sedu hingga menghembuskan napas terakhir.

Seketika itu aku pun harus mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, betapa besar musibah yang menimpaku!’

Mayat lelaki ini jika kutinggalkan, pastilah dimakan binatang buas. Tetapi bila aku urus, aku tak bisa berbuat banyak. Lalu aku kafani dia dengan sorbanku. kemudian aku duduk di sisi kepalanya sambil menangis.

Tiba-tiba saja ada empat orang lelaki masuk kemah tanpa permisi, mereka bertanya, ‘Wahai hamba Allah, apa yang terjadi padamu? Bagaimana kabarmu?’ Maka aku ceritakan kepada mereka apa yang aku alami dengan lelaki itu. Mereka bertanya, ‘Bolehkan kami melihat wajahnya, siapa tahu kami kenal?’

Aku lalu membuka wajahnya. Maka empat orang itu memperhatikan dengan saksama, kemudian menciumi mata dan tangannya, lalu berkata, ‘Aku siap mengorbankan bapakku untuknya! Inilah kedua mata yang tidak pernah dipergunakan untuk melihat hal-hal yang haram. Telah sekian lama anggota tubuhnya hanya digunakan untuk bersujud tatkala orang-orang terlelap tidur!’

Aku bertanya, ‘Sebenarnya siapakah orang ini?’

Mereka menjawab, ‘Dia adalah Abu Qilabah al-Jarmi, murid dekat Ibnu Abbas d\. Orang ini sangat mencintai Allah dan Nabi-Nya.’

Kemudian kami memandikan jenazahnya, mengafani dengan pakaian yang ada, kami shalatkan dan kami kuburkan. Setelah selesai, orang-orang itu pulang. Begitupun saya pulang ke markas.

Menjelang malam, aku rebahkan tubuhku untuk tidur. Tiba-tiba aku bermimpi sebagaimana orang yang tidur. Aku melihat Abu Qilabah di salah satu taman surga mengenakan dua helai pakaian indah sambil melantunkan:

Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. (QS. ar-Ra’du: 24)

Aku bertanya, ‘Bukankah kau ini temanku?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Aku bertanya, ‘Dari mana kamu peroleh kedudukan dan semua ini?’ Dia menjawab, ‘Sesungguhnya Allah memiliki banyak anugerah derajat (tingkat) tempat yang sangat membahagiakan penghuninya, yang tidak bisa dicapai kecuali melalui kesabaran ketika ditimpa musibah, dan bersyukur ketika bergelimang kenikmatan disertai rasa takut kepada Allah dalam keadaan sepi maupun ramai.’”[1]

 

[1] Ats-Tsiqat Ibnu Hibban 5/2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *