Perjuangan Salman al-Farisi Mencari Hidayah Islam

Oleh: Ust. Mukhlis Abu Dzar al-Batawi

 

Seluruh ajaran yang dikandung Islam datang untuk membangkitkan cita-cita tinggi dalam diri setiap umatnya. Karena itu, Islam menghapuskan semua hal yang menyebabkan tumbuhnya sikap malas dan lesu. Sapaan pertama Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam berbunyi:

“Hai orang-orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS. al-Muddatstsir: 1-2)

Dengan semangat ini masyarakat Islam meraih capaian yang didambakan semua umat. Sepanjang sejarah Islam, para pejuang muslim yang memiliki cita-cita tinggi cukup tak puas dengan capaian-capaian sederhana, tetapi mereka menuntaskannya hingga meraih prestasi tertinggi.

Dalam lipatan buku sejarah dan hadits, tertoreh nama Salman al-Farisi, seorang sahabat dari negeri seberang. Sejarah keislamannya mencerminkan semangat juang dan memiliki cita-cita tinggi dalam mencari hidayah dan keinginannya bertemu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam.

Di dalam Musnad Ahmad (5/437) secara lengkap dengan sanad yang shahih, inilah kisah yang mengagumkan itu.

Abdullah bin Abbas berkata, “Salman berkata kepadaku, ‘Aku adalah seorang lelaki Persia, dari kota Isfahan, putra seorang kepala desa. Ayahku memiliki ladang yang luas. Di sana ayah memiliki bangunan yang digunakan untuk mengawasi ladangnya itu. Pada suatu hari ayah berkata kepadaku. ‘Nak, seperti yang kamu lihat, aku sangat sibuk. Pergilah ke ladang. Jangan kamu mengurung diri, hal itu akan membuat ayah repot sendiri di ladang untuk masa depanmu.’

Aku keluar rumah menuju ladang. Di tengah perjalanan, aku melewati gereja umat Nasrani. Saat itu mereka sedang beribadah di dalam gereja. Apa yang mereka lakukan membuatku kagum. Kataku dalam hati, ‘Demi Allah, agama ini lebih baik daripada agama kami (Majusi).’ Aku berada di gereja hingga sore. Aku tak pergi ke ladang juga tidak pulang, sehingga ayahku mengirim orang untuk mencariku. Karena aku kagum kepada agama Nasrani, aku bertanya kepada umat itu, ‘Dari manakah asal agama ini?’ Mereka menjawab, ‘Dari Syam (Syria).’

Aku pulang menemui ayah dan bercerita kepadanya, ‘Aku lihat suatu kaum yang beribadah di gereja. Apa yang mereka lakukan itu membuatku kagum. Aku tahu, agama mereka lebih baik dari agama kita.’ Ayah berkata, ‘Anakku, agamamu dan agama moyangmu lebih baik daripada agama mereka.’ Aku berkata, ‘Tidak!”

Karena ayahku khawatir aku mengikuti agama mereka, ia pun mengikatku di dalam rumah. Aku pun mengirim utusan untuk menemui umat Nasrani itu. Aku sampaikan pesan kepada mereka bahwa aku setuju dengan agama mereka. Aku meminta mereka memberitahuku siapa yang akan pergi ke Syam. Mereka pun mengabulkan pintanku.

Aku lepaskan belenggu besi yang mengikat kakiku, kemudian aku keluar bersama kaum Nasrani meninggalkan Persia menuju Syam. Di sana aku bertanya kepada umat Nasrani mengenai ulama mereka, mereka katakan, ‘Ulama kami adalah Uskup.’ Aku menemui Uskup, aku berkata padanya, ‘Aku ingin bersamamu. Aku akan membantumu dan mengabdi kepadamu.’ Uskup pun menerimaku.

Ternyata aku mengabdi pada seorang yang buruk. Uskup itu memerintah umatnya untuk bersedekah, namun saat umat bersedekah, dia menyimpan harta itu untuk kepentingan dirinya sendiri, hingga akhirnya ia berhasil mengumpulkan tujuh pundi-pundi yang penuh emas dan perak.

Uskup itu pun mati. Kukabarkan kepada umat perihal yang telah dilakukan sang Uskup. Mereka mencelaku. Kutunjukkanlah pada mereka harta Uskup. Setelah mereka tahu, mereka menyalib Uskup lalu membuang dan merajamnya. Mereka menunjuk pengganti Uskup. Sang pengganti adalah sosok yang shalih, zuhud dan cinta akhirat. Allah membuatku simpati kepadanya, sampai ia wafat. Aku berkata padanya, ‘Tinggalkan pesan untukku!’ Dia menunjukkan kepadaku tentang sosok lelaki di kota Mosul. Kami masih bersama sampai ia wafat.

Aku pergi ke Mosul. Aku temui laki-laki yang diceritakan Uskup pengganti. Kuceritakan kabarku. Kukatakan padanya, bahwa seseorang memerintahku untuk menemuimu di Mosul. Lalu laki-laki itu berkata, ‘Berdirilah!’ Aku mengabdi kepadanya sampai ia wafat. Aku berkata kepadanya (sebelum wafat), ‘Tinggalkan pesan untukku!’ Dia berkata, ‘Aku tidak mengenal yang menempuh jalan kami, kecuali satu orang yang berada di Ammuriyah (Romawi).’

Aku menemui orang itu di Ammuriyah. Kuceritakan padanya kisahku, dia memerintahku untuk tinggal bersamanya dan memberiku beberapa imbalan. Darinya aku berhasil mengumpulkan sejumlah harta dan sapi. Kemudian laki-laki itu wafat. Aku bertanya kepadanya (sebelum wafat), ‘Siapa yang aku temui setelah engkau?’ Dia berkata, ‘Aku tidak tahu sosok pada zaman ini yang menempuh jalan kami. Tetapi, akan mengayomimu seorang Nabi yang diutus untuk membawa agama Ibrahim yang hanif. Ia berhijrah ke negeri yang kaya tanaman kurma. Nabi itu memiliki tanda-tanda yang tak tersembunyi. Di pundaknya ditutup misi seluruh para Nabi. Ia enggan makan harta sedekah, dan menerima jika harta hadiah. Jika kamu mampu, temuilah dia!’ Kemdian laki-laki itu meninggal.

Aku berpapasan dengan kafilah Arab dari bani Kilab. Aku berkata kepada rombongan itu, ‘Izinkan aku ikut bersama kalian. Sebagai imbalannya, aku berikan sapi dan kambingku. Ajaklah aku ke negeri kalian!’ Mereka membawaku ke Wadil Qura. Tetapi, mereka menjualku kepada seorang lelaki Yahudi. Melalui Yahudi itu, aku tiba di negeri yang kaya kurma. Aku tahu, inilah negeri yang diceritakan Uskup Ammuriyah itu. Di sana aku tinggal bersama Yahudi yang telah membeli diriku. Kemudian, datanglah seorang laki-laki dari bani Quraizhah, lalu membeliku dari orang Yahudi pertama. Ia membawaku ke Madinah, dan aku mengenali kota ini dari ciri-ciri yang disebutkan Uskup Ammuriyah. Aku tinggal bersama laki-laki bani Quraizhah itu dan bekerja di kebun kurmanya.

Allah mengutus Nabi-Nya. Aku mengabaikan hal itu hingga beliau hijrah ke Madinah. Beliau singgah di rumah bani ‘Amru bin ‘Auf. Saat itu aku sedang berada di atas pohon kurma. Sepupu temanku menemuiku seraya berkata, ‘Hai Fulan, semoga Allah melaknat bani Qaliah! Aku baru saja berpapasan dengan mereka. Kulihat mereka mengerumuni seorang lelaki yang datang dari Makkah. Dia menganggap dirinya Nabi Allah.’

Demi Allah, mendengar hal itu, badanku menggigil. Aku gemetar di atas pohon kurma, sampai-sampai aku nyaris terjatuh. Aku pun turun dengan cepat. Aku bertanya-tanya dalam hati, ‘Kabar apakah ini?’ Tuanku menghujaniku dengan omelan, ‘Apa hubunganmu dengan orang itu?! Lanjutkan pekerjaanmu!’

Aku lanjutkan pekerjaanku hingga sore. Kukumpulkan makanan, lalu kubawa menghadap Rasulullah yang saat itu berada di Quba’ bersama para sahabatnya. Aku bertanya kepadanya, ‘Terimalah ini. Aku ingin bersedekah dengan makanan ini. Aku dengar, engkau adalah laki-laki shalih. Engkau dan para sahabatmu membutuhkan makanan ini. Menurut pendapatku, engkau paling berhak menerimanya.’ Kutaruh makanan itu di depannya. Dia menahan tangannya. Dia berkata kepada para sahabatnya, ‘Makanlah.’ Aku berkata di dalam hati, ‘Ini tanda yang pertama.’ Aku pun kembali ke tuanku.

Aku kumpulkan kurma kedua kalinya untuk kubawa kepadanya. Aku lalu menemui beliau dan memberikan kepadanya sebagai hadiah. Ternyata beliau terima dan memakan kurma tersebut. Aku katakan dalam hati, ‘Ini tanda kedua.’ Aku pulang.

Keesokan hari, aku menjumpainya sedang melayat jenazah di pemakaman Baqi’. Para sahabat berada di sekelilingnya. Kuucapkan salam kepadanya. Aku lihat tanda pada punggungnya. Dia tahu apa yang kuinginkan. Kemudian beliau melemparkan selendangnya. Aku lihat tanda pada punggungnya. Aku menciumnya. Aku menangis. Dia mendudukkanku di hadapannya.

Wahai Ibnu Abbas, kuceritakan padanya segala yang terkait denganku, sebagaimana yang juga aku ceritakan padamu. Dia merasa takjub dengan kisahku. Dia ingin pula para sahabatnya mendengar kisahku.”

Demikianlah kisah perjuangan Salman al-Farisi mencari hidayah dan jati diri. Kesulitan demi kesulitan dialaminya demi menuntut kebenaran. Begitulah jiwa yang Allah telah kehendaki menerima cahaya hidayah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *