Tanamkan Kedermawanan Pada Anak Sejak Dini

Oleh: Abu Usamah al-Kadiri.

 

Dermawan merupakan salah satu akhlak mulia yang sangat dianjurkan oleh Islam. Karena di dalam sifat kedermawanan terdapat manfaat yang besar bagi orang lain. Dan bukanlah yang dimaksud dengan sifat kedermawanan ialah membalas kebaikan, tetapi ia hanyalah sifat memberi. Jika semua orang bersemangat menerapkan sifat ini, niscaya semua anggota masyarakat akan hidup saling mencintai dan mengasihi.

 

Mengapa menanamkan kedermawanan semenjak kecil?

Sebagaimana kata pepatah, “Mengajari di kala kecil bagai mengukir di atas batu.” Demikian pula dengan sifat kedermawanan, karena pada masa anak mulai menginjak usia balita, mereka akan sedikit paham dengan kata ‘milik’ dan kepunyaan. Namun karena kecenderungan sifat manusia kebanyakan untuk berbuat bakhil, maka sering kita jumpai lantaran pengetahuan mereka tentang kepemilikan yang tidak disertai dengan pembelajaran akhlak yang baik, malah mengantarkan mereka menjadi individu yang bakhil lagi pelit. Bahkan karena hal ini pula pertengkaran dengan saudara atau teman-teman mereka terjadi. Dan bila kebiasaan bakhil sampai terbawa hingga usia mereka dewasa, bahkan diturunkan kepada anak cucu mereka, tentu hal ini akan berakibat fatal. Bisa saja mereka akan sangat sulit mengeluarkan harta untuk sedekah ataupun zakat. Hati mereka juga tidak akan segera merasakan empati ketika menyaksikan kesusahan yang menimpa saudara mereka.

Karena itulah, menanamkan sifat mulia berupa kedermawanan harus kita semai semenjak anak-anak masih berusia dini. Lagipula, sudah apa jawaban kita di hadapan Allah bila anak cucu kita menjadi orang-orang bakhil akibat salah pendidikan?? (QS. at-Tahrim: 6)

 

Urgensi sifat kedermawanan

Sifat dermawan merupakan sifat yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, Allah membenci orang-orang yang bakhil di beberapa tempat dalam al-Qur’an. (Sebagaimana di dalam QS. an-Nisa’: 37, QS. al-Lail: 5-10, QS. al-Ma’un: 1-7) Bahkan Allah juga menjadikan lawan sifat dermawan melekat kuat pada diri orang-orang munafik, penghuni neraka. Mereka disifati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai orang-orang yang sangat terpaksa saat mengeluarkan infak. (QS. at-Taubah: 54)

 

Sebaliknya, Allah menyifati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam, salah satunya dengan sifat dermawan. (QS. al-Haqqah: 40) Bahkan di dalam hadits-hadits yang shahih, kita akan jumpai kedermawanan Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam dapat ditemui di mana-mana, dan kepada siapa saja. Tak ketinggalan para sahabat beliau, mereka pun juga orang-orang yang dermawan.

Dalam hadits yang shahih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam menjelaskan,

 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا.

“Tidak ada hari kecuali pada waktu pagi turunlah dua Malaikat (ke bumi). Salah satunya berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang telah berinfak.’ Dan yang satunya lagi berdoa, ‘Ya Allah, berilah kehancuran bagi orang yang pelit.’” (HR. al-Bukhari: 1442, Muslim: 2383)

 

Semailah sifat kedermawanan semenjak kecil

Kita sebagai orang tua, harus mengetahui bahwa sifat dan tabiat yang dibawa manusia sangatlah beragam. Ada di antara manusia memiliki sifat asal yang baik, semisal pemaaf, lemah lembut maupun dermawan. Ada pula di antara mereka yang memiliki tabiat asal keras, kaku, pelit, penakut dan yang semisalnya. Hal ini sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits shahih tentang rombongan Asyaj Abdul Qais yang datang ke Madinah. Zari’ Radhiallahu ‘anhu yang menjadi salah satu anggota rombongan tersebut mengisahkan,

لَمَّا قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَرُ مِنْ رَوَاحِلِنَا فَنُقَبِّلُ يَدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَرِجْلَهُ – قَالَ – وَانْتَظَرَ الْمُنْذِرُ الأَشَجُّ حَتَّى أَتَى عَيْبَتَهُ فَلَبِسَ ثَوْبَيْهِ ثُمَّ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لَهُ « إِنَّ فِيكَ خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ ». قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ أَنَا أَتَخَلَّقُ بِهِمَا أَمِ اللهُ جَبَلَنِى عَلَيْهِمَا قَالَ « بَلِ اللهُ جَبَلَكَ عَلَيْهِمَا ». قَالَ الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِى جَبَلَنِى عَلَى خَلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ وَرَسُولُهُ.

 

“Ketika kami telah sampai di Madinah, kami segera turun dari tunggangan kami lalu kami mencium tangan Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam dan kaki beliau. Sedangkan al-Mundzir Asyaj memilih menunggu hingga ia menghampiri tas besarnya dan mengenakan dua helai bajunya, lantas ia mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi was salam berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya di dalam dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Alah; al-hilm (santun) dan al-anah (kehati-hatian).” Asyaj menjawab, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku berusaha ketika mendapatkannya ataukah Allah yang telah memberiku tabiat dengan keduanya?’ Beliau menjawab, ‘Bahkan Allah yang telah memberimu tabiat seperti itu.’ Asyaj mengatakan, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memberiku tabiat dengan dua sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.’” (HR. Abu Dawud: 5227, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud: 5225)

 

Karena itulah bagi siapa saja yang telah diberi karunia oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa sifat kedermawanan, hendaknya dia selalu bersyukur kepada Allah dan menjaganya agar nikmat tersebut tidak dicabut. Adapun bagi yang ditakdirkan tidak memiliki tabiat sebagai seorang yang dermawan, maka hal itu masih bisa diubah dengan cara membiasakan diri menjadi seorang yang dermawan. Di dalam hadits Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu disebutkan,

إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ وَ الْحِلْمُ بِالتَّحَلُّمِ وَ مَنْ يَتَحَرَّ الْخَيْرَ يُعْطَهُ وَ مَنْ يَتَوَقَّ الشَّرَّ

يُوْقَهُ .

 

“Ilmu hanya akan didapat dengan belajar, sopan santun hanya diperoleh dengan membiasakan diri, dan barangsiapa yang selalu mencari kebaikan niscaya akan mendapatkannya, dan siapa saja yang menjaga diri dari kejelekan pasti akan dijaga darinya.” (Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam Tarikh beliau 9/127, ath-Thabrani dalam al-Kabir, Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyqa, dihasankan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah 1/605 no. 342)

 

 

Bagaimana membiasakan anak menjadi dermawan?

Sebagaimana pembahasan di atas, bahwa sifat kedermawanan terbagi menjadi dua; menjadi tabiat asal, dan tabiat yang diusahakan, maka hendaknya kita sebagai orang tua pandai meraba keberadaan sifat ini pada diri buah hati kita. Jika kita telah tahu bahwa sifat tersebut sudah ada di dalam diri anak kita, maka bersyukurlah kepada Allah dan jagalah sifat itu agar tetap terus ada hingga anak-anak kita menjadi dewasa, bahkan hingga mereka menjadi ayah bagi anak-anaknya.

Namun jika kita tahu bahwa sifat kedermawanan dalam diri anak kita masih perlu untuk diusahakan, hendaknya kita melakukan beberapa cara agar sifat kedermawanan itu muncul dan menjadi salah satu sifat yang akan selalu melekat dalam kesehariannya.

Untuk memulainya, kita bisa melakukannya sebagaimana poin-poin berikut:

  1. Menanamkan pemahaman agama serta akhlak yang benar semenjak kecil. Sebab, hanya dengan ilmu agama yang benar akhlak yang baik akan didapat dan dipertahankan. Yaitu dengan meyakini adanya Allah yang senantiasa mengawasi, meyakini bahwa roh akan kekal di alam akhirat, serta adanya balasan amal perbuatan kelak di akhirat. Bahkan hal ini juga telah disampaikan oleh filosof non-muslim sekalipun, semisal Ficht (Jerman), Mahatma Gandhi (India) dan seorang pakar hukum Inggris, Denning.[1] Lantas, bagaimana mungkin kaum muslimin mengharap kebaikan akhlak dari generasi mereka, bila ajaran pokok dalam agama mereka kesampingkan, bahkan mereka abaikan??!
  2. Selalu menanamkan pemahaman kepada anak, bahwa semua harta yang ada di tangan manusia, sejatinya hanya berupa titipan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia diperintah untuk membelanjakan harta tersebut dengan cara dan untuk tempat yang sudah ditentukan oleh Allah, Pemilik sebenarnya harta itu.
  3. Selalu mengisahkan kisah-kisah keteladanan dalam sifat dermawan, seperti perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam dan para sahabatnya dalam berderma dan mementingkan orang lain daripada diri sendiri.
  4. Kisahkan pula kepada anak-anak tentang kesudahan orang-orang yang bakhil di dunia dan akhirat, semisal Qarun yang ditenggelamkan di bumi karena sangat mencintai hartanya dan lupa kepada Allah, kisah tiga orang; si kusta, si botak, si buta yang diuji kedermawanannya oleh Allah setelah diberi nikmat, kisah orang-orang munafik di masa Rasulullah dalam perang Tabuk, dan kisah-kisah semisal.
  5. Memberikan keteladanan dalam kehidupan yang nyata. Karena jika orang tua tidak memberikan keteladanan yang nyata, bagaimana mungkin anak-anak mereka akan mudah menangkap pelajaran yang orang tua sampaikan? Ajaklah anak-anak sesekali untuk belajar berbagi dengan teman-temannya, atau orang fakir yang membutuhkan, dan yang semisalnya. Bisa juga dengan cara membuat kotak infak sendiri di rumah (dari kardus, misalnya), kemudian mengajari anak untuk mulai menyisihkan uang jajannya di dalam kotak infak tersebut. Dan bila dirasa sudah cukup, orang tua dan anak bisa bermusyawarah untuk memberikan dana infak tersebut kepada orang yang berhak.
  6. Berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jangan lupakan poin penting ini, karena doa merupakan senjata orang mukmin, sebagaimana perkataan Fudhail bin ‘Iyadh. Kita harus sadar, bahwa sebanyak apa pun usaha yang manusia kerahkan, niscaya akan masih sangat kurang bila ia tidak menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berdoalah, semoga kita semua dikaruniai keturunan yang tidak melupakan penderitaan saudara mereka seislam dan suka berderma karena menjalankan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 

Kedermawanan tak hanya dengan uang

Poin terakhir yang harus diperhatikan, bahwa kedermawanan tak harus berwujud uang atau harta benda. Bahkan orang-orang yang miskin dan tak punya pun bisa berderma. Hal ini telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam dalam banyak haditsnya. Sebagaimana ajaran beliau Shallallahu ‘alaihi was salam bahwa setiap senyuman tulus kepada saudara kita adalah sedekah, membantu menaikkan barang bawaan orang ke atas kendaraan juga dinilai sedekah, bahkan doa kebaikan yang tulus untuk saudara seislam pun dinilai sedekah, sebagaimana dahulu hal ini dilakukan oleh sahabat ‘Ulbah bin Zaid yang tak bisa bersedekah dengan harta karena kemiskinannya ketika perang Tabuk.

Hal ini juga harus ditanamkan kepada anak, agar mereka tidak memaknai sifat kedermawanan dengan arti yang sempit. Karena sebenarnya, tidak hanya orang kaya saja yang bisa berderma, bahkan orang miskin pun bisa.

Semoga Allah mengaruniai kita semua keturunan yang shalih dan shalihah, yang peduli terhadap sesamanya dan selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allahu a’lam.

[1] Tarbiyatul Aulad, Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan hal. 180

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *