Keteguhan Hati dan Keberanian Said bin Jubair

Oleh: Ust. Mukhlis Abu Dzar al-Batawi

 

‘Aun bin Abi Syaddad berkata, “Aku mendengar berita bahwa setelah kabar Sa’id bin Jubair sampai ke telinga al-Hajjaj bin Yusuf, ia mengutus seorang komandan dari Syam disertai 20 orang untuk menangkap Sa’id.

Saat mereka mencarinya, tiba-tiba mereka bertemu dengan seorang pendeta yang tinggal di sebuah biara. Mereka menanyakan keberadaan Sa’id kepada pendeta tersebut. Pendeta meminta untuk menyebutkan ciri-ciri orang yang mereka cari. Setelah disebutkan cirinya, pendeta tersebut menunjukkan tempat Sa’id.

Setelah itu mereka pergi ke tempat yang ditunjukkan sang pendeta tadi dan mereka dapati Sa’id sedang shalat. Setelah selesai dari shalatnya, mereka berkata, ‘Kami utusan al-Hajjaj. Penuhilah panggilannya!’ Maka Sa’id membaca tahmid, memanjatkan puji syukur kepada Allah dan bershalawat kepada Rasulullah, lalu berjalan dalam kawalan mereka sampai tiba di biara sang pendeta.

Pendeta berkata, ‘Segeralah kalian naik ke atas biara sebelum malam datang, sebab singa betina dan jantan biasa berkeliaran di sekitar sini.’ Mereka pun mengikuti arahan pendeta. Sa’id masih enggan masuk.

Para pengawal berkata, ‘Kau ingin kabur?!’

Sa’id menjawab, ‘Tidak, hanya saja aku tak akan pernah masuk rumah seorang musyrik.’

Mereka berkata, ‘Kami tidak mungkin membiarkanmu, nanti kau diterkam singa dan mati.’

Sa’id menjawab, ‘Tidak mengapa, Allah senantiasa menyertaiku. Dialah yang akan menghindarkanku dari serangan. Bahkan akan menjadikan singa itu sebagai pelindung di sekelilingku dari segala keburukan, insya Allah.’

Pengawal bertanya, ‘Apakah kau seorang Nabi?’

Sa’id menjawab, ‘Bukan. Aku hanyalah seorang dari hamba-hamba Allah; manusia yang biasa berbuat salah dan dosa.’

Sang pendeta menimpali, ‘Berilah aku jaminan yang bisa membuatku percaya.’ Maka utusan itu meminta Sa’id agar memenuhi permintaan sang pendeta.

Sa’id berkata, ‘Aku berjanji demi Allah Yang Mahaagung, yang tiada sekutu baginya, insya Allah aku tidak akan meninggalkan tempat ini hingga pagi.’

Pendeta berkata kepada pengawal, ‘Naiklah kalian ke atas, dan pasanglah tali panah kalian untuk bersiap mengusir binatang buas dari hamba yang shalih ini.’

Setelah naik, mereka pun memasang tali panah. Tiba-tiba singa betina datang mendekati Sa’id, menggosok-gosokkan tubuhnya ke tubuh Sa’id, kemudian duduk di dekatnya. Kemudian singa jantan datang dan melakukan hal yang sama.

Ketika pendeta menyaksikan kejadian ini dan para utusan telah turun dari atas pada keesokan harinya, sang pendeta bertanya kepada Sa’id tentang ajaran dan sunnah Rasulullah yang dipegangnya. Sa’id pun menerangkan secara rinci hingga akhirnya pendeta itu masuk Islam.

Kemudian para pengawal Sa’id berpamitan. Mereka berkata kepada Sa’id, ‘Kami telah bersumpah setia kepada al-Hajjaj. Kami tidak bisa melepas Anda sebelum dibawa ke persidangan.’

Sa’id menjawab, ‘Laksanakan apa yang diperintahkan kepada kalian. Tidak ada seorang pun yang dapat menolak keputusan Allah.’

Mereka membawa Sa’id hingga tiba di Wasith. Setelah sampai, Sa’id berkata, ‘Aku yakin sebentar lagi ajalku tiba dan jatah hidupku habis. Malam ini, berilah aku kesempatan untuk menyambut kematian dan bersiap-siap menjawab pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir.’

Ketika mereka mengunjungi Sa’id, mereka saksikan air mata mengalir dari kedua matanya, rambutnya kusut, wajahnya pucat. Sejak ditangkap, Sa’id tak pernah makan, minum maupun tertawa.

Mereka berkata, ‘Bagaimana kami mendapat musibah karenamu? Maafkanlah kami kelak di padang mashyar.’ Lalu mereka meninggalkan Sa’id. Kemudian Sa’id mandi, keramas dan mencuci bajunya.

Menjelang pagi, mereka meneruskan perjalanan. Setibanya di tempat al-Hajjaj, dia bertanya, ‘Apakah kalian menghadap dengan membawa Sa’id bin Jubair?’

Mereka jawab, ‘Ya, dan kami takjub kepadanya.’

Kemudian Hajjaj berpaling dari mereka sambil memerintah, ‘Masukkan dia ke ruanganku!’ Al-Hajjaj lalu bertanya kepada Sa’id yang berada di hadapannya, ‘Siapa namamu?’

Sa’id jawab, ‘Sa’id bin Jubair (orang bahagia anaknya orang kuat).’

Al-Hajjaj berkata, ‘Engkau adalah Syaqiy bin Kusair (orang sengsara anaknya orang hancur).’

Sa’id menjawab, ‘Ibuku yang lebih tahu maksud dia memberi nama aku seperti itu daripada kamu.’

Al-Hajjaj berkata, ‘Engkau sengsara, ibumu juga sengsara!’ Sa’id menjawab, ‘Ini adalah perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah.’

Al-Hajjaj berkata, ‘Akan kubuat duniamu menjadi nyala api, wahai Sa’id! Pilihlah, dengan cara apa aku harus membunuhmu?!’

Sa’id menjawab, ‘Hajjaj, pilihlah sendiri sekehendakmu. Demi Allah, cara apa pun yang akan kau gunakan untuk membunuhku, maka cara seperti itu pula yang akan kau dapati di akhirat kelak.’

Al-Hajjaj berkata, ‘Bawa dia pergi, lalu bunuh dia!’ Ketika Sa’id keluar dari pintu, beliau tertawa. Kejadian ini dilaporkan kepada al-Hajjaj. Dia meminta agar Sa’id dibawa masuk lagi.

Al-Hajjaj bertanya, ‘Apa yang membuatmu tertawa?’ Sa’id jawab, ‘Aku heran atas kelancanganmu terhadap Allah, sementara Allah bersikap lembut kepadamu.’ Al-Hajjaj minta agar Sa’id segera dibunuh. Sa’id pun hanya membaca (firman Allah yang artinya):

 

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan. (QS. al-An’am: 79)

 

Al-Hajjaj berkata, ‘Palingkan ia dari kiblat!’ Maka Sa’id membaca (firman Allah yang artinya):

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat. Maka ke manapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah.’ (QS. al-Baqarah: 115)

 

Al-Hajjaj berkata, ‘Telungkupkan wajahnya!’ Tetapi Sa’id malah membaca (firman Allah yang artinya):

 

Dari bumi (tanah) Itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain.’ (QS. Thaha: 55)

 

Al-Hajjaj berkata, ‘Sudah, penggallah lehernya!’

Maka Sa’id menjawab, ‘Sungguh, aku bersaksi tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Ambillah ia dariku hingga engkau bertemu denganku di hari kiamat kelak…’

Kemudian Sa’id berdoa sebelum dipenggal, ‘Ya Allah, janganlah engkau kuasakan dia untuk bisa membunuh seorang pun setelahku.’ Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat kepada beliau.”

‘Aun bin Abi Syaddad (yang meriwayatkan kisah ini) berkata, “Berita yang sampai kepada kami, bahwa al-Hajjaj hanya hidup 15 hari dari peristiwa ini. Ia terserang tumor perut. Dia memanggil tabib guna melihat keadaannya, maka tabib tersebut mendiagnosisnya, kemudian meminta dibawakan sepotong daging busuk. Si tabib mengikatnya pada seutas benang dan memasukkannya ke kerongkongan al-Hajjaj, lalu membiarkan sejenak dan menariknya kembali. Ternyata darah hitam menempel pada daging tersebut. Maka tabib tahu bahwa al-Hajjaj tak akan selamat.”

Di akhir kehidupannya, al Hajjaj selalu memanggil, “Ada apa antara aku dengan Sa’id bin Jubair…?? Ada apa antara aku dengan Sa’id bin Jubair….?? Mengapa setiap kali aku ingin tidur dia menarik-narik kakiku..?”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *