Pahala Besar Ibadah Ringan yang Sering Terlupakan

Oleh: Ust. Ahmad Sabiq Lc.

 

Perjalanan alam akhirat yang sangat panjang dan melelahkan, dimulai sejak seseorang meninggalkan alam dunia ini sampai nantinya dia berhasil masuk ke dalam surga. Perjalanan panjang itu pasti butuh bekal yang sangat banyak dan memadai.

Namun umur yang terkadang begitu pendek sering menjadi alasan bagi seorang hamba untuk tidak mendapatkan bekal yang cukup.

Padahal Allah ta’ala dengan kasih dan sayang-Nya, telah menunjukkan kepada kita berbagai amal ibadah yang ringan dikerjakan tetapi berpahala sangat besar. Maka seorang muslim yang cerdas seharusnya mengejar amal-amal ibadah ini, agar dengan amal yang sedikit dan ringan mendapatkan hasil pahala yang maksimal. Amal-amal ibadah tersebut di antaranya adalah:

  1. Wudhu dengan sempurna dan berdoa setelahnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna, kemudian selesai wudhu dia membaca:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ

‘Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya,’

niscaya akan dibukakan untuknya pintu surga yang jumlahnya delapan, dan dia boleh masuk dari pintu mana saja yang dia sukai.” (HR. Muslim)

  1. Menghadiri shalat Jumat di awal waktu dengan memperhatikan adab-adabnya.

Dari Aus bin Aus ats-Tsaqafi, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

« مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنَ الإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا ».

“Barangsiapa yang membasuh (kepalanya) dan mencuci (seluruh tubuhnya) di hari Jumat (mandi besar), lalu berangkat ke masjid pagi-pagi, dan dia mendapatkan khotbah dari awal, dia berjalan dan tidak naik kendaraan, dia mendekat ke khatib, konsentrasi mendengarkan khotbah dan tidak berbicara maka setiap langkahnya (dinilai) sebagaimana pahala puasa dan shalat malam selama setahun. (Shahih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan lainnya, Shahih Abu Dawud: 333)

 

Abu Zur’ah mengatakan, “Saya tidak pernah menjumpai satu hadits yang menceritakan pahala besar dengan amal yang sedikit yang lebih shahih dari hadits ini.”

  1. Shalat Dhuha dua rakaat.

Dari Abu Dzar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيْدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Setiap ruas tulang kalian wajib disedekahi; setiap tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir bernilai sedekah, amar ma’ruf nahi munkar bernilai sedekah, dan semua kewajiban sedekah itu bisa ditutupi dengan dua rakaat shalat Dhuha.” (HR. Muslim)

  1. Berdzikir di masjid setelah Shubuh dan shalat Syuruq.

Dari Anas bin Malik, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

« مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِى جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ ». قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ ».

“Barangsiapa yang shalat Shubuh berjamaah, kemudian duduk berdzikir sampai terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala haji dan umrah.” Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam menambahkan, “Sempurna.. Sempurna.. Sempurna…” (HR. at-Tirmidzi no. 589 dan dihasankan oleh al-Albani)

  1. Membaca al-Qur’an.

Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ: آلم حَرْفٌ. أَلْفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari al-Qur’an maka dia mendapat satu pahala kebaikan. Dan setiap satu pahala itu dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat. Saya tidak mengatakan, bahwa ‘Alif laam miim’ satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. at-Tirmidzi, at-Thabrani. At-Tirmidzi berkata: Shahih Hasan)

  1. Membaca dzikir ketika masuk pasar atau tempat keramaian.

Dari Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Barangsiapa yang masuk pasar kemudian dia membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوْتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

‘Tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nya seluruh kerajaan. Dan milik-Nya seluruh pujian. Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahahidup dan tidak mati. Di tangan-Nya segala kebaikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,’

niscaya Allah catat untuknya sejuta kebaikan, Allah hapuskan sejuta kesalahan, dan Allah angkat untuknya satu juta derajat.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi, al-Hakim dan lainnya. Shahih at-Targhib: 1694)

  1. Shalat lima waktu berjamaah di masjid.

Dari Abu Umamah, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوْبَةٍ فِي الجَمَاعَةِ فَهِيَ كَحَجَّةٍ وَ مَنْ مَشَى إِلَى صَلاَةِ تَطَوُّعٍ فَهِيَ كَعُمْرَةٍ نَافِلَةٍ

Siapa yang berjalan menuju shalat wajib berjamaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju shalat sunnah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 8/127. Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if al-Jami’, no. 11502 menyatakan bahwa hadits ini hasan)

Dalam hadits Abu Umamah lainnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لاَ يُنْصِبُهُ إِلاَّ إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ وَصَلاَةٌ عَلَى أَثَرِ صَلاَةٍ لاَ لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِى عِلِّيِّينَ

Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci menuju shalat wajib, maka pahalanya seperti pahala orang yang berhaji. Barangsiapa keluar untuk shalat sunnah Dhuha, yang dia tidak melakukannya kecuali karena itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan (melakukan) shalat setelah shalat lainnya, tidak melakukan perkara sia-sia antara keduanya, maka pahalanya ditulis di ‘Illiyyin (kitab catatan amal orang-orang shalih). (HR. Abu Dawud: 558, Ahmad 5/268. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan, bahwa sanad hadits ini hasan)

  1. Shalat sunnah dua rakaat sebelum Shubuh.

Dari ‘Aisyah, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik daripada dunia dan seisinya. (HR. Muslim)

  1. Menjawab adzan dan membaca doa setelah adzan.

Dari Jabir bin Abdillah, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Barangsiapa yang mendengarkan adzan kemudian dia membaca doa:

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلاَةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِى وَعَدْتَهُ

‘Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna dan shalat wajib yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad wasilah dan fadhilah. Bangkitkanlah beliau di tempat terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya,’

 

maka dia berhak mendapat syafaatku pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)

 

  1. Membaca dzikir.

Di antara dzikir yang disyariatkan adalah yang terdapat dalam beberapa hadits berikut:

  • Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Barangsiapa di waktu pagi dan sore membaca:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ

                        ‘Mahasuci Allah dan aku memuji-Nya.’

Seratus kali maka tidak ada seorang pun yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala yang lebih baik dari pahala yang dia bawa, kecuali orang yang membaca seperti yang dia baca atau lebih banyak.” (HR. Muslim)

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Barangsiapa yang mengucapkan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan haq kecuali Allah Yang Maha Esa, Tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.’

Dalam sehari seratus kali, maka kalimat itu sebanding dengan membebaskan sepuluh budak, ditulis baginya seratus kebaikan, dan dihapus seratus kejelekan, serta kalimat itu menjadi benteng dari setan dalam sehari hingga sore hari. Dan tidaklah seseorang membawa amal yang lebih baik dari yang dibawanya, kecuali seorang yang melakukannya lebih banyak dari itu.” (Muttafaq ‘alaih)

  • Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Barangsiapa yang setiap kali selesai shalat mengucapkan, tasbih (Subhaanallah) 33 kali, tahmid (Alhamdulillah) 33 kali, dan takbir (Allahu akbar) 33 kali, kemudian pada bilangan ke 100 disempurnakan dengan ucapan,

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

 

Maka semua dosanya dihapus walaupun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim).

 

  • Di antara dzikir yang utama juga, ialah dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam ketika keluar dari (rumah istrinya), Ummul Mukminin Juwairiyah saat beliau shalat Shubuh, sedang Juwairiyah berada di tempat shalatnya. Ketika Rasul pulang setelah shalat Dhuha sementara Ummul Mukminin sedang duduk (di tempat shalatnya), beliau bertanya, “Masihkah engkau dalam keadaan yang sama tatkala aku tinggalkan?” Ummul Mukminin menjawab, “Ya.” Lalu beliau bersabda, “Aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali setelahmu, seandainya kalimat-kalimat itu ditimbang dengan apa yang kamu ucapkan mulai hari ini, pasti (kalimat-kalimat itu) akan lebih berat, yaitu:

سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

“Mahasuci Allah, aku memuji-Nya sebanyak bilangan makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.” (HR. Muslim)

  • Abu Umamah berkata, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam melihatnya saat dia menggerakkan bibirnya, lalu Nabi bertanya, “Apa yang kamu ucapkan, wahai Abu Umamah?” Dia menjawab, “Saya berdzikir dan menyebut Allah.” Kemudian (beliau mengajarinya) lalu bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan kepada yang lebih banyak (pahalanya) dalam berdzikir kepada Allah di siang hari dan malam hari? Maka ucapkanlah:

سُبْحاَنَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ ، سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ مَا خَلَقَ ، سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا فِي

الْأَرْضِ وَ السَّمَاءِ ، سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ مَا فِي السَّمَاءِ وَ الْأَرْضِ ، سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ مَا خَلَقَ

، سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ مَا أَحْصَى كِتَابَهُ ، وَ سُبْحَانَ اللهِ مِلْءَ كُلِّ شَيْءٍ

“Segala puji bagi Allah sebanyak bilangan apa yang Dia ciptakan. Segala puji bagi-Nya sepenuh apa yang Dia ciptakan. Segala puji bagi-Nya sebanyak apa yang (terdapat) di langit dan bumi. Segala puji bagi-Nya sebanyak apa yang terhitung dalam kitab-Nya. Segala puji bagi-Nya sebanyak bilangan segala sesuatu. Dan segala puji bagi-Nya sepenuh segala sesuatu.”

Dan hendaklah kamu bertasbih kepada Allah seperti itu.” Lalu beliau meneruskan sabdanya, “Pelajarilah (doa-doa itu) dan ajarilah orang-orang setelahmu.” (HR. ath-Thabrani, ash-Shahihah: 2578)

 

  1. Menghadiri halaqah-halaqah ilmu di masjid.

Dari Abu Umamah, Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda,

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لا يُرِيدُ إِلا أَنْ يَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ، كَانَ لَهُ كَأَجْرِ حَاجٍّ تَامًّا حَجَّتُهُ

Siapa yang berangkat ke masjid sedang yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.” (HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir 8/94. Al-Albani dalam Shahih at-Targhib no. 86 menyatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

 

  1. Beribadah pada malam Lailatul Qadar. Hal ini berdasarkan firman Allah q\ dalam QS. al-Qadr ayat 3, yang menyebutkan bahwa malam itu lebih baik dari seribu bulan.

 

  1. Amal shalih pada sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah.

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda:

« مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ ».

Tidak ada satu amal shalih yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi Shallallahu ‘alaihi was salam menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satu pun.” (HR. al-Bukhari)

Inilah beberapa amal ibadah yang utama, ringan diamalkan bagi yang diberikan oleh Allah taufik, namun pahalanya sangatlah agung dan besar. Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufik-Nya kepada kita supaya dapat mudah mengamalkannya. Amin.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *