Jangan Pernah Remehkan Sekecil Apapun Kebaikan

Oleh: Abu Faiz Sholahuddin.

 

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلِيْقٍ

“Jangan pernah engkau remehkan perbuatan baik sekecil apa pun, meski hanya dengan memasang wajah ceria untuk saudaramu.”[1]

 

ARTI KATA ‘MA’RUF’

Arti kata ma’ruf adalah setiap yang dianggap baik oleh syariat, yang bersifat ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atau dalam hal muamalah kepada sesama manusia. Apa yang ditetapkan oleh manusia sebagai perbuatan yang baik maka itulah perbuatan ma’ruf. Seperti berbuat baik kepada manusia dengan harta, dengan kedudukan, dan sebagainya, termasuk perbuatan ma’ruf adalah membuat senang orang lain dan menjadikannya bahagia.

Jika Anda melihat ada saudara kita merasa gerah karena kepanasan, lalu Anda berdiri dan menyalakan kipas angin maka itu adalah kebaikan. Termasuk kebaikan pula jika datang seorang tamu lalu Anda menyambutnya dengan wajah ceria dan berseri, menampakkan kegembiraan lalu menjamunya maka itu pun kebaikan.

 

JANGAN REMEHKAN KEBAIKAN

Terkadang ada sebuah kebaikan yang kita anggap remeh, bahkan kita sendiri tidak pernah menganggapnya sebagai sebuah amal kebaikan, namun ternyata kebaikan itu menjadi pengaruh besar kepada orang lain. Terkadang satu dua kalimat saja yang kita ucapkan kepada orang lain, namun kalimat itu membekas di hati mereka dan membawa perubahan hidup yang berarti pada dirinya.

Terkadang sebuah ‘SMS’ pesan singkat yang kita kirimkan untuk saudara atau teman dekat kita, namun itu menjadikannya sebab untuk bertaubat dan menjauhi perbuatan maksiat yang selama ini ia kerjakan.

Kita mungkin sudah lupa, bahwa buku bacaan yang dulu pernah kita titipkan ke teman, lalu ternyata buku itu telah mendorong sahabat kita tersebut untuk kembali mengingat akhirat.

Apa rahasianya, mengapa justru amalan kecil yang kita kerjakan malah membawa manfaat dan kebaikan? Jawabannya, karena kebaikan yang kita lakukan yang sedikit dan remeh itu, cenderung kita lakukan atas dasar keikhlasan tidak mengharap imbalan apa-apa. Berbeda dengan kebaikan kita untuk sesama yang kita anggap besar, terkadang lebih sulit untuk menjaga niat kita dari riya’ atau sum’ah.

Siapa yang menyangka kalau seorang wanita pezina yang memberi minum anjing kehausan lalu menjadi sebab untuk diampuni dari dosa-dosa yang telah lama ia kerjakan? Siapa yang sangka, hanya dengan menyingkirkan gangguan di jalan, karena akan menghalangi jalannya kaum muslimin bisa menjadi sebab seorang masuk surga?

Namun juga siapa sangka, amalan jihad fi sabilillah mengorbankan hartanya, jiwa dan raganya, justru menjadi sebab dirinya terlempar ke dalam jurang neraka? Dan siapa yang menduga, bahwa infak yang begitu banyak yang dia keluarkan, justru menjadi sebab kemurkaan Allah karena telah terkotori dengan perasaan ujub, riya dan sum’ah?!

Kalaulah kita tahu, secuil amalan kebaikan yang telah kita lakukan itu diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala , alangkah bahagianya hati. Yang demikian itu karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:

Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa. (QS. al-Ma’idah: 27)

Karenanya jangan pernah kita remehkan sekecil kebaikan yang kita kerjakan. Lakukanlah meskipun itu kebaikan yang kecil. Karena bisa jadi kebaikan itu akan berbuah ampunan dan surga Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jangan pernah banggakan amal kebaikan kita yang kita anggap besar, karena bisa jadi hal itu justru akan menyeret kita ke dalam lembah kebinasaan.

 

PERBANYAK ‘SEDEKAH’

Ada sedikit perbedaan antara kata infaq dan sedekah, adapun infak maka terambil dari akar kata ‘na-fa-qa’ (nun, fa’, qaf) yang mempunyai arti keluar, dari akar kata inilah muncul istilah nifaqmunafiq yang mempunyai arti orang yang keluar dari ajaran Islam.

Kata infaq bisa diartikan mengeluarkan sesuatu (harta) untuk suatu kepentingan yang baik maupun yang buruk. Oleh karenanya orang kafir pun mereka menginfakkan harta untuk menghalangi jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. (QS. al-Anfal: 36)

 

Maka arti kata infaq menurut istilah syar’i adalah mengeluarkan sebagian harta untuk suatu kepentingan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik yang bersifat wajib seperti mengeluarkan zakat yang wajib maupun yang sunnah, yang pada intinya bahwa infak itu berkaitan dengan pemberian yang bersifat materi.

Berbeda dengan shadaqah atau sedekah, secara bahasa berasal dari akar kata sha-da-qa (shad-dal-qaf), yang berarti sesuatu yang benar atau jujur. Sedekah juga bisa diartikan mengeluarkan harta di jalan Allah, tetapi juga bisa diartikan sebagai bantuan yang bersifat non-materi. Dari sini maka menolong orang lain dengan tenaga dan pikiran termasuk sedekah, mengajarkan ilmu, bertasbih dan berdzikir juga termasuk sedekah, bahkan melakukan hubungan suami istri juga disebut sedekah, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam:

إِنَّ لَكُمْ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً وَكُلِّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةً وَنَهْيٍ عَن مُنْكَرٍ صَدَقَةً وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً

“Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap ucapan tahlil adalah sedekah, memerintah yang baik dan mencegah dari yang mungkar juga sedekah, dan persetubuhan salah seorang di antara kalian (dengan istrinya) adalah sedekah.” (HR. Muslim)

Sehingga arti kata ‘sedekah’ tidak harus dimaknai dengan mengeluarkan harta benda, berupa uang, perhiasan, makanan lalu diberikan kepada orang lain yang membutuhkan. Maka makna di atas hanya menunjukkan salah satu bentuk dan contoh sedekah, namun sebenarnya arti kata ‘sedekah’ itu sangat umum mencakup semua perbuatan baik yang kita berikan kepada orang lain, apa pun bentuknya. Yang demikian karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

كُلُّ مَعْرُوْفٍ صَدَقَةٌ

“Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR. al-Bukhari: 6021, Muslim: 1005)

 

AMALAN RINGAN, BERAT DALAM TIMBANGAN

Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Pengasih terhadap makhluk-Nya. Pintu-pintu kebaikan Allah bukakan seluas-luasnya bagi orang yang mengharapkan rahmat dan ampunan-Nya. Dan di antara kasih sayang Allah kepada hamba yang beriman, Dia Subhanahu wa Ta’ala bukakan pintu amal yang ringan dikerjakan namun berat dalam timbangan, di antara beberapa amalan ringan namun berat dalam timbangan ialah:

  • Tanam pohon. Menanam pohon sangat ditekankan di dalam Islam, terlebih pohon itu dapat bermanfaat bagi manusia, baik buahnya atau daunnya. Tak tanggung-tanggung kebaikan dunia dan akhirat yang akan diterima oleh orang yang menanam. Kebaikan dunia karena dia kelak bisa mengambil buahnya atau memanfaatkan daunnya, dan kebaikan akhirat karena jika buah atau daunnya tersebut diambil oleh orang lain maka itu adalah sebagai sedekah baginya, baik orang lain itu meminta izin kepadanya atau tidak. Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْساً فَيَأْكَلُ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلاَ دَابَّةٌ وَلاَ طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إِلىَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah setiap muslim yang menanam tanaman, lalu dimakan oleh manusia atau hewan atau burung kecuali itu adalah sebagai sedekah baginya sampai hari kiamat.”[2]

  • Buang duri. Jika membuat senang saudara kita adalah kebaikan maka menyusahkan mereka adalah keburukan, apalagi sampai melukai saudara kita kaum muslimin. Maka termasuk kebaikan yang ganjarannya sangat besar adalah melapangkan jalan kaum muslimin sehingga mereka tidak terganggu tatkala lewat di jalan tersebut, baik oleh duri, pecahan kaca, sampah, apalagi bangkai hewan. Jika Anda melihat duri menghalangi jalan maka segera singkirkan, niatkan itu untuk mendapatkan pahala. Dan sungguh seorang telah masuk surga karena sebab amalan di atas. Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam mengisahkan:

لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلاً يَتَقَلَبُّ فِي الْجَنَّةِ فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيْقِ كَانَتْ تُؤْذِي الْمُسْلِمِيْنَ

“Sungguh aku melihat seorang laki-laki bersenang-senang di dalam surga lantaran kayu yang telah ia singkirkan (buang) dari jalan yang akan mengganggu jalannya kaum muslim.” (HR. Muslim: 1914)

  • Welas asih terhadap makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah telah berjanji, bahwa siapa pun yang mengasihi makhluk yang ada di bumi maka ia akan dikasihi oleh yang ada di langit. Makhluk yang ada di bumi tidak terkecuali binatang-binatang ternak, kepada sekecil semut pun, jika Anda berbuat baik kepadanya maka itulah kebaikan. Dan inilah seorang wanita pelacur yang dosa-dosanya terangkat karena padanya masih tersisa sifat welas asih kepada seekor anjing yang ia temui sedang dalam kehausan, lalu dia ingin berbuat baik kepada seekor anjing malang tersebut.[3]

Jika sedemikian besar pahala yang diberikan kepada seorang yang hanya memberi minum anjing, maka bagaimana jika kita memberi makanan kepada saudara kita sesama muslim. Maka kita sangat berharap semua amal yang kita kerjakan dapat diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dicatat sebagai amal shalih yang akan membawa kebaikan kita di dunia dan di akhirat. Wallahul Muwaffiq.

[1] HR. al-Bukhari 2/168 , Muslim: 1031.

[2] HR. Muslim: 1552.

[3] HR. Muslim: 2244.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *