Menggapai Cinta Sejati

Menggapai Cinta Sejati

Oleh: Ust. Ahmad Sabiq Lc.

 

Kata sebagian orang, “Sulit untuk menjelaskan sesuatu yang sudah jelas.” Istilah cinta adalah sebuah istilah yang sudah sangat akrab di telinga serta lengket dalam pandangan. Insya Allah, dengan sekadar mendengarnya semua orang sudah memahami maknanya, meski sulit untuk mengungkapkan.

Sampai-sampai Imam Ibnul Qayim menyimpulkan, “Cinta itu tidak didefinisikan melebihi jelasnya kata cinta itu sendiri. Sehingga definisi justru tidak menambah apa-apa selain kerancuan dan kaburnya makna cinta. Maka pengertian cinta itu cukup diwakili oleh adanya cinta itu sendiri. Cinta juga tidak bisa diberi sifat nampak melebihi jelasnya penampakan cinta. Oleh karenanya saat orang bicara tentang cinta, mereka hanya berbicara tentang faktor pendukungnya, hal-hal yang mengharuskannya ada, tanda-tandanya, perwujudannya, efek serta konsekuensinya semata. Jadi, pengertian mereka tentang cinta dan gambaran-gambaran mereka tentangnya hanya berkisar pada enam hal tersebut, dengan menggunakan banyak ungkapan serta isyarat mereka, yang seluruhnya tergantung pengetahuan seseorang, kedudukan, keadaan serta kepiawaiannya terhadap ungkapannya.”

Namun sayang, bahwa kata cinta sering salah sasaran. Banyak yang sengaja atau tak sengaja menerjang dosa dengan alasan cinta. Bisa cinta pada istri, anak, keluarga, kedudukan maupun lainnya.

Lalu, bagaimanakah seharusnya kita memahami cinta, dan bagaimana kita menggapai cinta sejati, cinta yang berbuahkan kebahagiaan hakiki dunia akhirat?

 

Cinta, tabiat anak manusia

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Dijadikan indah dalam pandangan manusia kecintaan pada apa-apa yang dia ingini. Yaitu, wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. (QS. Ali ‘Imran: 14)

Inilah tabiat dan fitrah kita sebagai anak Adam. Anak cinta orang tua, orang tua cinta anak. Kita cinta uang dan kemewahan dunia, kaum hawa cinta pada perhiasan dan lainnya. Begitu pula cinta pada lawan jenis, semua di antara kita yang laki-laki mencintai wanita, dan yang wanita cinta laki-laki.

Itulah fitrah dasar manusia. Maka Islam tidak pernah melarangnya, namun hanya mengarahkan agar cinta tersebut benar-benar menjadi cinta sejati, yang akan menuju pada kebahagiaan hakiki di dunia berupa ketenteraman jiwa dan di akhirat dengan kehidupan di surga nan abadi, di bawah ridha ar-Rahman. Karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala meneruskan ayat di atas:

Katakanlah, “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu? Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Rabb mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Mahamelihat akan para hamba-Nya.

 

Jangan kambing hitamkan cinta

Cinta adalah sesuatu yang agung. Dengan cinta seorang pengecut menjadi pemberani, orang yang bakhil menjadi dermawan, yang bodoh menjadi pintar, menjadikan orang pandai merangkai kata dan tulisan. Namun dengan cinta pula orang bisa sengsara, bahkan terjerumus ke dalam kebinasaan abadi.

Masih ingat kisah Majnun Laila? Seorang lelaki yang menjadikan puncak cintanya kepada wanita yang dicintai. Laila. Sayang nasibnya kurang baik, cintanya tak tersampaikan. Akhirnya dia menjadi gila dan manusia sepanjang zaman mengenalnya dengan sebutn Majnun Laila (Lelaki gila karena Laila).

Masih ingat Qarun? Kecintaan kepada harta benda yang akhirnya menjerumuskan dia kepada kesengsaraan abadi, bahkan saat dunia ini masih ada. Tiada seorang pun yang menyebut nama Qarun, kecuali ingat kisahnya yang mengerikan; dibenamkan oleh Allah ke dalam bumi dengan kekayaannya sampai hari kiamat.

Fir’aun dengan cintanya pada kekuasaan, Abu Jahal dengan cintanya pada kabilah, dan berbagai tragedi cinta lainnya yang salah sasaran.

Di sisi lain, cinta pun memiliki nilai yang sangat agung. Bukankah dengan cinta seseorang bisa menggapai kesempurnaan iman? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda :

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak sempurnah iman salah seorang dari kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada cintanya kepada orang tua dan anaknya serta sekalian manusia.” (HR. al-Bukhari, Muslim)

Dan bukankah dengan cinta pula seseorang akan merasakan puncaknya surga dunia yang dahulu sering diungkapkan oleh para ulama? Imam Ibnu Taimiyyah pernah berkata, “Sesungguhnya di dunia ini ada surga, barangsiapa yang tidak pernah merasakannya, niscaya dia tidak akan merasakan surga akhirat.”

Sebagian ulama salaf berkata, “Seandainya para raja dan putra mahkota tahu kebahagiaan kami, niscaya mereka akan berusaha merebutnya meski dengan sabetan pedang.”

Kebahagiaan puncak yang mereka maksudkan adalah manisnya iman. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلِه ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ

“Ada tiga perkara, barangsiapa yang memilikinya niscaya dia akan merasakan manisnya iman; Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, dan tidaklah mencintai orang lain kecuali hanya karena Allah, serta benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan kepada api neraka.” (HR. al-Bukhari)

 

Karenanya, cinta itu akan menjadi sangat agung bila diletakkan pada tempatnya. Pun, bisa menjadi bencana kalau disalahgunakan. Karena itu berhati-hatilah.

 

Cinta kepada Allah, Rabb semesta alam

Cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala seharusnya menjadi puncak cinta setiap muslim. Allah mengingkari seseorang yang mencintai seuatu yang lain menyamai kecintaan kepada-Nya, lalu bagaimana jika melebihinya? (QS. al-Baqarah: 165)

Bukan hanya mengingkari, bahkan mengecam dengan keras jika sampai melebihi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Firman-Nya:

Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah datangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. at-Taubah: 24)

 

Cinta ini yang akan menjadikan hatinya bergetar setiap kali disebut nama-Nya. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Sesunguhnya orang-orang yang beriman yaitu adalah orang-orang yang ketika disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya. Dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman mereka karenanya. Dan kepada Rabbnya mereka bertawakal. (QS. al-Anfal: 2)

 

Bertanyalah pada diri kita masing-masing, hatimu bergetar saat disebut naman-Nya atau nama selain-Nya? “Mintalah fatwa pada dirimu sendiri,” begitulah kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam. Bukankah cinta ini yang menjadikan Hanzhalah Radhiallahu ‘anhu meninggalkan malam pertamanya untuk pergi perang, lalu syahid dalam keadaan masih junub? Bukankah cinta ini yang menjadikan Bilal bin Rabah Radhiallahu ‘anhu mampu menahan derita yang tak terkira? Begitu pun ‘Ammar bin Yasir Radhiallahu ‘anhu dan lainnya.

 

Cinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam

Lelaki agung itu, yang meskipun beliau sudah meninggal 14 abad yang lalu, namun masih kita rasakan cinta dan kasihnya. Lihatlah gambaran al-Qur’an ini:

Sungguh telah datang pada kalian, seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keselamatan bagi kalian, amat belas kasihan, lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS. at-Taubah: 128)

Oleh karena itu, tidak heran bila beliau Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada cintanya pada orang tuanya, anak-anaknya dan semua manusia.”(HR. al-Bukhari, Muslim)

Cinta pada sunnahnya, itulah bentuk cinta pada beliau. Sangat ironis, umat Islam sekarang yang setiap kali disebut sunnah beliau, maka mereka langsung protes, “Kan, cuma sunnah?” Padahal Allah Shallallahu ‘alaihi was salam telah menyampaikan, bahwa di dalam diri Rasul terdapat suri teladan yang baik.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata, “Para sahabat tidak pernah bertanya kepada Rasulullah saat beliau memerintahkan sesuatu, ‘Apakah ini perintah wajib, atau hanya sunnah?’ Mereka semua segera mengerjakannya tanpa merinci dan bertanya terlebih dahulu. Oleh karena itu sangat ironis, kalau ternyata sebagian orang apabila mendengar sebuah perintah Rasulullah, lalu berkata, ‘Apakah ini bersifat wajib, atau hanya sunnah?’ Subhanallah…! Bagaimana ini bisa terjadi?! Bagaimana ada orang yang bertanya seperti ini?! Padahal Allah berfirman (artinya), ‘Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kalian.’ (QS. an-Nisa’: 59)

Lakukanlah apa yang diperintahkan untukmu. Kalau memang itu wajib, berarti engkau telah melepaskan tanggung jawabmu, dan kalau itu sunnah, maka engkau telah melakukan perbuatan yang berpahala.” (At-Tamassuk bis Sunnah an-Nabawiyyah hal. 11)

Cinta kepada Allah dan Rasululllah ini yang dahulu membuat Khubaib bin ‘Adi Radhiallahu ‘anhu tegas di atas pancang siksaan sampai membuat kagum orang kafir saat itu.

 

Cinta karena Allah Subhanahu wa Ta’ala

Akhi (Saudaraku), Ukhti (Saudariku), saya mencintaimu karena Allah.” Begitulah Rasulullah mengajarkan umatnya untuk cinta kepada orang lain karena Allah. Artinya, bila orang itu semakin membuat kita dekat pada-Nya maka cintailah dia. Sebaliknya, kalau ada orang yang semakin menjauhkan kita dari-Nya, maka jauhilah dia. Bukankah orang yang melakukannya akan merasakan manisnya iman dan akan mendapatkan mimbar cahaya yang dingingkan oleh para Nabi dan syuhada’? Bahkan oleh Rasulullah, cinta karena Allah ini dijadikan sebagai tali ikatan Islam yang paling kuat. Maka cintailah siapa saja, apa pun serta kapanpun, asal didasari cinta karena Allah.

 

Sebab-sebab cinta Allah dan Rasul-Nya

Meringkas dari ucapan Ibnul Qayyim tentang sebab-sebab yang mendatangkan cinta, belaiu menyebutkan ada sepuluh, ringkasnya:

  1. Membaca al-Qur’an, menghayati serta memahami maknanya dan apa yang diinginkan darinya. Seperti seseorang menghayati buku yang dia telah hafal dan memberikan penjelasan padanya agar lebih memahami keinginan pengarang buku itu.
  2. Mendekatkan diri kepada Allah dengan perkara-perkara yang disunnahkan setelah perkara-perkara yang wajib. Sesungguhnya hal ini menyampaikan pada tingkatan yang dicintai Allah setelah adanya cinta.
  3. Senantiasa berdzikir kepada Allah dengan lisan, hati, perbuatan dan penampilannya dalam semua keadaan, maka kadar cintanya sekadar dzikirnya.
  4. Mengedepankan cinta Allah dari cinta Anda ketika nafsu menguasai, dan berusaha menggapai cinta-Nya walau terasa berat dalam pencapaiannya.
  5. Hati menelaah nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyaksikan, mengetahui dan hanyut dalam keindahan taman ma’rifat (pengenalan) dan kajiannya. Maka barangsiapa mengenal Allah dengan nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya, dia pasti akan cinta pada-Nya.
  6. Menyaksikan kebaikan, anugerah dan nikmat-Nya yang lahir maupun yang batin. Sesungguhnya hal ini bisa mendorong untuk mencintai-Nya.
  7. Ketundukan hati yang sepenuhnya di hadapan Allah. Inilah yang paling mengagumkan dan tidak ada ungkapan lain dari maknanya selain ini.
  8. Menyendiri dengan-Nya ketika waktu turunnya Allah untuk bermunajat dan membaca firman-Nya, menghadirkan hati, dan beradab dengan adab penghambaan di hadapan-Nya, kemudian menutupnya dengan istighfar dan bertaubat.
  9. Bermajelis dengan para pecinta yang jujur, memetik hasil terbaik dari perkataan mereka sebagaimana memilih buah-buahan terbaik, dan tidak berbicara kecuali jika kuat maslahatnya, dan Anda mengetahui bahwa padanya ada perbaikan keadaan Anda serta bermanfaat bagi selain Anda.
  10. Menjauhi setiap sebab yang menghalangi antara hati dan Allah Yang Mahatinggi dan Mahamulia.

 

Keagungan cinta sejati

Suatu hari ada seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang kapan terjadi hari kiamat, namun beliau malah balik bertanya, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Dia menjawab, “Ya Rasulullah, saya tidak menyiapkannya dengan banyaknya amal perbuatan, tapi yang saya persiapkan, bahwa saya cinta Allah dan Rasul-Nya.” Belaiu pun menjawab, “Engkau akan bersama orang yang kau cintai.” Maka Anas bin Malik, perawi hadits ini pun berseru gembira, “Demi Allah, saya mencintai Rasulullah, mencintai Abu Bakar dan Umar, maka saya berharap untuk bisa bersama mereka di surga.” (HR. al-Bukhari, Muslim)

Maka kita pada saat ini pun berikrar, bahwa kita cinta kepada Allah, kita cinta kepada Rasul-Nya, kita cinta kepada Abu Bakar, kita cinta kepada Umar, kita cinta kepada Anas, kita cinta kepada semua para sahabat dan ahlul bait Rasulullah, dan kita mohon kepada Allah semoga Dia mengumpulkan kita semua dengan mereka nanti di alam keabadian. Surga. Meski kita tidak bisa meramal sebagaimana amal mereka. Amin.

Wallahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *