Jika Sudah Berumur 40 Tahun

Jika Sudah Berumur 40 Tahun

Oleh: Ust. Rifaq Ashfiya’ Lc.

 

“Sudahlah, Pak, Bu. Bapak dan Ibu sudah tua, dinikmati saja semuanya. Mumpung masih hidup.” Sebuah ungkapan yang sering didengar oleh telinga kita, yang mana dengan ucapan tersebut memiliki maksud agar orang yang sudah tua menikmati dunia selama mereka masih bisa bernapas.

 

HIDUP DI DUNIA HANYALAH SEMENTARA

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam pernah menasihati seorang sahabat yang tatkala itu berusia muda (sekitar 12 tahun), yaitu Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma. (Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah Syaikh Shalih Alu asy-Syaikh, hal. 294) Beliau Shallallahu ‘alaihi was salam memegang pundaknya lalu bersabda,

 

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ , أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ

 

“Hiduplah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” (HR. al-Bukhari: 6416)

 

Lihatlah nasihat yang sangat bagus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam kepada sahabat yang masih berusia belia. Negeri asing dan tempat pengembaraan yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah dunia, sedang negeri tujuannya adalah akhirat. Jadi, hadits ini mengingatkan kita kepada kematian, sehingga janganlah kita berpanjang angan. Hadits ini juga mengingatkan kita supaya mempersiapkan diri untuk negeri akhirat dengan amal shalih. (Fathul Qawiyyil Matin)

 

Dalam hadits lainnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

 

مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

 

“Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku tinggal di dunia melainkan seperti musafir yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu musafir tersebut meninggalkannya.” (HR. at-Tirmidzi: 2551. Dikatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan at-Tirmidzi)

 

Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu juga memberi petuah,

ارْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً ، وَارْتَحَلَتِ الآخِرَةُ مُقْبِلَةً ، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ

“Dunia itu akan pergi menjauh, sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tersebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak dunia. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal.” (HR. al-Bukhari secara mu’allaq –membuang sanad-)

 

Begitu juga dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam, yang dikisahkan oleh Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma berikut,

أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [وَعُدَّ نَفْسَكَ مِنْ أَهْلِ الْقُبُوْرِ] وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam memegang kedua pundakku lalu bersabda, ‘Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau seorang musafir.’” [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)].” Dan Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma pernah mengatakan, “Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari. Dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum sakitmu dan hidupmu sebelum matimu.” (Shahih, HR. al-Bukhari: 6416, at-Tirmidzi: 2333, dinilai shahih oleh al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 1157. Kalimat di dalam tanda kurung [ ] tidak terdapat dalam riwayat al-Bukhari)

 

FASE KEHIDUPAN MANUSIA

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan tentang fase kehidupan manusia, bahwa kehidupan mereka melewati tiga fase, yang mana di antaranya terdapat fase yang kuat dan fase kehidupan yang lemah. Maka dua fase kehidupan manusia yang lemah terdapat di awal dan di akhir penciptaannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah kuat itu lemah kembali dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang Mahamengetahui lagi Mahakuasa. (QS. ar-Rum: 54)

 

FASE KEHIDUPAN PERTAMA

Tentang masa kehidupan yang pertama ini Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak menerangkan pada manusia, yaitu sejak Dia Subhanahu wa Ta’ala menciptakannya dalam perut ibu. Saat itu manusia sangatlah lemah. Dia butuh asupan dari seorang ibu, butuh bantuan dari kedua orang tuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina? Kemudian Kami meletakkannya dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah Sebaik-baik yang menentukan. (QS. al-Mursalat: 20-23)

 

FASE KEHIDUPAN KEDUA

Sangatlah jelas bahwa fase kehidupan manusia yang kedua adalah saat mereka memiliki kekuatan dan kemampuan. Di masa ini akal manusia menjadi kuat, daya pikir mereka juga meluas. Akan tetapi diri manusia pada asalnya adalah lemah, jika bukan pertolongan Allah niscaya manusia tak akan memiliki kekuatan dan kemampuan. Sedangkan jika kekuatan manusia selalu bertambah, sering menjadikan mereka lupa kepada Sang Pencipta.

Betapa banyak manusia yang melewatkan fase kehidupan yang kedua ini hanya untuk urusan dunia, tetapi lupa dengan tujuan utama Allah menciptakan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

 

Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! Dan ia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya. Dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Mahamengetahui tentang segala makhluk. (QS. Yasin: 77-79)

 

FASE KEHIDUPAN KETIGA

Pada Fase kehidupan yang ketiga ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi umur yang panjang bagi manusia untuk hidup di dunia ini. Yaitu manusia kembali menjadi lemah karena termakan umur. Dia menjadi pikun, menurun daya ingatnya, lemah tubuhnya, terkuras tenaganya, dan semua itu tidak ada obatnya. Hanya kematian yang dia nanti, tak ada yang lain. Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan di dalam firman-Nya:

 

 

Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu, dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahakuasa. (QS. an-Nahl: 70)

 

TAFSIR QS. AL-AHQAF AYAT 15

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Rabbi, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. al-Ahqaf: 15)

 

Dijelaskan oleh Ibn Katsir di dalam Tafsir-nya, “Tatkala Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ayat tentang pentingnya tauhid dan istiqamah di dalam ibadah, maka Dia Subhanahu wa Ta’ala menggabungkan ayat tauhid dengan anjuran berbuat baik kepada kedua orang tua.” Kemudian beliau (Ibnu Katsir) menjelaskan tentang seorang manusia jika telah berumur 40 tahun maka akan matang daya pikirnya, sempurna pemahamannya, dan kelembutannya.

Adapun dengan doa yang disebutkan dalam ayat tersebut memiliki makna, bahwa apabila telah berusia 40 tahun maka hendaknya bersegera untuk bertaubat dan meminta ampunan kepada Allah, serta menyesali perbuatan dosanya, karena tidak ada yang ditunggu kecuali kematian.[1]

 

Disebutkan pula oleh Imam asy-Syaukani di dalam Fathul Qadir (5/22), “Dikatakan oleh banyak ahli tafsir, bahwa tidaklah pernah Allah mengutus seorang Nabi menjadi Rasul untuk menyampaikan risalahnya kecuali telah berumur 40 tahun. Maka ayat ini menunjukkan apabila seorang manusia telah mencapai umur 40 tahun, agar memperbanyak dakwah, mengajak manusia untuk kebaikan.”

Al-Qurthubi juga memberikan penjelasan di dalam al-Jami’ li Ahkamil Qur’an (7/276), “Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa siapa saja yang telah mencapai umur 40 tahun, maka itu adalah waktu baginya untuk mengetahui tingkat kenikmatan yang telah Allah berikan kepadanya, serta saat yang tepat ia harus berbuat baik kepada kedua orang tuanya dan bersyukur kepada-Nya.”

 

MENSYUKURI NIKMAT ALLAH Subhanahu wa Ta’ala

Wahai hamba, ingatlah, pikirkanlah, renungi nikmat Allah dan janganlah sekali-kali kita melupakannya agar kita mendapatkan keberuntungan. (QS. al-A’raf: 69)

            Lalu, bagaimana caranya?

 

  1. Memperbanyak menuntut ilmu. Umur manusia terus berkurang, maka tidak ada kebaikan di sisa kehidupannya kecuali ia gunakan untuk mendatangi majelis ilmu. Jika Allah telah memberimu nikmat semangat untuk menuntut ilmu, jagalah nikmat tersebut jangan sampai ia menghilang darimu, karena itu pertanda bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki kebaikan bagimu. Al-‘Askari menyebutkan, bahwa Abul Hasan al-Karkhi berkata, “Saya selalu menghadiri majelis ilmu Abu Hazim pada hari Jumat, walaupun pada hari itu tidak ada pelajaran. Aku lakukan agar kebiasaanku menghadiri majelis ilmu tidak hilang.” (Al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilmi 78)

Mari kita renungkan kisah di atas baik-baik, dia meninggalkan keinginan dirinya dan berjuang melawan nafsunya demi menuntut ilmu dan menjaga semangat tersebut agar tidak luntur. (Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi hal. 69, oleh Abdul Aziz as-Sad-han)

Bandingkan hal ini dengan sikap sebagian kita yang malas menghadiri majelis ilmu dengan alasan-alasan klise, “Maaf, saya lagi sibuk,” “Maaf, saya lagi banyak urusan,” dan sebagainya. Alangkah benarnya ucapan penyair:

رَأَيْتُ النَاسَ يَشْكُوْنَ الزَمَانَا  وَمَا لِزَماَنِنَا عَيْبٌ سِوَانَا

نَعِيْبُ زَمَانَنَا وَالْعَيْبُ فِيْنَا      وَلوْ نَطَقَ الزَمَانُ بِهِ رَمَاناَ

Saya melihat banyak manusia mengeluh tentang waktu

Padahal tidak ada kesalahan pada waktu selain kita sendiri

Kita mencela waktu padahal yang salah adalah kita sendiri

Seandainya waktu bisa bicara tentu akan marah kepada kita.

(Manaqib al-Imam asy-Syafi’i hal. 65 oleh Al-Aburri)

 

  1. Meniti jalan akhirat yang baik.

Al-Hasan al-Bashri berkata, “Umar Radhiallahu ‘anhu menulis kepada Abu Musa al-Asy’ari Radhiallahu ‘anhu, “Amma ba’du. Sesungguhnya kekuatan dalam amal, yaitu engkau tidak menunda pekerjaan hari ini sampai hari esok. Karena jika engkau berbuat demikian maka pekerjaan-pekerjaan itu akan banyak dan menumpuk, lalu engkau tidak tahu mana yang harus dikerjakan lebih dahulu, dan akhirnya hilanglah waktumu.”[2]

Jangan sekali-kali menunda amal shalih yang dapat kita lakukan hari ini. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari yang menjadikan kita sebagai hamba yang menyesal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Wahai Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sungguh, itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan. (QS. al-Mu’minun: 99-100)

 

  1. Mengingat kematian. Episode perjalanan hidup manusia di dunia pada akhirnya akan bermuara pada satu ketentuan yang tak dapat ditolak. Kematian. Setinggi apa pun kedudukannya, secerdas apa pun otaknya, sebanyak apa pun kekayaannya, seperkasa bagaimanapun badannya, yakinlah bahwa kematian pasti akan datang menghampiri setiap yang bernyawa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

 

 

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (QS. Ali ‘Imran: 185)

 

Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam juga bersabda mengingatkan kita semua:

 

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan,” Yaitu kematian. (HR. at-Tirmidzi dan dishahihkan di dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)

 

Sumber:

  • Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah, Syaikh Shalih Alu asy-Syaikh
  • Qimatuz Zaman ‘indal ‘Ulama’, Abdul Fattah Abu Ghuddah
  • Manaqib al-Imam asy-Syafi’i , al-Aburri
  • Al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilmi, Abu Hilal al-‘Askari
  • Ma’alim fi Thariq Thalabil ‘Ilmi, Abdul Aziz as-Sad-han
  • Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, al- Qurthubi
  • Fathul Qadir, asy-Syaukani
  • Tafsir Qur’anil ‘Azhim, Ibnu Katsir

[1] Diringkas dari tafsir ibn katsir juz 7 hal 280-281

[2] Al-Khuthab wal Mawa’izh, hal. 204, Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam. Dinukil dari Qimatuz ZamanindalUlama’, hal. 46-47.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *