Salah Pilih Idola

Salah Pilih Idola

Oleh: Abu Zaid Zahir al-Minangkabawi

Kita tidak bisa memungkiri bahwa saat ini umat Islam secara umum berada pada fase kelemahan. Kerusakan di sendi-sendi kehidupan umat ini bisa dikatakan sudah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Hilangnya figur-figur teladan turut pula memperparah keadaan. Hingga kita pun merasakan betapa lemahnya bangunan Islam sekarang.

Darah-darah muda yang di masa keemasan dahulu menjadi ujung tombak perjuangan, saat ini pun sangat memprihatinkan. Mereka sekarang tak ubahnya seperti bola mainan bagi musuh-musuh umat Islam. Ketangguhan, kepahlawanan, semangat juang para pemuda umat Islam seolah hanya tinggal kenangan, terkubur dalam puing-puing buku sejarah yang sudah berdebu karena sekian lama tiada pernah dibaca lagi. Maka benarlah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam ketika beliau mengatakan:

لَا يَأْتِيْ عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا وَالَّذِيْ بَعْدَهُ أَشَرُّ مِنْهُ

Tidaklah datang suatu zaman melainkan lebih buruk dari sebelumnya.” (HR. al-Bukhari: 7068)

Salah satu dilema umat Islam dewasa ini adalah salah kaprah dalam mengambil figur teladan. Banyak orang-orang yang tidak layak atau tidak boleh untuk diteladani tapi justru diidolakan oleh sebagian besar umat Islam. Pelaku kemaksiatan, orang-orang fasik dan tidak sedikit pula orang-orang kafir yang justru disanjung dan dipuja, diikuti jalan dan gaya hidupnya hanya disebabkan mereka memiliki kelebihan dari sisi dunia.

Para pemuda yang mengidolakan musisi, pembalap, pemain bola. Gadis-gadis remaja yang mengidolakan artis-artis Korea ataupun ibu-ibu yang tengah demam bintang-bintang film India. Semua yang diidolakan itu bisa dikatakan mereka yang mendapat cap “tidak layak” untuk dijadikan figur teladan. Bagaimana tidak, sedangkan mereka adalah orang-orang kafir atau minimalnya orang-orang fasik, pelaku maksiat yang dilarang oleh Islam untuk dijadikan panutan. Allah q\ berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan orang-orang yang dimurkai Allah sebagai walimu. (QS. al-Mumtahanah: 13)

 

Kenyataan ini tentu amat menyedihkan, tapi yang lebih miris lagi adalah ketika musibah ini ternyata juga melanda para penuntut ilmu, orang-orang yang setiap hari digembleng dengan petuah-petuah Ilahi, dibentengi dengan ilmu syar’i. Namun demikian harus kita akui musibah ini lebih kuat dari apa yang kita duga.

Di lingkungan pondok pesantren saja yang notabenenya dihuni oleh orang-orang baik secara umum, kita bisa saksikan dengan mata kepala sendiri sebagian santri “latah” yang ikut-ikutan bergaya seperti idolanya yang sebagaimana kita katakan. Jika seperti itu maka bagaimanakah gerangan keadaan mereka di luar pondok pesantren? Kita seolah tidak dapat membayangkannya. Di tempat yang dikelilingi dengan kebaikan saja mereka seperti itu adanya, tentu di luar daripada itu keadaan mereka dimungkinkan akan menjadi lebih rusak lagi. Allahul musta’an….

Lihatlah gaya rambut, model pakaian, tingkah laku mereka. Semua sudah cukup untuk menunjukkan lemahnya kepribadian dan hilangnya prinsip hidup mereka. Dengan mudah mereka dipermainkan, dibodoh-bodohi tanpa sadar.

Kita bisa mengukur dan memperhatikan keadaan umat Islam, khususnya di negeri kita ini, pada beberapa tahun yang akan datang, karena pernah dikatakan, bahwa baik atau buruknya suatu bangsa pada masa mendatang tergantung baik buruknya para pemudanya sekarang. Karena memang mereka adalah tunas bangsa yang apabila sampai waktunya akan berubah menjadi dahan dan dedaunan. Apabila tunasnya saja berpenyakit, bagaimana mungkin akan menghasilkan dahan-dahan yang kokoh dan tangguh untuk menghadapi terpaan angin kencang, kecuali jika diobati sejak dini dan diperhatikan.

Kerusakan-kerusakan ini tentunya disebabkan oleh adanya kesalahan dalam tubuh umat ini. Namun kita tidak boleh menyalahkan satu pihak saja atau malah saling menyalahkan. Kita harus objektif dalam memandang permasalahan. Apa yang ada di hadapan kita sekarang merupakan tanggung jawab kita bersama. Bersama kita mencari penyebabnya dan bersama pula kita mencari jalan keluar. Karena kita adalah satu tubuh, satu dengan yang lain saling berkaitan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam mengatakan:

“Permisalan orang-orang beriman dalam kasih sayang dan simpati mereka seperti satu tubuh, apabila satu bagiannya sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam.” (HR. al-Bukhari: 6011 dan Muslim: 2586)

Di antara solusi yang paling ampuh adalah memulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Menilik diri sendiri sebelum orang lain. Jangan sampai terjadi seperti yang dikatakan oleh orang tua kita dahulu, “Tungau yang diseberang lautan tampak sedangkan gajah di kelopak mata tak tampak.”

Oleh karena itu ,mari introspeksi diri sebelum memperbaiki orang lain. Coba tanyakan kepada diri kita siapakah kira-kira yang selama ini kita idolakan. Lihat dan cermati, apakah ia layak dijadikan panutan. Timbang dengan neraca yang benar dan lihat dengan kaca mata yang bening. Kemudian ambil sikap yang tegas. figur-figur yang layak dijadikan teladan ambil serta pertahankan dan figur-figur yang tidak lulus timbangan buang dan campakkan, ganti dengan orang-orang yang pantas di idolakan. Para Nabi, sahabat, ulama dan orang-orang shalih, merekalah yang layak diidolakan.

Abu Zaid al-Minangkabawi[1]

[1] Penulis adalah alumni Ma’had ‘Ali PP. AL-FURQON AL-ISLAMI tahun ajaran 1436/37 H yang sekarang masih dalam masa pengabdian. Penulis berasal dari kota Padang – Sumatra Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *