Menundukkan Hawa Nafsu

Oleh: Abu Bakr

 

DEFINISI AL-HAWA (الْهَوَى)

Hawa secara bahasa, artinya menyukai atau menginginkan sesuatu. (Al-Mughrib fi Tartibil Mu’rib, Abul Fath Nashiruddin 2/392)

Secara Istilah, Hawa adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu yang disenangi dari syahwat (keinginan) tanpa ada pendorong syar’i. (At-Ta’rifat, al-Jurjani hal. 320)

Al-Mawardi membedakan antara hawa dan syahwat, ia berkata, “Hawa dikhususkan kepada pemikiran dan keyakinan sedangkan syahwat dikhususkan dengan memperoleh suatu kelezatan (kenikmatan) sehingga syahwat merupakan buah dari hawa. Syahwat lebih khusus sedang hawa adalah asalnya dan bersifat lebih umum.” (Adab adDunya wad Din hal. 39)

 

KAPANKAH SESEORANG DIHUKUM KARENA HAWA-NYA?

Hawa tidaklah dicela secara mutlak dan tidak dipuji secara mutlak. Jika hawa tersebut cenderung kepada sesuatu yang disukai oleh Allah dan Rasul-Nya maka itu adalah hawa yang terpuji. Adapun jika hawa tersebut telah melampaui batas dalam mengikuti syubhat dan syahwat yang terlarang barulah dikatakan ia hawa yang tercela.

Berkata Syaikhul Islam, “Hawa dan syahwat jiwa tidaklah dihukum. Ia dihukum tatkala mengikutinya dan mengerjakannya. Tatkala nafsu sangat menginginkan sesuatu namun bisa dicegah maka itu termasuk ibadah kepada Allah dan merupakan amal shalih.” (Majmu’ alFatawa 10/635)

Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syahwat yang menyesatkan pada perut dan kemaluan kalian serta hawa yang menyesatkan.” (HR. Ahmad: 19788 dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Zhilalul Jannah hal. 14)

 

PENYEBAB MENGIKUTI HAWA

  1. Tidak terbiasa mengendalikan hawa. Ibrahim bin Ad-ham mengatakan, “Jihad yang paling susah adalah jihad melawan hawa nafsu. Barangsiapa yang jiwanya bisa mengendalikan hawa nafsunya maka ia akan istirahat dari dunia dan bencananya dan ia akan dijaga dari kesusahan dunia.” (Tahdzib alHilyah 2/484)

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Ketahuilah, bahwa jiwamu adalah ibarat tungganganmu. Apabila ia mengetahui dirimu bersungguh-sungguh maka ia ikut bersungguh-sungguh dan jika mengetahui dirimu malas maka ia akan berambisi agar engkau mengikuti langkah-langkah dan syahwatnya.” (Al-Jami’ alMuntakhab hal. 197)

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Sesungguhnya aku sangat membenci diriku tatkala melihat kalian mendatangiku. Tidaklah mereka mendatangiku kecuali karena menduga suatu kebaikan pada diri saya.” (Tahdzib alHilyah 2/434)

  1. Berteman dengan ahlul ahwa’ (pengikut hawa). Berkata Abu Qilabah, “Jangan kalian duduk dengan ahlul ahwa’ dan jangan berdebat dengan mereka, karena aku tidak merasa aman jika mereka akan menjatuhkan kalian ke dalam kesesatan.” (As-Sunnah, Abdullah Ibnu Ahmad, hal. 91)
  2. Cinta dunia dan popularitas. Berkata Ibnul Qayyim, “Termasuk mengikuti hawa adalah ambisi dengan dunia, dan termasuk ambisi dunia adalah cinta harta serta kedudukan. Barangsiapa yang cinta harta dan kedudukan ia akan menghalalkan yang haram, dan barangsiapa menghalalkan yang haram maka Allah akan murka kepadanya. Dan murka Allah adalah penyakit yang tidak ada obatnya selain ridha-Nya.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 35168)

Berkata al-Hasan al-Bashri, “Cukuplah seseorang itu akan mendapat keburukan jika ia terkenal dalam agama maupun dunia, kecuali orang-orang yang dijaga Allah.” (Tahdzib al-Hilyah 2/94)

  1. Terlalu memperturutkan jiwa untuk memenuhi semua keinginannya terhadap yang mubah. Berkata Abu Muslim al-Khaulani, “Bagaimana pendapatmu jika suatu jiwa itu aku muliakan, aku biarkan dan aku senangkan dia tetapi nanti ia mencelaku di sisi Allah dan suatu jiwa yang aku hinakan, tegakkan dan aku paksakan beramal namun nanti ia memujiku di sisi Allah?” (Shifat ash-Shafwah 4/429)

Berkata Fudhail bin ‘Iyadh, “Seorang hamba tidak akan melakukan suatu amalan sampai ia mendahulukan agamanya dari syahwatnya. Dan hamba tidak akan hancur sampai ia mendahulukan syahwatnya dari agamanya.” (Hilyatul Auliya’ 8/109)

 

BAHAYA MENGIKUTI HAWA

  1. Pelakunya akan rugi pada hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. an-Nazi’at: 37-40) Atha’ mengatakan, “Barangsiapa yang hawa-nya mengalahkan akalnya, keluh kesahnya mengalahkan kesabarannya maka ia akan merugi.” (Dzammul Hawa, 27)
  2. Akan menggiring kepada kesesatan diri sendiri maupun orang lain. Allah berfirman (yang artinya): “Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka.” (QS. an-Najm: 23)

Ali bin Abi Thalib berkata, “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah dua hal; panjang angan-angan dan mengikuti hawa. Panjang angan-angan akan melupakan akhirat dan mengikuti hawa akan membendung seseorang dari kebenaran.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, no. 34495)

  1. Salah satu penghancur agama seseorang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Ada tiga hal penghancur; yaitu kikir yang ditaati, hawa yang diikuti dan ujubnya seseorang dengan dirinya.” (HR. al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman 745, dihasankan oleh al-Albani)
  2. Penyebab hilangnya ilmu dan akal sehat. Atha’ as-Sulami mengatakan, “Syahwat dan hawa nafsu dapat mengalahkan ilmu, penjelasan dan akal sehat.” (Tahdzib alHilyah 2/323)

 

BENTUK-BENTUK MENGIKUTI HAWA

Fanatik buta kepada seseorang, mencari-cari kesalahan orang, mengingkari sebagian kemungkaran dan mendiamkan yang lain karena hawa, berlebihan dalam segala urusannya karena hawa, senang berdebat dan tidak mau mengikuti kebenaran, menguatkan beberapa masalah ilmiah karena hawa, menganggap dirinya sudah sempurna dari yang lain, tidak mau terikat dengan aturan yang diperbolehkan secara syar’i, menyia-nyiakan waktu sesuai hawanya, gemar mengoreksi orang lain dengan alasan nasihat untuk kaum muslimin padahal itu adalah hasad dan yang lainnya. (Ittiba’ul Hawa, Dr. Abdurrahman Ibnu Ayid al-Ayid)

 

NASIHAT SALAF MENGHADAPI HAWA

Berkata Umar bin Abdil Aziz, “Janganlah engkau termasuk orang yang mengikuti yang haq karena sesuai dengan hawa nafsu dan menyelisihi yang haq tatkala tidak sesuai dengan hawa nafsu, sehingga engkau tidak diberikan pahala mengikuti yang haq dan mendapat dosa karena menyelisihinya.” (Majmu’ Fatawa 10/244)

Berkata Abu Hazim, “Dua hal yang jika engkau amalkan maka engkau akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat; sabarlah dengan sesuatu yang engkau tidak sukai apabila itu disukai Allah dan bencilah apa yang engkau sukai jika itu adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah.” (Tahdzib alHilyah 1/528)

Berkata Syaikhul Islam, “Sebagian manusia ada yang suka, benci, kehendak dan ketidaksukaannya berdasarkan kesukaan dan kebencian dirinya bukan kecintaan Allah dan Rasul-Nya serta kebencian Allah dan Rasul-Nya, dan ini termasuk jenis hawa nafsu…” (Al-Istiqamah, hal. 459)

Berkata Abu Sulaiman ad-Darani, “Sebaik-baik amalan adalah menyelisihi hawa nafsu.” (Tahdzib as-Siyar 2/865)

 

PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN DARI MENGIKUTI HAWA

Di antara yang bermanfaat untuk mengobati hawa yang menyesatkan adalah selalu bersama orang shalih dan alim, mendidik jiwa untuk melawan hawa nafsu dan memohon pertolongan dengan doa yang diajarkan oleh Nabi:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلاَقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ

“Ya Allah aku berlindung kepadamu dari akhlak, amalan dan hawa yang tercela.” (HR. at-Tirmidzi: 3591, dishahihkan oleh al-Albani)

Wallahul Muwaffiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *