Keberanian dan Keikhlasan Si Badui

Keberanian dan Keikhlasan Si Badui

[ As-Sirah an-Nabawiyyah: 485, Dr. Mahdi Rizqullah.]

Satu lagi hal yang menarik untuk diungkap pada pertemuan terakhir kita mengenai Perang Khaibar. Yaitu sebuah pemandangan yang sangat langka dari para mujahid fi sabilillah, yang akan menunjukkan kepada kita semangat mencari pahala, dan keikhlasan dari seorang Arab badui yang tak terpelajar. Namun keyakinannya terhadap janji Allah berupa surga dan kenikmatannya dapat membuat kagum mereka-mereka yang terpelajar dan mau mengambil pelajaran.
Kalian mau tahu kisah selengkapnya? Yuk, kita lihat bersama-sama…

Si Badui menolak hasil rampasan perang
Tersebutlah seorang badui yang berasal dari daerah Arab pedalaman datang kepada Rasulullah menyatakan keislamannya. Nabi pun senang dengan keislaman si Badui itu. Ia pun meminta kepada Rasul agar mengizinkannya ikut berhijrah ke kota Madinah untuk menemani Nabi. Rasulullah pun mengizinkan.

Setelah berada di Madinah selama beberapa waktu, datanglah panggilan berjihad ke tanah Khaibar. Maka si Badui itu pun segera mendaftarkan dirinya sebagai prajurit. Karena dalam peperangan ini kemenangan berhasil diraih oleh pasukan Islam, maka Rasulullah menyisihkan bagian rampasan perang untuk sahabatnya, si Badui tadi. Tapi, di manakah dia…? Rasul memutar pandangannya mencari si Badui. Jelas, dia tak berada di tempat. Rupanya si Badui itu sedang berjaga di barisan pasukan yang paling belakang seorang diri, dan dia tak tahu bahwa Rasul sedang membagi-bagi rampasan perang.

Ketika tiba-tiba si Badui muncul, maka para sahabat memberikan bagian rampasan perang untuknya yang sudah disisihkan oleh Rasul. Si Badui itu heran, lalu bergegas mendatangi Rasulullah.
“Ya, Muhammad, apa ini…?” tanya si Badui. Nabi menjawab, “Bagian yang telah aku sisihkan untukmu.” Maka si Badui itu mengatakan dengan sangat jujur dan polos, “Aku tidak mengikuti agamamu karena ingin harta seperti ini. Tapi aku mengikutimu karena ingin mendapatkan luka di sini, lalu aku masuk surga.” Si Badui sambil menunjuk arah leher menggunakan anak panah. Rasulullah lalu menutup percakapan yang mengagumkan itu, “Jika engkau jujur (dalam niatmu), maka Allah akan kabulkan.” Si Badui itu lalu pergi ke tempatnya semula. Berjaga dan mengawasi musuh dari belakang.
Ternyata, tak berselang lama dari percakapannya dengan Rasulullah, tiba-tiba Rasulullah telah menjumpai jasadnya dibopong oleh para sahabat. Lalu, bagaimana keadaannya? Tepat seperti yang diinginkan oleh si Badui; terluka di bagian leher, saat berada di jalan Allah.
Rasulullah hanya bisa mengucapkan kalimat terakhir beliau bagi si Badui yang polos, “Dia jujur (dalam niatnya), maka Allah pun mengabulkan (keinginannya).” Lalu Rasulullah mengafaninya dengan jubah beliau, kemudian beliau kuburkan.

Untuk orang tua dan pendidik:
1.Tanamkan pada diri anak sifat jujur dalam niat, dan jelaskan pula keutamaannya melalui kisah di atas.
2.Dalam kisah di atas terdapat gambaran yang jelas mengenai perbedaan sifat dasar seorang muslim dan seorang yang munafik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *