Nu’man bin Muqarrin Radhialllahu anhu

Penakluk Persia

Mencela para sahabat hukumnya haram dan merupakan perbuatan orang-orang yang tidak shalih. Oleh karena dilarang oleh Allah maka setan mewahyukan kepada para walinya agar mencela para sahabat. Tidak ada satu pun larangan Allah kecuali ada yang melanggarnya, dan tak ada satu perintah Allah kecuali ada yang meninggalkannya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was salam marah kepada Umar bin Khaththab tatkala tak mau memaafkan Abu Bakar setelah mereka berselisih dan Abu Bakar meminta maaf kepadanya. Tatkala Khalid bin Walid mencela Abdurrahman bin Auf karena perselisihan yang terjadi antara mereka, akibat Khalid membunuh kaum yang masuk Islam tetapi Khalid tidak memahami maksud mereka hingga terus diperangi, maka Abdurrahman mengingkari perbuatannya. Tetapi Khalid marah dan mencela Abdurrahman. Maka sabda Rasulullah, “Janganlah kalian mencela sahabatku! Seandainya kalian menginfakkan di jalan Allah emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai infak para sahabat, walau segenggam gandum atau kurma.”

Tatkala Umar menghukumi munafik salah satu sahabat yang ikut pada perang Badar, Rasulullah mengatakan, “Tahukah kamu, wahai Umar, bahwa Allah mengatakan, ‘Beramallah kalian, wahai ahli Badar, sesukamu. Sungguh Aku telah mengampuni kalian.’”

Ini Umar dan Khalid, sebagai sahabat mulia yang mencela seorang sahabat lain dan Rasulullah sangat marah karenanya. Lalu bagaimana dengan selain Umar, dan bagaimana jika yang dicela kebanyakan mereka, bahkan keseluruhan sahabat?! Umar dan Khalid mencela sekali dan karena ijtihad, lalu bagaimana jika mencela dijadikan sebagai paham dan agama dengan dasar hawa nafsu?!

Seandainya Syi’ah tidak mengaku Islam dan tidak menipu umat Islam, sungguh Ahlussunnah tidak akan menghabiskan waktu untuk membantah kejelekan mereka. Akan tetapi lantaran pengatasnamaan Islam dan menipu banyak umat Islam, maka para ulama tidak henti-hentinya membongkar kekejian mereka.

 

KEUTAMAAN NU’MAN BIN MUQARRIN

Pertama kali peperangan yang beliau ikuti adalah perang Ahzab atau Khandaq. Beliau juga ikut dalam baiat Ridhwan, pernah tinggal di Kufah dan menjadi Walikota Kaskar zaman pemerintahan Umar lalu beliau mengirimnya untuk memimpin kaum muslimin pada perang Nahawand. Dan beliaulah yang pertama mati syahid pada perang tersebut.

Kunyahnya adalah Abu Hakim. Beliaulah yang membawa bendera kabilah Muzainah pada saat Fathu Makkah. Ketika berita kematiannya sampai kepada Umar beliau meletakkan tangan di wajahnya dan menangis.

Ma’qil bin Yasar berkata, “Sesungguhnya Umar bermusyawarah dengan Hurmuzan tentang Ashbahan, Persia dan Azerbaijan maka dia berkata, ‘Ashbahan sebagai induk atau kepala, sedang Persia dan Azerbaijan sebagai dua sayap. Jika kamu putus sayapnya maka induk dan sayap akan kembali. Tetapi jika kamu putus kepala maka jatuhlah kedua sayapnya.’ Lalu Umar berkata kepada Nu’man bin Muqarrin, ‘Sesungguhnya aku akan memberimu jabatan.’ Jawab Nu’man, ‘Jika engkau mengangkatku untuk jabatan amil zakat aku tidak mau, namun jika untuk berperang di jalan Allah aku mau.’ Umar menjawab, ‘Sesungguhnya kau berjihad di jalan Allah.’ Lalu Umar memberangkatkannya dan mengirim utusan kepada penduduk Kufah untuk mengirim tentara bantuan yang di dalamnya ada Hudzaifah, az-Zubair, al-Mughirah, Asy’ats, ‘Amru bin Ma’dikarib.

Lalu Nu’man berdoa, ‘Ya Allah, berilah rezeki Nu’man syahadah di jalan-Mu dan pertolongan kepada kaum muslimin, dan beri mereka kemenangan.’ Maka mereka semua mengamini doanya. Nu’man lalu mengguncang bendera perangnya tiga kali lantas maju menyerang musuh hingga beliau menjadi syahid pertama dalam peperangan ini.”

Ma’qil bin Yasar berkata, “Setelah itu aku datang menemui Nu’man dan kudapati tubuhnya remuk, lalu kuberikan air kemudian kusiramkan ke wajahnya untuk membersihkan debu dari wajahnya. Maka dia bertanya, ‘Siapakah ini?’ Kujawab, ‘Aku Ma’qil.’ Dia bertanya, ‘Apa yang dilakukan oleh manusia?’ Kujawab, ‘Allah memenangkan kaum muslimin.’ Maka beliau berkata, ‘Alhamdulillah, tuliskan berita ini kepada Umar.’ Kemudian Nu’man wafat, semoga Allah meridhainya.”

 

PELAJARAN DAN NASIHAT

Para sahabat hanya mencari kampung akhirat, jauh dari dunia. Oleh karena itu tidak mau menerima jabatan yang bersifat duniawi, seperti mengumpulkan harta zakat dan yang semisalnya. Berbeda dengan orang yang mencari kehidupan dunia, lalai dari kehidupan akhirat. Hal ini terdapat beberapa faedah, pertama: para sahabat tidak meminta jabatan, kedua: ditawari jabatan tetapi tidak menerima, ketiga: jabatan yang ditawarkan menyenangkan dan menjanjikan dari sisi keuntungan dunia, keempat: termasuk jabatan yang ada syariatnya yaitu menjadi amil zakat, kelima: yang menawarkan orang alim dan Amirul Mukminin yang mengetahui kemampuannya dalam jabatan tersebut, keenam: kondisi zaman umat dan masyarakat yang shalih, aman dari fitnah namun tetap menolak, ketujuh: jabatan yang ditawarkan merupakan amal shalih dan merupakan urusan umat di mana Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, siapa yang mengurusi sebagian urusan umatku lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka perlakukan dia dengan baik.’

Bandingkan dengan zaman ini yang memperebutkan jabatan tanpa ditawari, bahkan saat ditolak tetap memaksakan diri dengan pengorbanan jiwa harta dan tenaga hingga mendapatkannya. Bahkan dia menyadari bahwa dirinya tidak layak dan tahu bahwa di sana ada banyak orang yang lebih layak untuk jabatan tersebut, tetapi dia sangat berambisi untuk menjabatnya dan berusaha menyingkirkan siapa pun dengan cara apa pun, sekalipun dengan menjual agama dan akhlaknya.

Para sahabat justru meminta jabatan yang sulit, yaitu komandan perang atau prajurit di jalan Allah untuk meraih kemuliaan mati syahid, bukan untuk pamer keberanian atau mencari kemasyhuran ghanimah dan budak serta agar manusia dan penduduk bumi mengatakan si fulan sebagai pahlawan dan pemberani. Akan tetapi agar Allah dan penduduk langit menerimanya sebagai syahid di sisi Allah dan surga seluas langit dan bumi, bukan agar terkenal di bumi namun agar terkenal di langit dari kalangan Malaikat dan Rabb ‘Arsy yang agung.

 

DENDAM SYI’AH

Barangkali karena Nu’man yang meruntuhkan Persia, Ashbahan dan sekitarnya sehingga Syi’ah yang berasal dari Persia (Iran) sangat membenci para sahabat. Dan terkhusus Umar yang menggerakkan pasukannya menaklukkan Persia dan sekitarnya membuat mereka sangat marah hingga mengafirkan Umar.

Alangkah sialnya nasibmu, wahai Umar, di kalangan kaum Syi’ah, karena engkau meruntuhkan kekuasaan nenek moyang mereka, Persia Majusi. Alangkah ruginya dirimu, wahai Umar, bagi Syi’ah karena engkau telah memalingkan bangsa Majusi penyembah api kepada Islam yang hanya beribadah kepada Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya.

Alangkah bagusnya amal usaha Umar kepada kaum Majusi yang tiada henti berterima kasih mereka kepada Umar yang menyelamatkan mereka dari kesesatan dan neraka dengan Islam. Sementara itu alangkah buruknya balasan Syi’ah kepada kebaikan Umar, seandainya nenek moyang mereka hidup, pasti mereka mencela Syi’ah yang memusuhi Umar.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *