Menyemai Benih Keimanan Anak Sejak Dini

Oleh: Abu Usamah

 

Dalam panggung sejarah, setiap kemenangan dan kemuliaan yang didapat oleh kaum muslimin bukan berasal dari perlengkapan yang hanya bersifat materi. Namun lebih dari itu, kemenangan dan kemuliaan mereka diperoleh dari keimanan yang mengakar kuat dalam hati sehingga menumbuhkan amaliah ibadah yang bagus dan akhlak yang terpuji.

Karena itu tak heran Khalifah Umar bin Khaththab tatkala melihat kehancuran Romawi beliau mengatakan kepada Abu Ubaidah al-Jarrah, “Kita dahulu benar-benar kaum yang sangat hina hingga Allah memuliakan kita dengan Islam. Apabila kita mencari kemuliaan dengan selain Islam, niscaya Allah akan menghinakan kita.”[1]

Oleh sebab itu, sangat penting menanamkan dan menyemai akidah serta keimanan yang kuat dalam diri anak jika kita menginginkan mereka akan menjadi generasi yang kuat dan mulia.

 

WASPADAI PENGARUH BURUK MEDIA DAN LINGKUNGAN

Kegagalan musuh Islam dalam berbagai perang terbuka menggunakan senjata dan kekuatan membuahkan pemikiran untuk merusak generasi muslim dengan cara yang lebih halus. Di antaranya ialah dengan menyusupkan keyakinan dan akhlak yang tak baik ke dalam tontonan yang dapat mereka nikmati setiap hari.

Karena kita hidup di zaman yang serba bebas, maka tayangan-tayangan di dalam berbagai media yang kebanyakannya tidak mendidik dapat dinikmati oleh anak-anak jika kita tak pandai mengawasi dan memilah. Kemasan yang mengemas akhlak atau keyakinan yang tak baik itu sering terlihat sangat rapi sehingga banyak yang tidak menyadari.

Demikian pula dengan lingkungan yang buruk. Termasuk teman-teman sepergaulan, hendaknya orang tua dan pendidik selalu memperhatikan dengan siapa anaknya bergaul, karena agama seseorang tergantung dengan agama teman dekatnya.

Maka dari itu sebagai orang tua dan pendidik seharusnya kita selalu mewaspadai dan pandai memilah, mana yang baik dan mana yang tak baik untuk kelangsungan pendidikan anak-anak kita.

 

TANAM DAN RAWAT BENIH IMAN ANAK-ANAK KITA[2]

Upaya yang dapat dilakukan oleh pendidik untuk menanamkan benih iman yang kokoh kepada anak di antaranya dengan:

  1. Mengenalkannya dengan fondasi-fondasi iman, memahamkannya tentang rukun-rukun Islam dan mengajarinya dasar-dasar Islam yang mulia.

Maksud dari fondasi-fondasi iman yang harus dikenalkan ialah kabar-kabar yang benar yang menerangkan tentang hakikat keimanan serta berita mengenai hal-hal yang gaib, semisal iman kepada Allah, Malaikat dan para Rasul serta hari akhir dan pembalasan. Demikian pula dengan pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir di alam kubur, adzab kubur dan yang lainnya.

Adapun rukun-rukun Islam yang harus dipahamkan ialah setiap ibadah badan dan harta, semisal; shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu.

Mengenai dasar-dasar Islam yang harus diajarkan, ialah setiap hal yang berhubungan dengan metode pendidikan yang menyangkut ajaran Islam semisal akidah, akhlak, hukum-hukum, peraturan Islam.

Maka setiap pendidik hendaknya selalu mengingat hal ini, supaya menanamkan pendidikan keimanan semenjak dini. Sehingga dengan hal itu anak-anak tidak akan mengenal lagi kecuali Islam sebagai agama, al-Qur’an sebagai panutan dan Rasulullah sebagai teladan yang harus diikuti.

Poin-poin di atas bukan hanya terambil dari teori yang tak berdasar. Bahkan hal itu semua berakar pada ajaran dan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam sebagai berikut:

  • Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam mengajari Abdullah bin Abbas Radhiallahu ‘anhuma yang masih kecil dengan kalimat tauhid dan akidah yang benar. Yaitu perintah untuk hanya meminta dan berdoa kepada Allah Ta’ala, sebagaimana tertera dalam hadits yang masyhur. (HR. at-Tirmidzi: 2516, dishahihkan oleh al-Albani)
  • Mengenalkan mana yang halal dan mana yang haram. Hal ini berdasarkan atsar yang bersumber dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan, “Beramallah dengan ketaatan kepada Allah dan jauhi maksiat kepada-Nya. Dan perintahkan anak-anakmu untuk selalu menjalankan perintah dan meninggalkan larangan, karena hal itu sebagai penjagaan bagi mereka dan diri kalian dari api neraka.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir) Dengan pembiasaan seperti ini semenjak kecil, niscaya anak akan tumbuh dan tidak akan mengenal syariat dan jalan hidup kecuali yang digariskan oleh Islam.
  • Perintah Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam agar membiasakan shalat semenjak umur mereka tujuh tahun. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Perintahkan shalat kepada anakmu saat mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika tidak mau) pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim)
  • Perintah untuk selalu mencintai Rasulullah dan mempelajari al-Qur’an. Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam mengatakan, “Tidak beriman salah satu di antara kalian hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan dari manusia semuanya.” (HR. al-Bukhari: 15) Demikian pula tentang keutamaan mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasul Shallallahu ‘alaihi was salam bersabda, “Sebaik-baik kalian ialah yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. al-Bukhari: 5027)

 

  1. Mengisahkan pengorbanan orang-orang yang shalih demi keimanan mereka.

Mengapa harus dengan kisah? Karena kisah merupakan sebuah kenyataan yang tak bisa dibantah, ia pun lebih mudah dipahami oleh semua orang.

Akidah dan keimanan akan menjadi semakin tinggi dengan pengorbanan. Demikian pula semakin luas cakupan pengorbanan yang dilakukan demi keimanan dan keyakinan yang dipegang, maka keyakinan itu akan semakin mengakar kuat di dalam jiwa. Dengan itu pula kejujuran akan nampak serta menguat, dan itulah yang dinamakan sebagai istiqamah.

Anak-anak zaman sekarang tengah menghadapi berbagai tantangan dari musuh Islam untuk memalingkan mereka dari agama Allah dan keyakinan yang benar. Untuk menghadapi itu maka anak-anak harus dikenalkan pelajaran tentang pengorbanan demi akidah dan keimanan. Sehingga dengan itu mereka akan dapat merasakan manisnya iman dan kelezatannya.

Dan untuk membantu mengenalkan tentang pelajaran tersebut, hendaknya anak-anak diajarkan tentang sejarah hidup Rasulullah serta para sahabatnya saat membela keimanan dan akidah yang benar. Demikian pula dengan pengorbanan orang-orang shalih yang telah dikabarkan di dalam al-Qur’an dan dalam hadits yang shahih. Dengan mengetahui hal itu maka tatkala ujian datang, mereka akan mengorbankan apa pun demi keimanan mereka agar tetap terjaga, sebagaimana yang telah mereka pelajari dari sejarah hidup orang-orang shalih yang terdahulu.

Banyak sekali kisah yang menggambarkan pengorbanan demi keimanan yang tetap terjaga, semisal kisah Ashabul Ukhdud di dalam QS. al-Buruj, kisah Asiyah istri Fir’aun, kisah anak-anak sahabat Rasulullah saat mereka berebut untuk ikut berjihad di jalan Allah. Semisal ketika dua anak kecil yang bertanya kepada Abdurrahman bin Auf tentang letak Abu Jahal saat perang Badar karena mereka ingin membunuhnya, atau kisah Umair bin Abi Waqqash, saudara Sa’d bin Abi Waqqash menangis tatkala ditolak oleh Rasulullah saat pendaftaran peserta di pertempuran Badar, dan kisah-kisah pengorbanan yang lainnya.

 

MERENUNG SEJENAK

Kejayaan Islam di masa silam tentunya sangat kita rindukan. Namun bukan hanya berandai-andai tanpa adanya usaha, karena Badar tidak dimenangkan kecuali dengan kedalaman iman dan kuatnya keyakinan, Makkah tak bisa ditaklukkan kecuali karena ketaatan dan keimanan akan kebenaran janji Allah, dan yang lebih penting lagi, agama Islam tak akan bisa ada hingga sekarang jika para pendahulu kita tidak melakukan pengorbanan untuk tegaknya agama Allah. Walau harus dengan darah.

Dan pasti Allah akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa. (QS. al-Hajj: 40)

Bila kita ingin generasi semisal orang-orang yang dapat menaklukkan Persia dan Romawi di masa silam, tentunya kita juga harus meniti jalan mereka saat mendidik dan menyiapkan generasi tersebut menjadi manusia yang hebat. Jika kita hanya berandai-andai tanpa ada usaha nyata, maka ibarat perkataan penyair Arab, Abul ‘Atahiyah,

Kau ingin selamat tapi tak mau menempuh jalannya

                              Sesungguhnya perahu itu tak akan bisa berjalan di atas daratan

Semoga Allah memberikan kita taufik untuk bisa mendidik keturunan kita menjadi Generasi Rabbani yang dapat memberikan manfaat bagi umat. Amin

[1] Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak.

[2] Disarikan dari Tarbiyatul Aulad, Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan dan Manhaj at-Tarbiyah an-Nabawiyyah li ath-Thifli, Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dan beberapa referensi tambahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *