Menjadi Muslim yang Cerdas

Oleh: Ust. Abu Bakr

 

Makna kecerdasan (اَلْفِطْنَةُ)

Berkata al-Askari, “Al-Fithnah adalah mengilmui sesuatu secara mendalam.” (Al-Furuq al-Lughawiyyah 1/85) Sedangkan ar-Raghib mengatakan, “Cepat memahami sesuatu yang membingungkan.”(Adz-Dzari’ah ila Makarimi asy-Syari’ah hal. 143) Aatau disebutkan juga oleh al-Kafawi, “Cepat tanggap terhadap sesuatu yang ingin diketahui.” (Al-Kulliyyat 1/456)

Sedangkan Dzaka’ (اَلذَّكَاءُ) adalah fithnah yang sangat cepat. (LisanulArab 14/287) Al-Munawi mendefinisikan, “Dzaka’ adalah cepat memahami dengan pemahaman yang tajam.” (At-Tauqif ‘ala Muhimmaati at-Ta’rif hal. 171)

 

Macam-macam kecerdasan

  1. Kecerdasan alami, yang itu adalah pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dianugerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki.
  2. Kecerdasan yang diperoleh seseorang dengan pengalaman dan usaha kerasnya dengan bergaul dengan ahlul ilmi, orang-orang genius, cerdas, dan mengambil faedah dari ilmu serta pengalaman mereka.

Abul Fath Syihabuddin al-Absyihi mengatakan, “Akal terbagi menjadi dua; satu bagian tidak bisa menerima penambahan dan pengurangan, sedangkan yang kedua dapat menerimanya. Akal yang pertama adalah akal gharizi (alamiah) yang dimiliki setiap yang berakal, dan yang kedua adalah akal tajribi yang bisa bertambah dengan percobaan dan pengalaman. Berdasarkan hal ini dapat dikatakan, bahwa syaikh (orang tua) tersebut akalnya sempurna dan dalam ilmunya, karena orang yang berpengalaman lebih luas pemahamannya dan lebih luas ilmunya.” (Al-Mustathraf 1/33)

 

Potret kecerdasan salaf

Allah Subhanahu wa Ta’al berfirman (yang artinya):

Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman, pada waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu. Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat) dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Dawud. Dan Kamilah yang melakukannya. (QS. Al-Anbiya’: 78-79)

Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini, “Tanaman yang sudah tumbuh batangnya dirusak oleh kambing. Maka Dawud memutuskan kambing tersebut diberikan kepada pemilik tanaman. Namun Sulaiman berkata, ‘Ada cara yang lain, wahai Nabiyullah.’ Dawud berkata, ‘Apa itu?’ Sulaiman menjawab, “Serahkan tanaman tersebut kepada pemilik kambing agar dia memperbaiki tanaman itu sebagaimana semula, dan serahkan kambing tersebut kepada pemilik tanaman untuk dimanfaatkan. Jika tanaman tersebut sudah baik kembali, barulah tanaman tersebut diserahkan kepada pemiliknya dan kambing tersebut dikembalikan juga kepada pemiliknya.” (Tafsir Ibnu Katsir 5/255) Berkata Ibnul Jauzi, “Sulaiman memiliki kecerdasan yang dengannya terang kebenaran dalam hukumnya, tidak seperti hukum ayahnya pada kisah tanaman maupun yang lainnya.” (At-Tabshirah 1/296)

Sebelum pecah perang Badar, para sahabat berhasil menangkap Maula ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bertanya kepadanya, “Berapa jumlah mereka?” Dia menjawab, “Mereka- demi Allah- sangat banyak dan sangat kuat.” Nabi berusaha lagi untuk mengorek keterangannya, “Berapa jumlah mereka?” Namun dia enggan menjawabnya. Kemudian Nabi bertanya, “Berapa unta yang mereka sembelih setiap hari?” Maula ‘Uqbah menjawab, “Sepuluh ekor setiap hari.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam berkata, “Mereka berjumlah seribu, setiap ekor untuk seratus orang dan pengikutnya.” (HR. Ahmad 1/117, dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

Abu Sa’id al-Khudri  Radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam pernah berkhotbah kepada manusia, ‘Sesungguhnya Allah telah memberikan pilihan kepada seorang hamba; antara diberikan (perhiasan) dunia dengan diberikan apa yang di sisi-Nya. Sang hamba tersebut memilih apa yang di sisi Allah.’ Maka Abu Bakar menangis dan kami heran dengan tangisannya, yang seolah-olah memberitahukan tentang siapa hamba tersebut. Ternyata Rasulullah adalah hamba yang diberikan pilihan tersebut dan Abu Bakar adalah orang paling tahu di antara kami…” (HR. al-Bukhari: 466, Muslim: 2382) Berkata Ibnul Jauzi, “Hadits ini menjelaskan tentang kecerdasan Abu Bakar karena dia tahu bahwa sang hamba tersebut adalah Rasulullah.” (Kasyful Musykil min Ahaditsi ashShahihain 3/146)

Abdullah ibnu Umar berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Di antara pepohonan ada suatu pohon yang tidak gugur daunnya, dan itulah permisalan seorang muslim. Beritahukanlah kepada saya, pohon apa itu.” Orang-orang menyangka bahwa itu adalah pohon di lembah-lembah gunung, sedangkan dalam benak saya (Ibnu Umar), itu adalah pohon kurma, tapi saya malu menjawabnya. Kemudian para sahabat berkata, ‘Beritahu kami, pohon apa itu, wahai Rasulullah.’ Beliau menjawab, ‘Pohon kurma.’” (HR. al-Bukhari: 61, Muslim: 2811)

 

Manfaat kecerdasan

  1. Menambah wawasan dan akan mendorong pelakunya untuk memikirkan ayat-ayat Allah, sehingga akan menambah kekhusyukan, pengagungan, dan keyakinan. Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Barangsiapa yang ditunjukkan kecerdasan, maka dia dapat menafsirkan hikmah. Jika dia bisa menafsirkan hikmah maka dia akan dapat memetik ‘ibrah (pelajaran), dan barangsiapa yang dapat memetik ‘ibrah maka seolah-olah dia berada di masa-masa awal (keemasan).” (Mudihu Auhamil Jam’i wat Tafriq, al-Khatib al-Baghdadi 1/124)
  2. Penyebab keselamatan dan terhindar dari keburukan.
  3. Pendorong dan penopang kesuksesan seseorang. Ar-Razi mengatakan, “Kekuatan dan amanah tidak cukup untuk meraih suatu tujuan jika belum dibarengi dengan kecerdasan dan kecerdikan.” (Tafsir ar-Razi 24/591)

 

Sarana-sarana untuk mendapatkan kecerdasan

  1. Iman. Berkata Thahir Ibnu ‘Asyur, “Keimanan akan menambah kecerdasan karena fondasi keyakinannya dibangun untuk membendung semua keyakinan yang dapat menyesatkan akal dan meredupkan pengetahuan.” (At-Tahrir wat Tanwir 1/275)
  2. Memperdalam ilmu agama, karena ilmu agama dapat menerangi pengetahuan, mengaktifkan pikiran dan menumbuhkan kecerdasan. Berkata Ibnul Qayyim, “Akal dapat memindahkan kecerdasan yang mati menuju kehidupannya.” (Miftah Dar asSa’adah 1/183) Termasuk dalam pembahasan ini adalah muraja’ah (mengulangi) pelajaran atau ilmu yang pernah didapat. Berkata Imam asy-Syafi’i, “Tidaklah aku menelaah kitab Muwaththa’ Imam Malik, melainkan aku bertambah paham.” (Hilyatul Auliya’ 9/70) Berkata al-Muzani, “Aku telah menelaah kitab ar-Risalah (tulisan asy-Syafi’i) sejak 50 tahun, dan setiap kali aku menelaahnya aku mendapatkan faedah yang belum aku dapatkan sebelumnya.” (Thabaqat asySyafi’iyyah, as-Subki 2/99)
  3. Tidak memperbanyak makan, minum, dan tidur. Asy-Syafi’i berkata, “Karena kenyang memberatkan badan, mengeraskan hati, menghilangkan kecerdasan, mengajak tidur, dan melemahkan orang dari beribadah.” (Adabus Syafi’i, ar-Razi hal. 78)
  4. Introspeksi diri. Berkata al-Harits ibnu Asad, “Muhasabah (introspeksi diri) dapat menambah wawasan, kecerdasan, cepat dalam menetapkan alasan dan menambah luas ilmu.” (Hilyatul Auliya’ 10/88)

Wallahul Muwaffiq.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *