Melatih Keridhaan

Melatih Keridhaan

Oleh: Abu Bakr

DEFINISI RIDHA

Secara bahasa,ridha adalah kebalikan dari menggerutu. (Maqayisul Lughah 2/330) Sedangkan secara istilah,ridha adalah tenangnya hati dengan ketentuan Allah ta’ala. (Fathul Bari 11/187)

Berkata al-Harits al-Muhasibi, “Ridha adalah tenangnya hati di atas hukum yang berlaku.” (At-Ta’arruf hal. 102)

DERAJAT RIDHA

Secara hukum,ridha terbagi menjadi tiga macam:

  1. Ridha WajibYaitu seorang muslim memiliki asal (dasar) ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Nabi dan Rasul dan ridha dengan qadha’ dan qadar.
    1. Ridha Allah ta’ala sebagai Rabb, yaitu mengesakan Allah dalam semua bentuk peribadahan dan menauhidkan-Nya dalam nama dan sifat-Nya, membenci semua yang disembah selain Allah dan cinta serta benci karena Allah ta’ala.
    2. Ridha Islam sebagai agama, yaitu ridha dengan hukum-hukum yang Allahq\syariatkan, ridha dengan apa yang Allahharamkan dan halalkan serta ridha dengan apa yang Allahq\ wajibkan.
    3. Ridha Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Nabi dan Rasul,yakni dengan mencintai beliau, meneladaninya dengan ruh dan jasad, tidak mengangankan kenabian selain beliau, ridha dengan apa yang Allah syariatkan melalui lisan beliau dan tidak melakukan perbuatan bid’ah dalam agama yang beliau bawa.
    4. Ridha dengan qadha’ dan qadar, yakni tidak mengeluh tatkala ditimpa kesusahan, tenangnya hati , memuji Allah dalam semua keadaan dan mengetahui bahwa semua yang Allahtakdirkan ada hikmah sangat dalam yang hanya diketahui oleh Allah.
  2. Yaitu ridha yang lebih dari sekadarridha yang disebut di atas.
    1. Ridha Allah sebagai Rabb, yakni engkau Ridha dengan Allah ta’ala sebagai ganti dari keridhaan dari segala sesuatu, dan inilah derajat orang al-Muqarrabin. Berkata Fudhail Ibnu ‘Iyadh, “Derajat ridha dengan ketentuan Allah adalah derajatnya para Muqarrabin.” (Hilyatul Auliya’ 8/97)
    2. Ridha Islam sebagai agama, yaitu engkau Ridha dengan semua amal shalih dari orang lain.
    3. Ridha Muhammad shallallahu alaihi wasallam sebagai Nabi, yaitu engkau senang mengetahui perjalanan beliau sehingga engkau berusaha beradab dengan adab beliau, berhias dengan akhlaknya, semangat melakukan amalan sunnah beliau dan ingin bersama beliau di surga.
    4. Ridha dengan qadha’ dan qadar, yakni engkau ridha dengan semua musibah dan selalu memuji Allah tatkala ditimpa kesusahan maupun kesenangan. Sedikit sekali manusia yang sampai ke derajat ini, karena kebanyakan orang tidak mampu mengucapkan “alhamdulillah” tatkala ditimpa kesusahan dan musibah.Berkata Ibnu ‘Aun n\, “Ridhalah dengan ketentuan Allah yang telah berlaku, baik itu yang mudah atau sulit, karena itu akan meringankan kegundahanmu dan lebih diharapkan untuk akhiratmu. Ketahuilah, bahwa seorang hamba tidak akan meraih hakikatridha sampai ridhanya dengan kefakiran dan kesempitan sama seperti ridhanya dengan kekayaan dan kelapangan. Bagaimana engkau bisa meminta suatu ketentuandari Allah namunengkau sendiri menggerutu tatkala melihat ketentuan itu tidak sesuai dengan keinginan dirimu -padahal bisa jadi yang tidak engkau peroleh jika itu dikabulkan oleh Allah justru akan menjadi kehancuranmu- sedangkan engkau Ridha apabila sesuai dengan keinginan dirimu?!” (Ar-Ridha ‘Anillah wa Qadha’ihi 69)
  3. Ridha yang diharamkan,yaitu ridha dengan kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

Berkata al-Qurthubi, “Ini adalah masalah besar, dimana ridha dengan kemaksiatan juga termasuk kemaksiatan.” (Tafsir al-Qurthubi 4/286) Begitu pula ridha dengan kekufuran termasuk kufur, ridha dengan kesyirikan termasuk syirik, ridha dengan kefasikan termasuk fasik.

DOA AGAR DIHILANGKAN MUSIBAHNYA,APAKAH MENAFIKAN RIDHA MUSTAHAB?

Berkata al-‘Aini, “Sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam, para sahabat serta orang-orang yang dijadikan teladan pernah mengadukan rasa sakit.Tidak ada anak Adam melainkan merasa sakit dari luka dan mengadukarena penyakit. Yang tercela adalah memberitahukannya kepada orang lain sebagai bentuk keluh kesah dan menggerutu. Adapun jika ia memberitahu temannya agar ia didoakan dengan kesembuhan dan keselamatan atau rintihannya sebagai cara ia bisa beristirahat dari derita sakit tersebut maka ini bukan termasuk keluh kesah.” (‘Umdatul Qari 21/222)

Berkata Ibnu Hajar, “Munculnya kesedihan pada manusia saat ditimpa musibah tidaklah mengeluarkan dia sebagai orang yang sabar dan ridha, jika hatinya tetap tenang (dalam keimanan).” (FathulBari 7/514)

PERBEDAAN ANTARA RIDHA DAN SABAR

Berkata Sulaiman al-Khawwash, “Sabar itu dibawah ridha.Ridha, yaitu seseorang sebelum datang musibah,rela dengan apa saja yang akan terjadi .Adapun sabar, adalah tatkala musibah itu telah terjadi.” (Mausu’ah Ibnu Abi Dunya 1/325)

URGENSI RIDHA

Berkata Abu Darda’ a\, “Puncak dari keimananada empat macam; (1) sabar dengan hukum Allah, (3) ridha dengan qadar, (4) ikhlas untuk bertawakal dan menyerahkan diri kepada Rabb.” (I’tiqad Ahli as-Sunnah 4/676)

Berkata Abdul Wahid Ibnu Zaid, “Saya tidak berpendapat ada sesuatu yang melebihi kesabaran daripada ridha.Saya pun tidak mengetahui derajat yang lebih mulia dan lebih tinggi dari ridha, karena ia adalah puncak keimanan.” (Syu’abul Imanha. 475)

Berkata Bisyr Ibnul Harits, “Barangsiapa dianugerahi keridhaan maka ia telah sampai pada derajat yang paling tinggi.” (Hilyatul Auliya’ 8/350)

HUBUNGAN ANTARA TAWAKKAL DENGAN RIDHA

Berkata Ibnu Rajab, “Ketahuilah, bahwa buah dari tawakal adalah ridha dengan qadha’.Barangsiapa yang menyerahkan semua urusannya kepada Allah dan ridha dengan ketentuan serta pilihan-Nya maka ia telah merealisasikan tawakal.” (Jami’ulUlumwal Hikam hal. 635)

KOMENTAR PARA SALAF TENTANG RIDHA

Berkata ‘Umar Ibnul Khaththab, “Aku tidak peduli keadaan apa yang bersamaku; apakah yang aku senangi atau tidak, karena aku tidak tahu kebaikan itu ada pada yang aku sukai atau yang aku tidak sukai.” (Mausu’ah Ibnu Abi Dunya 1/414)

Ada orang yang bertanya kepada Hasan bin ‘Ali, “Sesungguhnya Abu Dzar mengatakan,‘Kefakiran lebih aku sukai daripada kekayaan dan sakit lebih aku senangi daripada sehat.’”Al-Hasan berkata,“Semoga Allah merahmati Abu Dzar.Adapun saya, saya katakan, bahwa barangsiapa yang pasrah dengan pilihan Allah yang terbaik baginya maka ia tidak akan berangan-angan dengan sesuatu yang tidak Allah pilihkan baginya. Inilah bentuk ridha dengan kehendak Allah.” (Al-Bidayah wan Nihayah 8/204-205)

Berkata al-Hasan al-Bashri, “Barangsiapa ridha yang apa yang telah Allah bagikan baginya maka ia akan diberikan kecukupan dan diberi keberkahan. Barangsiapa yang tidak ridha maka ia tidak akan pernah cukup dan tidak akan diberkahi.” (Mausu’ah Ibnu abi Dunya 1/456)

Berkata Yahya bin Mu’adz, “Apabila engkau tidak ridha kepada Allah, bagaimana engkau meminta Allah ridha kepadamu??!” (Shifat ash-Shafwah 4/341)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *